Minggu, 14 April 2013

Teori Sosiologi Amerika Awal


Sulit menentukan tahun yang pasti berdirinya kajian sosiologi di Amerika. Awal 1858 ada mata kuliah mengenai masalah sosial yang diajarkan di Oberlin. Istilah sosiologi Comte digunakan George Fitzhugh tahun 1854 dan William Graham Sumner mengajarkan ilmu sosial di Yale pada awal 1873. Sepanjang dekade 1880-an kuliah yang secara khusus bertajuk sosiologi mulai muncul. Jurusan Sosiologi yang pertama didirikan di Universitas Kansas tahun 1889. Tahun 1892 Albion Small pindah ke Universitas Chicago dan mendirikan jurusan sosiologi baru. Jurusan Sosiologi Universitas Chicago menjadi pusat kajian sosiologi Amerika pertama yang penting perannya dalam kajian sosiologi pada umumnya dan teori sosiologi pada khususnya (F. Matthews, 1977).

Politik
Schwendinger dan Schwendinger (1974) menyatakan bahwa para sosiolog Amerika awal paling tepat dilukiskan sebagai beraliran politik liberal dan tidak konservatif seperti kebanyakan teoritisi Eropa awal. Ciri liberalisme sosiologi Amerika awal pada dasarnya mempunyai dua unsur. Pertama, ia bertolak dari keyakinan tentang kebebasan dan kesejahteraan individu. Dalam keyakinan ini ada lebih banyak pengaruh orientasi Spencer ketimbang Comte, yang lebih berorientasi kolektif. Kedua, kebanyakan sosiolog yang berorientasi Spencer ini menerima pandangan evolusioner tentang kemajuan sosial (Fine, 1979). Tetapi, mereka berbeda pendapat mengenai cara terbaik untuk menghasilkan kemajuan itu. Sebagian menyatakan pemerintah harus mengambil langkah untuk membantu reformasi sosial, sedangkan yang lain menekankan doktrin persaingan bebas (laissez-faire) dan menegaskan bahwa berbagai komponen masyarakat harus diberikan kebebasan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Bertolak dari makna ekstremnya, liberalisme menjadi sangat dekat dengan konservatisme. Keyakinan akan kemajuan sosial (doktrin reformasi atau persaingan bebas) dan keyakinan atas pentingnya peran individu, keduanya mengarah kepada posisi mendukung sistem sebagai satu kesatuan. Keyakinan yang dominan adalah bahwa sistem sosial berfungsi atau dapat direformasi cara berfungsinya. Sedikit sekali pandangan kritis tentang sistem sebagai satu kesatuan; untuk kasus Amerika khususnya, ini berarti bahwa sedikit yang dipertanyakan mengenai kapitalisme. Sosiolog awal ini melihat masa depan akan ditandai oleh keharmonisan dan kerja sama kelas ketimbang perjuangan kelas. Pada akhirnva, hal ini berarti bahwa teori sosiologi Amerika awal membantu merasionalkan eksploitasi, imperialisme domestik dan internasional, dan ketimpangan sosial (Schwendinger dan Schwendinger, 1974). Pada akhirnya, liberalisme politik sosiolog awal ini mengandung implikasi konservatif yang sangat besar.

Perubahan Sosial dan Arus Intelektual
Dalam analisis tentang pertumbuhan teori sosiologi Amerika, Roescoe Hinkle (1980) dan E. Fuhrman (1980) melukiskan beberapa konteks dasar yang munculnya bangunan teori itu. Terpenting adalah perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Amerika setelah Perang Sipil (Bramson, 1961). Sederetan faktor yang berperan dalam perkembangan teori sosiologi Eropa; beberapa faktor tersebut (seperti industrialisasi dan urbanisasi) juga berperan penting dalam perkembangan teori Amerika. Menurut Fuhrman, kendati para sosiolog Amerika awal melihat peluang positif dari indistrialisasi dan tertarik terhadap gagasan yang diajukan oleh gerakan buruh dan kelompok sosialis tentang cara menanggulangi industrialisasi, mereka tak setuju dengan upaya perbaikan masyarakat secara radikal.
Arthur Vidich dan Stanford Lyman (1985) menunjukkan besarnya pengaruh Kristen, terutama ajaran Protestan, terhadap kemunculan sosiologi Amerika. Menurut mereka, sosiolog Amerika mempertahankan kepentingan Protestan dalam menyelamatkan dunia dan semata-mata mengganti satu bahasa (ilmu) dengan bahasa lain (agama). Mereka menyatakan bahwa dari tahun 1854, ketika karya sosiologi pertama muncul di Amerika hingga pecahnya Perang Dunia I, sosiologi merupakan “respon moral dan intelektual terhadap masalah kehidupan dan terhadap pemikiran lembaga dan keyakinan orang Amerika” (Vidich dan Lyman 1985:1). Para sosiolog berupaya mendefinisikan, mempelajari, dan membantu menyelesaikan berbagai masalah. Sementara pendeta bekerja dengan agama untuk membantu memperbaiki nasib umatnya, sosiolog melakukan hal di dalam masyarakat. Karena dasar keagamaan mereka sama, sebagian besar sosiolog itu tidak meragukan basis legitimasi masyarakat.
Faktor utama lain yang didiskusikan oleh Hinkle dan Fuhrman adalah kemunculan secara simultan profesi akademis (termasuk sosiologi) dan sistem universitas modern di Amerika di akhir 1800-an. Sebaliknya di Eropa, sistem universitas telah berdiri mantap sebelum munculnya sosiologi. Bila di Eropa sosiologi mengalami kesulitan masuk ke sistem universitas yang sudah mapan itu, di Amerika sosiologi lebih mudah memasuki sistem universitas yang masih baru dan belum kokoh itu.
Ciri lain sosiologi Amerika awal (seperti disiplin sosial lainnya) adalah berpaling dari perspektif historis dan searah dengan orientasi positivistik atau “ilmiah”. Seperti dinyatakan Ross, “Keinginan untuk mencapai abstraksi universal dan metode kuantitatif menyebabkan ilmuwan sosial Amerika menjauhi model analisis (interpretasi) yang disediakan ilmu sejarah dan antropologi budaya dan menjauhi model interpretasi yang ditawarkan oleh Max Weber.” (1991:473). Ketimbang membuat interpretasi perubahan historis jangka panjang, sosiolog Amerika lebih cenderung mengarah pada upaya studi ilmiah terhadap proses-proses sosial jangka pendek.
Faktor lainnya lagi adalah dampak teori sosiologi Eropa yang sudah mapan terhadap teori sosiologi Amerika. Kebanyakan teoritisi Eropa menciptakan teori sosiologi, sedangkan teoritisi Amerika memanfaatkan landasan teoritis yang sudah disediakan itu. Teoritisi Eropa yang paling besar pengaruhnya terhadap teoritisi Amerika awal adalah Spencer dan Comte. Simmel agak besar pengaruhnya di tahun-tahun awal, tetapi Durkheim, Weber, dan Marx tak begitu besar pengaruhnya selama beberapa tahun di awal pertumbuhan sosiologi Amerika. Sejarah ide-ide Spencer adalah menarik dan informatif dalam melukiskan dampak teori sosiologi Eropa awal terhadap sosiologi Amerika.
Pengaruh Spencer Terhadap Sosiologi. Mengapa gagasan Spencer jauh lebih berpengaruh terhadap sosiologi Amerika awal ketimbang gagasan Comte, Durkheim, Marx, dan Weber? Hofstadter (1959) mengemukakan beberapa penjelasan. Alasan termudah adalah bahwa Spencer menulis dalam bahasa Inggris, sedangkan teoritisi lain tidak. Spencer menulis dalam pengertian nonteknis, yang menyebabkan karyanya mudah diterima oleh kalangan yang lebih luas. Memang ada yang menyatakan keterbatasan kemampuan teknis inilah yang menyebabkan Spencer dianggap sebagai sarjana yang sangat tidak canggih. Tetapi, menurut yang lain ketidakcanggihan itulah yang menjadi alasan lebih penting yang membuat gagasan Spencer diterima oleh kalangan lebih luas. Ia mengemukakan orientasi ilmiah yang menarik khalayak yang saat itu sedang sangat menyukai ilmu dan produk teknologinya. Ia mengemukakan teori yang komprehensif yang seakan mampu menerangkan seluruh sejarah manusia. Keluasan gagasannya serta banyaknya karya yang ia hasilkan memungkinkan teorinya itu menjelaskan berbagai masalah yang berbeda-beda dan diterima oleh berbagai kalangan yang berbeda pula. Alasan terakhir, dan mungkin terpenting, teorinya bersifat menerangkan bagi masyarakat yang tengah menjalani proses industrialisasi masyarakat yang menurut Spencer terus bergerak menuju kemajuan yang cepat dan besar.
Murid Spencer paling terkenal di Amerika adalah William Graham Sumner, yang menerima dan memperluas berbagai gagasan Darwinisme Sosial. Spencer juga memengaruhi sosiolog Amerika awal lainnya, antara lain Lester Ward, Charles Horton Cooley, E.A. Ross, dan Robert Park.
Tetapi sekitar 1930-an pengaruh Spencer di dunia intelektual umumnya dan dalam sosiologi pada khususnya mulai merosot. Gagasan laissez-faire Darwinis Sosial Spencer tampak menggelikan dilihat dari sudut berbagai masalah sosial besar seperti perang dunia dan depresi ekonomi besar tahun 1930-an. Pada 1937 Talcott Parsons mengumumkan kematian gagasan Spencer untuk Kajian sosiologi ketika ia memekikkan kata-kata sejarawan Crane Brinton beberapa tahun sebelumnya: “Siapa yang masih membaca karya Spencer Walaupun perhatian terhadap karya Spencer kini tak lebih sekadar untuk kepentingan sejarah, namun gagasannya tetap penting dalam pembentukan teori sosiologi Amerika awal. Berikut ini akan kita simak karya dua teoritisi Amerika yang dipengaruhi oleh karya Spencer, paling tidak sebagian.
William Graham Sumner (1840-1910). Ada baiknya diskusi tentang teoritisi Amerika awal dimulai dari Sumner karena dialah yang mula-mula mengajarkan sosiologi beberapa tahun sebelum upaya serupa dilakukan di universitas lain manapun di dunia (Curtis, 1981:63). Sumner adalah eksponen utama Darwinisme Sosial di Amerika, meski ia mengubah pandangannya di penghujung hidupnya (N. Smith, 1979).
Sumner pada dasarnya menganut pemikiran survival of the fittest dalam memahami dunia sosial. Seperti Spencer, ia melihat manusia berjuang melawan lingkungannya dan yang paling kuatlah yang akan berhasil mempertahankan hidupnya. Jadi, Sumner adalah penyokong keagresifan dan kebersaingan manusia. Orang yang sukses dalam persaingan berhak hidup dan yang tak sukses tak berhak hidup. Menurut pandangan Sumner, setiap bentuk intervensi bertentangan dengan seleksi alamiah yang berlaku dalam kehidupan manusia maupun dalam kehidupan binatang yang memungkinkan yang layak (fit) bertahan hidup (survive) dan yang tak layak akan binasa. Sistem teoritis ini cocok dengan perkembangan kapitalisme karena menyediakan legitimasi teoritis bagi ketimpangan kekuasaan dan kekayaan yang ada.
Sumner tak banyak diingat sejarah karena dua alasan. pertama, orientasinya dan Darwinisme Sosial pada umumnya dianggap tak lebih dari legitimasi terhadap kapitalisme kompetitif dan status quo. kedua, Sumner gagal membangun landasan yang cukup kuat bagi sebuah aliran sosiologi bersama muridnya di Yale, tetapi beberapa tahun kemudian ia berhasil membangunnya di Universitas Chicago (Heyl dan Heyl, 1976). Meski sukses dimasa hidupnya, kini ia hanya “diingat oleh segelintir orang” (Curtis, 1981: 146).
Lester F. Ward (1841-1913). Lester Ward mempunyai karir yang tak biasa karena dia lebih banyak bekerja sebagai ahli purbakala (paleontologis) yang bekerja untuk pemerintah federal. Selama menjadi pakar purbakala itu ia membaca karya Spencer dan Comte dan mengembangkan perhatian yang besar terhadap sosiologi. Pada akhir 1800-an dan awal 1900-an ia menerbitkan sejumlah karya yang menjelaskan teori sosiologinya. Berkat ketenaran karyanya itu, pada 1906 Ward terpilih menjadi presiden pertama Masyarakat Sosiologi Amerika. Tak lama kemudian ia mendapat jabatan akademis pertama kali di Universitas Brown, jabatan yang dipegangnya hingga dia meninggal.
Seperti Sumner, Ward menerima gagasan bahwa manusia berkembang dari bentuk yang lebih rendah ke statusnya yang seperti sekarang. Ia yakin bahwa masyarakat kuno ditandai oleh kesederhanaan dan kemiskinan moral, sedangkan masyarakat modern lebih kompleks, lebih bahagia dan mendapatkan kebebasan Tugas utama sosiologi (sosiologi murni) adalah meneliti hukum-hukum dasar struktur sosial dan perubahan sosial. Tetapi, Ward tidak puas bila soiologi hanya meneliti kehidupan sosial saja. Ia yakin sosiologi tentu mempunyai sisi praktisnya, sosiologi harus pula menjadi ilmu terapan. Sosiologi meliputi kesadaran yang menggunakan pengetahuan ilmiah untuk mencapai kehidupan masyarakat yang lebih baik. Jadi, Ward bukanlah penganut Darwinisme sosial yang ekstrem; dia yakin akan pentingnya reformasi sosial.
Meski Sumner dan Ward secara historis berpengaruh untuk teori sosiologi namun pengaruhnya tak lama. Akan tetapi, kini kita beralih sebentar ke seorang teoritisi pada masa itu, Thorstein Veblen, yang berpengaruh signifikan dan lama pengaruhnya dalam sosiologi dewasa ini semakin meningkat. Kemudian kita akan menengok ke beberapa teoritisi, khususnya Mead dan aliran Chicago yang kemudian mendominasi sosiologi di Amerika. Aliran Chicago mempunyai keunikan tersendiri dalam sejarah sosiologi Amerika. Aliran ini merupakan salah satu dari sedikit kegiatan intelektual kolektif yang ada sepanjang sejarah sosiologi (Bulmer, 1984;1). Tradisi yang dimulai di Universitas Chicago ini sampai sekarang masih penting bagi sosiologi dan status teoritisnya (dan juga empirisnya).
Thorstein Veblen (1857-1929). Veblen, yang bukan seorang sosiolog, tetapi ekonom, meski dia adalah figur marjinal di bidang ekonomi, bagaimanapun juga menghasilkan teori sosial yang signifikansinya bertahan lama terhadap sejumlah disiplin, termasuk sosiologi. Problem utama bagi Veblen adalah benturan antara bisnis dan industri. Yang dimaksud bisnis oleh Veblen adalah pemilik, pemimpin, dan “kapten” industri yang memfokuskan pada laba miliknya, tetapi untuk menjaga harga dan laba yang tinggi sering upaya untuk membatasi produksi. Dalam melakukan hal itu mereka merintangi operasi sistem industrial dan secara negatif memengaruhi secara keseluruhan (melalui, misalnya, tingkat pengangguran yang tinggi), yang sesungguhnya paling baik dilayani dengan operasi industri tanpa rintangan. Jadi, pemimpin bisnis adalah sumber banyak persoalan di dalam masyarakay yang, menurut Veblen, semestinya dipimpin oleh orang (misalnya, yang memahami sistem industri dan pengoperasiannya dan tertarik dengan kesejahteraan umum.
Arti penting gagasan Veblen dapat dilacak ke bukunya yang berjudul The Leisure Class (1899/1994). Veblen kritis terhadap leisure class (yang terkait erat dengan pengusaha) karena perannya dalam mendorong konsumsi yang sia-sia. Untuk mengesankan seluruh masyarakat, kelas ini melakukan conspiciuous leisure (penggunaan waktu secara tidak produktif) dan conspicuous consumption (mengeluarkan lebih banyak uang untuk barang yang nilainya tak sepadan dengan pengeluaran tersebut). Kelas-kelas sosial lainnya dipengaruhi oleh contoh-contoh tersebut dan berusaha menyamainya, baik secara langsung maupun tak langsung. Akibatnya adalah muncul masyarakat yang dicirikan oleh pemborosan waktu dan uang. Arti terpenting karyanya itu adalah bahwa, berbeda dengan karya-karya sosiologi lainnya (dan juga karya Veblen lainnya, The Theory of the Leisure Class memfokuskan pada konsumsi, bukannya produksi. Jadi, karya ini mengantisipasi pergeseran dalam teori sosial dewasa ini yang berpindah dari fokus produksi menuju fokus konsumsi (Slater, 1997; Ritzer, 1999; Ritzer, Goodman dan Weidenhoft, 2001; juga jurnal baru Journal of Consumer Culture yang mulai terbit pada 2001).

Aliran Chicago
Jurusan Sosiologi Universitas Chicago didirikan tahun 1892 oleh Albion Small. Karya intelektual Small kurang penting dibandingkan dengan peran yang dimainkannya dalam melembagakan sosiologi di Amerika Serikat (Faris, 1970; Matthews, 1977). Ia adalah tokoh penting dalam menciptakan jurusan Sosiologi di Universitas Chicago yang menjadi pusat kajian sosiologi di AS selama beberapa tahun. Small, bekerja sama dengan rekan-rekannya, adalah orang-orang yang pertama kali menulis buku ajar sosiologi tahun 1894. Pada 1895 ia mendirikan The American Journal of Sociology, sebuah jurnal yang hingga kini merupakan kekuatan dominan dalam sosiologi. Pada 1905 Small ikut membentuk The American Sociological Society, asosiasi profesional utama sosiolog Amerika hingga sekarang (Rhoades,1981). Rasa malu yang diakibatkan oleh singkatan American Sociological Society [ASS] membuat nama itu diubah menjadi American Sociological Association [ASA] pada 1954. Sosiologi Chicago Awal. Jurusan Sosiologi Chicago mempunyai beberapa ciri istimewa. Pertama, ia berkaitan erat dengan agama. Beberapa anggotanya adalah para pendeta dan anggota lainnya adalah anak-anak pendeta. Small misalnya, yakin bahwa “tujuan terakhir sosiologi pada dasarnya bersifat Kristen” (Matthews, 1977:95). Pendapat ini mengarah kepada pandangan bahwa sosiologi harus memusatkan perhatian pada reformasi sosial dan pandangan ini digabungkan dengan keyakinan bahwa sosiologi haruslah selalu ilmiah. Seperti akan terlihat, konsepsi aliran Chicago tentang ilmu menjadi sedemikian ‘lunak’, sekurang- kurangnya dilihat dari sudut pandang aliran postivisme yang kemudian mendominasi sosiologi. Sosiologi iImiah yang bertujuan mencapai kemajuan sosial itu dipraktikkan dalam upaya mengembangkan kota Chicago yang telah dilanda dampak positif dan negatif Industrialisasi dan urbanisasi.
W.I. Thomas (1863-1947). Tahun 1895 Thomas menjadi mahasiswa di jurusan itu dan tahun 1896 ia menulis disertasi. Pengaruh abadi Thomas adalah penekanannya pada pentingnya melakukan riset ilmiah terhadap masalah soiologis (Lodge, 1986). Meski ia memperjuangkan pendiriannya ini selama bertahun-tahun, pernyataan utamanya baru muncul pada 1918 dengan diterbitkannya hasil riset ilmiahnya bersama Florian Znaniecki berjudul The Polish Peasant Europe and America. Martin Bulmer melihatnya sebagai studi “landmark” karena hasil studinya itu “memindahkan sosiologi dari teori abstrak dan riset kepustakaan ke studi dunia empiris dengan menggunakan sebuah kerangka teoritis” (1984:45). Norbert Wiley melihat karya itu sebagai karya penting untuk mendirikan sosiologi dalam arti “menjernihkan ruang intelektual yang unik sehingga disiplin dapat melihat dan mengeksplorasi” (1986:20). Buku itu adalah hasil riset selama 8 tahun di Eropa dan di Amerika Serikat dan terutama adalah hasil riset tentang disorganisasi sosial di kalangan migran Polandia. Datanya sudah tidak penting. Tetapi, metodologinya tetap penting. Metodologinya memerlukan berbagai sumber data, termasuk bahan otobiografi, tulisan-tulisan, surat keluarga, guntingan koran, dokumen resmi dan surat-surat resmi.
Meski The Polish Peasant terutama merupakan hasil studi makrososiologi tentang institusi sosial, tetapi dalam perjalanan karirnya, Thomas lebih tertarik kearah mikroskopik, ke arah psikologi sosial. Pernyataan psikologi sosialnya yang paling terkenal adalah: “Bila manusia mendefinisikan situasi sebagai nyata, maka akibatnya adalah nyata.” (Thomas dan Thomas, 1928:572). Penekanannya adalah arti penting apa yang dipikirkan orang dan bagaimana pikirannya itu mempengaruhi apa yang mereka kerjakan. Sasaran perhatian psikologi sosial mikroskopik ini bertolak belakang dengan sasaran perhatian perspektif struktur sosial dan kultural pemikir Eropa seperti Marx, Weber dan Durkheim. Inilah salah satu ciri khas produk teoritis aliran Chicago interaksionisme simbolik (Rock, 1979:5)
Robert Park (1864-1944). Tokoh penting lain dari Chicago adalah Robert Park (Shils, 1996). Park datang ke Chicago tahun 1913 sebagai instruktur sambilan dan dengan cepat menempati peran sentral di jurusan sosiologi Chicago. Lamanya Park berpengaruh di Chicago tidak hanya karena kontribusi intelektualnya saja. Peran pentingnya dalam pengembangan sosiologi terdapat di berbagai bidang. PERTAMA, ia menjadi tokoh dominan di jurusan sosiologi Chicago dan selanjutnya menjadi sosiolog dominan hingga tahun 1930-an. KEDUA, Park belajar di Eropa dan menjadi tokoh penting dalam membangkitkan minat sosiologi Chicago terhadap pemikir Eropa. Park adalah murid Simmel, dan pemikiran Simmel, terutama tentang tindakan dan interaksi, menjadi instrumen dalam mengembangkan orientasi teoritis aliran Chicago (Rock, 1979:36-48). KETIGA, sebelum menjadi sosiolog, Park telah menjadi reporter dan pengalaman ini memberikannya suatu pemahaman tentang pentingnya masalah urban dan perlunya meneliti ke lapangan, mengumpulkan data melalui observasi personal. Hasilnya adalah berkembangnya minat yang besar dari aliran Chicago terhadap ekologi urban (Gaziano, 1996; Maines, Bridger dan Ulmer, 1996; Perry, Abbott dan Hutter, 1997). KEEMPAT, Park berperan penting dalam membimbing mahasiswa SI dan membantu mengembangkan program riset mahasiswa (Bulmer, 1984:13). KELIMA, tahun 1921, Park dan Ernest W. Burgess menerbitkan buku ajar sosiologi pertama yang benar-benar penting, An Introduction to The Science of Sociology. Buku ini menjadi buku yang berpengaruh besar selama beberapa tahun dan sangat terkenal karena komitmennya kepada ilmu, riset dan studi fenomena sosial berskala luas.
Sejak akhir tahun 1920-an dan awal 1930-an Park mulai makin berkurang kegiatannya di Chicago. Pada akhirnya, minatnya yang besar sepanjang hayatnya terhadap masalah hubungan antarras (sebelum menjadi sosiolog pernah menjadi sekretaris Booker T. Washington) menyebabkan ia mendapat jabatan di sebuah universitas kulit hitam, Universitas Fisk, tahun 1934. Meski kemerosotan jurusan sosiologi Chicago bukan semata disebabkan kepergian Park, namun pamornya mulai menurun pada 1930-an itu. Sebelum membahas tentang kemerosotan sosiologi aliran Chicago dan kemunculan jurusan dan teori lain, kita perlu kembali ke tahun-tahun awal aliran Chicago dan ke kedua orang tokoh yang karya teoritisnya paling lama bertahan, Charles Horton Cooley dan, yang sangat penting, George Herbert Mead. Ada banyak tokoh signifikan lainnya yang diasosiasikan dengan aliran Chicago, termasuk Everett Hughes (Chapoulie, 1996; Strauss, 1996).
Charles Horton Cooley (1864-1929). Hubungan Cooley dengan aliran Chicago menarik karena ia berkarir di Universitas Michigan, bukan di Universitas Chicago. Tetapi, perspektif teoritis Cooley sejalan dengan teori interaksionisme simbolik yang menjadi produk terpenting Chicago.
Cooley mendapat Ph.D. dari Universitas Michigan pada tahun 1894. Ia telah mengembangkan minat yang besar terhadap sosiologi, namun belum ada jurusan sosiologi di Michigan. Akibatnya pertanyaan ujian Ph.D.nya datang dari Universitas Columbia. Di situ sosiologi telah diajarkan sejak tahun 1889, di bawah kepemimpinan Franklin Giddings. Cooley memulai karir mengajar di Michigan tahun 1892 sebelum mencapai Ph.D. dan ia tetap di situ selama karirnya.
Meski Cooley mempunyai pemikiran berskala luas, kini ia diingat terutama karena pemahamannya yang mendalam mengenai aspek psikologi sosial dari kehidupan sosial. Karyanya di bidang ini sejalan dengan karya Mead, meski pengaruh Mead terhadap sosiologi lebih dalam dan lebih abadi ketimbang pengaruh Cooley. Cooley menekuni tentang kesadaran, tetapi ia (seperti Mead) menolak untuk memisahkan kesadaran dari konteks sosial. Contoh terbaik konsep Cooley yang masih bertahan hingga kini adalah konsep cermin diri (the looking glass self). Dengan menggunakan konsep ini Cooley memahami bahwa manusia memiliki kesadaran dan kesadaran itu terbentuk dalam interaksi sosial yang berlanjut. Konsep dasar penting kedua yang juga mencerminkan pendekatan psikologi sosial Cooley adalah konsep kelompok primer. Kelompok primer adalah kelompok yang hubungan antara anggotanya sangat akrab dan bertatap muka dalam arti saling mengenai kepribadian masing-masing. Kelompok ini memainkan peran kunci dalam menghubungkan aktor dengan masyarakat yang lebih luas. Contoh utamanya adalah keluarga dan kelompok teman sepermainan anak muda. Dalam kelompok primer inilah individu tumbuh menjadi makhluk sosial. Di dalam kelompok primer ini pula pada dasamya cermin diri itu muncul dan anak yang semula memusatkan perhatian pada diri sendiri (ego centered) mulai belajar untuk memperhatikan orang lain dan dengan cara demikian menjadi penambah anggota masyarakat.
Baik Cooley maupun Mead (Winterer, 1994) menolak pandangan behavioristik tentang manusia, pandangan yang menyatakan manusia (individu) memberikan respon secara membabi buta dan tanpa kesadaran terhadap rangsangan dari luar. Dari sisi positif, behaviorisme yakin bahwa individu mempunyai kesadaran, diri (self), dan menjadi tanggung jawab sosiolog untuk meneliti aspek realitas sosial ini. Untuk meneliti kesadaran atau kedirian ini Cooley menganjurkan agar sosiolog mencoba menempatkan diri di tempat aktor yang diteliti dengan menggunakan metode introspeksi simpatetik untuk menganalisis kesadaran itu. Dengan menganalisis apa saja yang mungkin dilakukan aktor dalam berbagai kesadaran sosiolog akan dapat memahami makna dan motif yang mendasari perilaku sosial. Tetapi, banyak sosiolog yang menilai metode introspeksi simpatik ini sangat tidak ilmiah. Di bidang inilah antara lain pemikiran Mead lebih maju ketimbang Cooley. Namun demikian banyak sekali kesamaan perhatian kedua pakar ini, di antaranya mereka berpandangan sama bahwa sosiologi seharusnya memusatkan perhatian pada fenomena psikologi sosial seperti kesadaran, tindakan dan interaksi.
George Herbert Mead (1863-1931). Pemikir terpenting yang berkaitan dengan aliran Chicago dan interaksionisme simbolik bukan sosiolog, tetapi filsuf G.H. Mead. Mead mulai mengajar filsafat di Universitas Chicago tahun 1894 dan ia mengajar di situ hingga kematiannya tahun 1931 (G. Cook, 1993). Ada yang agak paradoks di diri Mead. Ia memusatkan perhatian pada sejarah teori sosiologi baik itu karena ia mengajar filsafat, bukan sosiologi, maupun karena ia terhitung dikit menerbitkan buku semasa hidupnya. Paradoksnya sebagian terjawab oleh dua fakta. Pertama, Mead mengajar psikologi sosial di jurusan filsafat dan mata kuliah itu diikuti oleh banyak mahasiswa jurusan sosiologi. Pemikiran Mead berpengaruh besar terhadap sejumlah mereka. Mahasiswa sosiologi ini menghubungkan pemikiran Mead dengan pemikiran profesor lain dari jurusan sosiologi seperti Park dan Thomas. Meski ketika itu belum ada teori yang dikenal sebagai simbolik interaksionisme, teori itu diciptakan oleh mahasiswa dari berbagai input. Jadi, Mead berpengaruh mendalam dan bersifat pribadi terhadap orang yang kemudian mengembangkan interaksionisme simbolik. Kedua, mahasiswa itu mengumpulkan catatan mereka yang berasal dari kuliah Mead dan menerbitkannya atas nama Mead secara anumerta. Buku itu berjudul Mind, Self and Society (Mead, 1934/1962), yang memindahkan pemikiran Mead yang disampaikan secara lisan melalui kuliah ke bentuk tulisan. Buku ini banyak dibaca dan inilah yang menjadi pilar intelektual utama bangunan teori simbolik inter aksionisme.
Tetapi di sini perlu ditekankan beberapa hal untuk menempatkan Mead dalam posisi sejarah. Pemikiran Mead perlu dilihat dalam konteks behaviorisme psikologi. Mead dipengaruhi oleh orientasi ini dan menerima beberapa prinsipnya. Ia menerima prinsip ajaran behaviorisme tentang pemusatan perhatian pada aktor dan perilakunya. Ia menganggap bijaksana pakar behaviorisme yang menekankan perhatian pada imbalan dan biaya yang terlibat dalam perilaku aktor. Yang dipersoalkan Mead adalah behaviorisme tak cukup berkembang. Maksudnya, behaviorisme mengeluarkan variabel kesadaran dari pertimbangan serius dengan menyatakan bahwa variabel kesadaran itu tak dapat dipertanggung jawabkan terhadap studi ilmiah. Mead sangat tidak setuju dan mencoba mengembangkan prinsip-prinsip behaviorisme ke tingkat analisis pikiran. Dalam melakukan hal ini sasaran perhatian Mead serupa dengan Cooley. Bedanya, bila pemikiran Cooley dianggap tidak ilmiah, Mead menjanjikan konsepsi tentang kesadaran yang lebih ilmiah yang memperluas prinsip ilmiah dan metode behaviorisme psikologi.
Mead menawarkan kepada sosiologi Amerika sebuah teori psikologi sosial yang bertolak belakang dengan teori sosial, terutama yang ditawarkan oleh sebagian besar teoritisi Eropa (Shalin, 2000). Kekecualian terpenting adalah Simmel. Dengan demikian interaksionisme simbolik sebagian besar dikembangkan dari pemikiran Simmel tentang aksi dan interaksi dan dari pemikiran Mead tentang kesadaran. Namun, penekanan seperti itu memperlemah konsep Mead dan interaksionisme simbolik di tingkat analisis sosial dan kultural.
Memudarnya Sosiologi Chicago. Sosiologi Chicago mencapai puncaknya tahun 1920-an. Tetapi sekitar 1930-an, karena kematian Mead dan pindahnya Park, jurusan sosiologi mulai kehilangan posisi sentralnya dalam sosiologi Amerika (Cortese, 1995). Fred Matthews (1971; lihat juga Bulmer, 1984) menunjukkan beberapa alasan penyebab menurunnya peran aliran Chicago. Dua di antaranya sangat penting.
PERTAMA, pertumbuhan sosiologi makin ilmiah menggunakan metode canggih dan analisis statistik. Akan tetapi, aliran Chicago masih menekankan pada studi deskriptif, etnografis (Prus, 1996), yang sering memusatkan perhatian pada orientasi personal dari sasaran studi mereka (menurut istilah Thomas memusatkan perhatian pada definisi situasi mereka). Park dari semula makin melecehkan analisis statistik (ia menyebut analisis statistik sebagai permainan sulap di kamar) karena statistik menghalangi analisis subjektivitas, keistimewaan dan keunikan. Sebenarnya banyak studi penting dengan metode kuantitatif yang telah dilakukan di Chicago yang cenderung mengabaikan kaitannya dengan metode kualitatif.
KEDUA, makin lama makin banyak sosiolog di luar aliran Chicago yang makin membenci dominasi aliran Chicago atas American Sociological Society dan American Journal of Sociology. The American Sociological Society didirikan tahun 1930 Jan para sosiolog dari bagian timur Amerika semakin lantang mengecam dominasi sosiolog belahan barat pada umumnya dan Chicago pada khususnya (Wiley, 1979:63). Tahun 1935 pemberontakan menentang aliran Chicago menyebabkan tergusurnya orang Chicago dari sekretariat American Sociological Society. Berikutnya berdiri jurnal resmi baru, American Journal Review Lengermann, 1979). Menurut Wiley “aliran Chicago tumbang seperti pohon oak yang kuat” (1979:63). Keruntuhan aliran Chicago menandai pertumbuhan pusat kekuasaan lain yang paling terkemuka, yaitu Harvard dan Liga Ivy. Interaksionisme simbolik makin tidak menentukan sehingga akhirnya kehilangan andasan untuk lebih menjelaskan sistem teoritis yang telah tersusun seperti struktural fungsionalisme yang dikaitkan dengan Liga Ivy (Rock, 1979:12).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar