Kamis, 18 April 2013

Determinisme Ekonomi


Meskipun Marx adalah pengagum utama dari Hegel dan beberapa konsep dan pemikirannya terinspirasi dari Hegel, ia juga salah satu pengkritik Hegel yang utama. Hegel menganggap faktor non duniawi lah yang mempengaruhi sejarah, hal seperti roh, semangat dan ide tetapi Marx sangat menyangkal argumen ini. Ia menyangkal dengan pemikirannya dimana sejarah tidak akan terjadi bukan karena pertentangan yang terjadi di level khayalan/gagasan atau dunia tidak nyata tetapi ditentukan oleh apa yang terjadi di dunia.
Ini adalah gagasannya mengenai konsep meterialisme sejarah yang mengabsenkan pentingnya sebuah gagasan dan kontribusinya pada sejarah. Disebut juga sebagai materialis karena sejarah dianggap ditentukan oleh syarat-syarat produksi material, materialisme disini bukan dalam arti filosofis, sebagai kepercayaan bahwasanya realita adalah materi, melainkan menunjuk pada hal yang menentukan sejarah. Dan jawabannya adalah keadaan material=ekonomi, bukan pada pikiran dan gagasan. Material yang ditekankan adalah produksi kebutuhan material manusia, cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Kondisi material masyarakat dianggap sesungguhnya berasal dari dan disebabkan oleh ide besar yang menggugah semangat. Penekanan secara eksklusif yang terjadi pada ide sebagai penggerak sejarah mengabaikan kenyataan bahwa ide tidak saja menimbulkan tetapi juga mencerminkan adanya peristiwa tertentu. Sikap material dari Marx juga mnunjukkan bahwa Marx memahami semua kepentingan hanay sebagai yang ekonomis saja, entah langsung entah tidak langsung, ia memandang kekuasaan politik hanya menhadi kepentingan sebagai fungsi kekuasaan ekonomis.
Marx dalam perspektifnya menyatakan bukan cita-cita kebebasan yang menjadi kekuatan dalam sejarah modern tetapi kebutuhan kelas kapitalis akan tersedianya buruh saat dibutuhkan dan lingkungan atau kondisi-kondisi yang berada disekitar dimana memungkinkan terlaksananya ide tersebut, kelangsungan dan tentunya dampak dari ide tersebut yang akan membaur dengan lingkungan tersebut.
Bagi Marx, sejarah terjadi karena pertentangan yang terjadi pada dunia material, sesuai dengan konsep materialismenya atau konsep serba benda. Bentuk dan kekuatan produksi material tidak saja menentukan proses pekembangan dan hubungan-hubungan sosial manusia, seta formasi politik tetapi juga pembagian kelas-kelas sosial. Hubungan-hubungan produksi menjadi sangat dipengaruhi oleh kekuatan sosial dalam menciptakan bentuk kekuatan produksi mereka. Determinasi ekonomi adalah dimana hal-hal yang bersifat mendasar (basis) seperti bentuk modal, alat-alat produksi, dan kekuatan-kekuatan modal lainnya yang mempengaruhi sejarah, bukan kehidupan sosial seperti agama, politik, filsafat, seni, bahkan negara (suprastruktur) lah yang mempengaruhi dan membuat sejarah.
Marx memandang segala perubahan politis adalah hal-hal yang berkaitan dengan produksi kemajuannya dimana tujuan dari sejarah adalah kemajuan dalam perbaikan hidup manusia yang hanya bisa dilakukan di tahapan duniawi. Istilah “basis” dalam beberapa literatur disebut sebagai “infrastuktur” dengan ciri-ciri basis adalah pertentanga antara kelas-kelas atas dan kelas-kelas bawah. Sedangkan “suprastruktur” juga disebut “bangunan atas” dengan ciri-cirinya adalah yang mengatur kehidupan masyarakat diluar hal-hal keproduksian, termasuk norma, agama, kesehatan, sistem pendidikan, lalu lintas, dll.
Ide determinasi ekonominya timbul pada fase Marx tua, diawali dengan The German Ideology seperti yang telah dijabarkan diatas pada perkembangan pemikiran Marx, yaitu saat Marx berubah menjadi seorang yang anti-humanis dan bersandar pada rasionalitas demi menunjukan keilmiahannya. Ia menemukan hukum yang mengatur perkembangan masyarakat dan sejarah yaitu ekonomi. Ekonomi adalah hal yang mndasar bagi pandangan sejarah materialistiknya. Dan inilah yang menjadikannya sebagai pemikir sosialisme ilmiah, sosialisme yang tidak berdasarkan harapan atau keingan khayalan belaka, semuanya serba benda dan berdasarkan kepada analisis ilmiah terhadap perkembangan kehidupan hukum masyarakat. Ia merumuskan bidang ekonomi menentukan aspek politik dan pemikiran manusia, meski faktor ekonomi sendiri ditentukan oleh konflik antara golongan pekerja dan pemilik modal yang konflik tersebut dipertajam oleh inovasi di bidang teknik produksi. Pertentangan tersebut juga akhirnya akan meledak dalam sebuah revolusi yang akan mengubah struktur dan kekuaaan di bidang ekonomi, kenegaraan, dan gaya berfikir manusia.
Dalam buku ini, Marx juga mengatakan bahwa sistem kapitalis akan runtuh setelah terjadinya revolusi. Revolusi yang akan memecah kelas-kelas menjadi saling bertentangan dan menghasilkan masyarakat sosialis karena berhasil menghilangkan kelas dalam masyarakat.
Teori perkembangan masyarakat dipengaruhi perkembangan ekonomi dari Marx ini mengharuskannya untuk membuktikan teori tersebut dengan memperlihatkan bahwa ekonomi kapitalis akan segera menuju kehancurannya secara ilmiah. Pada akhirnya Marx masih merasa sulit membuktikan teori ini, ia menjadi fokus pada pendekatan ekonomi terhadap kajiannya yaitucivil society dan menciptakan teori-teori baru. Hal lainnya yang mendasari pemikiran determinasi ekonominya adalah pendapatnya mengenai keterasingan. Manusia selalu hidup dalam keterasingan dan terasing dari hidupnya sendiri. Entah apa maksudnya, tapi keterasingan tersebut muncul karena faktor kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang nantinya akan menimbulkan konflik dari diri sendiri untuk melindungi usahanya dan bersaing dalam industrialisasi. Hak milik tersebut juga membuat para golongan pemilik alat tersebut untuk hidup dari “penghisapan” para golongan pekerja yang mana struktur ekonomi itu dicerminkan didalam struktur kekuasaan dibidang sosial dan ideologi. Memang terlihat pada akhirnya jika sejarah itu paling ditentukan oleh struktur dari masyarakat dan perkembangan kelas-kelas sosial yang terdapat didalamnya dimana kelas-kelas ini tercipta atas motivasi alamiah dari manusia untuk memperbaiki keadaan hidupnya dengan membuat kemampuan individu masing-masing semakin spesifik dan adanya pembagian kerja. Intinya, siapapun ia yang memiliki kekuatan ekonomi, ia akan secara mudah mendapatkan akses pada negara, bahkan menguasai, sehingga kekuasan negara cenderung sering mendukung kaum pemegang kekuatan ekonomi ini untuk kepentingan mereka. Begitu pula dengan tatanan agama atau nilai yang berperan untuk memberikan legitimasi pada kekuasaan golongan-golongan tersebut. Struktur kekuasaan politis  maupun spiritual dalam masyarakat mencerminkan struktur kekuasaan golongan atas kepada golongan pekerja/bawah dalam hal ekonomi.
Alasan logis lainnya yang dituangkan Marx adalah seperti ini, manusia sebagai manusia tentunya butuh dan harus makan dan minum, berpakaian, tempat tinggal, istirahat dan lainnya sebelum manusia melakukan kegiatan sosial, politik, menimba ilmu, agama, urusam kenegaraan, dan lain seterusnya. Jadi bahwa produksi nafkah hidup material bersifat langsung dan dengan demikian tingkat perkembangan ekonomis sebuah masyarakat tau zaman masing-masing menjadi dasar dari bentuk-bentuk kenegaraan, pandangan hukum, seni, dan religiusnya masyarakat. Saya kira ini sudah masuk dalam tahapan dimana ekonomi mendeterminasi ke arah pembentukan kebudayaan, bukan lagi sejarah saja karena mencangkup aspek-aspek pembangun kehidupan. Marx memang tidak mengklaim bahwa hanya faktor ekonomi sajalah yang menciptakan sejarah, ia hanya menyatakan bahwa faktor ini adalah yang terpenting sebagai dasar dan landasan untuk membangun sebuah suprastruktur kebudayaan, perundang-undangan, dan pemerintahan yang diperoleh pula oleh berbagai ideologi politik, sosial, keagamaan, dan hal lainnya yang sejalan berdampingan. The German Ideology juga tidak menyebutkan bahwa interpretasi mereka (Marx dan Engels) mengenai sejarah adalah satu-satunya yang dapat merepresentasikan dari sejareh tersebut.
Konsep determinasi ekonominya sudah dapat menggambarkan sosialismenya yang ilmiah arena berdasarkan pengetahuan dan hukum-hukum objektif. Diluar konsep revolusi kaum pekerja yang akan menciptakan masyarakat tanpa kelas yang dinilai utopis, tidak logis dan memang tidak terbukti kebenarannya di masa kontemporer. Konsep determinisme ekonomi dari Marx adalah salah satu kelemahan lain di pemikirannya. Menurut penulis, faktor ekonomi atau faktor apapun tidak dapat dikatakan mendominasi terjadinya sebuah sejarah. Sejarah terjadi bukan karena satu faktor tunggal yang berpengaruh, dan dalam keadaan tersebut harus dibutuhkan lagi suatu penelitian yang mendalam dan empiris untuk mengetahui faktor apa yang paling berperan pada sejarah.

Kesimpulan
Pemikiran determisime ekonomi Marx adalah sebuah pemikiran Marx yang memandang secara utuh, bahwa faktor utama dari terjadinya sejarah adalah hal ekonomi. Ia melihat unsur-usnru besar (bangunan atas) seperti politik, agama, pendidikan, dan lain sebagainya di[engaruhi oleh motif ekonomi dalam menjalankan kehidupan bernegara. Marx membagi dua faktor yang mempengaruhi terjadinya sejarah yaitu basis dan bangunan atas atau yang lebih populer disebut infrastruktur dan suprastruktur. Dan suprastruktur ini adalah penentu sejarah dimana suprastruktur dipengaruhi oleh infrastruktur yaitu ekonomi yang berupa kekuatan modal dan bentuk-bentuk alat produksi.
Marx memandang segala fenomena berlandaskan asas kebendaan atau materialisme. Ini memperlihatkan kelemahan Marx, ia seperti tidak memahami secara baik apa itu negara dan kekuatan sosial. Ia hanya memandang ada satunya kekuatan utama yaitu kekuatan ekonomi dan meniadakan peran negara dalam konsep negara kelasnya. Ini meruntuhkan klaim dirinya sendiri bahwa konsepnya adalah didasari dengan akal dan rasionalitas, padahal dengan konsep final yang diusungnya, ini adalah sebuah konsep yang utopis belaka. Negara tidak mungkin tiada, karena tetap saja dibutuhkan untuk mengatur beberapa hal yang mungkin manusia tanpa kelas pun tidak mau untuk menjalankannya. Kacamata ekonomi yang dipakainya juga menimbulkan satu tubrukan logis, dimana tidak mungkin sebuah sejarah hanya bisa atau didominasi oleh faktor ekonomi. Mungkin saja terjadi, tapi Marx harus melihat sebuah fenomena dari konteks yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar