Minggu, 28 April 2013

Sosiologi Figurasional Norbert Elias


Figurasi adalah proses sosial yang menyebabkan terbentuknya jalinan hubungan  antara individu. Figurasi bukanlah sebuah struktur yang berada diluar  dan memaksa relasi antara individu. Figurasi adalah antar hubungan itu sendiri. Individu dipandang sebagai terbuka dan saling tergantung. Figurasi tersusun dari kumpulan individu tersebut. Kekuasaan adalah hal penting dalam figurasi sosial dan karena itu berada dalam keadaan terus menerus berubah.
Menurut Elias (1978 :131) bahwa inti figurasi sosial yang senantiasa berubah adalah fluktuasi, keseimbangan yang dapat tegang dan kendur, keseimbangan kekuasaan yang berubah, mula-mula kearah satu sisi dan kemudian kesisi lain. Fluktuasi keseimbangan kekuasaan ini adalah ciri-ciri struktural aliran setiap figurasi sosial. Pada umumnya figurasi sosial muncul dan berkembang menurut cara tak kelihatan dan tanpa rencana.
Konsep figurasi sosial dapat diterapkan baik pada kelompok kecil maupun pada masyarakat yang beranggotakan  ribuan atau jutaan orang yang saling tergantung. Guru dan murid di kelas, dokter dan pasien di rumah sakit, pengunjung disebuah tempat hiburan, anak-anak di taman kanak-kanak. Mereka semuanya dapat dipandang membentuk figurasi satu sama lain. Tetapi penduduk sebuah desa, kota, bahkan satu bangsa juga merupakan figurasi meski dalam contoh ini tak dapat dirasakan secara langsung karena rantai saling ketergantungan yang menghubungkan orang secara bersama adalah lebih panjang dan lebih berlainan (Elias ,1978 : 131 ).
Elias menolak menerangkan hubungan  antara individu dan masyarakat, tetapi lebih memusatkan perhatian pada hubungan antara orang yang dibayangkan sebagai individu dan orang yang dibayangkan sebagai masyarakat. Dengan kata lain, baik individu, baik individu maupun masyarakat melibatkan orang (manusia).
Pemikiran Elias tentang figurasi berkaitan dengan pemikiran bahwa individu adalah terbuka  terhadap dan saling berhubungan dengan individu lain. Ia menyatakan bahwa kebanyakan sosiolog beroperasi dengan pemahaman tentang homo clauses, yakni gambaran bahwa setiap orang akhirnya bebas secara mutlak dari semua orang, setiap orang menjadi individu didalam dirinya. Gambaran demikian tak memberikan kemungkinan untuk membangun sebuah teori figurasi, gambaran tentang aktor yang terbuka dan saling tergantung diperlukan untuk sosiologi figurasi.
Elias memusatkan perhatian pada peradaban negeri barat dan mengaplikasikan gagasannya pada Negara lain yaitu Singapura, Elias tak hendak menyatakan bahwa ada sesuatu yang sudah menjadi sifat baik atau lebih baik mengenai peradaban seperti yang terjadi di barat  atau tempat lain manapun. Ia pun tak hendak menyatakan bahwa peradaban mempunyai sifat buruk  meski ia mengakui bahwa berbagai kesulitan telah muncul dalam peradaban barat. Lebih umum lagi Elias tak hendak menyatakan bahwa semakin beradab adalah lebih baik, atau sebaliknya, semakin kurang beradab adalah lebih buruk. Ia menyatakan bahwa orang menjadi makin beradab, kita tak perlu menyatakan bahwa mereka telah menjadi makin baik (atau makin buruk ) kita semata-mata hanya menyatakan fakta sosiologis. Demikian Elias memusatkan perhatian pada studi sosiologi mengenai apa yang ia sebut “sosiogenesis” pada peradaban di Barat.
Secara khusus Elias memusatkan perhatian pada perubahan bertahap yang terjadi dalam prilaku dan susunan psikologis orang Barat. Secara menyeluruh Elias memusatkan perhatian pada hubungan antara perubahan dalam struktural perilaku dan susunan psikologis orang.
Dalam studinya tentang sejarah tata karma, Elias tertarik pada transformasi historis bertahap dari berbagai jenis perilaku biasa menurut arah yang kini akan kita sebut sebagai perilaku yang diadabkan (civilized). Ia memulai analisisnya dari abad pertengahan, ia menjelaskan bahwa  tak ada dan tak akan dapat ditemukan  titik awal  (atau titik akhir) dari perkembangan  peradaban. Hal ini artinya, proses peradaban dapat ditelusuri kebelakang, ke zaman kuno, ke hari ini dan akan berlanjut ke masa depan.
Peradaban adalah proses sebuah proses perkembangan terus menerus, yang untuk mudahnya dipelajari Elias di abad pertengahan. Elias tertarik menelusuri hal-hal seperti apa yang menyulitkan kita meningkatkan kepekaan kita, mengapa kita suka memperhatikan orang lain dan mempertajam pemahaman kita terhadap orang lain.
Tatakrama ini akan berjalan dengan baik dan dilaksanakan oleh masing-masing individu terlebih dahulu harus ada norma-norma. Menurut sosiolog Soerjono Soekanto (1990 : 199 – 200) norma-norma ini dirumuskan bertujuan untuk supaya hubungan antar individu manusia dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan. Mula-mula norma-norma tersebut dibentuk tidak dengan sengaja, namun lama kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar.
Selanjutnya Soerjono Soekanto mengatakan bahwa tata karma atau tata kelakuan (mores) mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar  maupun tidak sadar oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya (Soerjono Soekanto ,1990 :201).
Beberapa Tatakrama yang dikemukakan oleh Elias :
1)    Perilaku di Meja Makan
Menurut Elias sikap dan prilaku dimeja  jamuan makan malam yang dinilai sedikit sekali atau tidak memalukan di abad 13 ternyata menjadi aib besar atau sangat memalukan di abad 19. Apa yang dianggap tidak disukai, melalui perjalanan waktu semakin lenyap dibelakang layer kehidupan sosial (Elias 1939/1994 :99). Sebagai contoh, seorang penyair abad 13 memperingatkan sejumlah orang menggrogoti sebuah tulang dan kemudian meletakanya kembali kedalam piring, perilaku ini merupakan pelanggaran berat (Elias,1939/1994 :68). Buku lain terbitan abad 13 memperingatkan tak sopan mengorek-ngorek telinga atau mata dengan jari, sebagaimana menjadi kebiasaan beberapa orang atau mengupil ketika makan. Peringatan ini jelas mengisaratkan bahwa di zaman itu banyak orang yang berperilku demikian dan umumnya tidak menyebabkan orang yang melakukan itu atau orang lain yang berada di jamuan makan malam itu merasa malu. Karenanya dirasa perlu adanya peringatan seperti itu karena orang tak mengetahui bahwa perilaku seperti itu adalah tak beradab. Melalui perjalanan waktu semakin kurang diperlukan peringatan mengenai sesuatu hal sambil makan.
Salah satu pendapat Elias dalam konteks ini adalah bahwa  perubahan tersebut tidak diciptakan secara rasional. Menurut Elias perubahan ini lebih bersumber pertimbangan emosional ketimbang rasional.
2)    Membuang Ingus
Proses figurasi serupa terlihat dalam pengendalian membuang ingus. Sebagai contoh dokumen abad 15 memperingatkan jangan membuang ingus dengan tangan yang digunakan untuk memegang makanan atau dokumen abad 16 memperingatkan bahwa setelah menghapus ingus jangan membentangkan sapu tangan pengelapnya dan menatapinya seolah-olah mutiara dan batu delima rontok dari kepala anda ( Elias,1939/1994 : 118 – 119).Tetapi diakhir abad 18 peringatan secara rinci demikian sudah disingkirkan dari sumber nasihat. Setiap perbuatan sengaja membuang ingus adalah perbutan tak sopan, mencungkil hidung dengan jari adalah menjijikan dan tak pantas. Dalam membuang ingus anda harus mematuhi semua peraturan tentang kesopanan dan kebersihan (Elias,1939/1994 :121).
3)    Hubungan Seksual
Elias melukiskan kecenderungan umum yang sama dalam hubungan seksual dalam hubungan seksual. Di abad pertengahan terbiasa bagi kebanyakan orang termasuk lelaki dan wanita, tidur bersama sepanjang malam dalam satu kamar. Namun tak terbiasa mereka tidur bertelanjang. Sejak itu bertelanjang didepan orang yang berbeda jenis kelamin semakin dipandang sebagai perbuatan yang memalukan. Sebagai contoh perilaku seksual yang tak beradab, Elias melukiskan pakaian pengantin diawal abad pertengahan sebagai berikut : Arak-arakan memasuki kamar pengantin dipimpin laki-laki terbaik. Pengantin wanita dilepas pakaiannya oleh gadis-gadis pengiring, seluruh dandanannya ditanggalkan. Ranjang pengantin harus dijaga dihadapan saksi-saksi agar perkawinan menjadi sah. Mereka dibaringkan bersama, setelah berada diranjang, kalian sudah kawin sebagaimana mestinya, demikian dikatakan.Di akhir abad pertengahan adap ini secara bertahap berubah hingga tahap tertentu, dimana pasangan pengantin diperbolehkan tidur diranjang dalam keadaan berpakaian. Bahkan ketika masyarakat Pranis berada dibawah kekuasaan pemerintahan absolute pengantin wanita dan laki-laki dibawa keranjang oleh tetamu, menanggalkan pakaian pengantin, dan memasangkan pakaian tidur mereka (Elias,1934/1994 : 145 – 146).
Jelaslah perubahan ini berlanjut seiring dengan kemajuan peradaban, kini segala sesuatu yang terjadi di ranjang pengantin disembunyikan, terjadi dibelakang layar dan diluar penglihatan semua pengamat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar