Sabtu, 20 April 2013

Marxisme yang Berorientasi Historis


Pemikir Marxis yang berorientasi ke riset historis ini mengaku sebagai Marxian yang benar-benar memusatkan perhatian pada sejarah. Riset historisris Marx paling terkenal adalah formasi ekonomi prakapitalis (1857-1858/ 1964). Banyak karya historis berikutnya berdasarkan perspektif Marxian (contoh, Amin, 1977; Dobb, 1964; Hobsbawm, 1965). Dalam bagian ini kita akan membahas karya yang merefleksikan orientasi historis, karya Immanuel Wallerstein (1974, 1980, 1989,1992,1995; Chase-Dunn, 2001) tentang sistem dunia modern.

Sistem Dunia Modern
Wallerstein memilih unit analisis tak seperti yang digunakan oleh kebanyakan pemikir Marxian. Ia tak memperhatikan pekerja, kelas atau bahkan negara karena ia melihat sebagian besar variabel tersebut terlalu sempit untuk tujuan analisisnya. Sebaliknya, ia memusatkan perhatian pada kesatuan ekonomi luas dengan pembagian kerja yang tak dibatasi oleh batasan politik atau kultural. Ia menemukan bahwa unit dalam konsep sistem dunianya itu sebagian besar adalah sosial yang memenuhi kebutuhan sendiri dengan batas dan jangka hidup yang dapat ditetapkan; artinya sistem sosial itu tak kekal selamanya. Sistem itu secara internal tersusun dari berbagai jenis struktur sosial dan kelompok-kelompok yang menjadi anggotanya. Wallerstein tak cenderung mendefinisikan sistem itu dari sudut konsensus yang menyatukannya bersama. Menurutnya sistem itu dipersatukan bersama oleh berbagai jenis kekuatan yang mengandung ketegangan di dalamnya. Kekuatan ini selalu berpotensi untuk merobek sistem sehingga terpecah-pecah.
Wallerstein menyatakan bahwa sejauh ini kita hanya mempunyai dua tipe sistem dunia. Pertama adalah kekaisaran dunia, contohnya kekaisaran Romawi kuno. Kedua, adalah sistem ekonomi dunia kapitalis modern. Kekaisaran dunia berdasarkan dominasi politik (dan militer) sedangkan sistem ekonomi dunia kapitalis bersandarkan pada dominasi ekonomi. Ekonomi dunia kapitalis dipandang lebih stabil ketimbang kekaisaran dunia karena beberapa alasan. Pertama, ekonomi dunia kapitalis mempunyai basis lebih luas, karena meliputi banyak negara. Kedua, mempunyai proses stabilisasi ekonomi yang terpasang permanen. Masing-masing kesatuan politik di dalam ekonomi dunia kapitalis menyerap apa pun kerugian yang terjadi, sedangkan keuntungan ekonomi didistribusikan ke tangan privat. Wallerstein meramalkan kemungkinan munculnya sistem dunia ketiga, sebuah pemerintahan dunia sosialis. Sementara sistem ekonomi kapitalis memisahkan politik dari sektor ekonomi, ekonomi dunia sosialis akan menyatukannya kembali.
Pusat (core) kawasan geografis mendominasi ekonomi dunia dan mengeksploitasi seluruh sistem. Kawasan pinggiran (periphery) terdiri dari kawasan yang menyediakan bahan mentah bagi pusat dan sangat dieksploitasi oleh pusat. Kawasan semipinggiran (semiperiphery) adalah kategori sisa (residual) yang meliputi sekumpulan kawasan di suatu tempat antara yang mengeksploitasi dan yang dieksploitasi. Pendapat kunci di sini adalah bahwa, menurut Wallerstein, pembagian eksploitasi internasional bukan ditentukan oleh batas negara, tetapi oleh pembagian kerja ekonomi di dunia. Dalam jilid pertama tentang sistem dunia, Wallerstein (1974) menerangkan asal-usul sistem dunia kira-kira antara tahun 1450 dan 1640. Signifikansi perkembangan ini adalah terjadinya pergeseran dari dominasi politik (dan militer) ke dominasi ekonomi. Wallerstein melihat ekonomi sebagai alat dominasi yang jauh lebih efisien dan lebih maju ketimbang politik. Struktur politik sangat tidak praktis, sedangkan eksploitasi ekonomi memungkinkan untuk meningkatkan aliran surplus dari strata bawah ke strata lebih tinggi, dari kawasan pinggiran ke kawasan pusat (pusat), dari mayoritas ke minoritas (Wallerstein, 1974:15). Di era modern, kapitalis menyediakan basis untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dunia; ini telah tercapai tanpa bantuan struktur politik yang dipersatukan. Kapitalisme dapat dipandang sebagai alternatif ekonomi terhadap dominasi politik. Kapitalisme jauh lebih mampu menghasilkan surplus ekonomi ketimbang teknik yang lebih primitif yang digunakan dalam eksploitasi politik.
Wallerstein menyatakan ada tiga hal yang diperlukan untuk membangun ekonomi dunia kapitalis keluar dari puing reruntuhan feodalisme; ekspansi melalui eksplorasi dan kolonisasi, pengembangan metode pengendalian kerja yang berlainan untuk kawasan berlainan (misalnya, pusat, pinggiran) dari ekonomi dunia, dan pembangunan negara yang kuat yang akan menjadi pusat ekonomi dunia kapitalis yang baru muncul. Berikut ini dibahas satu per satu.

Ekspansi Geografis
Wallerstein menyatakan ekspansi geografis oleh bangsa adalah persyaratan bagi kedua tahap lainnya itu. Portugal memimpin eksplorasi dilautan dan bangsa-bangsa Eropa lainnya menyusul. Wallerstein berhati-hati berbicara mengenai negara tertentu atau mengenai istilah Eropa pada umumnya. Ia lebih suka melihat ekspansi di lautan disebabkan oleh kelompok orang yang bertindak atas nama kepentingan mereka sendiri. Kelompok elite seperti bangsawan memerlukan ekspansi lautan karena berbagai alasan. Pertama, mereka berperang melawan kelas yang baru muncul yang menyebabkan ambruknya ekonomi feodal. Kedua, perdagangan budak menyediakan mereka tenaga kerja loyal untuk membangun ekonomi kapitalis. Ketiga, ekspansi juga menyediakan berbagai jenis komoditi yang dibutuhkan untuk mengembangkan kapitalis emas, makanan, dan berbagai jenis bahan mentah.

Pembagian Kerja Dunia
Segera setelah dunia mengalami ekspansi ia bersiap masuk ke tahap berikutnya, pengembangan divisi tenaga kerja di seluruh dunia. Pada abad enam belas, kapitalisme menggantikan statisme sebagai mode utama yang mendominasi dunia, tetapi kapitalisme tidak berkembang secara seragam di seluruh dunia. Pada kenyataannya, menurut Wallerstein, solidaritas sistem kapitalis pada akhirnya didasarkan pada pengembangan yang tak ekual. Dengan orientasi Marxiannya, Wallerstein tidak menganggapnya sebagai keseimbangan konsensual, tetapi lebih sebagai keseimbangan yang bermuatan konflik dari awal. Bagian-bagian sistem dunia kapotalis yang berbeda terspesialisasi dalam fungsi-fungsi khusus mengembangbiakkan tenaga kerja, memproduksi bahan makanan, menyediakan bahan mentah, dan mengorganisir industri. Kawasan yang berbeda-beda akan mengembangkan spesialisasi dalam menghasilkan tipe tenaga kerja khusus. Contoh, Afrika memproduksi budak; Eropa Barat dan Eropa Selatan mempunyai banyak petani dan petani penyewa. Eropa Barat juga menjadi pusat pekerja kelas penguasa dan keterampilan lain serta pekerja perorangan yang berperan sebagai tenaga pengawas.
lebih umum lagi, masing-masing ketiga bagian pembagian kerja internasional itu cenderung berbeda dilihat dari sudut cara pengendalian tenaga kerja. Kawasan pusat mempunyai tenaga kerja bebas; kawasan pinggiran ditandai oleh tenaga paksaan dan seni; pinggiran adalah pusat kawasan pertanian dengan pola bagi hasil. Wallerstein menyatakan bahwa kunci kapitalisme terletak pada kenyataan bahwa kawasan pusat didominasi oleh pasar tenaga kerja bebas untuk pekerja terampil, dan pasar tenaga kerja paksa untuk pekerja kurang terampil terdapat di kawasan pinggiran. Kombinasi seperti itu adalah esensi kapitalis Bila pasar tenaga kerja bebas harus berkembang di seluruh dunia, itu hanya dapat dicapai dengan sosialisme. Bagian-bagian dunia tertentu mulai mendapat keuntungan awal yang kecil yang kemudian digunakan sebagai basis untuk mengembangkan keuntungan lebih besar di kemudian hari. Kawasan pusat pada abad 16, terutama Eropa Barat, dengan cepat memperbesar keuntungannya ketika kota berkembang, industri berkembang, dan perdagangan menjadi penting. Pada waktu bersamaan masing-masing aktivitasnya menjadi semakin terspesialisasi dan memproduksi dengan cara makin efisien. Sebaliknya, kawasan pinggiran mengalami stagnasi bergerak ke arah masyarakat monokultur, atau yang tidak terdiferensi masyarakat berfokus-tunggal.

Perkembangan Negara Pusat
Tahap ketiga perkembangan sistem dunia melibatkan sektor politik dan cara-cara kelompok ekonomi yang berlainan menggunakan struktur negara untuk melindungi dan mendahulukan kepentingan mereka. Monarki absolut muncul di Eropa Barat hampir bersamaan waktunya dengan perkembangan kapitalisme. Sejak abad 16 hingga abad 18, negara adalah pusat pelaku ekonomi di Eropa meski pusatnya ini kemudian ke perusahaan. Negara yang kuat di kawasan pusat memainkan peran kunci dalam mengembangkan kapitalisme dan akhirnya menyediakan landasan bagi kematian dirinya sendiri. Negara-negara Eropa memperkuat diri mereka di abad 16, antara lain dengan mengembangkan dan memperluas sistem birokrasi dan menciptakan monopoli kekuasaan dalam masyarakat, terutama dengan membangun tentara dan melegitimasi aktivitas mereka untuk menjamin terpeliiharanya stabilitas dalam negeri. Sementara negara di kawasan pusat membangun sistem politik yang kuat, dalam waktu bersamaan kawasan pinggiran membangun negara yang lemah.

Perkembangan yang Kemudian
Dalam bukunya, The Modern World System II, Wallerstein (1980) menguraikan sejarah konsolidasi ekonomi dunia antara 1600 dan 1750. Dalam periode ini tak terjadi ekspansi ekonomi Eropa yang berarti, tetapi terjadi sejumlah perubahan penting dalam sistem dunia. Contohnya perkembangan dan kemudian diikuti kemorosotan dalam negara pusat, yakni negara Belanda. Kemudian dia menganalisa konflik antara Perancis dan
Inggris yang berakhir dengan kemenangan Inggris. Di kawasan pinggiran, Wallerstein secara mendetail mendeskripsikan, antara lain, kawasan Amerika jajahan Spanyol yang mengalami kemerosotan dan Swedia yang mengalami kemajuan ekonomi. Ia melanjutkan analisis historisnya mengenai berbagai peran yang dimainkan oleh berbagai masyarakat dalam pembagian kerja ekonomi dunia. Wallerstein melanjutkan analisis historisnya dari sudut pandang Marxian di mana dia menganalisa divisi tenaga kerja dalam perekonomian dunia. Meski memperhatikan faktor sosial dan politik, namun perhatian utamanya tetap tertuju pada peran faktor ekonomi dalam sejarah dunia.
Dalam bukunya paling baru, Wallerstein (1989) membuat analisis historis hingga tahun 1840-an. Wallerstein melihat tiga perkembangan besar selama periode 1730-an hingga 1840-an: Revolusi Industri (terutama di Inggris), Revolusi Perancis, dan kemerdekaan negara yang semula menjadi koloni negara-negara Eropa di Benua Amerika. Menurutnya tak satu pun negara baru ini yang menentang sistem kapitalis dunia, sebaliknya mereka justru bergabung dan menjadi bagian kubu sistem itu (Wallerstein, 1989:256).
Wallerstein melanjutkan analisis sejarah tentang perjuangan antara Inggris dan Perancis untuk mendominasi kawasan pusat. Meski ekonomi dunia mengalami stagnasi sebelum periode analisis, kawasan pusat kini meluas dan Inggris Raya mampu membangun industri lebih cepat dan mendominasi industri berskala besar. Pergeseran dominasi ke Inggris terjadi meski fakta menunjukan bahwa di abad 18 Perancis telah mendominasi bidang industri. Revolusi Perancis berperan penting dalam mengembangkan sistem kapitalis dunia terutama dengan membantu mengakhiri sisa kultur feodalisme dan menghasilkan sistem ideol kultural yang sesuai dengan realitas politik dan ekonomi. Tetapi, revolusi menghambat perkembangan industri Perancis. Perang dan rezim Perancis juga menghambat industri. Menjelang akhir periode tersebut, “Inggris akhirnya benar-benar memegang hegemoni dalam sistem dunia” (Wallerstein, 1989:122).
Periode 1750 dan 1850 ditandai oleh penggabungan kawasan baru yang sangat luas (subbenua India, kekaisaran Ottoman dan Rusia, dan Afrika Barat) ke dalam kawasan pinggiran sistem ekonomi dunia. Kawasan ini telah menjadi kawasan eksternal sistem dunia dan dengan demikian telah dikaitkan dengan, tetapi belum masuk, ke dalam sistem. Ekonomi dunia kapitalis membutuhkan bahan mentah dari kawasan eksternal ini, tetapi kawasan ini juga mampu menentang impor barang manufaktur dari negara pusat. Akibat tak terjadinya kerja sama timbal balik dengan kawasan eksternal ini, negara yang bertetangga dengan negara kawasan eksternal ini juga ditarik ke dalam sistem dunia. Demikianlah bergabungnya India menyebabkan Cina menjadi bagian kawasan pinggiran. Menjelang akhir abad 19 dan awal abad 20 langkah penggabungan makin dipercepat dan “seluruh dunia, bahkan kawasan yang sebelumnya tak menjadi bagian dari kawasan eksternal sekalipun, masuk ke dalam sistem dunia kapitalis” (Wallerstein, 1989:129).
Desakan bergabung ke dalam ekonomi dunia ini tidak datang dari bangsa yang akan digabungkan, tetapi “lebih berasal dari tuntutan ekonomi dunia untuk meluaskan batasnya, yakni kebutuhannya sendiri yang mengakibatkan tekanan internal terhadap ekonomi dunia” (Wallerstein, 1989:129). Proses penggabungan terjadi secara tiba-tiba, tetapi secara bertahap.
Dengan merefleksikan pendekatan Marxiannya tentang ekonomi, Wallerstein (1989:170) menyatakan bahwa untuk menjadi bagian ekonomi dunia, politik bangsa bersangkutan harus menjadi bagian dari sistem antar negara. Dengan demikian negara di kawasan yang digabungkan itu harus mengubah diri mereka sendiri menjadi bagian sistem politik antarnegara, harus diganti dengan bentuk politik baru yang mau menerima peran ini atau diambil alih oleh negara yang telah menjadi bagian sistem politik antarnegara itu. Negara yang lahir di akhir proses penggabungan tak hanya harus menjadi bagian sistem antar negara, tetapi juga harus cukup kuat melindungi kepentingan ekonomi dari campur tangan pihak luar, tetapi tak harus terlalu kuat; artinya negara itu tak harus menjadi cukup berkuasa sehingga mampu bertindak sesuai dengan yang ditentukan oleh ekonomi dunia kapitalis.
Terakhir Wallerstein menjelaskan dekolonisasi Amerika antara 1750 dan 1850 mengungkap fakta bahwa Amerika memerdekakan diri mereka sendiri dari kontrol Inggris Raya, Perancis, Spanyol, dan Portugal. Dekolonisasi ini membawa konsekuensi besar bagi perkembangan sistem kapitalis dunia terutama di Amerika.

Teori Sistem Dunia Kini
Pemikir Marxis mengkritik perspektif sistem dunia karena kegagalannya menjelaskan secara memadai hubungan antara kelas-kelas (Bergeson,1984). Menurut pandangan mereka, Wallerstein memusatkan perhatian pada masalah yang keliru. Bagi pemikir Marxis, kuncinya bukanlah pembagian kerja internasional antara kawasan pusat dan pinggiran, tetapi adalah masalah hubungan kelas dalam masyarakat tertentu. Berger berupaya mendamaikan perbedaan pendapat ini dengan menyatakan bahwa di kedua pihak ada kekuatan dan kelemahannya. Menurut pendapatnya yang berdiri di tengah ini, hubungan pertukaran yang timpang ini tak hanya ditemukan dalam hubungan kawasan pusat dan pinggiran, tetapi juga dalam hubungan kelas global, kuncinya adalah bahwa hubungan pusat-pinggiran adalah penting, tak hanya sebagai hubungan pertukaran seperti ditegaskan Wallerstein, tetapi juga, dan lebih penting, sebagai hubungan kekuasaan-ketergantungan, yakni hubungan kelas. Belakangan ini, teoritisi sistem dunia telah mendorong teori tersebut agar untuk membahas situasi dunia sekarang dan masa yang akan datang, (Chase-Dunn, 2001; Wallerstein, 1992; Wallerstein, 1999) serta masa-masa sebelum era modern (Chase-Dunn dan Hall, 1994).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar