Minggu, 14 April 2013

Sosiolog-sosiolog Perempuan yang Pertama


Bersamaan dengan perkembangan Universitas Chicago dan bersamaan waktunya ketika Durkheim, Weber, dan Simmel menciptakan sosiologi Eropa, sekelompok wanita yang membentuk organisasi reformasi sosial juga mengembangkam teori sosiologi rintisan. Di antara wanita itu adalah Jane Adams (1860-1935), C.P. Gilman (1860-1935), A.J. Cooper (1858-1964), Ida W. Barnett (1862-1931), Marianne Weber (1870-1954) dan B.P. Webb (1858-1943). Kecuali Cooper, semuanya berhubungan dengan Jane Adams. Bila kini mereka tak dikenal atau tak diakui sebagai sosiolog atau sebagai teoritisi sosiologi, hal itu adalah bukti yang mengerikan dari kekuasaan politik jender di dalam disiplin sosiologi, sekaligus merupakan bukti mengerikan dari praktik penafsiran sosiologi itu sendiri yang pada dasarnya tidak kritis dan tidak reflektif. Meski teori sosiologi masing-masing wanita itu diciptakan sebagai upaya individual, namun ketika dibaca semuanya ternyata mencerminkan hubungan yang sangat mengherankan dan berisi proposisi-proposisi yang saling melengkapi tentang teori sosiologi feminis awal.
Ciri-ciri utama teori mereka, yang sebagian dapat menjelaskan bahwa teori itu mereka kemukakan dalam rangka upaya membangun sosiologi profesional meliputi hal berikut: (1) menekankan bahwa pengalaman dan kehidupan wanit?. dan pekerjaan wanita sama pentingnya dengan pengalaman lelaki, (2) penekanar. itu diikuti oleh kesadaran bahwa mereka berbicara dari pendirian yang hendak diwujudkan, dan karena itu, sebagian besar bukan dengan nada keangkuhan objektif karena teori sosiologi lelaki akan menjadi kolega teori berwibawa yang mereka ciptakan, (3) adanya gagasan bahwa tujuan sosiologi dan teori sosiologi adalah reformasi sosial, tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia melalui ilmu pengetahuan, dan (4) pernyataan bahwa masalah utama dalam mencapai kemajuan di zaman mereka adalah ketimpangan. Agaknya perbedaan terbesar di kalangan mereka adalah mengenai sifat dasar dan cara menanggulangi masalah ketimpangan yang mereka jadikan sasaran perhatian seperti masalah jender, ras, atau kelas, atau keterkaitan antar masalah itu. Semua wanita ini menerjemahkan pandangan mereka ke dalam aktivitas sosial dan politik untuk membantu menata dan mengubah kehidupan masyarakat Atlantik Utara, tempat mereka hidup. Aktivitas yang dilakukan itu mereka rasakan sama pentingnya dengan upaya menciptakan teori sosiologi itu sendiri. Mereka yakin riset ilmu sosial merupakan bagian dari perwujudan pemikiran teoritis dan praktik sosiologi mereka dan merupakan bagian dari kreasi inovatif metode ilmu sosial yang sangat tinggi.
Karena perkembangan disiplin sosiologi meminggirkan sosiolog dan teoritisi sosiologi wanita, metode riset mereka sering dipadukan dengan praktik yang mereka lakukan sendiri, dan aktivitas para wanita itu dijadikan sebagai alasan untuk menetapkan mereka sebagai “bukan sosiolog”. Dengan demikian mereka lebih dikenal sebagai aktivis sosial dan pekerja sosial ketimbang sebagai sosiolog. Warisan mereka adalah sebuah teori sosiologi yang menuntut tindakan dan pemikiran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar