Senin, 08 April 2013

Tokoh Kunci dalam Sosiologi Italia Awal


Kita dapat menutup ringkasan historis teori sosiologi awal ini, terutama teori sosiologi Eropa konservatif, dengan uraian singkat tentang dua orang sosiolog Italia, Vilfredo Pareto (1848-1923) dan Gaettano Mosca (1858-1942). Keduanya berpengaruh pada zamannya tetapi sudah kurang relevansinya dengan zaman sekarang. Sedikit sekali orang yang membaca karya Mosca kini. Pernah terjadi lonjakan singkat perhatian terhadap karya Pareto (1935) di tahun 1930-an ketika Parsons mencurahkan perhatian pada karya Pareto sebanyak yang dicurahkannya pada karya Weber dan Durkheim. Tetapi, akhir-akhir ini perhatian terhadap karya Pareto merosot kecuali terhadap sebagian kecil konsep-konsep utamanya.
Zeitlin menyatakan bahwa Pareto mengembangkan gagasan utamanya sebagai sangkalan terhadap Marx (1996:71). Pareto sebenarnya tak hanya menolak Marx tetapi juga sebagian besar filsafat Pencerahan. Misalnya, selagi filsuf Pencerahan menekankan peran faktor rasional, Pareto menekankan apda faktor nonrasional seperti naluri manusia. Penekanannya ini pun berkaitan dengan penolakannya terhadap teori Marx. ‘Artinya,’ karena faktor nonrasional menjadi demikian penting dan karena tak berubah maka tak realitis berharap akan tercapai perubahan sosial yang dramatis melalui revolusi ekonomi.
Pareto pun membangun teori perubahan sosial yang bertolak belakang dengan teori Marxian. Sementara teori Marx memusatkan perhatian pada peran massa, Pareto menyodorkan teori elite perubahan sosial yang berpendirian bahwa masyarakat jelas akan didominasi oleh sejumlah kecil elite yang memerintah berdasarkan kepentingan diri sendiri. Elite kecil ini memerintah massa rakyat yang memang didominasi oleh faktor nonrasional. Menurut Pareto, karena kapasitas rasional massa terbatas mereka bukanlah sebuah kekuatan revolusioner. Perubahan sosial terjadi ketika elite mulai mengalami kemerosotan moral dan digantikan oleh elite baru yang berasal dari elite yang tak memerintah atau unsur yang lebih tinggi dari massa. Segera setelah elite baru berkuasa, proses yang baru pun dimulai. Jadi, Pareto menyodorkan teori perubahan sosial melingkar, sedangkan Marx, Comte, Spencer dan yang lain menyodorkan teori perubahan sosial yang linier. Di samping itu teori perubahan sosial Pareto mengabaikan penderitaan manusia. Elite datang dan pergi tetapi sebagian besar massa tetap sama.
Teori ini bukanlah sumbangan terakhir Pareto terhadap sosiologi. Teori ini melandasi konsep ilmiahnya tentang sosiologi dan kehidupan sosial. “Keinginanku adalah untuk membangun sistem sosiologi menurut model astronomi, fisika, dan kimia” (dikutip dalam Hook, 1965:57). Singkatnya, Pareto membayangkan masyarakat sebagai sebuah sistem yang berada dalam keseimbangan, sebagai kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung. Perubahan satu bagian dipandang menyebabkan perubahan bagian lain dari sistem. Konsepsi Pareto yang sistematis tentang masyarakat inilah yang menjadi alasan terpenting Parsons mencurahkan banyak perhatian terhadap karya Pareto yang berjudul The Structure of Social Action (1937). Karya inilah yang berpengaruh terhadap pemikiran Parsons. Dilebur dengan pandangan serupa lainnya yang didukung oleh pakar yang menganalogikan masyarakat dengan organisme (misalnya Comte, Durkheim dan Spencer), teori Pareto memainkan peran sentral dalam pengembangan teori Parsons dan lebih umum pengembangan fungsionalisme struktural.
Sementara kini sedikit sosiolog modern yang membaca karya Pareto, karya Mosca malah boleh dikatakan tak ada yang membacanya. Karyanya juga dapat dilihat sebagai penolakan terhadap Pencerahan dan Marxisme. Poin pentingnya bahwa Mosca, seperti Pareto, menawarkan teori peran elite dalam . sosial yang bertolak belakang dengan perspektif Marxian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar