Minggu, 28 April 2013

Menuju Interaksionisme Simbolis yang Lebih Sintesis dan Integratif


Ketika berkembang berdasarkan arahan Blumer, interaksionisme simbolik jelas bergeser ke arah analisis mikro. Penekanan pada analisis mikro ini sebenarnya bertolak belakang dengan maksud judul buku Herbert Mead.. Mind, Self and Society, yang lebih bernuansa integratif. Namun interaksionime simbolik telah memasuki era baru, yakni “post-Blumerian” (Fine, 1990; 1992 satu sisi ada upaya untuk merekonstruksi teori Blumerian dan menyatakan ada perhatian terhadap fenomena di tingkat makro. Di sisi yang lebih penting, ada upaya terus-menerus untuk menyintesiskan interaksionisme simbolik dengan gagasan yang berasal dari sejumlah teoritisi lain. Interaksionisme simbolik “baru” ini, menurut istilah Fine, “membangun sebuah teori dengan memungut berbagai pendekatan teoritis lain” (1990:136-137; Fine, 1992). Kini interaksionisme simbolik merupakan gabungan wawasan dengan pemikiran yang berasal dari teori mikro yang lain seperti teori pertukaran, etnometodologi dan analisis percakapan, dan fenomenologi. Yang lebih mengherankan adalah integrasi gagasan dari teori-teori makro (misalnya, fungsionalisme struktural) maupun gagasan teoritisi makro seperti Parsons, Durkheim, Simmel, Weber dan Marx. Teoritisi interaksionisme simbolik juga berupaya mengintegrasikan pemikiran dari post-strukturalisme, post-modernisme dan feminisme radikal. Interaksionisme simbolik post-Blumerian menjadi perspektif yang jauh lebih sintetis ketimbang di masa jayanya Blumer.

Mendefinisikan Ulang Mead
Selain upaya terus-menerus menyintesiskan karya dalam interaksionisme ada pula upaya mendefinisikan kembali pemikiran utama Mead karena mempunyai orientasi yang lebih integratif ketimbang yang dibayangkan orang.
Seperti terlihat sebelumnya, meski Mead kurang memperhatikan fenomena makro, namun dalam pemikirannya mengenai pikiran, diri, dan masyarakat, banyak hal yang menunjukkan adanya integrasi teori sosiologi. Dalam kaitan ini ada baiknya melihat analisis John Baldwin mengenai Mead Baldwin melihat fragmentasi ilmu sosial pada umumnya dan teori sosiologi pada khususnya dan menyatakan bahwa fragmentasi demikian itu mencegah perkembangan “penyatuan” teori sosiologi umum, dan penyatuan ilmu dunia sosial.
Baldwin mengemukakan alasan dari perlunya teori semacam itu dan teori sebagai model untuk teori tersebut (1986:156). Sementara Baldwin mengajukan jenis sintesis besar yang ditolak di era post-modern ini, kita dapat upayanya untuk melihat pendekatan yang lebih integratif dalam teori Baldwin menyatakan ini dengan beberapa alasan. Pertama, dia berpendapat bahwa sistem teoritis Mead mencakup berbagai fenomena sosial mulai dari mikro sampai makro, “fisiologi, psikologi sosial, bahasa, kognisi, masyarakat, perubahan sosial, dan ekologi” (Baldwin, 1986:156). Sesuai dengan itu Baldwin mengemukakan sebuah model orientasi teoritis Mead.
Kedua, Baldwin menyatakan, Mead tak hanya mempunyai pandangan terintegrasi antara tingkat mikro dan makro tentang kehidupan sosial, tetapi juga menawarkan “sebuah sistem fleksibel yang mampu menjembatani sumbangan yang berasal dari semua aliran ilmu sosial masa kini” (1986:156). Jadi, teori Mead tak hanya menyediakan basis integrasi mikro-makro, tetapi juga menyedia basis bagi sintesis teoritis. Ketiga, menurut Baldwin, “komitmen Mead terhadap metode ilmiah membantu memastikan bahwa data dan teori di seluruh komponen sistem sosial dapat diintegrasikan dengan cara yang seimbang dan pemanfaatannya dapat dipertahankan secara empiris” (1986:156).

Integrasi Mikro-Makro
Tujuan mengintegrasikan interaksionisme simbolik dikemukakan Stryker: “Kerangka teoritis yang memuaskan harus menjembatani struktur sosial dan individu, harus mampu bergerak dari tingkat aktor ke tingkat struktur sosial berskala luas dan lalu kembali lagi… Harus ada sebuah kerangka konseptual yang memfasilitasi gerakan melintasi tingkat organisasi dan individu.” (1980:53). Stryker menghubungkan orientasinya dengan interaksionisme simbolik Meadian, tetapi mencoba mengembangkannya ke tingkat kemasyasyarakatan terutama melalui penggunaan teori peran : Versi ini berawal dari Mead, tetapi bergerak melampaui Mead untuk memperkenalkan prinsip dan konsep teori peran untuk menerangkan pengaruh timbal balik antara aktor dan struktur sosial. Hasil pengaruh timbal balik ini adalah interaksi. Dalam kontek proses sosial—pola interaksi antaraktor individual tanpa henti ini struktur sosial bertindak memaksakan konsep diri, definisi situasi, dan peluang dan perulangan perilaku yang mengikat dan memandu interaksi yang terjadi (Stryker, 1980:52). Stryker membangun orientasinya berdasarkan 8 prinsip umum :
1)    Tindakan manusia tergantung pada dunia yang dinamai dan diklasifikasikan di mana nama dan klasifikasi mempunyai arti bagi aktor. Melalui interaksi dengan orang lain, aktor mempelajari bagaimana cara menggolongkan dunia maupun bagaimana mereka diharapkan bertindak terhadapnya.
2)    Diantara hal terpenting yang dipelajari aktor adalah simbol yang digunakan untuk menandakan posisi sosial. Hal yang penting di sini adalah bahwa Stryker membayangkan posisi dalam pengertian struktural: “komponen morfologis dari struktur sosial yang relatif stabil” (Stryker, 1980:54). Stryker juga mengakui pentingnya peran, membayangkannya sebagai perilaku bersama yang diharapkan yang dihubungkan dengan posisi sosial.
3)    Stryker juga mengakui pentingnya struktur sosial berskala luas, meski ia cenderung membayangkannya dari segi pola perilaku yang terorganisir. Struktur sosial dianggapnya sebagai “kerangka” tempat aktor bertindak. Di dalam struktur ini aktor saling memberi nama, yakni saling mengakui posisi satu sama lain. Dalam berbuat demikian, aktor membangkitkan harapan resiprokal dari apa-apa yang diharapkan masing-masing pihak untuk dilakukan.
4)    Selanjutnya, dalam bertindak di dalam konteks ini, manusia tak hanya saling memberi nama, tetapi juga menyebut dirinya sendiri; artinya mereka mengaplikasikan designasi posisional kepada diri mereka sendiri. Penunjukan ke diri sendiri ini menjadi bagian dari harapan diri yang diinternalisasikan yang berkaitan dengan perilaku mereka sendiri.
5)    Ketika berinteraksi, manusia mendefinisikan situasi dengan mengaplikasikan nama-nama terhadapnya, terhadap peserta, terhadap diri mereka sendiri dan terhadap ciri-ciri khusus dari situasi. Penetapan situasi ini kemudian digunakan oleh aktor untuk mengorganisir perilaku mereka.
6)    Perilaku sosial bukan ditentukan oleh makna sosial, meski dipaksakan olehnya. Stryker sangat yakin terhadap gagasan role making. Aktor tidak semata menerima peran; mereka berpikiran aktif dan kreatif terhadap peran mereka.
7)    Struktur sosial juga membantu membatasi hingga di tingkat di mana peran boleh “diciptakan” ketimbang hanya “diterima”. Struktur sosial tertentu memungkinkan aktor lebih kreatif ketimbang yang lain.
8)    Kemungkinan role making memungkinkan terjadinya berbagai jenis perubahan sosial. Prubahan dapat ditinjau dalam definisi sosial, dalam nama, simbol dan klasifikasi dalam kemungkinan untuk berinteraksi. Efek kumulatif perubahan ini dapat mengubah struktur sosial berskala luas.

Meski Stryker menawarkan sebuah awal yang berguna menuju interaksionisme simbolik yang lebih memadai, namun karyanya mempunyai sejumlah kekurangan. Kelemahan paling menonjol adalah bahwa ia sedikit sekali berbicara mengenai struktur sosial yang lebih luas. Stryker merasa perlu memasukkan struktur lebih luas ini ke dalam karyanya, namun ia mengakui bahwa “bila dimasukkan maka hal itu melampaui jangkauan karyanya yang sekarang” (1980:69). Stryker hanya melihat keterbatasan peran masa depan variabel struktural berskala luas dalam interaksionisme simbolik. Dia berharap pada akhirnya akan memasukkan faktor struktural seperti kelas, status, dan kekuasaan sebagai variabel yang memaksa interaksi, namun ia cenderung melihat interaksionisme simbolik berkaitan dengan kesalinghubungan antara variabel-variabel struktural itu. Barangkali masalah ini akan menjadi perhatian teori lain yang lebih memusatkan perhatian pada fenomena sosial berskala luas.

Interaksionisme Simbolik dan Studi Kultural
Sejumlah pemikir telah membicarakan sebagian atau keseluruhan hubungan antara interaksionisme simbolik dan sejumlah gerakan teoritis yang lebih baru, termasuk post strukturalisme, post modernisme dan studi kultural (Farberman, 1991; Schwalbe, 1993; Shalin, 1993). Perhatian di sini dipusatkan pada upaya yang dilakukan Norman Denzin dalam karyanya Symbolic actionism and Cultural Studies.
Studi kultur dalam bentuk sosiologi kebudayaan, atau lebih umum lagi, studi kultural, tumbuh pesat di tahun-tahun belakangan ini. Studi tentang kultur ini sangat dipengaruhi oleh sejumlah perspektif teoritis, termasuk post strukturalisme dan post modernisme. Denzin merumuskan kultural sebagai : Proyek interdisipliner…yang selalu memusatkan perhatiannya pada masalah bagaimana sejarah yang dibuat dan dihidupkan umat manusia ditentukan oleh struktur makna yang bukan mereka pilih sendiri Kultur, dalam makna dan bentuk interaksionalnya, menjadi ajang perjuangan politik. Masalah pokoknya adalah penelitian tentang bagaimana individu yang saling berinteraksi mengaitkan pengalaman hidup mereka dengan representasi kultural dari pengalaman-pengalaman itu (Denzin, 1992:74).
Studi kultural memusatkan perhatian pada tipe masalah yang saling berhubungan, “pembuatan arti kultural, analisis tekstual, arti kultural dan studi kehidupan kultur, dan pengalaman hidup (Denzin, 1992:34). Karya di bidang ini tertuju pada bentuk-bentuk kultural, meliputi “karya seni, musik populer, literatur populer, surat kabar, televisi, dan media massa” (1992:76). Studi tentang bentuk-bentuk kultural ini sangat dipengaruhi oleh teori seperti post sturktualisme dan post modernisme, dan Denzin mencoba menghubungkan interasksionisme simbolik dengan studi dan teori tersebut.
Venurut Denzin, interaksionisme simbolik seharusnya lebih besar lagi perannya dalam studi kultural ketimbang di masa lalu. Satu masalah mendasarnya adalah bahwa interaksionisme simbolik cenderung mengabaikan gagasan-gagasan yang menghubungkan “simbolik” dan “interaksi” (dan menekankan studi kultural) “komunikasi”. Denzin mencoba mengoreksi ini : Dalam upaya mengorientasikan kembali pemikir interaksionisme simbolik ke perspektif studi kultural, saya memilih untuk memusatkan perhatian pada aspek-spek yang hilang dalam perspektif mereka. Tentu ada paradoks di sini; untuk membuka komunikasi perlu berinteraksi dan untuk membuka interaksi para pelakunya harus berkomunikasi (Denzin, 1992:97-98).
Pakar interaksionis didesak untuk lebih khusus lagi memusatkan perhatian pada teknologi komunikasi dan peralatan teknologi dan pada cara-cara teknologi itu menghasilkan realitas dan menggambarkan realitas itu.
Menurut Denzin, di masa lalu teoritisi interaksionisme simbolik telah memperhatikan jenis-jenis komunikasi yang dibahas dalam studi kultural (misalnya film). Tetapi, peneliti yang terlibat dalam studi itu cenderung mengabaikan kulturalnya dan Denzin menarik perhatian mereka untuk kembali ke kultural mereka.
Denzin menginginkan studi interaksionis lebih menekankan pada kultur, terutama kultur populer. Tetapi, ia ingin interaksionisme simbolik melakukan pendekatan kritis terhadap kultur. Pendekatan kritis itu cocok dengan tradisi interaksionisme yang memusatkan perhatian pada golongan tertindas dan hubungan mereka dengan penguasa.
Untuk bergerak ke arah ini perlu perubahan orientasi teoritis interaksionisme simbolik. Di satu sisi, interaksionisme simbolik harus membuang tradisinya yang berorientasi modern. Lebih khusus lagi, yang harus dibuang adalah bacaan resmi buku ajar klasik dalam interaksionisme simbolik yang dibahas, dan juga membuang pemahaman bahwa interaksionisme adalah ilmu totalitas sosial, dan membuang mitos historis yang mendominasi bidang kajian ini dan mencegah pengaruhnya terhadap arah teoritis baru. Selain didesak agar membuang orientasi tertentu, interaksionisme simbolik juga di dorong ke arah lain : Tradisi interaksionis harus menghadapi, menyerap, mendebat, dan bertentangan dengan kawasan teori baru yang terus-menerus muncul di era post modern (misalnya, hermeneutika, fenomenologi, strukturalisme, post strukturalisme, teori post modern, psikoanalisis, semiotika, post Marxisme, studi kultural, teori feminis, teori film, dan sebagainya) (Denzin, 1992:169).
Jadi, Denzin menganjurkan arah yang serupa dengan yang dianjurkan Fine, meski lebih spesifik, yang sebaiknya ditempuh oleh interaksionisme simbolik.
Seperti dikemukakan di atas, program interaksionisme simbolik Denzin sangat dipengaruhi oleh post strukturalisme (Dunn, 1997) dan post modernisme. Misalnya, karena penekanannya pada kemunculan fenomena yang terus berubah, interaksionisme simbolik dapat berlawanan dengan penolakan teoritisi post modern terhadap teori-teori besar (misalnya, teori Kapitalisme Marx) atau yang mereka sebut, “narasi besar”. Bila mereka lebih memusatkan perhatian pada komunikasi teoritisi interaksionisme simbolik akan selaras dengan sasaran perhattian post modern terutama pada citra video dari televisi dan film. Banyak keuntungan yang didapat dari studi teks pada umumnya, dan studi dekonstruksi khususnya.
Selain itu, Denzin menghendaki agar interaksionisme simbolik menjadi lebih politis. Kita dapat melihat contoh dari manfaat analisis interaksionis terhadap tindakan politik dalam studi oleh Pfaff dan Yang (2001) tentang sifat ganda sumber simbolik dan cara di mana kelompok politik oposisi dapat memberi makna baru dan subversif untuk simbol-simbol.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar