Sabtu, 20 April 2013

Teori Kritis


Teori kritis adalah produk sekelompok neo-Marxis Jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian (Bernstein, 1995; Kellner, 1993; untuk tinjauan yang lebih luas terhadap teori kritis, Agger, 1998), terutama kecenderungannya menuju determinisme ekonomi. The Institute of Social Research, organisasi yang berkaitan dengan teori kritis ini resmi didirikan di Frankfurt, Jerman, 23 Februari 1923, meski sejumlah anggotanya telah aktif sebelum organisasi itu didirikan (Wiggershaus, 1994). Teori kritis telah berkembang melampaui batas aliran Frankfurt (Calhoun dan Karagards, 2001; Telos, 1989-90). Teori kritis berasaJ dari dan sebagian besar berorientasi ke pemikir Eropa, meski pengaruhnya tumbuh dalam sosiologi Amerika (Marcus, 1999; van den Berg, 1980).

Kritik Utama terhadap Kehidupan Sosial dan Intelektual
Teori kritis sebagian besar terdiri dari kritik terhadap berbagai aspek kehidupan sosial dan intelektual, namun tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat (Bleich, 1977).

Kritik terhadap Teori Marxian
Teori kritis mengambil kritik terhadap teori titik tolaknya. Teoritisi kritis ini merasa sangat terganggu oleh pemikir penganut determinisme ekonomi yang mekanistis (Antonio, 1981; Scroyer, 1973; Sewart, 1978). Beberapa orang di antaranya (misalnya, Habermas, 1971) mengkritik determinisme yang tersirat di bagian tertentu dari pemikiran asli Marx, tetapi kritik mereka sangat ditekankan pada neo-Marxis terutama mereka telah menafsirkan pemikiran Marx terlalu mekanistis. Teoritisi tak menyatakan bahwa determinis ekonomi keliru, ketika memusatkan perhatian pada bidang ekonomi, tetapi karena mereka seharusnya juga memusatkan perhatian pada aspek kehidupan sosial yang lain. Seperti akan kita lihat, aliran kritis mencoba meralat ketakseimbangan ini dengan memusatkan perhatiannya pada bidang kultural (Fuery, 2000; Schroyer, 1973:33). Selain menyerang teori Marxian lain, aliran kritis mengkritik masyarakat seperti bekas Uni Soviet yang pura-pura dibangun berdasarkan teori Marxian (Marcuse, 1958).

Kritik terhadap Positivisme
Teoritisi kritis juga memusatkan perhatian terhadap filsafat yang mendukung penelitian ilmiah terutama positivisme (Bottomore, 1984; Halfpenny, 2001; Morrow, 1994). Kritik terhadap positivisme sekurangnya sebagian berkaitan dengan kritik terhadap determinisme ekonomi karena beberapa pemikir determinisme ekonomi menerima sebagian atau seluruh teori positivisme tentang pengetahuan. Positivisme dilukiskan sebagai mewakili berbagai hal (Schroyer, 1970; Sewart, 1978). Positivisme menerima gagasan bahwa ilmiah tunggal dapat diterapkan pada seluruh bidang studi. Positivisme mengambil ilmu fisika sebagai standar kepastian dan ketepatan untuk semua disiplin ilmu. Penganut positivisme yakin bahwa pengetahuan bersifat netral. Merasa bahwa mereka dapat mencegah masuknya nilai-nilai kemanusiaaan ke dalam pemikiran mereka. Keyakinan ini selanjutnya menimbulkan pandangan bahwa ilmu tak berada dalam posisi mendukung bentuk tindakan sosial khusus apa pun.
Aliran kritis menentang positivisme karena berbagai alasan (Sewart, 1978). Pertama, positivisme cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah. Teoritisi kritis lebih menyukai memusatkan perhatian pada aktivitas manusia maupun pada cara-cara aktivitas tersebut memengaruhi struktur sosial yang lebih luas. Singkatnya positivisme dianggap mengabaikan aktor (Habermas, 1971), menurunkan aktor ke derajat yang pasif yang ditentukan oleh kekuatan alamiah. Karena mereka yakin atas kekhasan sifat aktor, teoritisi kritis tak dapat menerima gagasan bahwa hukum umum sains dapat diterapkan terhadap tindakan manusia begitu saja. Positivisme diserang karena berpuas diri hanya dengan menilai alat untuk mencapai tujuan tertentu, dan karena tak membuat penilaian serupa terhadap tujuan. Kritik ini mengarah ke pandangan bahwa positivisme berwatak konservatif, tak mampu menantang sistem yang ada. Seperti dikatakan Martin Jay tentang positivisme ini, “Akibatnya adalah mengabsolutkan ‘fakta’ dan reifikasi tatanan yang ada” (1973:62). Positivisme menyebabkan aktor dan ilmuwan sosial menjadi pasif. Ada segelintir Marxis tipe tertentu yang mendukung pandangan yang menyatakan teori dan praktik tak dapat dihubungkan. Meski kritikan ada kritik terhadap positivisme, beberapa orang Marxis (misalnya beberapa orang Strukturalis Marxis) mendukung positivisme, dan Marx sendm tampaknya yang terlalu positivis (Habermas, 1971).

Kritik terhadap Sosiologi
Sosiologi diserang karena “keilmiahannya”, yakni karena menjadikan metode ilmiah sebagai tujuan di dalam dirinya sendir. Selain dari itu sosiologi dituduh menerima status quo. Aliran kritis berpandangan bahwa sosiologi tak serius mengkritik masyarakat, tak berupaya merombak struktur sosial masa kini. Menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan kewajibannya untuk membantu rakyat yang ditindas oleh masyarakat masa kini.
Menurut anggota aliran ini, sosiolog lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat maka mereka mengabaikan interaksi individu dan masyarakat. Walau sebagian besar perspektif sosiologi tidak bersalah ketika mengabaikan interaksi ini, namun pandangan ini menjadi landasan serangan aliran kritis terhadap sosiologi. Karena mengabaikan individu sosiolog dianggap tak mampu mengatakan sesuatu yang bermakna tentang perubahan politik yang dapat mengarah ke sebuah masyarakat manusia dan yang adil (Institut Riset Sosial Frankfurt, 1973:46). Seperti dikatakar Zoltan Tar, sosiologi menjadi “bagian integral masyarakat yang ada ketimbang menjadi alat untuk mengkritiknya dan menjadi ragi untuk pembaruan” (1977:x).

Kritik terhadap Masyarakat Modern
Kebanyakan karya aliran kritis ditujukan untuk mengkritik masyarakat modern dan berbagai jenis komponennya. Kebanyakan teori Marxian awal secara tegas tertuju ke bidang ekonomi sedangkan aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat kultural mengingat kultur dianggap sebagai realitas masyarakat kapitalis modern. Artinya, tempat dominasi dalam masyarakat modern telah bergeser dari bidang ekonomi ke bidang kultural. Aliran kritis masih tetap memperhatikan masalah dominasi meski masyarakat modern mungkin lebih didominasi oleh elemen kultural ketimbang oleh elemen ekonomi. Karena itulah aliran kritis mencoba memusatkan perhatian pada penindasan kultural atas individu dalam masyarakat.
Pemikiran kritis telah dibentuk tak hanya oleh teori Marxian, tetapi juga teori Weberian, seperti tercermin pada perhatian mereka kepada rasionalitas perkembangan dominan dalam dunia modern. Seperti dijelaskan Trent Schroyer (1970) pandangan aliran kritis adalah bahwa dalam masyarakat modern penindasan dihasilkan oleh rasionalitas yang menggantikan eksploitasi ekonomi sebagai masalah sosial dominan. Aliran kritis jelas telah mengadopsi pembedaan antara rasionalitas formal dan rasionalitas subjektif atau apa yang oleh teoritisi dipandang sebagai reason. Menurut teoritisi kritis, rasionalitas formal tak mencerminkan perhatian mengenai cara yang paling efektif untuk mencapai tertentu (Tar, 1977). Inilah yang dipandang sebagai “cara berpikir kratis” di mana tujuannya adalah untuk membantu kekuatan yang mendominasi, bukan untuk memerdekakan individu dari dominasi. Tujuannya semata-mata untuk menemukan cara yang paling efisien untuk mencapai apa pun yang dianggap penting oleh pemegang kekuasaan. Cara berpikir teknokratis berbeda dari cara berpikir nalar (reason), yang dalam pikiran teoritisi kritis menjadi tumpuan harapan masyarakat. Nalar meliputi penelitian tentang cara dilihat dari sudut nilai manusia tertinggi yang berkenaan dengan keadilan, perdamaian, dan kebahagiaan. Teoritisi kritis memandang Nazisme pada umumnya, dan kamp konsentrasi Nazi pada khususnya, sebagai contoh rasionalitas formal yang bertempur mati-matian dengan nalar sehat. Demikianlah seperti dikatakan Friedman, “Auschwitz adalah tempat yang rasional, tetapi ia bukan tempat yang masuk akal (reasonable)”.
Meski kehidupan modern kelihatan rasional, aliran kritis memandang masyarakat modern penuh dengan ketidakrasionalan (Crook, 1995). Gagasan ini dapat diberi nama “irasionalitas dari rasionalitas formal”. Menurut pandangan ‘Marcuse, meski tampaknya rasionalitas diwujudkan, masyarakat ini secara keseluruhan adalah tak rasional secara keseluruhan (1964:ix; lihat juga Farganis, 1975). Masyarakat adalah tak rasional karena dunia rasional merusak individu, serta kebutuhan dan kemampuan mereka; bahwa perdamaian dipertahankan melalui ancaman perang terus-menerus; dan bahwa meski sarana yang ada sudah cukup, rakyat tetap miskin, tertindas, tereksploitasi dan tak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri.
Aliran kritis terutama memusatkan perhatian pada satu bentuk rasionalitas formal teknologi modern (Feenberg, 1996). Marcuse (1964), misalnya, mengecam keras teknologi modern setidaknya seperti yang digunakan dalam kapitalisme.
Sebenarnya ia memandang teknologi modem berperan penting sebagai metode pengendalian ekstemal terhadap individu yang baru, lebih efektif, dan bahkan lebih menyenangkan. Contoh utamanya adalah penggunaan televisi untuk mensosialisasikan dan menenteramkan pendudnk (contoh lain adalah olahraga massal dan seks). Marcuse menolak gagasan bahwa teknologi adalah netral dalam dunia modem dan sebaliknya memandangnya sebagai alat untuk menguasai rakyat. Teknologi modem adalah efektif karena walaupun ketika diciptakar. tampaknya netral sebenamya ia memperbudak. Teknologi membantu menindas individualitas. Kebebasan batin aktor dilanggar, dikurangi oleh teknologi modern Akibatnya adalah apa yang disebut Marcuse sebagai “masyarakat berdimensi tunggal”, di mana individu kehilangan kemampuan untuk berpikir secara kritis dan secara negatif tentang masyarakat. Marcuse tak memandang teknologi per se sebagai musuh, tetapi memandang teknologi sebagaimana yang digunakan dalam masyarakat kapitalis modern: “teknologi betapa pun ‘murninya’ ia mempertahankan dan memperlancar kelangsungan dominasi. Hubungan yang fatal ini hanya dapat diputuskan dengan revolusi yang menyebabkan teknologi dan teknik tunduk kepada kebutuhan dan sasaran manusia bebas” (1969:56) Marcuse mempertahankan pandangan asli Marx yang menyatakan teknologi bukanlah sebuah masalah bawaan dan karena itu dapat digurtakan untuk membangun masyarakat yang “lebih baik”.

Kritik terhadap Kultur
Teoritisi kritis melontarkan kritik pedas terhadap apa yang mereka sebut “industri kultur”, yakni struktur yang dirasionalkan dan dibirokratisasikan (misalnya, jaringan televisi) yang mengendalikan kultur modern. Perhatian terhadap industri kultur lebih mencerminkan perhatian mereka terhadap konsep superstruktur Marxian ketimbang terhadap basis ekonomi. Industri kultur menghasilkan apa yang secara konvensional disebut “kultur massa” yang didefinisikan “sebagai kultur yang diatur…tak spontan. dimaterialkan, dan palsu, bukan ketimbang sesuatu yang nyata” (Jay, 1973:216). Ada dua hal yang paling dicemaskan oleh pemikir kritis mengenai industri kultur ini. PERTAMA, mereka mengkhawatirkan mengenai kepalsuannya. Mereka membayangkannya sebagai sekumpulan paket gagasan yang diproduksi secara massal dan disebarkan ke tengah-tengah massa melalui media. KEDUA, teoritis kritis terganggu oleh pengaruh yang bersifat menenteramkan, menindas dan membius dari industri kultur terhadap rakyat (D. Cook, 1996; Friedman, 1981 Tar, 1977:83; Zipes, 1994).
Douglas Kellner (1990) dengan kesadaran sendiri mengemukakan sebuah teori kritis tentang televisi. Meski ia mengaitkan karyanya dengan pemikiran kultural aliran Frankfurt, Kellner mengambil tradisi Marxian lain untuk menyajikan konsepsi yang lebih utuh tentang industri televisi. Ia mengkritik aliran kritis karena “mengabaikan analisis rinci tentang ekonomi politik media televisi, mengonseptualisasikan kultur massa sebagai sebuah instrumen ideologi kapitalis semata” (Kellner, 1990:14). Jadi, selain melihat televisi sebagai bagian dari kultur Kellner mengaitkannya dengan kapitalisme korporat dan sistem politik. jauh, Kellner tidak melihat televisi sebagai kekuatan monolitik atau kekuatan yang dikendalikan oleh korporat yang koheren, tetapi sebagai “media yang sangat konfliktual di mana bertemu kekuatan kultural, sosial, politik, dan ekonomi yang saling bersaing” (1990:14). Jadi, meski bekerja dalam tradisi teori kritik, Kellner menolak pandangan bahwa kapitalisme sepenuhnya adalah yang diatur. Meski demikian, Kellner melihat televisi sebagai ancaman terhadap demokrasi, individualitas dan kebebasan, dan ia memberi saran-saran untuk menghadapi ancaman itu (misalnya, akuntabilitas yang lebih demokratis, dan partisipasi yang lebih besar dari warga negara, diversitas yang lebih besar pada televisi). Jadi, Kellner bukan sekadar mengkritik, tetapi juga memberi untuk menangani bahaya yang ditimbulkan oleh televisi.
Aliran kritis juga tertarik dan kritis terhadap apa yang disebut sebagai “industri pengetahuan”, yang mengacu kepada “entitas-entitas” yang berhubungan produksi pengetahuan (misalnya, universitas dan lembaga penelitian) menjadi struktur otonomi di dalam masyarakat. Otonomi itu membuat mereka bisa memperluas mereka melampaui mandatnya (Schroyer, 1970). Mereka di struktur yang opresif yang hanya tertarik untuk menyebarkan pengaruhnya ke seluruh masyarakat.
Analisis kritis Marx terhadap kapitalisme membuatnya berharap pada masa tetapi banyak teoritisi kritis malah masuk pada pandangan putus asa tanpa harapan. Mereka melihat problem-problem dunia modern bukan hanya pada kapitalisme, tetapi mewabah sampai ke dunia yang dirasionalkan (rationalized). Mereka memandang masa depan, dalam istilah Weberian, sebagai “sangkar besi” struktur yang semakin rasional yang tak ada harapan untuk keluar darinya.
Sebagian besar teori kritik (seperti rumusan asli Marx) adalah sejalan dengan analisis kritik. Meskipun teori kritik juga mempunyai sejumlah minat positif, ia lebih banyak memberi kontribusi yang lebih kritis ketimbang kontribusi Dan karena alasan ini mereka merasa bahwa teori kritik tak banyak memberi sumbangan pada teori sosiologi.

Kontribusi-kontribusi Utama
Subjektivitas
Kontribusi besar dari aliran kritis adalah usahanya untuk mengorientasikan teori Marxian ke arah subjektif. Meskipun ini merupakan kritik terhadap materialisme Marx dan terhadap fokusnya pada struktur ekonomi, ini juga merepresentasikan kontribusi yang kuat kepada pemahaman kita tentang elemen subjektif dari kehidupan sosial. Kontribusi subjektif dari aliran kritis adalah pada tingkat individual dan kultural.
Akar Hegelian dari teori Marx adalah sumber utama dari minat terhadap objektivitas. Banyak pemikir kritis memandang diri mereka kembali pada akar itu, seperti yang diekspresikan dalam karya-karya awal Marx, khususnya The Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 (1932/1964). Dalam melakukan hal itu, mereka meneruskan karya revisionis Marx awal abad 20, seperti Karl Korsch dan Georg Lukacs, yang fokusnya bukan pada subjektivitas, tetapi hanya untuk mengintegrasikan minat tersebut dengan perhatian Marxian tradisional terhadap struktur objektif (Agger, 1978). Korsch dan Lukacs tidak mencari restrukturisasi fundamental dari teori Marxian, meskipun teoritisi kritik yang belakangan melakukannya secara lebih luas dan ambisius.
Kita mulai dengan minat aliran kritis kepada kebudayaan. Seperti ditunjukkan di atas, aliran kritis telah bergeser kepada “superstruktur” kultural, dan bukannya “basis” ekonomi. Salah satu faktor yang memotivasi pergeseran ini adalah bahwa minat aliran kritis mencakup aspek-aspek lain dari realitas sosial, terutama kultur. Selain faktor ini, serangkaian perubahan eksternal dalam masyarakat telah menunjukkan pergeseran itu (Agger, 1978). Secara khusus, kemakmuran periode pasca Perang Dunia II di Amerika “tampaknya” menghilangkan kontradiksi ekonomi internal pada umumnya dan konflik kelas pada khususnya. Kesadaran palsu “tampaknya” hampir universal: semua kelas sosial, termasuk kelas pekerja, tampaknya menjadi pendukung sistem kapitalis dan mendapat manfaat dari sistem itu. Selain itu, bekas Uni Soviet yang bersistem sosialis, ternyata sama opresifnya dengan sistem kapitalis. Karena dua masyarakat itu memiliki perekonomian yang berbeda, para pemikir kritis mencari sumber penindasan itu di tempat lain. Mereka mula-mula melihat pada kultur.
Untuk aspek perhatian aliran Frankfurt yang telah didiskusikan di atas rasionalitas, industri kultur, dan industri pengetahuan dapat ditambahkan sekumpulan perhatian lain, dan yang paling menonjol adalah perhatian pada ideologi. Ideologi menurut teori kritik adalah sistem ide, yang sering kali palsu dan mengaburkan, yang diciptakan oleh elite sosial. Semua aspek spesifik dari superstruktur dan orientasi aliran kritis terhadapnya dapat dimasukkan dalam tajuk “kritik terhadap dominasi” (Agger, 1978; Schroyer, 1973). Minat pada dominasi ini pertama kali dipicu oleh fasisme pada 1930-an dan 1940-an, tetapi kemudian bergeser pada dominasi masyarakat kapitalis. Dunia modern telah
mencapai tahap dominasi atas individu. Bahkan kontrol itu sangat lengkap sehinggaa tak diperlukan lagi tindakan yang penuh pertimbangan di pihak pemimpin. Kontrol tersebut meliputi semua aspek dunia kultural dan yang lebih penting diinternalisasikan dalam aktor. Akibatnya, para aktor mendominasi diri sendiri atas nama struktur sosial yang lebih besar. Dominasi mencapai yang lengkap sehingga tak lagi tampak sebagai dominasi. Karena dominasi tak lagi dianggap mengalienasikan dan membahayakan secara personal, ia sering dianggap dunia sebagaimana adanya. Tak lagi jelas bagi aktor seperti apakah itu “seharusnya”. Jadi, pesimisme pemikir kritis ada dasarnya, karena tak lagi melihat bagaimana analisis rasional dapat membantu mengubah situasi ini.
Salah satu perhatian aliran kritik pada tingkat kultural adalah apa yang disebut Habermas (1975) sebagai legitimasi. Ini dapat didefinisikan sebagai sistem ide yang dihasilkan oleh sistem politik, dan secara teoritis, oleh sistem lainnya, mendukung eksistensi sistem. Mereka didesain untuk “memistifikasi” politik, mengaburkan apa yang sesungguhnya terjadi.
Selain minat kultural itu, aliran kritis juga membahas aktor dan kesadaran mereka dan apa yang terjadi pada mereka di dunia modern. Kesadaran massa menjadi dikontrol oleh kekuatan eksternal (seperti industri kultur). Akibatnya, massa gagal mengembangkan kesadaran revolusioner. Sayangnya, teoritisi kritis, seperti kebanyakan Marxis dan sosiolog lainnya, sering kali gagal untuk membedakan dengan jelas antara kesadaran individu dan kultur, dan mereka tak menspesifikasikan kaitannya. Dalam kebanyakan karyanya, mereka bergerak secarabebas di antara kesadaran dan kultur dengan sedikit pemahaman bahwa keduanya adalah level yang terus berubah.
Yang sangat penting di sini adalah usaha oleh teoritisi kritis, terutama Marcuse (1969), untuk mengintegrasikan pandangan Freud pada tingkat kesadaran (dan ketidaksadaran) dengan interpretasi teori kritis terhadap kebudayaan. Friedman (1981) mengatakan bahwa teoritisi kritis mengambil tiga hal dari karya Freud: (1) struktur psikologis untuk dipakai mengembangkan teori mereka; (2) pemahaman psikopatologi yang membuat mereka bisa memahami dampak negatif masyarakat modern dan kegagalannya untuk mengembangkan kesadaran revolusioner; (3) kemungkinan liberasi fisik (Friedman, 1981). Salah satu manfaat dari minat terhadap kesadaran individu adalah ia memberikan koreksi yang berguna untuk pesimisme dari aliran dan fokusnya pada batasan kultural. Meski orang-orang dikontrol, dicekoki dengan kebutuhan palsu, dalam term Freudian mereka juga diberi libido (secara dianggap sebagai energi seksual), yang memberi sumber dasar energi tindakan kreatif yang diarahkan untuk menghancurkan bentuk dominasi utama.

Dialektika
Fokus positif utama kedua dari teori kritis adalah minat pada dialektika (ide ini dikritik dari sudut pandang Marxisme analitik yang akar. dibahas secara umum, dan variasi dari manifestasi spesifiknya. Pada tingkat yang paling umum, pendekatan dialektika berarti fokus pada “totalitas” sosial. Paul Connerton memberikan pengertian yang baik tentang pendekatan kritis terhadap totalitas sosial: “tak ada aspek parsial dari kehidupan sosial dan tak ada fenomena yang terisolasi yang dapat dipahami kecuali ia dikaitkan dengan sejarah secara keseluruhan, kepada struktur sosial yang dibayangkan sebagai entitas global” (1976:12). Pendekatan ini melibatkan penolakan terhadap fokus pada setiap aspek “spesifik” dari kehidupan sosial, khususnya sistem ekonomi di luar konteksnya yang lebih luas. Pendekatan ini juga berarti berkaitan dengan interrelasi berbagai level realitas sosial yang terpenting adalah kesadaran individu, superstruktur kultural, dan struktur ekonomi. Dialektika juga memuat rumusan metodologis: satu komponen kehidupan sosial tidak dapat dikaji tanpa menyertakan komponen selebihnya.
Ide ini mengandung komponen diakronik dan sinkronik. Pandangan sinkronik membawa kita pada hubungan antarkomponen masyarakat di dalam totalitas kontemporer. Pandangan diakronik memuat perhatian pada akar sejarah dari masyarakat dewasa ini dan kemungkinan masa depannya (Bauman, 1976) Dominasi atas orang oleh struktur kultural dan sosial atau menurut istilah Marcuse, masyarakat “satu dimensi” adalah akibat dari perkembangan sejarah spesifik dan bukan merupakan karakteristik universal manusia. Perspektif historis ini mengimbangi pandangan umum yang muncul dalam kapitalisme bahwa sistem adalah fenomena alami dan tak terelakkan. Menurut pandangan teori kritis (dan Marxis lainnya), orang mulai melihat masyarakat sebagai “sifat kedua”; ia “dibayangkan oleh akal sehat sebagai kekuatan yang asing, tak kenal kompromi, menuntut, angkuh tak seperti sifat manusia. Agar terikat oleh aturan nalar, agar berperilaku rasional, meraih kesuksesan, agar bebas, manusia sekarang harus mengakomodasi dirinya pada ‘sifat kedua’ ini” (Bauman, 1976:6).
Teoritisi kritis juga memikirkan tentang masa depan, tetapi dengan mengikuti pemikiran orisinil Marx, mereka menolak menjadi utopian; mereka menitikberatkan pada kritik dan mengubah masyarakat kontemporer (Alway, 1995). Akan tetapi, ketimbang mengarahkan perhatian mereka pada struktur
ekonomi masyarakat seperti dilakukan Marx, mereka berkonsentrasi pada acperstruktur kulturalnya. Pendekatan dialektika mereka membuat mereka bekerja di dunia nyata. Pada satu level, ini berarti bahwa mereka tidak puas hanya dengan mencari kebenaran dalam laboratorium sains. Ujian terakhir dari ide-ide mereka adalah seberapa jauh ide-ide diterima dan dipakai dalam praktik. Proses ini mereka sebut autentikasi (authentication), yang terjadi ketika orang yang menjadi korban komunikasi yang disimpangkan mulai mengambil teori dan menggunakannya untuk membebaskan diri dari sistem tersebut (Bauman, 1976:104). Jadi kita sampai pada aspek lain dari perhatian pemikir pembebasan (liberation) manusia (Marcuse, 1964:222).
Dalam term yang lebih abstrak, pemikir kritis dapat dikatakan sibuk dengan gan yang saling memengaruhi antara teori dan praktik. Pandangan aliran Frankfurt ini adalah bahwa dua hal itu dipisahkan dalam masyarakat kapitalis (Schroyer, 1973:28). Yakni, teoritisasi dilakukan oleh satu kelompok, yang didelegasikan, atau diambil, oleh kelompok itu, sedangkan praktik direlegasikan kelompok lain yang lebih lemah. Dalam banyak kasus, karya teoritisi diseragamkan. oleh apa-apa yang berlangsung di dunia nyata, dan menyebabkan sebagian besar teori sosiologi dan Marxian menjadi miskin dan tak relevan. Poinnya adalah untuk menyatukan teori dan praktik untuk memulihkan hubungan antara keduanya. Karena itu teori akan diberi informasi oleh praktik, sedangkan praktik akan dibentuk oleh teori. Dalam proses itu, baik teori maupun praktik akan diperkaya.
Meski ada tujuan ini, sebagian besar teori kritik gagal untuk mengintegrasikan teori dan praktik. Sesungguhnya, salah satu kritik paling keras terhadap teori kritis adalah bahwa teori itu biasanya ditulis sedemikian rupa sehingga hampir tak bisa dipahami oleh kebanyakan masyarakat. Lebih jauh, dalam komitmennya untuk mempelajari kultur dan superstruktur, teori kritis membahas sejumlah topik yang sangat esoteris dan tak banyak bicara tentang perhatian pragmatis sehari-hari.
Pengetahuan dan Kepentingan Manusia. Salah satu perhatian dialektika paling terkenal dari teori kritik adalah minat Jurgen Habermas (1970, 1971) terhadap hubungan antara pengetahuan dan kepentingan manusia sebuah contoh dari perhatian dialektika yang lebih luas terhadap hubungan antara faktor subjektif dan objektif. Tetapi, Habermas berhati-hati untuk menunjukkan bahwa faktor subjektif dan objektif tidak dapat ditangani secara terpisah. Menurutnya, sistem pengetahuan ada pada level objektif, sedangkan kepentingan atau minat manusia adalah fenomena subjektif. Habermas membedakan tiga sistem pengetahuan dan kepentingannya yang saling berhubungan. Kepentingan yang berada di balik dan memandu setiap sistem pengetahuan pada umumnya tak dikenal oleh masyarakat awam, dan inilah tugas teori kritik untuk mengungkapkannya. Tipe pertama dari pengetahuan itu adalah ilmu analitik, atau sistem saintifik positivik klasik. Menurut Habermas, kepentingan dasar dari sistem pengetahuan semacam itu adalah kontrol teknis, yang dapat diaplikasikan untuk lingkungan, masyarakat, atau orang di dalam masyarakat. Menurut Habermas, ilmu analitik cenderung memperkuat kontrol opresif. Tipe sistem pengetahuan yang kedua adalah pengetahuan humanistik, dan kepentingannya adalah untuk memahami dunia. Ia beroperasi dari pandangan umum bahwa masa lalu kita pada umumnya membantu kita untuk memahami apa-apa yang terjadi pada masa sekarang. Ia mengandung kepentingan praktis untuk memahami diri dan orang lain. Pengetahuan ini tak bersifat opresif ataupun membebaskan. Tipe ketiga adalah; pengetahuan kritis, yang didukung oleh Habermas dan aliran Frankfurt pada umumnya. Kepentingan yang melekat pada pengetahuan jenis ini adalah emansipasi manusia. Diharapkan bahwa pengetahuan kritis yang dikemukakan oleh Habermas dan yang lainnya akan membangkitkan kesadaran diri dari massa (melalui mekanisme yang diartikulasikan oleh Freudian), dan menimbulkan gerakan sosial yang akan menghasilkan harapan emansipasi.

Kritik terhadap Teori Kritis
Sejumlah kritik telah diajukan kepada teori kritik (Bottomore, 1984). Pertanma. teori kritis dituduh bersifat ahistoris, meneliti berbagai peristiwa tanpa banyak memperhatikan pada konteks sejarah dan komparatifnya (misalnya, Nazisme pada 1930-an dan antisemitisme pada 1940-an, pemberontakan mahasiswa pada 1960-an). Ini adalah kritik terhadap setiap teori Marxian, yang semestinya historis dan komparatif. Kedua, aliran kritis, seperti telah kita lihat, umumnya mengabaikan ekonomi. Ketiga, teoritisi kritik cenderung berargumen bahwa kelas pekerja telah hilang sebagaimana halnya kekuatan revolusioner, pandangan yang bertentangan dengan analisis Marxian tradisional.
Kritik-kritik tersebut membuat tokoh Marxis tradisional terkemuka seperti Bottomore berkesimpulan: “Aliran Frankfurt, dalam bentuk orisinilnya, dan aliran Marxisme atau sosiologi, telah mati” (1984:76). Sentimen yang sama diekspresikan oleh Greisman, yang menyebut teori kritik sebagai “paradigma yang gagal (1986:273). Jika ia menjadi aliran yang berbeda, itu disebabkan banyak dari ide-ide dasarnya sampai pada Marxisme, sosiologi neo Marxian, dan bahkan sosiologi arus utama. Jadi, seperti dikatakan Bottomore dalam kasus Habermas, aliran kritis telah mengalami penyesuaian dengan Marxisme dan sosiologi, dan “pada saat yang sama beberapa ide penting aliran Frankfurt dipelihara dan gkan” (1984:76).

Ide-ide Jurgen Habermas
Meski teori kritik mungkin sedang menurun, Jurgen Habermas {Habermas pada awalnya adalah asisten riset Adorno pada 1955 (Wiggershaus, 1994:537)} dan teori-teorinya masih hidup (Bernstein, 1995; Brown dan Goodman, 2001; Outhwaite, 1994). Kita menyinggung beberapa pemikirannya dalam hal ini, tetapi kita menutup bagian teori kritik ini dengan tinjauan yang lebih detail pada ide-idenya dari aspek-aspek pemikirannya akan dibahas.

Perbedaannya dengan Marx
Seperti dijelaskan Habermas, tujuannya selamaa bertahun-tahun adalah “mengembangkan program teori yang saya pahami sebagai rekonstruksi materialisme historis” (1979:95). Habermas mengambil titik tolak Marx (potensi manusia, spesies makhluk, “aktivitas manusia vang berperasaan”) sebagai titik awalnya sendiri. Akan tetapi, Habermas (1971) mengatakan bahwa Marx telah gagal untuk membedakan antara dua kompenen analitik yang berbeda—kerja (atau tenaga kerja, tindakan rasional- if) dan interaksi (atau aksi komunikatif) sosial (atau simbolik). Menurut pandangan Habermas, Marx cenderung mengabaikan yang disebut belakangan dan hanya membahas pada kerja. Seperti dikatakan Habermas, problem dalam karya Marx adalah “reduksi tindakan spesies manusia yang dimunculkannya sendiri (self-generated) menjadi sekadar usaha (labor)” (1971:42). Jadi, Habermas mengatakan, “Saya mengambil perbedaan antara kerja dan interaksi sebagai titik awal saya.” (1970:91). Di sepanjang tulisannya, karya Habermas memuat perbedaan meski dia cenderung menggunakan istilah tindakan (kerja) rasional purposif dan tindakan komunikatif (interaksi).
Di bawah nama “tindakan rasional-purposif” Habermas membedakan antara tindakan instrumental dengan tindakan strategis. Keduanya melibatkan pencarian kepentingan diri yang diperhitungkan. Tindakan instrumental melibatkan satu aktor tunggal yang secara rasional memperhitungkan cara terbaik untuk mencapai tujuan. Tindakan strategis melibatkan dua atau lebih individu yang mengoordinasikan tindakan rasional-purposif dalam mencapai tujuan. Tujuan dari kedua tindakan itu adalah penguasaan instrumental.
Habermas paling tertarik pada tindakan komunikatif, di mana : tindakan agen-agen yang terlibat dikoordinasikan bukan melalui perhitungan egosentris untuk mencapai keberhasilan, tetapi melalui tindakan untuk mencapai pemahaman. Dalam tindakan komunikatif, partisipan terutama tidak berorientasi pada keberhasilan mereka sendiri; mereka mengejar tujuan individual mereka di bawah kondisi di mana mereka bisa mengharmoniskan rencana tindakan mereka berdasarkan definisi situasi bersama (Habermas, 1984:286; huruf miring ditambahkan).
Tujuan tindakan rasional purposif adalah untuk mencapai tujuan sedangkan tujuan dari tindakan komunikatif adalah mencapai pemahaman komunikatif (Stryker, 1998).
Jelas ada komponen pembicaraan (speech) yang penting dalam tindakan komunikatif. Akan tetapi, tindakan itu lebih luas ketimbang “tindakan berbicara atau ekspresi nonverbal yang ekuivalen” (Habermas, 1984:278).
Titik kunci perpisahan Habermas dari Marx adalah penegasan bahwa tindakan komunikatiflah, bukan tindakan rasional purposif (bekerja), yang merupakan fenomena kemanusiaan paling khusus dan paling pervasif. Tindakan komunikatif (bukan kerja) adalah landasan segala kehidupan sosiokultural dan landasan seluruh ilmu pengetahuan manusia. Sementara Marx memusatkan perhatian pada bekerja (tindakan rasional-purposif), Habermas memusatkan perhatian pada komunikasi.
Marx tak hanya sekadar memusatkan perhatian pada kerja, tetapi menempatkan kerja yang merdeka dan kreatif sebagai basis analisis kritis kerja itu dalam berbagai epos sejarah, terutama dalam masa kapitalisme. Habermas juga mengadopsi sebuah basis, tetapi lebih di bidang tindakan komunikatif ketimbang tindakan rasional purposif. Basis Habermas adalah komunikasi yang tidak menyimpang, komunikasi tanpa paksaan. Dengan basis ini Habermas mampu menganalisis komunikasi yang mengalami distorsi. Habermas juga memperhatikan struktur sosial yang mengalami distorsi komunikasi sebagaimana Marx menganalisis sumber struktural distorsi kerja. Meski basis analisis mereka berbeda, baik Habermas maupun Marx mempunyai basis dan basis ini memungkinkan mereka menghindarkan diri dari relativisme dan menyumbangkan pendapat mengenai berbagai fenomena historis. Habermas mengkritik teoritisi terutama Weber dan teoritisi kritis terdahuhi karena keterbatasan basis analisis mereka dan keterjerumusan mereka ke dalam relativisme.
Masih ada kesejajaran antara Marx dan Habermas dan basis analisis mereka. Menurut keduanya, basis-basis itu tak hanya mencerminkan titik tolak analisis, tetapi juga mencerminkan tujuan politik mereka. Artinya, sementara bagi Marx yang menjadi tujuan adalah masyarakat komunis di mana kerja (umat manusia) yang tidak mengalami distorsi akan muncul untuk pertama kali, tujuan politik Habermas adalah sebuah masyarakat yang komunikasinya (tindakan komunikatif) tidak terganggu. Dilihat dari tujuan jangka pendek Marx mencoba melenyapkan perintang (kapitalis) atas kerja yang tak terdistorsi, sedangkan dan Habermas tertuju untuk melenyapkan perintang komunikasi bebas.
Di sini Habermas (1973; lihat juga Habermas, 1994:101), seperti teoritisi kritis lain mengambil dari Freud dan melihat banyak persamaan antara apa yang dianalisis pakar psikoanalisis di tingkat individual dan apa yang dia pikir perlu dilakukan di tingkat kemasyarakatan. Habermas memandang psikoanalisis sebagai teori tentang komunikasi yang terdistorsi dan yang memusatkan perhatian pada upaya yang memungkinkan individu berkomunikasi menurut yang tak terdistorsi. Pakar psikoanalisis mencoba menemukan sumber dalam komunikasi individual dalam arti untuk menyingkirkan perintang komunikasi. Melalui refleksi, pakar psikoanalisis mencoba membantu individu mengatasai rintangan itu. Begitu pula, melalui kritik terapeutik, “argumentasi yang membantu secara sistematis menjernihkan penipuan diri sendiri” (Habermas, 1984:21) teoritisi kritis mencoba membantu rakyat pada umumnya mengatasi rintangan sosial untuk mencapai komunikasi yang tak terdistorsi. Maka terdapat d antara psikoanalisis dan teori kritis. Psikoanalis membantu pasien dengan cara seperti teori kritik sosial membantu mereka yang tak mampu berkomunikasi memadai untuk menjadi “tak cacat” (Habermas, 1994:112).
Sedang menurut Marx, basis masa depan masyarakat Habermas eksis di dunia kontemporer. Yaitu, menurut Marx, elemen dari spesies manusia ditemukan dalam kerja di dalam masyarakat kapitalis. Menurut Habermas, komunikasi yang tak terdistorsi ditemukan di dalam setiap komunikasi kontemporer.

Rasionalisasi
Ini membawa kita ke masalah sentral tentang rasionalisasi pemikiran Habermas. Dalam hal ini Habermas selain dipengaruhi pemikiran Marx, juga dipengaruhi oleh Weber. Dalam karyanya tentang rasionalisasi, Habermas membedakan antara rasional purposif dan tindakan komunikatif. Menurut Habermas tindakan rasional purposif menumbuhkan kekuatanan produksi dan meningkatkan kontrol teknologi atas kehidupan mas, 1970). Bentuk rasionalisasi ini seperti menurut Weber dan Marx masalah besar dalam kehidupan modern. Namun persoalannya adalah rasionalisasi tindakan rasional purposif, bukan rasionalisasi pada umunya. Sebenarnya, menurut Habermas, penangkal masalah rasionalisasi dan rasional purposif terletak pada rasionalisasi tindakan komunikatif. Rasionalisasi tindakan komunikatif berperan penting membebaskan komunikasi dari dominasi, memerdekakan dan membuka komunikasi. Rasionalisasi di sini meliputi emansipasi, menyingkirkan penghalang komunikasi (Habermas, 1970:118 lihat juga Habermas, 1979). Ada dua penyebab utama distorsi komunikasi yang harus disingkirkan jika kita menghendaki komunikasi yang bebas dan terbuka.
Di tingkat norma sosial, rasionalisasi mencakup pengurangan penindasan normatif dan kekakuan serta meningkatkan fleksibilitas dan refleksivi individual. Pengembangan sistem normatif yang baru dan tak terlalu restriktif atau nonrestriktif ini terletak di jantung teori evolusi sosial Habermas. Menu Habermas (1979) rasionalisasi menghasilkan sistem produksi baru yang tak terlalu mendistorsi. Meski ia menganggap ada kesalahpahaman tentang pendapat ini, namun banyak orang yang menuduh Habermas memutus akar Marxian ketika menggeser analisisnya dari tingkat material ke tingkat normatif ini.
Menurut Habermas tujuan terakhir evolusi sosial adalah masyarakat rasional (Delanty, 1997). Rasionalitas di sini berarti menyingkirkan perintang yang menyebabkan distorsi komunikasi; tetapi, lebih umum lagi, berarti sistem komunikasi yang menyajikan gagasan secara terbuka dan terbuka pula terhadap kritik. Ketika terjadi perbedaan pendapat, peluang persesuaian tak terhambat perkembangannya. Untuk memahami hal ini secara lebih baik, kita pe membahas teori komunikasi Habermas secara lebih rinci.

Komunikasi
Habermas membedakan antara tindakan komunikatif yang telah dibahas di atas dan diskursus (discourse). Sementara tindakan komunikatif terjadi dalam kehidupan sehari-hari, diskursus adalah:
bentuk komunikasi yang dipisahkan dari konteks pengalaman dan tindakan, dan mempunyai struktur yang meyakinkan kita: bahwa kumpulan validitas klaim asersi, rekomendasi, atau peringatan adalah objek eksklusif dari diskusi; bahwa partisipan, tema, dan kontribusi tidak dibatasi kecuali yang bertujuan menguji validitas klaim yang dibahas; bahwa tak ada kekuatan kecuali argumen yang dihasilkan dengan lebih baik; dan bahwa semua motif dikesampingkan kecuali motif pencarian kebenaran kooperatif (Habermas, 1975:107-108).
Landasan dalam dunia diskursus, dan yang juga tersembunyi dan mendasari dunia tindakan komunikatif, adalah “situasi percakapan ideal” di mana kekuaatan atau kekuasaan tidak menentukan argumen mana yang menang; sebalikny argumen yang lebih baik akan muncul sebagai pemenang. Bobot bukti dan argumentasi menentukan apa yang dianggap sahih dan benar. Argumen yang muncul dari diskursus seperti itu (dan yang disepakati oleh peserta) adalah benar (Hesse, 1995). Jadi, Habermas menerima teori konsensus tentang kebenaran (bukan salinan [atau "realitas"] teori kebenaran [Outhwaite, 1994:41]). Kebenaran ini adalah bagian dari seluruh komunikasi, dan pengungkapan penuhnya adalah tujuan dari evolusi Habermas. Seperti dikatakan McCarthy, “gagasan tentang kebenaran pada hakikatnya menuju pada bentuk interaksi yang bebas dari semua yang mendistorsi. Kehidupan yang baik dan benar yang menjadi tujuan adalah kehidupan yang melekat di dalam gagasan kebenaran; ia diantisipasi dalam setiap tindakan percakapan” (1982:308).
Secara teoritis konsensus muncul dalam diskursus (dan tindakan komunikatif) ketika empat tipe pernyataan kebenaran dikemukakan dan diakui oleh peserta interaksi. PERTAMA, ucapan pembicara dapat dimengerti dan dipahami. KEDUA, pernyataan yang dikemukakan oleh pembicara adalah benar; artinya pembicara mengemukakan pengetahuan yang dapat dipercaya. KETIGA, pembicara diyakini benar dalam mengemukakan pernyataan; pembicara dapat dipercayai. KEEMPAT, adalah benar dan tepat bagi pembicara mengucapkan pernyataan itu; pembicara benar mengucapkan demikian. Konsensus muncul bila semua kebenaran yang dinyatakan ini diungkapkan dan diterima; kebenaran hancur bila satu orang atau lebih mempertanyakannya. Kembali ke poin terdahulu, ada kekuatan di dunia modern yang memutarbalikkan proses ini, yang mencegah munculnya konsensus dan yang harus ditanggulangi agar masyarakat ideal Habermas terwujud (Morris, 2001).

Teori Kritik Dewasa Ini
Meski Habermas adalah pemikir sosial paling terkenal dewasa ini, namun sendirian berjuang mengembangkan teori kritis yang lebih sesuai dengan realitas masa kini (lihat, misalnya, berbagai esai dalam Wexler, 1991; Antonio Kellner, 1994). Untuk melukiskan kelanjutan upaya ini akan dibahas upaya Kellner (1989c) dalam mengembangkan teori kritis mengenai “tekno kapitalisme”.

Tekno Kapitalisme
Teori Kellner didasarkan atas premis bahwa kita belum bergerak ke abad post modern atau post industri, tetapi masih berada di kapitalisme yang terus merajarela seperti di masa jayanya teori kritis. Karena itu ia merasa konsep dasar yang dikembangkan untuk menganalisis kapitalisme (contoh reifikasi, pengasingan) masih relevan untuk menganalisis Kapitalisme. Kellner mendefinisikan tekno kapitalisme sebagai : Konfigurasi masyarakat kapitalis di mana teknik, ilmu pengetahuan ilmiah, otomatisasi, komputer, dan teknologi tinggi, berperan penting dalam proses produksi dan sejajar dengan peran tenaga manusia, mekanisasi, dan mesin-mesin di era sebelum kapitalisme, dan juga menghasilkan cara-cara mengorganisir masyarakat dan bentuk kultur serta kehidupan sehari-hari yang baru (Kellner, 1989c:178).
Menurut istilah teknis Marxian, dalam masyarakat tekno-kapitalisme, “modal konstan berangsur-angsur menggantikan modal variabel seperti tercermin dari rasio antara teknologi dan tenaga kerja yang makin meningkat dengan mengorbankan input tenaga kerja manusia” (Kellner, 1989c:179). Namun. kita tak boleh lupa bahwa tekno kapitalisme masih merupakan kapitalisme sekalipun teknologi jauh lebih besar perannya ketimbang di masa sebelumnya.
Kellner telah belajar dari kegagalan analisis Marxis lain. Karena itulah ia, misalnya, menentang pemikiran yang menyatakan bahwa teknologi menentukan superstruktur masyarakat. Dalam masyarakat tekno kapitalisme, posisi negara dan kultur dipandang otonom, setidaknya sebagian. Ia pun menolak pandangan yang menyatakan tekno-kapitalisme sebagai tahap baru dalam sejarah; sebaliknva ia melihat sebagai konfigurasi atau konstelasi baru di dalam kapitalisme. Kellner tak semata memusatkan perhatian pada masalah yang dapat ditimbulkan oleh tekno kapitalisme, tetapi juga pada peluang kemajuan sosial emansipasi masyarakat. Menurut Kellner peran kunci teori kritis tak hanya sekadar melancarkan kritik, tetapi berupaya menganalisis peluang kebebasan yang ditawarkan oleh tekno-kapitalisme (1989c:215). Kellner pun menolak kembali ke konsep kelas politik lama; sebaliknya ia melihat besarnya potensi dalam berbagai gerakan sosial (wanita, lingkungan) yang telah muncul dalam dekade terakhir abad 20.
Kellner tak bermaksud membangun sebuah teori berskala lengkap mengenai tekno kapitalisme. Inti tesisnya adalah bahwa meski telah berubah secara dramatis, namun kapitalisme masih akan tetap berkuasa dalam dunia masa kini dengan demikian peralatan analisis yang disediakan oleh aliran kritis dan oleh teori Marxian pada umumnya masih tetap relevan untuk menganalisis kehidupan masa kini. Seksi ini akan ditutup dengan deskripsi Kellner tentang tekno kultur karena perhatian terhadap kultur menjadi sasaran perhatian utama teori kritis.
Tekno kultur mencerminkan konfigurasi kultur massa dan masyarakat konsumen di mana barang konsumsi, film, televisi, citra massa, dan informasi yang dikomputerisasikan menjadi bentuk kultur dominan di seluruh dunia maju dan makin menjalar ke masyarakat sedang berkembang. Dalam tekno kultur ini, citra dan tontonan dan komoditi estetika menjadi bentuk kultur baru yang menjajah kehidupan sehari-hari dan mengubah hubungan politik ekonomi dan sosial. Dalam semua bidang kehidupan ini teknologi makin fundamental dan makin besar perannya (Kellner, 1989c:181).
Banyak masalah yang bisa dieksplorasi oleh teoritisi kritis di masa depan di antaranya adalah mengenai watak tekno kultur itu sendiri, komodifikasinva kolonisasinya atas kehidupan dunia dan dampak dialektikanya terhadar kehidupan ekonomi dan terhadap sektor masyarakat lainnya. Banyak hal baru yang dikemukakan, tetapi juga banyak yang berdasarkan gagasan fundamental teori kritis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar