Minggu, 28 April 2013

Masyarakat Risiko


Setiap pilihan ataupun tindakan pastilah memiliki resiko atau konsekuensi yang harus ditanggung, dalam hal baik atau buruk. Adanya krisis dapat dikatakan sebagai resiko di tahap awal dari perbuatan yang telah dilakukan. Namun, resiko yang dimaksud tentu saja pada pemikiran negatif. Kemudian dengan adanya krisis tersebut akan menimbulkan bencana yang dapat hadir secara tiba-tiba. Entah dapat diperkirakan sebelumnya, atau tidak sama sekali. Dalam bahasa Yunani Kuno, krisis memiliki arti akan kondisi yang dapat terjadi pada diri sendiri atau di tingkat masyarakat. Sehingga, dampak dari adanya krisis dapat mempengaruhi pada banyak aspek kehidupan, yaitu sistem sosial, politik, dan ekonomi. Maka, jika manusia mengalami krisis, hal tersebut akan berdampak pada sistem yang ada di sekitar ruang lingkupnya. Seperti beberapa tahun terakhir ini sangat mencuat sekali fenomena tawaran atau iklan yang ada di mana mana, baik kota maupun daerah tentang pekerjaan di Kapal Pesiar dan menjajinkan gaji yang melimpah. Tawaran tersebut didapat dan dapat diakses dengan mudah di sekolah – sekolah perhotelan adapun lewat kursus – kursus singkat disebuah hotel berbintang. Pelatihan tersebut memberi bekal secara khusus untuk bekerja di kapal, ada juga yang menyalurkan secara langsung untuk bekerja di kapal pesiar.
Menurut Ulrich Beck seorang sosiolog kontemporer asal Jerman, menjelaskan mengenai perbuatan yang mengandung resiko atas meningkatnya teknologi. Adanya ilmu pengetahuan dan industrialisme yang bukannya mengurangi resiko, malah dapat menghadirkan resiko akibat tindakan-tindakan yang menyimpang. Beck yang dikenal sebagai pencipta atas gambaran mengenai “dunia masyarakat resiko” yang tidak dibatasi oleh tempat atau waktu. Pada batas-batas tertentu, resiko dihasilkan oleh masyarakat modern yang telah mengalami banyak perubahan pola kehidupan. Karena, industri yang berlangsung akan menimbulkan berbagai macam efek samping dengan konsekuensi berbahaya, bahkan mematikan bagi masyarakat, sebagai akibat dari adanya globalisasi yang berlangsung. Dari pemikiran-pemikiraan Beck tersebut dapat dikatakan mengenai kelas sosial yang dijadikan sebagai pengorban dan korbannya. Artinya, resiko akan terpusat pada bangsa yang miskin, dan bangsa kaya dapat menjauhkan resiko sejauh mungkin. Adanya materi dan kekuasaan dapat digunakan bangsa kayak sebagai sarana untuk menjauhkan resiko tersebut, dengan mengorbankan bangsa miskin sebagai ‘tumbal’. Parahnya, bangsa kaya dapat memperoleh keuntungan dari resiko yang mereka timbulkan. Mereka dapat mengatasi efek buruk yang ada ketika resiko tersebut muncul, dengan menghasilkan dan menjual teknologi. Sayangnya, bangsa kaya tidak semudah itu untuk kabur dari resiko yang harus diicip juga. Pada konteks ini, Beck menyebutnya dengan “efek bumerang”, yang mana penyerangan dari resiko akan berbalik pada subjek yang menghasilkan mereka. Sehingga, sering kali masyarakat penikmat hasil dari modernisasi yang terjebak atas apa yang telah mereka nikmati. Perubahan – perubahan yang dirasakan dan dijalani dapat dikatakan sebagai topeng dalam menutupi krisis identitas yang terjadi. Manusia haruslah ada karena ia menjadi dirinya sendiri dengan proses pembentukan pribadi yang diyakininya. Manusia yang bertindak atas kehendaknya sendiri akan lebih mengerti posisinya berada di mana, dan bukannya ditentukan oleh situasi kelas sosial manusia. Menurut Ulrich Beck, bahaya yang dihadapi masyarakat berisiko dapat diidentifikasi menjadi tiga bagian yaitu: krisi ekologi, krisis ekonomi global, dan jaringan teroris internasional. Masalah sentral dari modernitas klasik berupa kekayaan, namun pada era modern berubah menjadi bagaimana risiko dicegah, diminimumkan, dan disalurkan. Kebanyakan orang berpandangan bahwa dunia kapal pesiar menjanjikan glamor dan kemewahan. Dalam era modern seperti ini maka semua risiko harus ditangani dengan cara defensive menjauhkan diri dari bahaya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dimana dalam keinginan manusia ingin merubah hidupnya akan ditempuh jalan apa saja yang bisa dilakukan, disini kapal pesiar adalah solusi atas gambaran singkat mengenai angan – angan besar yang ditawarkan dengan gaji tinggi, dan faktor pendorong lainya. Ini diperjuangkan untuk sebuah masa depan yang dianggapnya akan lebih menjanjikan. Mereka tidak lagi memikirkan bagaimana bahaya bekerja jauh dari keluarga. Dorongan ini juga tedak terlepas dari kemajuan modernisasi, dimana setiap manusia akan memiliki logika konsumtif dalam hidupnya, jadi mau tidak mau mereka harus bekerja ekstra untuk kehidupan lebih baik. Situasi inilah yang dimanfaatkan para pemilik modal besar untuk mengiring para pekerja tanpa harus memikirkan resiko yang ada. Kemudian para tenaga kerja ini diberi tawaran-tawaran menarik agar mereka melepaskan rasa takutnya untuk bekerja di kapal pesiar dengan bermodalkan kepercayaan diri yang kuat dan demi meraih mimpinya menjadi orang yang sukses.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar