Rabu, 03 April 2013

Sekilas tentang Randall Collins


Aku mulai menjadi sosiolog sejak berusia muda. Ayahku bekerja di dinas Intelijen Militer di akhir Perang Dunia II, kemudian masuk Departemen Luar Negeri Amerika sebagai pejabat dinas Urusan Luar Negeri. Salah satu kenang-kenanganku di Berlin untuk bergabung dengan ayah di musim panas tahun 1945. Aku dan saudara wanitaku tak dapat bermain di taman karena di situ ditanam ranjau darat dan satu hari serdadu Rusia datang ke halaman belakang rumah kami untuk menggali kuburan korban perang. Kejadian ini memberiku perasaan bahwa konflik adalah penting dan kekerasan selalu mungkin.
Kepindahan tugas ayahku berikutnya membawa aku ke Uni Soviet, kembali ke Jerman (kemudian di bawah pendudukan militer Amerika), ke Spanyol dan Amerika Selatan. Diantara melaksanakan tugas luar negeri kami tinggal di Amerika, dengan demikian aku kembali dan seterusnya hidup antara menjadi seorang anak Amerika biasa dan menjadi tamu istimewa luar negeri. Pengalaman ini menimbulkan sejumlah sikap tertentu dalam memandang hubungan sosial. Ketika aku makin dewasa kehidupan diplomatis kelihatannya semakin kurang dramatis dan makin menyerupai sebuah lingkaran etiket formal tak berujung, dimana orang tak pernah berbicara tentang persoalan politik penting yang sedang terjadi; pemisahan antara kerahasiaan di belakang layar dan seremonial di depan layar menyebabkan aku siap menghargai Erving Goffman.
Ketika aku sudah terlalu besar untuk menyertai orang tuaku di luar negeri aku di kirim ke SMU Swasta di New England. Ini mengajariku realitas sosiologi besar lainnya; keadaan stratifikasi sosial. Banyak diantara siswa lain berasal dari keluarga The Social Register (daftar orang terkemuka dalam masyarakat) dan aku mulai menduga bahwa ayahku tak sama kelas sosialnya dengan Duta Besar dan Menteri Muda yang anak-anak mereka kadang-kadang aku temui.
Aku kemudian belajar di Harvard dimana aku berganti jurusan enam kali. Aku belajar kesusastraan dan mencoba menjadi seorang dramawan dan penulis novel. Aku pindah dari matematika ke filsafat; aku membaca karya Freud dan merencanakan menjadi psikiatris. Akhirnya aku memilih jurusan Hubungan Sosial yang meliputi sosiologi, Psikologi Sosial dan Antropologi. Setelah mengambil kuliah Talcott Parsons aku masuk jurusan Hubungan Sosial itu. Kuliah Parsons meliputi bidang kajian yang sangat luas, mulai dari analisis tingkat mikro ke tingkat makro dan akhirnya menjelaskan sejarah dunia. Tak banyak yang ku dapat dari teori Parsons kecuali gagasan tentang apa yang harus dipelajari oleh sosiologi. Iapun memberiku beberapa bagian penting tentang modal kultural. Parsons mengajariku bahwa Max Weber kurang perhatiannya mengenai etika protestan ketimbang dirinya sendiri yang membandingkan dinamika seluruh agama di dunia dan Durkheim yang mengajukan pertanyaan kunci ketika ia mencoba menjelaskan basis prakontraktual dari ketertiban sosial.
Kupikir aku ingin menjadi seorang psikolog dan belajar di Stanford, tetapi setelah setahun menerima ajaran meyakinkan bahwa sosiologilah tempat yang lebih baik untuk mempelajari kehidupan manusia, aku berganti universitas dan di musim panas tahun 1964 aku tiba di Berkeley dan ketika itu juga bergabung dengan gerakan hak-hak sipil. Musim gugur tahun itu juga gerakan kebebasan berbicara muncul di kampus kami. Kami para mantan aktor gerakan aksi duduk mulai tertarik kepada faktor penyebab lain yang membangkitkan emosi ketika orang dapat menciptakan solidaritas bersama ratusan orang lainnya. Aku mencoba membuat analisis sosiologi konflik pada saat kami mengalami bersama. Ketika perang Vietnam berlangsung dan konflik rasial dalam negeri (di Amerika) meningkat, gerakan oposisi mulai tak mau lagi mengakui prinsip tanpa kekerasannya; kebanyakan mahasiswa menjadi kecewa, putus sekolah dan berlatih gaya hidup hipis. Bila Anda tak kehilangan kesadaran sosiologis Anda, fenomena itu dapat dijelaskan. Aku mempelajari karya Erving Goffman dan Herbert Blumer (ketika itu keduanya adalah profesor Berkeley) dan mulai memahami mengapa seluruh aspek masyarakat, konflik stratifikasi, dan lain-lainnya, dibangun dari ritual interaksi kehidupan sehari-hari kita.
Aku tak pernah merencanakan untuk menjadi profesor, namun hingga kini aku mengajar di berbagai universitas. Aku mencoba menghimpun kajian sosiologi dalam satu buku, Conflict Sociology (1975) tetapi gagal dan aku menulis buku lain, the Credential Society (1979) untuk menjelaskan kemerosotan sistem status dimana kita semua terperangkap didalamnya. Untuk membuat kajian sendiri secara serius, aku meninggalkan dunia akademis untuk sementara kehidupanku ditopang oleh hasil menulis novel dan buku ajar. Akhirnya setelah ditarik oleh beberapa teman, aku kembali mengajar. Bidang kajianku sangat luas mulai dari gambaran baru sejarah dunia turun kerincian mikro emosi sosial. Istri keduaku Judith McConnell, adalah salah seorang yang paling penting pengaruhnya terhadap kehidupanku. Ia mengorganisir pengacara wanita untuk membongkar rintangan diskriminasi dalam profesi hukum dan kini aku belajar darinya mengenai politik di belakang layar pengadilan tinggi. Dalam sosiologi dan dalam masyarakat makin banyak yang harus dikerjakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar