Minggu, 28 April 2013

Gagasan George Herbert Mead


Mead adalah pemikir yang sangat penting dalam sejarah interaksionisme (Joas. 2001) simbolik dan bukunya yang berjudul Mind, Self dan Society adalah larva tunggal yang amat penting dalam tradisi itu.

Prioritas Sosial
Dalam resensinya atas buku Mead, Mind, Self and Society, Faris menyatakan ferensi Mead mungkin bukan pikiran dan kemudian baru masyarakat; tetapi masyarakatlah yang pertama dan kemudian baru pikiran yang muncul dalam masyarakat….” (dikutip dalam Miller, 1982a:2). Inversi judul itu oleh Faris ini mencerminkan luasnya fakta yang diakui oleh Mead sendiri, bahwa masyarakat, atau lebih luasnya kehidupan sosial, adalah sesuai dengan prioritas dalam analisis Mead.
Menurut pandangan Mead, dalam upaya menerangkan pengalaman sosial, psikologi sosial tradisional memulainya dengan psikologi individual; sebaliknya, Mead selalu memberikan prioritas pada kehidupan sosial dalam memahami pengalaman sosial. Mead menerangkan arah perhatiannya demikian : Menurut psikologi sosial, kita tidak membangun perilaku kelompok dilihat dari sudut perilaku masing-masing individu yang membentuknya; kita bertolak dari keseluruhan sosial dari aktivitas kelompok kompleks tertentu, dan di mana kita menganalisa perilaku masing-masing individu yang membentuknya… Yakni, kita lebih berupaya untuk menerangkan perilaku kelompok sosial ketimbang menerangkan perilaku terorganisir kelompok sosial dilihat dari sudut perilaku masing-masing individu yang membentuknya. Menurut psikologi sosial, keseluruhan (masyarakat) adalah lebih dulu daripada bagian (individu), bukannya bagian adalah lebih dahulu daripada keseluruhan; dan bagian itu diterangkan dari sudut pandang keseluruhan, bukan keseluruhan yang diterangkan dari sudut pandang bagian atau bagian-bagian (Mead, 1934/1962:7).
Menurut Mead, keseluruhan sosial mendahului pemikiran individual baik secara logika maupun secara temporer. Individu yang berpikir dan sadar adalah mustahil secara logika menurut teori Mead tanpa didahului adanya kelompok sosial. Kelompok sosial muncul lebih dulu, dan kelompok sosial menghasilkan perkembangan keadaan mental kesadaran diri.

Tindakan
Mead memandang tindakan sebagai “unitprimitif” dalam teorinya (1982:27). Dalam menganalisis tindakan, pendekatan Mead hampir sama dengan pendekatan behavioris dan memusatkan perhatian pada rangsangan (stimulus) dar tanggapan (response). Tetapi, stimulus di sini tidak menghasilkan respon manusia secara otomatis dan tanpa dipikirkan. Seperti dikatakan Mead, “kita membayangkan stimulus sebagai sebuah kesempatan atau peluang untuk bertindak, bukan sebagai paksaan atau perintah” (1982:28).
Mead (1938/1972) mengidentifikasi empat basis dan tahap tindakan yang saling berhubungan (Schmitt dan Schmitt, 1996). Keempat tahap itu mencerminkan satu kesatuan organik (dengan kata lain keempatnya saling berhubungan secara dialektis). Mead selain tertarik pada kesamaan tindakan binatang dan manusia, juga terutama tertarik pada perbedaan tindakan antara kedua jenis makhluk itu.

Impuls
Tahap pertama adalah dorongan hati/impuls (impulse) yang meliputi “stimulasi/rangsangan spontan yang berhubungan dengan alat indera” dan reaksi aktor terhadap rangsangan, kebutuhan untuk melakukan sesuatu terhadap rangsangan itu. Rasa lapar adalah contoh yang tepat dari impuls. Aktor (binatang maupun manusia) secara spontan dan tanpa pikir memberikan reaksi atas impuls, tetapi aktor manusia lebih besar kemungkinannya akan memikirkan reaksi yang tepat (misalnya, makan sekarang atau nanti). Dalam berpikir tentang reaksi, manusia tak hanya mempertimbangkan situasi kini, tetapi juga pengalaman masa lalu dan mengantisipasi akibat dari tindakan di masa depan.
Rasa lapar mungkin berasal dari dalam diri aktor atau diperoleh dai kehadiran makanan di lingkungan sekitarnya atau rasa lapar kemungkinan terbesar muncul dari kombinasi keduanya. Orang yang lapar harus menemukan cara yang memuaskan hatinya di lingkungan di mana makanan mungkin tak segera tersedia atau berlimpah. Impuls ini mungkin berhubungan dengan masalah dalam lingkungan (yakni keterbatasan makanan yang segera tersedia) yang harus diatasi oleh aktor. Meski impuls seperti rasa lapar sebagian besar berasal dari individu (walau rasa lapar di sini juga dapat disebabkan oleh rangsangan dari luar dan juga ada definisi sosial tentang kapan waktu yang tepat untuk dikatakan lapar), namun rasa lapar itu biasanya dihubungkan dengan adanya masalah dalam lingkungan (contoh, keterbatasan makanan). Contoh lain, mendekatnya seekor binatang buas yang berbahaya, dapat menimbulkan dorongan bagi seseorang untuk bertindak. Secara menyeluruh, impuls, seperti semua unsur teori Mead, melibatkan aktor dan lingkungan.

Persepsi
Tahap kedua adalah persepsi (perception). Aktor menyelidiki dar bereaksi terhadap rangsangan yang berhubungan dengan impuls, dalam hal ini rasa lapar dan juga berbagai alat yang tersedia untuk memuaskannya. Manusia mempunyai kapasitas untuk merasakan dan memahami stimuli melalui pendengaran, senyuman, rasa, dan sebagainya. Persepsi melibatkan rangsangan yang baru masuk maupun citra mental yang ditimbulkannya. Aktor tidak secara spontan menanggapi stimuli dari luar, tetapi memikirkannya sebentar dan menilainya melalui bayangan mental. Manusia tak hanya tunduk pada rangsangan dari luar; mereka juga secara aktif memilih ciri-ciri rangsangan dan memilih di antara sekumpulan rangsangan. Artinya, sebuah rangsangan mungkin mempunyai beberapa dimensi dan aktor mampu memilih di antaranya. Aktor biasanya berhadapan dengan banyak rangsangan yang berbeda dan mereka mempunyai kapasitas untuk memilih yang mana perlu diperhatikan dan yang perlu diabaikan. Mereka menolak untuk memisahkan orang dari objek yang mereka pahami. Tindakan memahami objek itulah yang menyebabkan sesuatu itu menjadi objek bagi seseorang. Pemahaman dan objek tak dapat dipisahkan satu sama lain (berhubungan secara dialektis).

Manipulasi
Tahap ketiga adalah manipulasi (manipulation). Segera setelah menyatakan dirinya sendiri dan objek telah dipahami, langkah selanjutnya memanipulasi objek atau mengambil tindakan berkenaan dengan objek. Di samping keuntungan mental, manusia mempunyai keuntungan lain ketimbang binatang. Manusia mempunyai tangan (dengan ibu jari yang dapat dipertautkan) yang memungkinkan mereka memanipulasi objek jauh lebih cerdik ketimbang yang dapat dilakukan binatang. Tahap manipulasi merupakan tahap yang penting dalam proses tindakan agar tanggapan tak diwujudkan secara spontan. Seorang manusia yang lapar melihat cendawan, tetapi sebelum memakannya ia mungkin mula-mula memungutnya, menelitinya, dan mungkin memeriksanya lewat buku petunjuk untuk melihat apakah jenis cendawan itu boleh dimakan. Sebaliknya, binatang mungkin langsung memakan cendawan itu tanpa perlakuan memeriksanya (dan pasti tanpa membaca tentang jenis cendawan). Memberi sela waktu dengan memperlakukan objek, memungkinkan manusia merenungkan berbagai macam tanggapan. Dalam memikirkan mengenai apakah akan memakan cendawan itu atau tidak, baik masa lalu maupun depan dilibatkan. Orang mungkin berpikir tentang pengalaman masa lalu memakan jenis cendawan tertentu yang menyebabkan mereka sakit, dan mereka mungkin berpikir tentang kesakitan di masa depan atau bahkan kematian dapat menyertai karena memakan cendawan beracun. Perlakuan terhadap cendawan menjadi sejenis metode eksperimen di mana aktor secara mental menguji berbagai macam hipotesis tentang apakah yang akan terjadi bila cendawan itu dimakan.
Konsumasi. Berdasarkan pertimbangan ini, aktor mungkin memutuskan untuk memakan cendawan (atau tidak) dan ini merupakan tahap keempat tindakan, yakni tahap pelaksanaan/konsumasi (consummation), atau mengambil tindakan yang memuaskan dorongan hati yang sebenarnya. Baik manusia maupun binatang mungkin memakan cendawan, tetapi manusia lebih kecil kemungkinan memakan cendawan beracun karena kemampuannya untuk memanipulasi cendawan dan memikirkan (dan membaca) mengenai implikasi dari memakannya. Binatang tergantung pada metode trial and error dan ini adalah metode yang kurang efisien ketimbang kemampuan manusia untuk berpikr melalui tindakannya. Metode trial and error dalam situasi ini agak berbahaya akibatnya ada kemungkinan bahwa binatang lebih mudah terancam kematian karena memakan cendawan beracun ketimbang manusia.
Untuk memudahkan pembahasan, keempat tahap tindakan itu telah dipisahkan satu sama lain secara berurutan, tetapi dalam kenyataannya Mead melihat adanya hubungan dialektis antara keempat tahap itu. John Baldwin menyatakan pemikiran ini sebagai berikut: “Meski keempat tahap tindakan itu kadang-kadang tampak berangkai menurut urutan garis lurus, sebenarnva keempatnya saling merasuk sehingga membentuk sebuah proses organis. Segi-segi setiap bagian muncul sepanjang waktu mulai dari awal hingga akhir tindakan sehingga dengan demikian setiap bagian memengaruhi bagian lain” (1986:55- 56). Jadi, tahap terakhir tindakan mungkin menyebabkan munculnya tahap yang lebih awal. Contoh, memanipulasi makanan munkin menimbulkan dorongan lapar individu dan persepsi bahwa orang itu lapar dan bahwa makanan tersedia untuk memenuhi kebutuhan.

Sikap-lsyarat (Gesture)
Sementara tindakan hanya melibatkan satu orang, tindakan sosial melibatkan dua orang atau lebih. Menurut Mead, gerak atau sikap isyarat adalah mekanisme dasar dalam tindakan sosial dan dalam proses sosial yang lebih umum. Menurut definisi Mead, gesture adalah gerakan organisme pertama yang bertindak sebagai rangsangan khusus yang menimbulkan tanggapan (secara sosial) yang tepat dari organisme kedua” (Mead, 1934/1962:14; lihat juga Mead, 1959:187). Baik binatang maupun manusia, mampu membuat isyarat dalam arti bahwa tindakan seorang individu tanpa pikir dan secara otomatis mendapatkan reaksi dari individu lain. Berikut ini adalah contoh terkenal Mead tentang perkelahian anjing. Dilihat dari perspektif isyarat : Tindakan masing-masing anjing menjadi rangsangan untuk anjing lain dalam memberikan tanggapannya. Fakta juga menunjukkan bahwa anjing yang siap menyerang anjing lain akan menjadi rangsangan bagi anjing lain itu untuk mengubah posisi atau sikapnya. Begitu perubahan sikap ini terjadi di pihak anjing kedua, maka anjing pertama pun mengubah sikapnya (Mead, 1934/1962:42-43).
Mead menamakan apa yang terjadi dalam situasi ini sebuah “percakapan at”. Gerak isyarat anjing pertama secara otomatis mendapatkan gerak isyarat anjing kedua; tak ada proses berpikir yang terjadi di kedua belah pihak anjing itu.
Manusia pun kadang-kadang terlibat dalam percakapan isyarat tanpa pikir seperti itu. Contohnya dalam pertandingan tinju dan anggar di mana banyak tindakan dan reaksi yang terjadi di mana seorang petarung “secara naluriah” menyesuaikan diri terhadap tindakan petarung kedua. Tindakan tanpa disadari seperti itu disebut Mead sebagai isyarat “nonsignifikan”; apa yang membedakan manusia dari binatang adalah kemampuannya untuk menggunakan gerak isyarat “yang signifikan” atau yang memerlukan pemikiran di kedua belah pihak aktor sebelum beraksi.
Isyarat suara sangat penting perannya dalam pengembangan isyarat yang signifikan. Namun, tak semua isyarat suara adalah signifikan. Gonggongan seekor tak signifikan bagi anjing lain; bahkan beberapa isyarat suara manusia (misalnya dengkuran tanpa sadar) mungkin tak signifikan. Tetapi, perkembangan isyarat suara, terutama dalam bentuk bahasa, adalah faktor paling penting yang memungkinkan perkembangan khusus kehidupan manusia: “kekhususan manusia di bidang isyarat (bahasa) inilah pada hakikatnya yang bertanggung jawab atas asal mula pertumbuhan masyarakat dan pengetahuan manusia sekarang, dengan seluruh kontrol terhadap alam dan lingkungan dimungkinkan berkat ilmu pengetahuan” (Mead, 1934/1962:14).
Perkembangan bahasa ini berhubungan dengan ciri khusus isyarat suara. kita membuat gerak isyarat fisik seperti muka menyeringai, kita tak dapat melihat apa yang sedang kita kerjakan (kecuali kalau apa yang terjadi itu kita lihat di depan cermin). Sebaliknya, bila kita mengucapkan isyarat suara, kita dengar sendiri seperti orang lain mendengarnya. Akibatnya adalah bahwa isyarat suara dapat memengaruhi si pembicara dengan cara yang serupa dengan pendengar. Akibat lain adalah bahwa kita mampu menghentikan diri kita sendiri isyarat suara jauh lebih baik ketimbang kemampuan menghentikan gerak siyarat secara fisik. Dengan kata lain, kita mempunyai kemampuan jauh lebih baik untuk mengendalikan isyarat suara ketimbang isyarat fisik. Kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan reaksi diri sendiri ini adalah penting bagi kemampuan khusus manusia lainnya. “Isyarat suara itulah terutama yang menyediakan medium organisasi sosial dalam masyarakat manusia” (Mea~ 1959:188).

Simbol-simbol Signifikan
Simbol signifikan adalah sejenis gerak-isyarat yang hanya dapat diciptakan manusia. Isyarat menjadi simbol signifikan bila muncul dari individu yang membuat simbol-simbol itu sama dengan sejenis tanggapan (tetapi tak selalu sama) yang diperoleh dari orang yang menjadi sasaran isyarat. Kita sebenarnya hanya dapat berkomunikasi bila kita mempunyai simbol yang signifikan; komunikasi menurut arti istilah itu tak mungkin terjadi di kalangan semut, leba dan sebagainya. Isyarat fisik dapat menjadi simbol yang signifikan, namun secara ideal tak cocok dijadikan simbol signifikan karena orang tak dapat dengan mudah melihat atau mendengarkan isyarat fisiknya sendiri. Jadi, ungkapan suara yang paling mungkin menjadi simbol yang signifikan, meski tidak semua ucapan dapat menjadi simbol signifikan. Kumpulan isyarat suara yang paling mungkin menjadi simbol yang signifikan adalah bahasa: “simbol yang menjawab makna yang dialami individu pertama dan yang mencari makna dalam individu kedua. Isyarat suara yang mencapai situasi seperti itulah yang dapat menjadi “bahasa”. Kini ia menjadi simbol yang signifikan dan memberitahukan makna tertentu (Mead, 1934/1962:46). Dalam percakapan dengan isyarat, hanya isyarat itu sendiri yang dikomunikasikan. Tetapi dengan bahasa, yang dikomunikasikan ada isyarat dan maknanya.
Fungsi bahasa atau simbol yang signifikan pada umumnya adalah menggerakkan tanggapan yang sama di pihak individu yang berbicara dan juga di pihak lainnya. Kata anjing atau kucing mendapatkan citra mental yang sama dalam diri orang yang mengucapkan kata itu dan dalam diri lawan bicaranya Pengaruh lain dari bahasa adalah merangsang orang yang berbicara dan orang yang mendengarnya. Orang yang meneriakkan “kebakaran” di dalam bioskop yang padat penonton setidaknya akan bergegas keluar sebagaimana halnya dengan orang yang mendengar teriakannya itu. Jadi, simbol signifikan memungkinkan orang menjadi stimulator tindakan mereka sendiri.
Dengan mengadopsi orientasi aliran pragmatis ini, Mead juga melihat “fungsi” isyarat pada umumnya dan simbol signifikan pada khususnya. Fungsi isyarat adalah “menciptakan peluang di antara individu yang terlibat dalam tindakan sosial tertentu dengan mengacu pada objek atau objek-objek yang menjadi sasaran tindakan itu” (Mead, 1934/1962:46). Dengan demikian, muka cemberut yang tak disengaja mungkin dibuat untuk mencegah seorang anak kecil terlalu dekat ke tepi jurang, dan dengan cara demikian mencegahnya berada dalam situasi yang secara potensial berbahaya. Sementara isyarat nonsignifikan bekerja “simbol yang signifikan memberikan kemudahan jauh lebih besar untuk menyesuaikan diri dan penyesuaian diri kembali (readjustment) ketimbang yang diberikan isyarat nonsignifikan, karena simbol signifikan menggerakkan sikap yang sama dalam diri individu dan memungkinkan individu itu menyesuaikan perilakunya berikutnya dengan perilaku orang lain dalam hal sikap. Singkatnya, isyarat percakapan yang disadari atau yang signifikan adalah mekanisme yang jauh lebih memadai dan efektif untuk saling menyesuaikan diri dalam tindakan sosial ketimbang isyarat percakapan yang tak disadari atau yang tak signifikan (Med, 1934/1962:46). Dilihat dari sudut pandang pragmatis, simbol signifikan berperan lebih baik dalam kehidupan sosial ketimbang simbol yang tak signifikan. Dengan kata lain, dalam mengomunikasikan perasaan tak senang kita kepada orang lain, memaki-maki secara lisan berperan jauh lebih baik daripada bahasa tubuh yang berubah, seperti wajah cemberut. Individu yang menyatakan ketidaksenangannya, biasanya tak menyadari bahasa tubuh dan karena itu tak mampu secara sadar menyesuaikan tindakan selanjutnya dilihat dari sudut bagaimanacara orang lain bereaksi terhadap bahasa tubuh. Sebaliknya, seorang yang berbicara akan menyadari kemarahan yang diucapkannya dan bereaksi terhadap ucapan itu dengan cara yang sama (dan hampir dalam waktu bersamaan) dengan reaksi orang yang menjadi sasaran kemarahannya. Jadi, pembicara dapat memikirkan tentang bagaimana kemungkinan orang lain bereaksi dan menyiapkan reaksi terhadap reaksi orang lain itu.
Yang sangat penting dari teori Mead ini adalah fungsi lain simbol signifikan yakni memungkinkan proses mental, berpikir. Hanya melalui simbol sigifikan khususnya melalui bahasa manusia bisa berpikir (hewan yang lebih rendah menurut Mead tak bisa berpikir). Mead mendefinisikan berpikir (thinking) sebagai “percakapan implisit individu dengan dirinya sendiri dengan memakai isyarat” (1934/1962:47). Mead bahkan menyatakan “berpikir adalah sama dengan berbicara dengan orang lain” (1982:155). Dengan kata lain, berpikir melibatkan tindakan berbicara dengan diri sendiri. Jelas di sini Mead mendefinisikan berpikir menurut aliran behavioris. Percakapan meliputi perilaku (berbicara) dan perilaku itu juga terjadi di dalam diri individu; ketika perilaku terjadi, berpikir pun terjadi. Ini bukan definisi berpikir secara mentalistis; ini jelas definisi berpikir dalam arti behavioristik.
Simbol signifikan juga memungkinkan interaksi simbolik. Artinya, orang dapat saling berinteraksi tidak hanya melalui isyarat tetapi juga melalui simbol signifikan. Kemampuan ini jelas memengaruhi kehidupan dan memungkinkan terwujudnya pola interaksi dan bentuk organisasi sosial yang jauh lebih rumit ketimbang melalui isyarat saja.
Simbol signifikan jelas penting perannya dalam pemikiran Mead. David Miller mengakui peran sentral simbol signifikan dalam teori Mead.

Pikiran (Mind)
Pikiran, yang didefinisikan Mead sebagai proses percakapan seseorang dengan dirinya sendiri, tidak ditemukan di dalam diri individu; pikiran adalah fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang dalam proses sosial dan merupakan bagian integral dari proses sosial. Proses sosial mendahului pikiran, proses sosial bukanlah produk dari pikiran. Jadi, pikiran juga didefinisikan secara. fungsional ketimbang secara substantif. Adakah kekhususan dari pikiran? Kita telah melihat bahwa manusia mempunyai kemampuan khusus untuk memunculkan respon dalam dirinya sendiri. Karakteristik istimewa dari pikiran adalah kemampuan individu untuk “memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan. Itulah yang kita namakan pikiran. Melakukan sesuatu berarti memberi respon terorganisir tertentu; dan bila seseorang mempunyai respon itu dalam dirinya, ia mempunyai apa yang kita sebut pikiran. (Mead, 1934/1962:267). Dengan demikian pikiran dapat dibedakan dari konsep logis lain seperti konsep ingatan dalam karya Mead melalui kemampuannya menanggapi komunitas secara menyeluruh dan mengembangkan tanggapan terorganisir.
Mead juga melihat pikiran secara pragmatis. Yakni, pikiran melibatkan proses berpikir yang mengarah pada penyelesaian masalah. Dunia nyata penuh dengan masalah dan fungsi pikiranlah untuk mencoba menyelesaikan masalah dan memungkinkan orang beroperasi lebih efektif dalam kehidupan.

Diri (Self)
Banyak pemikiran Mead pada umumnya, dan khususnya tentang pikiran, melibatkan gagasannya mengenai konsep diri. Hingga saat ini kita menghindari konsep ini, tetapi kini perlu dibahas agar diperoleh pemahaman lebih lengkap mengenai pemikiran Mead.
Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai sebuah objek. Diri adalah kemampuan khusus untuk menjadi subjek maupun objek. Diri mengisyaratkan proses sosial: komunikasi antarmanusia. Binatang dan bayi yang baru lahir tak mempunyai diri. Diri muncul dan berkembang melalui aktivitas dan antara hubungan sosial. Menurut Mead adalah mustahil membayangkan diri yang muncul dalam ketiadaan pengalaman sosial. Tetapi, segera setelah diri berkembang, ada kemungkinan baginya untuk terus ada tanpa kontak sosial. Demikianlah, Robinson Crusoe mengembangkan diri saat berada di tengah peradaban, dan ia terus memilikinya ketika ia hidup sendiri di sebuah pulau yang saat itu ia kira pulau yang sepi. Dengan kata lain, ia terus mempunyai kemampuan untuk menerima dirinya sendiri sebagai sebuah objek. Segera setelah berkembang, orang biasanya, tetapi tak selalu, mewujudkannya. Contoh, diri tak terlibat dalam tindakan yang dilakukan karena kebiasaan atau dalam pengalaman fisiologis spontan tentang kesakitan atau kesenangan.
Diri berhubungan secara dialektis dengan pikiran. Artinya, di satu pihak menyatakan bahwa tubuh bukanlah diri dan baru akan menjadi diri bila pikiran telah berkembang. Di lain pihak, diri dan refleksitas adalah penting bagi perkembangan pikiran. Memang mustahil untuk memisahkan pikiran dan diri karena diri adalah proses mental. Tetapi, meskipun kita membayangkannya sebagai proses mental, diri adalah sebuah proses sosial. Dalam bahasannya diri, Mead menolak gagasan yang meletakkannya dalam kesadaran dan sebaliknya meletakkannya dalam pengalaman sosial dan proses sosial. Dengan cara ini Mead mencoba memberikan arti behavioristis tentang diri: “diri di mana orang memberikan tanggapan terhadap apa yang ia tujukan kepada orang lain dan di mana tanggapannya sendiri menjadi bagian dari tindakannya, di mana ia tak hanya mendengarkan dirinya sendiri, tetapi juga merespon dirinya sendiri, berbicara dan menjawab dirinya sendiri sebagaimana orang lain menjawab kepada dirinya, sehingga kita mempunyai perilaku di mana menjadi objek untuk dirinya sendiri” (1934/1962:139). Karena itu diri adalah aspek lain dari proses sosial menyeluruh di mana individu adalah bagiannya.
Mekanisme umum untuk mengembangkan diri adalah refleksivitas atau kemampuan menempatkan diri secara tak sadar ke dalam tempat orang lain dan bertindak seperti mereka bertindak. Akibatnya, orang mampu memeriksa sendiri sebagaimana orang lain memeriksa diri mereka sendiri. Seperti dikatakan Mead:
Dengan cara merefleksikan dengan mengembalikan pengalaman individu pada dirinya sendiri keseluruhan proses sosial menghasilkan pengalaman individu yang terlibat di dalamnya; dengan cara demikian, individu bisa menerima sikap orang lain terhadap dirinya, individu secara sadar mampu menyesuaikan dirinya sendiri terhadap proses sosial dan mampu mengubah proses yang dihasilkan dalam tindakan sosial tertentu dilihat dari sudut penyesuaian dirinya terhadap tindakan sosial itu (Mead, 1934/1962:134).
Diri juga memungkinkan orang berperan dalam percakapan dengan oraqg lain. Artinya, seseorang menyadari apa yang dikatakannya dan akibatnya mampu menyimak apa yang sedang dikatakan dan menentukan apa yang akan dikatakan selanjutnya.
Untuk mempunyai diri, individu harus mampu mencapai keadaan “di luar dirinya sendiri” sehingga mampu mengevaluasi diri sendiri, mampu menjadi objek bagi dirinya sendiri. Untuk berbuat demikian, individu pada dasarnya harus menempatkan dirinya sendiri dalam bidang pengalaman yang sama dengan orang lain. Tiap orang adalah bagian penting dari situasi yang dialami bersama dan tiap orang harus memperhatikan diri sendiri agar mampu bertindak rasional dalam situasi tertentu. Dalam bertindak rasional ini mereka mencoba memeriksa diri sendiri secara impersonal, objektif, dan tanpa emosi.
Tetapi, orang tak dapat mengalami diri sendiri secara langsung. Mereka hanya dapat melakukannya secara tak langsung melalui penempatan diri mereka sendiri dari sudut pandang orang lain itu. Dari sudut pandang demikian orang memandang dirinya sendiri dapat menjadi individu khusus atau menjadi kelompok sosial sebagai satu kesatuan. Seperti dikatakan Mead, “Hanya dengan mengambil peran orang lainlah kita mampu kembali ke diri kita sendiri” (1959: 184-185).

Perkembangan Anak
Mead sangat tertarik pada asal-usul diri. Ia melihat percakapan isyarat sebagai latar belakang bagi diri, tetapi hal itu tidak menyangkut diri, karena dalam percakapan semacam itu orang tidak menempa dirinya sendiri sebagai objek. Mead merunut asal-usul diri melalui dua tahapan dalam perkembangan masa kanak-kanak. Tahap Bermain. Pertama adalah tahap bermain (play stage). Dalam tahap ini anak-anak mengambil sikap orang lain tertentu untuk dijadikan sikapnya sendiri. Meski binatang juga bermain, namun hanya manusialah “yang bermain dengan orang lain” (Aboulafia, 1986:9). Mead memberikan contoh seorang anak yang bermain “Indian-Indianan”: “Ini berarti bahwa anak itu mempnyai sekumpulan stimulu tertentu yang dalam dirinya sendiri muncul respon yang juga muncul dalam diri orang lain, dan mempunyai stimulu untuk menjawab Indian” (Mead, 1934/1962:150) Akibat dari permainan ini, sang anak belajar menjadi subjek dan objek dan mulai mampu membangun diri. Tetapi, itu adalah diri terbatas karena anak hanya dapat mengambil peran orang lain yang berbeda dan terpisah. Anak-anak mungkin memerankan “mami” dan “papi” dan dalam proses mengembangkan kemampuan mengevaluasi diri mereka sendiri sebagai orang tua mereka dan sebagai orang tertentu lainnya. Tetapi, mereka tidak banyak memahami pengertian yang lebih umum dan terorganisir mengenai diri mereka sendiri. Tahap Permainan. Tahap selanjutnya adalah tahap permainan (game stage) yang diperlukan agar manusia dapat mengembangkan diri menurut makna istilah itu sepenuhnya. Dalam tahap bermain-main (play), anak mengambil peran orang vang berlainan, sedangkan dalam tahap permainan (game) anak harus mengambil peran orang lain mana pun yang terlibat dalam permainan. Lebih lanjut peran yang berlainan ini harus mempunyai hubungan nyata satu sama lain. Dalam melukiskan tahap permainan, Mead mengemukakan contoh terkenalnya tentang permainan baseball (Mead menyebutnya “permainan sembilan bola”) : Dalam permainan baseball terlibat sejumlah individu. Seorang anak yang mengambil satu peran, harus siap untuk mengambil peran setiap orang lainnya. Bila memetik sembilan bola, ia harus memberikan tanggapan atas setiap posisi yang terlibat dalam posisinya sendiri. Ia harus mengetahui apa yang akan dilaakukan oleh orang lain agar dapat melaksanakan permainannya sendiri. Ia harus mengambil seluruh peran itu. Semua peran tak harus hadir dalam kesadaran pada waktu bersamaan, tetapi pada saat tertentu ia harus mempunyai sikap seperti tiga atau empat individu lainnya, seperti orang yang akan melempar bola, menangkapnya, dan seterusnya. Tanggapan harus dihadirkan dalam keputusan yang dibuatnya sendiri. Dalam permainan ada sekumpulan tanggapan seperti itu dari orang lain yang terorganisir sedemikian rupa sehingga sikap dari seseorang memunculkan sikap yang tepat dari orang lain.
(Mead, 1934/1962:151)
Dalam tahap bermain-main, anak-anak tidak terorganisir secara keseluruhan karena mereka memainkan sederetan peran yang berlainan. Akibatnya, menurut Mead mereka tak mempunyai kepribadian yang nyata. Dalam tahap permainan, organisasi telah dilakukan dan kepribadian tertentu mulai muncul, anak-anak mampu berfungsi di dalam kelompok terorganisir, dan yang paling penting, mulai mampu menentukan apa yang akan mereka kerjakan dalam suatu kelompok khusus. Generalized Other. Tahap permainan itu menghasilkan salah satu konsep Mead (1959:87) yang paling terkenal, the generalized other (orang lain yang digeneralisir). Orang lain yang digeneralisir adalah sikap seluruh komunitas dalam contoh permainan baseball di atas, adalah sikap tim secara keseluruhan. Kemampuan untuk mengambil peran umum orang lain adalah penting bagi diri: “Hanya sepanjang ia mengambil sikap sebagai anggota kelompok terorganisir, dan terlibat dalam aktivitas sosial kooperatif yang terorganisir, ia akan mampu mengembangkan diri sepenuhnya.” (1934/1962:155). Adalah juga penting bahwa orang mampu untuk mengevaluasi diri mereka sendiri dari sudut pandang orang lain yang digeneralisir dan bukan sekedar dari sudut pandang orang lain yang terpisah-pisah, sehingga memungkinkan adanya pemikiran abstrak dan objektivitas (Mead, 1959:190). Mead melukisi perkembangan sempurna diri sebagai berikut : Diri mencapai perkembangan sempurna dengan mengorganisir sikap individual orang lain menjadi sikap kelompok atau organisasi sosial, dan dengan demikian menjadi suatu refleksi individual terhadap pola sosial sistematis umum atau perilaku kelompok di mana ia dan yang lainnya ada di dalamnya pola yang masuk secara keseluruhan ke dalam pengalaman individu dalam term sikap organisasi kelompok yang diambilnya untuk dirinya sendiri, sebagaimana ia menerima sikap individual orang lain (Mead, 1934/1962:158).
Dengan kata lain, untuk mencapai diri sempurna, orang harus menjadi anggota komunitas dan ditunjukkan oleh kesamaan sikapnya dengan sikap komunitas. Bermain-main (play) hanya memerlukan potongan-potongan sedangkan permainan (game) memerlukan diri yang saling berhubungan.
Penerimaan peran orang lain yang digeneralisir tak hanya penting bagi diri tetapi juga penting bagi pengembangan aktivitas kelompok terorganisir. Kelompok menghendaki agar individu mengatur aktivitas mereka sesuai dengan sikap orang lain yang digeneralisasi. Orang lain yang digeneralisir ini juga mencerminkan kecenderungan Mead memprioritaskan kehidupan sosial, karena melalui generalisasi orang lainlah kelompok memengaruhi perilaku individu.
Mead juga melihat diri dari sudut pandang pragmatis. Di tingkat individual, diri memungkinkan individu menjadi anggota masyarakat yang makin efisien. Karena diri, orang makin besar kemungkinannya untuk melakukan apa yang diharapkannya dalam situasi tertentu. Karena orang sering mencoba berbuat sesuai dengan harapan kelompok, mereka lebih besar kemungkinannya untuk menghindari ketidakefisienan yang berasal dari kegagalan melakukan apa yang diharapkan kelompok. Selanjutnya, diri memungkinkan meningkatkan koordinasi dalam masyarakat sebagai satu kesatuan. Karena individu dapat memperhitungkan tindakan apa yang diharapkan dari mereka, maka kelompok dapat berjalan dengan lebih efektif.
Seluruh diskusi tentang diri mengarahkan kita pada keyakinan bahwa aktor menurut Mead tak lebih dari seorang konformis, dan tidak banyak ada indidualitas, karena setiap orang sibuk menyesuaikan diri dengan harapan orang lain yang digeneralisir. Namun, Mead jelas sekali membedakan setiap diri dari semua diri lainnya. Diri memiliki struktur bersama, tetapi setiap diri menerima si biografis yang unik. Selain itu, sudah jelas bahwa dalam masyarakat _ n.ya ada satu generalisasi, tetapi banyak sekali generalisasi lainnya. Karena itu individu mempunyai multiple generalized others dan akibatnya individu mempunyai diri jamak (multiple self). Setiap perangkat diri unik seseorang menyebabkannya berbeda dengan setiap orang lainnya. Lagi pula, individu tak menerima komunitas sebagaimana adanya. Mereka dapat mengubahnya dan mencoba membuatnya menjadi komunitas yang lebih baik. Kita mampu mengubah komunitas karena kita mempunyai kapasitas untuk berpikir. Namun, Mead terpaksa menempatkan masalah kreativitas individu ini dalam terminologi aristis yang sudah lazim: “Satu-satunya cara yang memungkinkan kita dapat bereaksi terhadap ketidaksetujuan (disapproval) komunitas adalah dengan membangun semacam komunitas lebih tinggi yang dalam pengertian tertentu seseorang mungkin menentang pendirian komunitasnya. Namun, untuk berbuat orang itu harus memahami pengaruh komunitas di masa lalu dan di masa depan. Itulah satu-satunya cara diri mendapatkan pengaruh yang lebih daripada pengaruh komunitas” (1934/1962:167-168). Dengan kata lain, menghadapi orang lain yang digeneralisir, individu harus membangun generalisasi orang lain yang lebih luas, yang tak hanya terdiri dari masa sekarang, tetapi juga dari masa lalu dan masa depan.
Mead mengidentifikasi dua aspek atau fase diri, yang ia namakan “I” dan Mead menyatakan, “Diri pada dasarnya adalah proses sosial yang berlanngsung dalam dua fase yang dapat dibedakan” (1934/1962:178). Perlu diingat bahwa “I” dan “me” adalah proses yang terjadi di dalam proses diri yang lebih luas, keduanya bukanlah sesuatu (things).
“I” dan “Me”. “I” adalah tanggapan spontan individu terhadap orang lain. Ini adalah aspek kreatif yang tak dapat diperhitungkan dan tak teramalkan dari diri. Orang tak dapat mengetahui terlebih dahulu apa tindakan aktor yang mengatakan “Aku akan” (“I”will be): “Tetapi, apa tanggapan yang akan dilakukan, ia tak tahu dan orang lain pun tak ada yang tahu. Mungkin ia akan membuat permainan cemerlang atau mungkin juga kesalahan. Tanggapan atas situasi seperti yang muncul dalam pengalaman langsungnya itu adalah tidak menentu.” (Mead, 1934/1962:175). Kita tak pernah tahu sama sekali tentang “I” dan melaluinya kita mengejutkan diri kita sendiri lewat tindakan kita. Kita hanya tahu “I” setelah tindakan telah dilaksanakan. Jadi, kita hanya tahu “I” dalam ingatan kita. Mead sangat menekankan “I” karena empat alasan. Pertama, “I” adalah sumber utama sesuatu yang baru dalam proses sosial. Kedua, Mead yakin, di dalam “I” itulah nilai terpenting kita ditempatkan. Ketiga, “I” merupakan sesuatu yang kita semua cari perwujudan diri. ‘T’-lah yang memungkinkan kita mengembangkan “kepribadian definitif”. Keempat, Mead melihat suatu proses evolusioner dalam sejarah di mana manusia dalam masyarakat primitif lebih didominasi oleh “me”, sedangkan dalam masyarakat modern komponen “I” nya lebih besar.
“I” memberi sistem teoritis Mead dinamisme dan kreativitas yang memang banyak dibutuhkan. Tanpa itu, aktor Mead secara total akan didominasi oL kontrol eksternal dan internal. Dengan itu, Mead mampu menerangkan perubahan sosial yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh peran tokoh besar dalam sejarah (contoh, Einstein), tetapi juga oleh manusia biasa. “I” inilah yang memungkinkan terjadinya perubahan. Karena setiap kepribadian adalah campuran dari “I” dan “me”, maka tokoh besar dalam sejarah dipandang mempunyai proporsi “I” lebih besar ketimbang yang dipunyai kebanyakan orang lain. Tetapi dalam situasi sehari-hari, “I”-nya seseorang mungkin menegaskan dirinya sendiri dan menyebabkan perubahan dalam situasi sosial. Keunikan juga masuk ke sistem teori Mead melalui artikulasi biografis setiap “I” dan “me”-nya individu. Artinya, pengalaman khusus kehidupan setiap orang, memberinya keunikan campuran “I” dan “me”.
“I” bereaksi terhadap “me” yang mengorganisir sekumpulan sikap orang lain yang ia ambil menjadi sikapnya sendiri” (Mead, 1934/1962:175). Dengan kata lain, “me” adalah penerimaan atas orang lain yang digeneralisir. Berbeda dengan “I”, orang menyadari “me”; “me” meliputi kesadaran tentang tanggung jawab. Seperti dikatakan Mead, “me” adalah individu biasa, konvensional (1934, 1962:197). Konformis ditentukan oleh “me” meskipun setiap orang apapun derajat konformisnya mempunyai dan harus mempunyai “me” yang kuat. Melalui “me” lah masyarakat menguasai individu. Mead mendefinisikan gagasan tentang kontrol sosial sebagai keunggulan ekspresi “me” di atas ekspresi I Kemudian dalam buku Mind, Self and Society, Mead menguraikan gagasan tentang kontrol sosial : Kontrol sosial, sebagai pelaksanaan kritik diri, diterapkan secara ketat dan ekstentif terhadap tindakan atau perilaku individu, membantu mengintegrasikan individu dan tindakannya dengan merujuk kepada proses sosial terorganisir dari pengalaman dan perilaku di mana ia dilibatkan. Kontrol sosial terhadap tindakan atau perilaku individu dilaksanakan dengan berdasarkan atas asal-usul dan basis sosial kritik diri. Kritik diri pada dasarnya adalah kritik sosial dan perilaku yang dikendalikan secara sosial. Karena itu, kontrol sosial, jauh dari kecenderungan menghancurkan individu manusia atau melenyapkan kesadaran dirinya secara individual, sebaliknya, adalah terdapat di dalam dan tak terlepas dari hubungannya dengan individualitas (Mead, 1934/1962:255).
Mead juga melihat “I” dan “me” menurut pandangan pragmatis. “Me” memungkinkan individu hidup nyaman dalam kehidupan sosial, sedangkan “I” memungkinkan terjadinya perubahan masyarakat. Masyarakat mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang memungkinkannya berfungsi dan terus-menerus mendapatkan masukan baru untuk mencegah terjadinya stagnasi. “I” dan “me” dengan demikian adalah bagian dari keseluruhan proses sosial dan memungkinkan, baik individu maupun masyarakat, berfungsi secara lebih efektif.

Masyarakat
Pada tingkat paling umum, Mead menggunakan istilah masyarakat (society) berarti proses sosial tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri. Masyarakat penting perannya dalam membentuk pikiran dan diri. Di tingkat lain, menurut Mead, masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisir yang diambil alih oleh individu dalam bentuk “aku” (me). Menurut pengertian individual ini masyarakat memengaruhi mereka, memberi mereka kemampuan melalui kritik-diri, untuk mengendalikan diri mereka sendiri. Mead juga menjelaskan evolusi masyarakat. Namun, ia sedikit sekali berbicara tentang masyarakat meski masyarakat menempati posisi sentral dalam sistem teorinya. Sumbangan terpenting Mead tentang masyarakat, terletak dalam pemikirannya mengenai pikiran dan diri.
Bahkan John Baldwin yang melihat banyaknya
komponen kemasyarakatan (makro) dalam pemikiran Mead, terpaksa mengakui “komponen makro sistem teori Mead tak sama baik perkembangannya dengan komponen mikro” (1986:123). Pada tingkat kemasyarakatan yang lebih khusus, Mead mempunyai sejumlah pemikiran tentang pranata sosial (sosial institutions). Secara luas, Mead mendefinisikan pranata sebagai “tanggapan bersama dalam komunitas” atau “kebiasaan hidup komunitas”. lebih khusus, ia mengatakan bahwa, “keseluruhan tindakan komunitas tertuju pada individu berdasarkan keadaan tertentu menurut cara yang sama…berdasarkan keadaan itu pula, terdapat respon yang sama di pihak komunitas. Proses ini kita sebut “pembentukan pranata” (Mead, 1934/1962:167). Kita membawa kumpulan sikap yang terorganisir ini ke dekat kita, dan sikap itu membantu mengendalikan tindakan kita, sebagian besar melalui keakuan (me).
Pendidikan adalah proses internalisasi kebiasaan bersama komunitas ke dalam diri aktor. Pendidikan adalah proses yang esensial karena menurut pandangan Mead, aktor tidak mempunyai diri dan belum menjadi anggota komunitas sesungguhnya hingga mereka mampu menanggapi diri mereka sendiri seperti yang dilakukan komunitas yang lebih luas. Untuk berbuat demikian, aktor harus menginternalisasikan sikap bersama komunitas.
Namun, Mead dengan hati-hati mengemukakan bahwa pranata tak selalu menghancurkan individualitas atau melumpuhkan kreativitas. Mead mengakui adanya pranata sosial yang “menindas, stereotip dan ultrakonservatif seperti gereja yang dengan kekakuan, ketidaklenturan, dan ketidakprogesifan menghancurkan atau melenyapkan individualitas (1934/1962:262). Tetapi, Mead cepat-cepat menambahkan: “Tak ada alasan yang tak terelakkan mengapa pranata sosial harus menindas atau konservatif, atau mengapa mereka itu tak selalu lentur dan progresif, lebih membantu perkembangan individualitas ketimbang menghalanginya.” (Mead, 1934/1962:262). Menurut Mead, pranata sosial seharusnya hanya menetapkan apa yang sebaiknya dilakukan individu dalam pengertian yang sangat luas dan umum saja, dan seharusnya menyediakan ruang yang cukup bagi individualitas dan kreativitas. Di sini Mead menunjukkan konsep pra sosial yang sangat modern baik sebagai pemaksa individu maupun sebagai yang memungkinkan mereka untuk menjadi individu yang kreatif.
Kelemahan analisis Mead tentang masyarakat pada umumnya dan tentang pranata sosial khususnya, adalah pada pemahaman di tingkat makro seperti yang dikerjakan teoritisi Marx, Weber, dan Durkheim. Ini benar meski Mead mempunyai gagasan tentang “kemunculan” (emergence) dalam pengertian bahwa keseluruhan dilihat sebagai lebih dari sekadar penjumlahan bagian-bagiannya. Lebih khusus lagi, “kemunculan melahirkan reorganisasi, tetapi reorganisasi memasukkan sesuatu yang belum ada sebelumnya. Mula-mula oksigen hidrogen hadir bersama, air pun muncul. Kini air adalah kombinasi oksigen dan hidrogen, tetapi air tidak ada sebelumnya dalam bentuk elemen yang terpisah (Mead, 1934/1962:198). Namun, Mead lebih cenderung menerapkan gagasan tentang kemunculan ini kepada kesadaran ketimbang menerapkannya kepada masyarakat yang lebih luas. Yakni, pikiran dan diri dianggap muncul dari proses sosial. Begitu pula Mead cenderung menggunakan istilah kemunculan semata-mata untuk menunjuk pada kemunculan sesuatu yang baru atau gagasan (Miller, 1973:41).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar