Minggu, 14 April 2013

Teori Sosiologi Semenjak Pertengahan Abad ke-20


Era 1940-an dan 1950-an adalah tahun paradoks antara puncak dominasi dan awal kemerosotan fungsionalisme struktural. Pada periode ini Parsons membuat pernyataan utama yang jelas mencerminkan pergeserannya dari teori tindakan ke fungsionalisme struktural. Murid-murid Parsons telah tersebar ke berbagai negara bagian dan menduduki jabatan dominan di banyak jurusan sosiologi utama (misalnya, Columbia dan Cornell). Murid-murid ini membuat karya mereka sendiri yang secara luas diakui menyumbang terhadap teori fungsionalisme struktural.
Namun, segera setelah mencapai hegemoni teoritis, fungsionalisme struktural menghadapi serangan, dan serangan itu terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada 1960-an dan 1970-an. Ada serangan oleh C. Wright Mills terhadap Parsons tahun 1959 dan ada kritik utama lain yang disusun oleh David Lockwood (1956), Alvin Gouldner (1959/1967,1970), dan Irving Horowitz (1962/1967). Pada 1950-an serangan ini terlihat seperti “serangan gerilya”, tetapi ketika sosiologi memasuki tahun 1960-an, dominasi fungsionalisme struktural jelas berada dalam bahaya.
George Huaco (1986) mengaitkan pertumbuhan dan kemerosotan fungsionalisme struktural dengan posisi masyarakat Amerika dalam tatanan dunia. Ketika Amerika mencapai dominasi di dunia setelah tahun 1945, fungsionalisme struktural mencapai hegemoni dalam sosiologi. Fungsionalisme struktural mendukung posisi dominan Amerika di dunia melalui dua cara. Pertama, pandangan struktural-fungsional yang menyatakan bahwa setiap pola mempunyai konsekuensi yang berperan dalam pelestarian dan bertahannya sistem yang lebih luas tak lebih dari “sekadar merayakan kemenangan Amerika dan hegemoninya di dunia” (Huaco,1986:52). Kedua, teori struktural-fungsional yang menekankan pada keseimbangan (perubahan sosial yang terbaik adalah tak adanya perubahan) berkaitan erat dengan kepentingan Amerika, kemudian berkaitan erat dengan kepentingan “kekaisaran terkaya dan terkuat di dunia”. Kemerosotan dominasi Amerika di dunia pada 1970-an bertepatan benar dengan hilangnya posisi dominan fungsionalisme struktural di dalam teori sosiologi.

Sosiologi Radikal di Amerika : C. Wright Mills
Meski teori Marxian sebagian besar diabaikan atau dicerca oleh sosiolog aliran utama Amerika, namun ada kekecualian, yang paling terkemuka di antaranya adalah C. Wright Mills (1916-1962). Mills adalah penting karena upayanya yanya yang hampir sendirian untuk menjaga agar tradisi Marxian tetap hidup dalam teori sosiologi. Sosiolog Marxian modern jauh melebihi Mills dalam kecanggihan teoritis, tetapi mereka berutang budi kepada Mills karena aktivitas personal dan profesionalnya banyak membantu mereka untuk menyusun karya sendiri (Alt, 1985:86). Mills bukanlah seorang Marxis dan ia tak pernah membaca karya Marx hingga pertengahan tahun 1950-an. Bahkan kemudian ia hanya membaca terbatas pada sedikit terjemahan dalam bahasa Inggris yang tersedia, karena ia tak dapat membaca bahasa Jerman. Karena sebagian besar karya Mills diterbitkan sekitar 1950-an, maka karyanya tidak mendapat bahan dari teori Marxian yang sangat canggih. Mills menerbitkan dua karya utama yang mencerminkan politik radikalnya maupun kelemahannya dalam teori-teori Marxian. Pertama adalah White Collar (1951), berisi kritik tajam tentang status golongan pekerja yang sedang tumbuh, yakni pekerja berkerah putih. Kedua adalah The Power Elite (1956), buku yang mencoba menunjukkan betapa Amerika didominasi oleh sekelompok kecil pengusaha, politisi dan pimpinan tentara. Antara dua karyanya itu diterbitkan karya teoritisnya yang tercanggih, Character and Social Structure (Gerth dan Mills, 1953), ditulis bersama Hans Gerth (N. Gerth,1993). Radikalisme Mills menempatkannya di pinggiran sosiologi Amerika. Ia menjadi sasaran berbagai kritik dan ia, sebaliknya, menjadi pengkritik keras sosiologi. Sikap kritisnya memuncak dalam The Sociological Imagination (1959). Buku ini mengandung kritikan keras Mills terhadap Parsons dan terhadap praktik teori besarnya. Mills meninggal pada 1962, sebagai orang buangan dalam sosiologi. Tetapi, sebelum berakhirnya dekade 1960-an, sosiolog radikal dan teoritisi Marxian mulai melancarkan serangan penting ke dalam disiplin sosiologi.

Pekembangon Teori Konflik
Rintisan lain yang menyatukan Marxisme dan teori sosiologi adalah perkembangan teori konflik, sebuah alternatif terhadap fungsionalisme struktural. Seperti yang telah kita lihat, fungsionalisme struktural tak lama dalam memegang kepemimpinan dalam teori sosiologi karena mulai menghadapi serangan yang memuncak. Serangan terhadapnya beraneka ragam. Fungsionalisme struktural dituduh bersifat politik konservatif, tak mampu menjelaskan perubahan sosial karena perhatiannya tertuju pada struktur statis dan tak mampu menganalisis konflik sosial. Salah satu hasil dari kritik itu adalah upaya di pihak sejumlah sosiolog untuk menanggulangi masalah fungsionalisme struktural dengan menyatukan perhatian pada struktur dan pada konflik. Pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal teori konflik sebagai alternatif terhadap teori struktural-fungsional. Sayangnya, teori konflik ini sering dilihat sebagai cerminan fungsionalisme struktural dengan sedikit integritas intelektual di dalamnya.
Upaya penting pertama adalah karya Lewis Coser (1956) tentang fungsi konflik sosial (Jaworski, 1991). Karya ini dengan jelas mencoba menerangkan konflik sosial di dunia menurut kerangka pandangan struktural fungsional. Meski bermanfaat untuk melihat fungsi konflik, namun masih lebih banyak yang perlu dikaji tentang konflik ketimbang menganalisis fungsi positifnya itu. Masalah terbesar yang dihadapi kebanyakan teori konflik adalah kekurangan apa yang justru diperlukan yakni landasan kuat dalam teori Marxian. Teori Marxian berkembang dengan baik di luar sosiologi dan seharusnya dapat dijadikan basis untuk mengembangkan teori sosiologi yang canggih tentang konflik. Perkecualian di sini adalah karya Ralf Dahrendorf (lahir 1929). Dahrendorf adalah sarjana Eropa yang sangat memahami teori Marxian. Tetapi, bagian ujung teori konfliknya terlihat lebih menyerupai cerminan fungsionalisme struktural ketimbang teori Marxian tentang konflik. Karya utama Dahrendorf, Class and Class Conflict in Industrial Society (1959) adalah bagian paling berpengaruh dalam teori konflik, tetapi pengaruh itu sebagian besar karena ia banyak menggunakan logika struktural fungsional yang memang sesuai dengan logika sosiolog aliran utama. Artinya, tingkat analisisnya sama dengan fungsionalis struktural (tingkat struktur dan institusi) dan kebanyakan masalah yang diperhatikan pun sama. Dengan kata lain fungsionalisme struktural dan teori konflik adalah bagian dari paradigma yang sama. Tahrendorf mengakui bahwa meski aspek-aspek sistem sosial dapat saling menyesuaikan diri dengan mantap, tetapi dapat juga terjadi ketegangan dan lonflik di antaranya. Akhirnya, teori konflik mestinya dilihat sebagai perkembangan transisional dalam sejarah teori sosiologi. Kegagalannya karena tak cukup jauh mengikuti arahan teori Marxian. Di era 1950-an dan 1960-an rupanya masih terlalu dini bagi sosiologi Amerika untuk menerima pendekatan Marxian sepenuhnya. Tetapi, teori konflik telah membantu membuka jalan penerimaan teori Marxian di penghujung tahun 1960-an.

Kelahiran Teori Pertukaran (Exchange Theory)
Perkembangan teoritis penting lain pada 1950-an adalah kelahiran teori pertukaran (Molm, 2001). Tokoh utamanya adalah George Homans, sosiolog yang menggunakan pendekatan behaviorisme psikologi Skinner. Behaviorisme Skinner adalah sumber utama sosiologi Homans dan teori pertukarannya. Mula-mula Homans tak segera memahami bagaimana proposisi yang dikembangkan Skinner untuk membantu menjelaskan perilaku merpati dapat bermanfaat guna memahami perilaku merpati dapat berguna memahami perilaku manusia. Tetapi, ketika Homans selanjutnya melihat data hasil studi sosiologi tentang kelompok-kelompok kecil dan hasil studi antropologi tentang masyarakat primitif, ia mulai memahami bahwa behaviorisme Skinner dapat diterapkan dan menyediakan alternatif terhadap gaya fungsionalisme struktural Parsonsian. Hal ini terwujud pada tahun 1961 dengan terbitnya buku Social Behavior: Its Elementary Forms. Karya ini mencerminkan kelahiran teori pertukaran sebagai sebuah perspektif penting dalam sosiologi. Menurut Homans, jantung sosiologi terletak dalam studi interaksi dan perilaku individual. Ia sedikit sekali memperhatikan kesadaran atau berbagai jenis struktur dan institusi berskala besar yang menjadi sasaran perhatian sebagian besar sosiolog. Perhatian utamanya lebih tertuju pada pola-pola penguatan (reinforcement), sejarah imbalan (reward), dan biaya (cost) yang menyebabkan orang melakukan apa-apa yang mereka lakukan. Homans menyatakan bahwa orang terus mengerjakan apa-apa yang di masa lalu mendapat imbalan. Sebaliknya, orang akan berhenti melakukan sesuatu yang telah terbukti menimbulkan kerugian individual. Dengan demikian sasaran perhatian sosiologi semestinya bukan pada kesadaran atau pada struktur dan institusi sosial, tetapi pada pola penguatan. Seperti terkesan dari namanya, teori pertukaran tak hanya memusatkan perhatian pada perilaku individu, tetapi juga pada interaksi antara individu yang menyebabkan terjadinya pertukaran imbalan/hadiah dan kerugian. Dasar pikirannya adalah bahwa interaksi kemungkinan berlanjut bila ada pertukaran imbalan. Sebaliknya, interaksi yang menimbulkan kerugian terhadap salah seorang atau terhadap kedua belah pihak sangat kecil kemungkinannya berlanjut. Pernyataan teoritisi utama lain dalam teori pertukaran terdapat dalam buku Peter Blau, Exchange and Power in Social Life, terbit tahun 1964. Pada dasarnya menerima perspektif Homans, tetapi ada perbedaan penting. Homans sudah puas dengan menerangkan bentuk-bentuk mendasar perilaku sosial. Blau ingin itegrasikannya dengan pertukaran di tingkat struktural dan kultural. Mulai diperhatikan pertukaran antara para aktor, tetapi segera beralih ke struktur besar yang menimbulkan pertukaran itu. Studi Blau diakhiri dengan perhatikan pertukaran di antara struktur berskala besar. Meskipun selama beberapa tahun terungguli oleh Homans dan Blau, Richard in (1981) akhirnya muncul sebagai tokoh sentral teori pertukaran (Cook Whitmeyer, 2000b). Ia menjadi penting terutama karena upayanya mengembangkan pendekatan mikro-makro yang lebih terpadu. Kini teori pertukaran berkembang menjadi lembaran penting teori sosiologi dan terus menarik perhatian pengamat baru dan menempuh arah baru (Cook, O’Brien, dan Kollock, 1990; Szmatka dan Mazur, 1996).

Analisis Dramaturgis: Karya Grving Goffman
Erving Goffman (1922-1982) sering dianggap sebagai pemikir utama terakhir Chicago asli (Travers, 1992; Tseelon, 1992); Fine dan Manning (2000) memandangmya sebagai sosiolog Amerika paling berpengaruh di abad 20. Antara 1950-an 1970-an Goffman menerbitkan sederetan buku dan esai yang melahirkan isis dramaturgis sebagai cabang interaksionisme simbolik. Walau Goffman mengalihkan perhatiannya di tahun-tahun berikutnya, ia tetap paling terkenal karena teori dramaturgisnya. Pernyataan paling terkenal Goffman tentang teori dramaturgis berupa buku Presentation of Self in Everyday Life, diterbitkan tahun 1959. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa Goffman melihat banyak kesamaan antara pementasan teater lengan berbagai jenis peran yang kita mainkan dalam interaksi dan tindakan sehari-hari. Interaksi dilihat sangat rapuh, dipertahankan oleh kinerja sosial. Kinerja sosial yang buruk atau kacau merupakan ancaman besar terhadap interaksi sosial sebagaimana yang terjadi pada pertunjukan teater. Goffman melanjutkan agak jauh analogi antara panggung teater dan nteraksi sosial ini. Di semua interaksi sosial terdapat semacam bagian depan (front region) yang ada persamaannya dengan pertunjukan teater. Aktor, baik di pentas maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari, sama-sama menarik perhatian karena penampilan kostum yang dipakai dan peralatan yang digunakan. Selanjutnya, di kedua jenis pertunjukan itu ada bagian belakangnya (back region), yakni tempat yang memungkinkan aktor mundur guna menyiapkan diri un pertunjukan berikutnya. Di belakang layar atau di depan layar (menurut istil teater) para aktor dapat berganti peran dan memerankan diri mereka sendiri. Analisis dramaturgis jelas konsisten dengan pendirian interaksionis simboliknya. Analisis ini tetap memusatkan perhatian pada aktor tindakan dan interaksi. Setelah meneliti di arena yang sama dengan yang diteliti oleh interaksionisme simbolik tradisional, Goffman menemukan kiasan cemerlang di dalalm pertunjukan teater ini yang dapat digunakan untuk memahami proses sosi berskala kecil (Manning, 1991,1992).

Perkembangon Sosiologi Kehidupan Sehari-hari
Tahun 1960-an dan 1970-an ditandai ledakan (Ritzer, 1975a, b) dalam berbagai perspektif teoritis yang dapat dihimpun di bawah tajuk sosiologi kehidupan sehari-hari (J. Douglas, 1980; Weigert, 1981).

Sosiologi Fenomenologi dan Karya Alfred Schutz (1899-1959)
Filsafa fenomenologi, yang memusatkan perhatian pada kesadaran, mempunyai sejarah yang panjang. Tetapi, upaya mengembangkan studi sosiologi berdasarkan filsafat fenomenologi baru muncul dengan terbitnya karya Schutz The Phenomenology Social World di Jerman tahun 1932 (Rogers, 2000). Schutz memusatkan perhatian pada cara orang memahami kesadaran orang lain sementara mereka hidup dalam aliran kesadaran mereka sendiri. Schutz juga menggunakan perspektif intersubjektivitas dalam pengertian lebih luas untuk memahami kehidupan sosial, terutama mengenai ciri sosial pengetahuan. Banyak pemikiran Schutz yang dipusatkan terhadap satu aspek dunia sosial yang disebut kehidupan dunia (life-world) atau dunia kehidupan sehari-hari. Inilah yang dimaksud dunia intersubjektif. Dalam dunia intersubjektif ini orang menciptakan realitas sosial dan dipaksa oleh kehidupan sosial yang telah ada dan oleh struktur kultural ciptaan leluhur mereka. Di dalam dunia kehidupan itu banyak aspek kolektifnya, tetapi juga ada aspek pribadinya (yang dapat diungkap melalui biografi). Schutz membedakan dunia kehidupan antara hubungan tatap muka yang akrab (“relasi-kami”) dan hubungan impersonal dan renggang (“relasi-mereka”). Sementara hubungan tatap muka yang intim sangat penting dalam kehidupan dunia, adalah jauh lebih mudah bagi sosiolog untuk meneliti hubungan impersonal secara ilmiah. Meski Schutz beralih perhatiannya dari kesadaran ke dunia kehidupan intersubjektif, namun ia masih mengemukakan hasil pemikirannya tentang kesadaran, terutama pemikirannya tentang makna dan motif tindakan individual. Secara keseluruhan Schutz memusatkan perhatian pada hubungan dialektika antara cara individu membangun realitas sosial dan realitas kultural yang mereka warisi dari para pendahulu mereka dalam dunia sosial.

Etnometodologi
Walau ada perbedaan penting antara keduanya, fenomenologi dan etnometodologi sering dianggap berkaitan erat. Salah satu alasan utama hubungan eratnya adalah bahwa pencipta perspektif teoritisi Etnometodologi ini, Harold Garfinkel, adalah murid Schutz di New School di New York. Yang sangat menarik Garfinkel sebelumnya menjadi murid Parsons dan peleburan gagasan Parsonsian dan Schutzian membantu memberikan metodologi orientasi yang jelas. Etnometodologi pada dasarnya adalah studi tentang “Kumpulan pengetahuan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur dan pertimbangan (metode) yang dapat dipahami anggota masyarakat biasa dan yang mereka jadikan sebagai landasan untuk bertindak” (Heritage, 1984:4). Para penulis menurut perspektif ini cenderung ke arah studi tentang kehidupan sehari-hari (Sharrock, 2001). Bila para sosiolog fenomenologi cenderung memusatkan perhatian pada apa yang dipikirkan orang, sosiolog etnometodologi mencurahkan perhatian pada studi terinci tentang percakapan orang. Kebiasaan berpikir ini bertolak belakang dengan kebanyakan sosiolog aliran utama yang memusatkan perhatian pada abstraksi seperti birokrasi, kapitalisme, pembagian kerja, dan sistem. Pakar etnometodologi memusatkan perhatian pada persoalan bagaimana berbagai struktur itu tercipta dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tak tertarik pada fenomena seperti struktur itu sendiri. Di beberapa terakhir kita masih membahas beberapa teori mikro, teori perkaran, sosiologi fenomenologi, dan etnometodologi. Meski kedua teori terakhir ini mempunyai kesamaan pandangan bahwa aktor berpikir dan kreatif, pandangan seperti itu tak dianut oleh teoritisi pertukaran. Namun demikian, ketiga teori mikro itu mempunyai orientasi mikro terhadap aktor dan terhadap tindakan serta perilaku mereka. Pada 1970-an teori seperti itu tumbuh dengan kuat dalam sosiologi dan mengancam menggantikan posisi teori-teori yang lebih makro (seperti fungsionalisme struktural, teori neo Marxian) sebagai teori dominan dalam sosiologi (Knorr Cetina, 1981; Ritzer, 1985).

Perkembangan dan Kemunduran (?) Sosiologi Marxian
Akhir 1960-an ditandai perkembangan teori Marxian dalam teori sosiologi Amerika (Cerullo, 1994). Semakin banyak sosiolog yang beralih ke karya asli Marx, dan karya Marxis, untuk mencari pandangan yang berguna dalam perkembangan sosiologi Marxian. Sekilas ini tampak berarti bahwa teoritisi Amerika akhirnya membaca Marx secara serius, tetapi kemudian muncul tulisan-tulis akademis Marxian signifikan oleh beberapa sosiolog Amerika. Teoritisi Amerika terutama tertarik pada karya aliran kritis, karena aliran itu menggabungkan pemikiran teoritisi Marxian dan Weberian. Banyak di antara karya aliran kritis itu yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan sejumlah pakar telah menulis buku tentang aliran kritis (misalnya, Jay, 1973 Kellner, 1993). Bersamaan dengan meningkatnya minat ini, muncul dukungan institusional terhadap sosiologi Marxian. Beberapa jurnal mencurahkan perhatian besar terhadap teori sosiologi Marxian, termasuk Theory and Society, Telos, dan Marxist Studies. Pada 1977 The American Sociological Association membentuk seksi sosiolo Marxis. Tak hanya generasi pertama teoritisi kritis yang terkenal di Amerik pemikir generasi kedua pun, terutama Jurgen Habermas, mendapat penghargaan luas. Yang cukup penting adalah perkembangan penting sosiologi Amerika yan membahas berbagai masalah dari sudut pandang Marxian. Ada kelompok sosiolog yang sangat penting yang mempelajari sosiologi sejarah menurut perspektif Marxian (misalnya Skocpol, 1979; Wallerstein, 1974, 1980, 1989) Kelompok lain menganalisis kehidupan ekonomi menurut perspektif sosiologi (misalnya, Baran dan Sweezy, 1966; Braverman, 1974; Burawoy, 1979). Kelompok ini membuat analisis sosiologi empiris yang masih agak tradisional, tetapi hasi karya mereka ditandai oleh basis pemikiran yang kuat dari teori Marxian (misalnya, Kohn, 1976). Perkembangan yang menjanjikan dan relatif baru adalah Marxisme spasial. Beberapa pemikir sosial (Harvey, 2000; Lefebvre, 1974/1991 Soja, 1989) yang telah meneliti geografi sosial dari perspektif Marxian. Tetapi, dengan runtuhnya Uni Soviet dan rezim Marxis di seluruh dunia teori Marxian pun rontok pada 1990-an. Sebagian pakar tetap belum berhasi merekonstruksi ulang teori Marxis; yang lain terpaksa mengembangkan versi baru teori Marxian. Kelompok lainnya tiba pada kesimpulan bahw a teori Marxian harus dibuang. Wakil pendirian terakhir ini adalah buku Ronala Aronson, After Marxism (1995). Di bagian awal buku itu dikatakan: “Marxism; sudah berlalu dan kita berada dalam pemikiran kita sendiri” (Aronson, 1995:1) Inilah pengakuan seorang Marxis! Meski Aronson menyadari masih ada orang yang berkarya dengan teori Marxian, ia mengingatkan bahwa mereka harus menyadar. karyanya itu tak lagi menjadi bagian proyek Marxian yang lebih luas tentang transformasi sosial. Artinya teori Marxian tak lagi berhubungan dengan program bertujuan mengubah basis masyarakat seperti yang dimaksudkan Marx. Marxian menjadi teori tanpa praktik. Suatu ketika teoritisi Marxis tak lagi tergantung pada program Marxian, tetapi harus bergulat dengan masyarakat modern dengan “kekuatan dan energi mereka sendiri” (Aronson, 1995:4). Aronson adalah seorang pengkritik Marxisme yang lebih ekstrem yang nerasal dari dalam kubu Marxian. Marxian lainnya menyadari kesulitan-kesulitan namun masih mencoba mencari berbagai cara untuk menyesuaikan beberapa jenis teori Marxian dengan realitas kontemporer (Brugger, 1995; Kellner, 1995). Bagaimanapun juga perubahan sosial yang lebih luas merupakan tantangan berat adap teoritisi Marxian yang mati-matian mencoba menyesuaikan teorinya dengan perubahan ini menurut berbagai cara. Apa pun yang dapat dikatakan, yang jelas “masa keemasan” teori sosial Marxian telah berlalu. Teori-teori sosial dan berbagai jenis akan tetap bertahan, namun takkan mencapai status dan asaan seperti yang pernah diterima para pendahulu mereka dalam sejarah sosiologi. Sementara neo Marxian tak akan pernah mencapai status yang pernah dicapainya dahulu, ia mengalami suatu mini-renaisans (misalnya, Hardt dan Negri, 2000) dari sudut pandang globalisasi, persepsi bahwa bangsa kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin (Stiglitz, 2002), dan protes di seluruh dunia menentang disparitas dan penyalahgunaan lainnya. Ada banyak orang yang percaya bahwa globalisasi akan membuka seluruh dunia, mungkin untuk pertama kalinya, ke arah kapitalisme dan eksesnya (Ritzer, 2004). Jika demikian, jika ekses itu terus berlanjut dan bahkan berakselerasi, kita akan melihat kebangkitan kembali minat terhadap teori Marxian, kali ini diterapkan pada ekonomi kapitalis global.

Tantangan Teori Feminis.
Berawal di penghujung 1970-an, tepatnya di saat sosiologi Marxian mencapai derajat penerimaan signifikan dari sosiolog Amerika, muncul teori baru yang menantang teori sosiologi yang sudah mapan dan bahkan menantang sosiologi Marxian sendiri. Cabang pemikiran sosial radikal terakhir inilah yang dimaksud dengan teori feminis kontemporer (Roger, 2001). Di dalam masyarakat Barat, kita dapat melacak kembali tulisan feminis kritis ke masa 500 tahun yang lalu, dan ada gerakan politik yang terorganisir dari dan untuk perempuan selama lebih dari 150 tahun. Di Amerika pada 1920, gerakan ini akhirnya memenangkan hak perempuan untuk memilih, 55 tahun setelah hak itu secara konstitusional diperluas ke semua lelaki. Karena lelah dan jemu dengan kemenangan itu, gerakan perempuan Amerika selama tiga puluh tahun kemudian menjadi lemah dalam ukuran maupun kekuatannya, tetapi bangkit kembali pada 1960-an. Ada tiga faktor yang membantu terciptanya gelombang aktivitas feminis baru ini: (1) suasana umum pemikiran kritis yang menandai periode 1960-an; (2) kemarahan aktivitas wanita yang terhimpun dalam gerakan antiperang, hak-hak sipil, dan gerakan mahasiswa yang hanya bertujuan menentang sikap seksis dari pria radikal dan liberal di dalam gerakan tersebut (Densimore, 1973; Evan, 1980; Morgan, 1970; Shreve, 1989); dan (3) pengalaman wanita dalam menghadapi prasangka dan diskriminasi yang mereka pindahkan menjadi tuntutan upah dan pendidikan yang lebih tinggi (Bookman dan Morgan, 1988; Caplan, 1993: Garland, 1988; Mackinnon, 1979). Karena alasan-alasan di atas, dan terutama yang terakhir, gerakan wanita fase kedua ini terus berkembang selama tahun 1970-an dan hingga abad 21, meski aktivitas berbagai gerakan lain tahun 1960-an sudah memudar. Pada tahun-tahun itu aktivitas oleh dan untuk wanita menjadi fenomena internasional. Tulisan feminis kini memasuki “gelombang ketiga” dalam tulisan-tulisan perempuan yang akan menghabiskan sebagian besar kehidupan dewasa mereka di abad 21 (C. Bailey, 1997; Orr, 1997). Perkembangan paling signifikan dalam gerakan wanita adalah kemunculan aktivis perempuan dari gerakan feminis dan antifeminis (Fraser, 1989). Ciri utama gerakan wanita internasional ini ditandai oleh ledakan pertumbuhan literatur baru tentang wanita yang melukiskan semua aspek pengalaman dan kehidupan wanita yang tak terpikirkan hingga kini. Literatur ini, yang terkenal sebagai studi wanita, adalah karya komunitas penulis internasional dan interdisipliner yang berasal dari dalam dan luar universitas dan yang ditulis untuk umum dan untuk golongan akademis. Pakar feminis melakukan penyelidikan dan melancarkan kritikan terhadap kompleksitas sistem yang mensubordinasikan wanita. Teori-teori feminis tersebut melalui literatur berikut ini: kadang-kadang tersirat dalam tulisan tentang masalah substantif seperti kultur kerja atau perkosaan atau kebudayaan populer; adakalanya disajikan secara eksplisit seperti dalam analisis tentang keibuan; dan proyek-proyek penulisan sistematis yang semakin meningkat. Beberapa pernyataan tertentu secara khusus penting bagi sosiologi karena diarahkan langsung kepada para sosiolog oleh orang-orang yang menguasai betul bidang sosiologi. Jurnal yang menimbulkan perhatian sosiolog atas teori feminis, antara lain Signs, Feminist Studies, Sociological Inquiry, dan Gender and Society, akan tetapi, jarang ada jurnal sosiologi yang tidak dapat disebut pro feminis. Teori feminis melihat dunia dari sudut pandang wanita untuk menemukan yang signifikan, tetapi tak diakui di mana aktivitas wanita yang disubordinasikan berdasarkan jender dan dipengaruhi oleh berbagai praktik stratifikasi seperti kelas, ras, umur, heteroseksual yang dipaksakan, dan ketimpangan geososial membantu menciptakan dunia kita. Pandangan ini dramatis menggoyahkan pemahaman kita tentang kehidupan sosial. Dari inilah teoritisi feminis menentang teori sosiologi, khususnya pernyataan klasik dan riset awalnya. Tulisan-tulisan feminis kini mendapat banyak kritik dalam sosiologi. Mereka menawarkan paradigma baru untuk studi kehidupan sosial. Dan khalayak yang menerimanya umumnya adalah wanita dan lelaki yang dipengaruhi oleh feminisme khususnya, yang kini barangkali cukup banyak dalam komunitas sosiologi. Karena semua alasan inilah implikasi teori feminis terus meningkat menjadi aliran utama disiplin sosiologi, terlibat dalam seluruh subspesialisnya, memengaruhi berbagai teori yang sudah lama mapan, mikro maupun makro, dan berinteraksi dengan perkembangan aliran post strukturalis dan post modern yang akan diuraikan di bawah.

Struktualisme dan Post Strukturalisme
Salah satu perkembangan yang telah disinggung sedikit di atas adalah peningkatan perhatian terhadap strukturalisme (Lemert, 1990). Kita akan berpendapat kesan awal tentang strukturalisme dengan melukiskan perbedaan mendasar antar pendukung perspektif strukturalis. Ada yang memusatkan perhatian pada apa yang mereka sebut struktur pikiran bagian dalam. Menurut pandangan mereka, struktur yang tak disadari inilah yang menyebabkan orang berpikir dan bertindak seperti yang dilakukannya itu. Karya psikoanalisis Freud dapat dipandang sebagai contoh orientasi ini. Ada lagi strukturalis yang memusatkan perhatian pada struktur masyarakat lebih luas yang tak terlihat dan memandangnya sebagai faktor penentu tindakan individu maupun tindakan masyarakat pada umumnya. Marx adakalanya berpikir seperti seorang strukturalis semacam itu, yang memusatkan perhatian pada struktur ekonomi masyarakat kapitalis yang tak terlihat. Kelompok lain melihat struktur sebagai model yang mereka gunakan untuk mengkonstruksikan kehidupan sosial. Terakhir, ada sejumlah strukturalis yang memusatkan perhatian pada hubungan dialektis antara individu dan struktur sosial. Mereka melihat adanya kaitan antara ftruktur pikiran dan struktur masyarakat. Antropolog Claude Levi-Strauss paling sering diasosiasikan dengan pandangan ini. Ketika strukturalisme tumbuh di dalam sosiologi, di luar sosiologi berkembang pula post strukturalisme (Lemert, 1990). Tokoh utama post strukturalisme ini adalah Michel Foucault (Dean, 2001; J. Miller, 1993). Dalam karya awalnya, Foucault memusatkan perhatian pada struktur, tetapi kemudiad ia beralih keluar struktur, memusatkan perhatian pada kekuasaan dan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Lebih umum lagi, penganut post strukturalisme mengakui arti struktur, tetapi berpikir lebih jauh lagi melampaui struktur yang mencakup sejumlah besar masalah lain. Post strukturalisme tak hanya penting dalam dirinya sendiri, tetapi juga penting karena sering dilihat sebagai pemikiran pendahuluan bagi teori sosi. Sebenarnya sulit, bukannya tak mungkin, melukiskan secara jelas kaitan antara post strukturalis dan teori sosial post modern. Jadi, Foucault, seorang post strukturalis, sering dipandang sebagai seorang post modernis, sementara Jean Baudrillard (1972/1981), yang biasanya dicap seorang post modernis, menyusun karya yane berkarakter post struktural.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar