Minggu, 28 April 2013

Teori Sistem Umum Niklas Luhmann


Teoritisi sistem paling terkemuka dalam sosiologi adalah Niklas Luhmann (1927-1998). Luhmann mengembangkan suatu pendekatan sosiologis yang mengombinasikan elemen dari fungsionalisme struktural Talcott Parsons dengan teori sistem umum dan memperkenalkan konsep dari biologi kognitif, sibernetika dan fenomenologi (Paul, 2001). Luhmann memandang ide-ide Parsons yang belakangan sebagai satu-satunya teori umum yang cukup kompleks untuk membentuk basis bagi pendekatan sosiologi baru yang merefleksikan temuan terakhir dalam sistem biologi dan sibernetik. Akan tetapi, dia memandang dua problem dengan pendekatan Parsons. Pertama, pendekatan Parsons tak punya tempat untuk referensi diri (self reference), sementara menurut Luhmann, kemampuan masyarakat untuk merujuk pada dirinya sendiri adalah penting untuk memahaminya sebagai sebuah sistem. Kedua, Parsons tak mengakui kontingensi (contingency). Akibatnya, Parsons tidak dapat secara memadai menganalisa masyarakat modern karena dia tidak melihat ada kemungkinan lainnya. Jadi, dengan mengambil contoh dari karya Parsons, skema AGIL tidak boleh dilihat sebagai fakta, tetapi sebagai model kemungkinan. Misalnya, skema AGIL menunjukkan bahwa subsistem yang adaptif dan mengejar tujuan dapat dikaitkan melalui berbagai cara; oleh karena itu, tujuan analisis haruslah untuk memahami mengapa sistem memproduksi hubungan tertentu di antara dua subsistem pada waktu tertentu. Luhmann membahas dua problem dalam karya Parsons ini dengan mengembangkan teori yang mempertimbangkan referensi diri sebagai aspek sentral untuk sistem dan berfokus pada kontingensi, fakta bahwa segala sesuatu mungkin bisa menjadi berbeda.
Kunci untuk memahami apa yang dimaksud oleh Luhmann dengan sistem dapat ditemukan dalam perbedaan antara sistem dengan lingkungannya. Pada perbedaan antara keduanya adalah pada kompleksitas (complexity). Suatu sistem selalu kurang kompleks ketimbang lingkungannya. Misalnya, suatu usaha, seperti perakitan mobil, dapat dilihat sebagai sistem yang berkaitan dengan lingkungan yang sangat kompleks yang mencakup berbagai tipe orang yang berlainan, lingkungan fisik yang senantiasa berubah, dan beragam sistem lainnya yang berbeda-beda. Industri mobil bukanlah sistem autopoietic dalam pengertian Luhmann, karena industri ini tidak memproduksi elemen dasarnya. Akan tetapi, kita akan menggunakan contoh ini untuk menjelaskan ide umum tentang teori sistem karena contoh ini lebih konkret ketimbang abstraksi sistem ekonomi atau sistem hukum. Nanti, saat kami mendefinisikan sistem autopoietic, kami akan menggunakan contoh yang lebih abstrak. Akan tetapi, kompleksitas ini direpresentasikan dalam bentuk yang lebih sederhana di dalam sistem. Ketika pabrik membutuhkan bahan baku (besi, karet, dsb.), pabrik tak peduli dari mana bahan-bahan itu berasal, bagaimanaa bahan-bahan itu diproduksi dan sifat dari pemasoknya. Semua kompleksitas ini direduksi menjadi informasi tentang harga dan kualitas bahan mentah. Dengan cara yang sama, semua praktik konsumennya yang beragam direduksi menjadi praktik-praktik yang langsung mempunyai dampak langsung terhadap keputusan mereka untuk, misalnya, membeli mobil.
Penyederhanaan kompleksitas sama artinya dengan dipaksa untuk memilih (pabrik mempertimbangkan bagaimana bahan-bahan baku diproduksi tetapi tak peduli pada situasi politik di negara tempat bahan baku itu diproduksi). Dipaksa untuk memilih berarti juga kontingensi sebab seseorang selalu bisa memilih secara berbeda pabrik atau produsen dapat memonitor situasi). Dan kontingensi berarti resiko (risk). Jadi, jika pabrik memilih untuk tidak memonitor situasi politik di satu negara yang menghasilkan bahan baku, maka proses produksinya mungkin akan tsrganggu oleh pemberontakan yang memotong jalur suplai material itu.
Sebuah sistem tidak akan sesederhana lingkungannya. Sebuah sistem yang mencoba agar sekompleks lingkungannya akan mengingatkan kita pada kisah Borges (1964) tentang raja yang memerintahkan seorang kartografer untuk membuat peta yang akurat untuk negaranya. Ketika kartografer itu selesai membuatnya, peta itu sebesar negeri itu sehingga malah tak berguna. Peta, seperti sistem, harus mereduksi kompleksitas. Kartografer harus memilih ciri-ciri yang penting. Peta yang berbeda atas area yang sama dapat dibuat karena pemilihan kontingensinya. Ini selalu diperlukan, tetapi ini juga berisiko karena pembuat peta tidak pernah dapat merasa pasti bahwa yang tidak masuk bukanlah penting untuk penggunanya.
Meski sistem tak pernah sekompleks lingkungannya, sistem mengembakan subsistem-subsistem baru dan membangun berbagai hubungan antara subsistem untuk menangani lingkungan secara efektif. Jika tidak, sistem akan dikuasai oleh kompleksitas lingkungan. Misalnya, pabrik mobil dapat menciptakan departemen hubungan internasional yang bertugas memonitor kondisi politik di negara pensuplai bahan baku. Departemen baru ini akan bertanggung jawab untuk menjaga agar perusahaan selalu mengetahui potensi gangguan dalam suplai material dan menemukan sumber alternatif jika ada gangguan tersebut. Jadi, secara paradoks, “hanya kompleksitaslah yang dapat mereduksi kompleksitas” (Luhmann, 1995:26).

Sistem-sistem Autopoietic
Luhmann terkenal karena pemikirannya tentang autopoietic. Konsep autopoietic ini merujuk kepada diversitas sistem-sistem dari sel biologis sampai ke seluruh masyarakat dunia. Luhmann menggunakan istilah itu untuk menunjuk pada sistem-sistem seperti, antara lain, ekonomi, politik, hukum, saintifik, dan birokrasi. Dalam deskripsi di bawah, kita akan mencoba menyediakan variasi contoh-contoh untuk memberikan pemahaman tentang ruang lingkup konsep tersebut. Sistem autopoietic memiliki empat karakteristik sebagai berikut :
1)    Sebuah sistem autopoietic menghasilkan elemen-elemen dasar yang menyusun sistem itu sendiri. Ini mungkin kelihatannya paradoksal. Bagaimana mana sebuah sistem menghasilkan elemen-elemennya sendiri, menghasilkan unsur-unsurnya yang paling dasar? Mari kita pikirkan sistem ekonomi modern dan elemen dasarnya, yakni uang. Kita mengatakan uang adalah elemen dasar karena nilai benda-benda dalam sistem ekonomi dapat dipandang dari segi uang, tetapi sangat sulit untuk mengatakan apakah uang itu sendiri ada nilainya. Makna uang, apa nilainya, dan untuk apa kegunaannya akan ditentukan oleh sistem ekonomi itu sendiri. Uang, seperti yang kita pahami dewasa ini, tidak eksis sebelum sistem ekonomi ada. Bentuk uang modern dan sistem ekonomi muncul bersama-sama, dan mereka saling tergantung satu sama lain. Sistem ekonomi modern tanpa uang sulit untuk dibayangkan. Uang tanpa sistem ekonomi modern akan menjadi secarik kertas atau sekeping logam.
2)    Sistem-sistem autopoietic mengorganisasikan diri (self-organizing) dalam dua cara, mereka mengorganisasikan batas-batasnya sendiri, dan mengorganisasikan struktur intemalnya. Sistem-sistem itu mengorganisasikan batas-batasnya sendiri dengan membedakan antara apa yang ada dalam sistem dengan apa yang didalam lingkungannya. Misalnya, sistem ekonomi menghargai sesuatu yang langka dan untuk barang itu harganya dapat ditetapkan sebagai bagian dari sistem ekonomi. Udara ada di mana-mana dan melimpah persediaannya; karena itu udara tidak ditetapkan harganya dan udara bukan bagian dari sistem ekonomi. Akan tetapi, udara adalah bagian niscaya dari lingkungan. Apa yang ada di dalam dan di luar sistem autopoietic ditentukan oleh pengorganisasian diri dari sistem tersebut, bukan, seperti yang diyakini oleh fungsionalis struktural, oleh keniscayaan fungsional dari sistem. Ada kekuatan-kekuatan lainnya yang mencoba membatasi ruang lingkup sistem autopoietic. Misalnya, sistem ekonomi kapitalis selalu memperluas batas-batasnya untuk memasukkan seks dan perdagangan obat terlarang. Ini terjadi ketika sistem politik mengesahkan undang-undang yang ditujukan untuk mencegah seks dan obat terlarang menjadi komoditas ekonomi. Alih-alih menjaganya tetap di luar ekonomi, undang-undang itu justru memengaruhi harga seks dan obat rang di dalam sistem ekonomi. Ketidakabsahannya (ilegality) membuat harganya lebih tinggi, dan karena itu mengurangi daya beli untuknya. Tetapi, di dalam sistem ekonomi harga tinggi yang mengurangi pembelian juga mendorong penjualan. Jika banyak uang dapat dihasilkan dari penjualan seks dan obat terlarang, mereka akan tetap berada di dalam sistem ekonomi. Oleh karena itu, undang-undang yang mencoba menjaga komoditas di luar sistem ekonomi akan mempengaruhi cara komoditas itu dihargai di dalam sistem ekonomi. Di dalam batas-batas ini, sebuah sistem autopoietic menghasilkan strukturnya sendiri. Misalnya, karena eksistensi uang, pasar distrukturisasi dengan cara impersonal, bank dibentuk untuk menyimpan dan meminjamkan uang, konsep bunga dikembangkan, dan seterusnya. Jika sistem ekonomi tidak mempunyai entitas abstrak dan protable semacam itu sebagai elemen dasarnya, maka tidak akan ada bank dan konsep bunga, dan pasar di mana barang-barang dijual dan dibeli akan disusun dengan cara yang sangat berbeda.
3)    Sistem autopoietic adalah self-referential (Esposito, 1996). Misalnya, sistem ekonomi menggunakan harga sebagai cara untuk mengacu pada dirinya sendiri. Dengan melekatkan nilai uang yang fluktuatif dalam sebuah perusahaan, pasar saham menjadi contoh dari referensi diri dalam sistem ekonomi. Harga di pasar saham ditentukan bukan oleh individu, tetapi oleh ekonomi itu sendiri. Demikian pula, sitem hukum mempunyai undang-undang yang mengacu pada sistem legal; hukum-hukum tentang hukum dapat diberlakukan, diaplikasikan, ditafsirkan, dan sebagainya.
4)    Sebuah sistem autopoietic adalah sistem tertutup. Ini berarti bahwa tidak ada kaitan langsung antara sistem dengan lingkungannya. Sebaliknya, sistem berhubungan dengan representasi dari lingkungannya. Misalnya, sistem ekonomi dianggap merespon kebutuhan material dan keinginan orang-orang; akan tetapi, kebutuhan dan keinginan itu memengaruhi sistem ekonomi hanya sejauh mereka dapat direpresentasikan dalam term uang. Konsekuensinya, sistem ekonomi merespon dengan baik pada kebutuhan dan keinginan material orang kaya, tetapi merespon secara buruk kepada kebutuhan dan keinginan orang miskin. Contoh lainnya adalah birokrasi, seperti Internal Revenue Service. IRS tak pernah benar-benar berhubungan dengan kliennya; ia hanya berhubungan dengan representasi dari klien-kliennya. Pembayar pajak direpresentasikan oleh formulir-formulir yang mereka isi. Pembayar pajak yang sesungguhnya berpengaruh pada birokrasi hanya dengan cara mengganggu representasi birokrasi. Mereka yang menyebabkan gangguan (salah mengisi formulir, formulir yang bertolak- belakang, formulir palsu) sering kali ditangani dengan keras karena mereka mengancam sistem. Meskipun sistem autopoietic adalah tertutup dan tak ada koneksi langsung dengan lingkungannya, lingkungan harus diizinkan untuk mengganggn representasi dalamnya. Tanpa gangguan seperti itu, sistem akan dihancurkaa oleh kekuatan lingkungan yang akan meliputinya. Misalnya, harga saham di bursa saham berfluktuasi secara hari. Perbedaan antara harga saham perusahaan hari ke hari tidak banyak kaitannya dengan nilai riil dari perusahaan yakni, aset atau profit dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan bursa saham. Yakni, pasar mungkin berada dalam periode boom (“bull” market) di mana harga-harga saham jauh lebih tinggi ketimbang seharusnya karena keadaan perusahaan yang bersangkutan. Akan tetapi, kemudian harga saham harus refleksikan status aktual dari perusahaan yang bersangkutan atau sistem akan ambruk. Inilah yang terjadi pada crash bursa saham 1929. Harga-harga saham tidak ada hubungannya dengan nilai riil, sehingga sistem mencapai keadaan krisis. Untuk berfungsi secara benar, pasar saham sebagai sistem harus, setidaknya kadang-kadang, diganggu oleh kondisi aktual dari perusahaan yang menjadi bagian dari lingkungannya. Sistem sosial yang tertutup adalah berbeda dari individu yang muncul sebagai bagian darinya. Menurut Luhmann, dalam sistem seperti itu, individu, adalah bagian dari lingkungan. Misalnya dalam birokrasi, ini berarti bahwa bukan hanya klien sebagai bagian dari lingkungan, tetapi juga orang-orang yang bekerja di dalam birokrasi. Dari perspektif birokrasi, orang-orang yang bekerja di dalamnya adalah sumber eksternal dari kompleksitas dan unpredictability. Agar menjadi sistem tertutup, birokrasi harus mencari cara untuk merepresentasikan karyawannya dengan cara sederhana. Jadi, alih-alih dilihat sebagai manusia penuh, seorang karyawan dilihat sebagai seorang “manajer”, yang lainnya sebagai “akuntan”, dan seterusnya. Karyawan yang riil dan sepenuhnya manusia akan memengaruhi birokrasi hanya sebagai gangguan untuk representasi birokrasi.

Masyarakat dan Sistem-sistem Psikis
Luhamann berargumen bahwa masyarakat adalah sistem antopoietic. Ia memenuhi empat karakteristik yang dikemukakan di atas, masyarakat menghasilkan elemen-elemen dasarnya sendiri, membangun struktur dan batas-batasnva sendiri, self-referential, dan tertutup.
Elemen dasar dari masyarakat adalah komunikasi, dan komunikasi dihasilkan oleh masyarakat. Partisipan dalam masyarakat mengacu kepada masyarakat melalui komunikasi. Dalam kenyataannya, itulah yang kita lakukan sekarang! Individu adalah relevan dengan masyarakat hanya sejauh dia berpartisipasi dalam komunikasi atau dapat diinterpretasikan sebagai pihak yang berpartisipasi dalam komunikasi. Bagian rahasia dari Anda yang tak pernah Anda komunikasikan, atau tidak dipahami sebagai komunikasi oleh orang lain, bukanlah bagian dari masyarakat. Bagian-bagian rahasia itu adalah bagian dari lingkungan yang mungkin mengganggu masyarakat. Menurut konsepsi Luhmann, apa pun yang bukan komunikasi adalah bagian dari lingkungan. Ini mencakup sistem biologis manusia dan bahkan sistem psikisnya. Individu sebagai organisme biologis dan individu sebagai kesadaran bukanlah bagian dari masyarakat, tetapi bagian luar dari masyarakat. Ini menimbulkan ide aneh yakni individu adalah bukan bagian dari masyarakat.
Yang dimaksud sistem psikis oleh Luhmann adalah kesadaran indiyidu. Sistem psikis dan masyarakat, sistem semua komunikasi mempunyai properti sama. Keduanya bersandar pada makna (meaning). Makna terkait erat dengan pilihan yang dibuat sistem. Makna tindakan (atau objek) tertentu adalah perbedaannya dengan tindakan (atau objek) lainnya. Makna hanya muncul terhadap latar belakang dari kontingensi (contingency). Jika tidak ada kemungkinan menjadi berbeda, maka tidak akan ada makna. Tindakan hanya bermakna sejauh pemilihannya dibuat dari rangkaian kemungkinan tindakan. Misalnya, pakaian kita berarti sesuatu hanya karena kita dapat memilih untuk sesuatu yang lain.
Sistem seperti sistem psikis dan sosial yang mengandalkan pada makna adalah tertutup, karena (1) makna selalu mengacu kepada makna yang lain, (2) hanya makna yang dapat mengubah makna, (3) makna biasanya menghasilkan lebih banyak makna. Makna membentuk batas-batas untuk masing-masing sistem. Misalnya, dalam sistem psikis, apa-apa yang tidak bermakna berada di luar sistem, sebagai “penyebab” tindakan kita, sedangkan apa-apa yang bermakna berada di dalam sistem, sebagai “motivasi” untuk tindakan kita. Peristiwa memasuki sistem psikis kita hanya sebagai makna. Bahkan tubuh kita sendiri adalah sekadar lingkungan untuk sistem pemaknaan ini. Tubuh kita dapat dilihat hanya sebagai gangguan untuk sistem psikis kita. Tubuh memasuki kesadaran kita dengan menjadi makna, sehingga, misalnya, agitasi fisik memasuki kesadaran sebagai emosi. Demikian pula dalam sistem sosial, makna adalah perbedaan antara komunikasi di dalam sistem dan gangguan dari luar sistem.
Sistem psikis dan sistem sosial berevolusi bersama. Masing-masing adalah lingkungan yang diperlukan untuk masing-masing sistem. Elemen-elemen dari sistem makna psikis adalah representasi konseptual, elemen-elemen dari sistem makna sosial adalah komunikasi. Akan keliru untuk menganggap bawa makna di dalam sistem psikis mempunyai prioritas di atas makna di dalam sistem sosial. Karena keduanya adalah sistem autopoietic, keduanya memproduksi makna masing-masing dari prosesnya sendiri-sendiri. Dalam sistem psikis, makna dikaitkan dengan kesadaran, sedangkan dalam sistem sosial makna dikaitkan dengan komunikasi. Makna dalam sistem sosial tidak dapat dianggap berasal dari niat individu, atau properti dari elemen khusus dari sistem sosial; sebaliknya; makna mengacu pada seleksi dari antarelemen. Makna dari apa-apa yang di komunikasikan diturunkan dari perbedaannya dari apa-apa yang dapat komunikasikan. Misalnya, “Halo” “Ada apa?” “Bagaimana kabarmu?” “Selamat siang”. Dan “Hei!” mungkin berasal dari niat yang sama yaitu memberi salam. Tetapi, jika seorang kawan mengatakan “Selamat siang” ketika dia bia menggunakan “Hei!” maka beberapa makna akan dikomunikasikan. Makna tak selalu diniatkan, atau dikaitkan dengan kata-kata tertentu. Makna berasal dari pemilihan kata-kata khusus dalam perbandingan terhadap kata-kata yang dapat dipilih. Makna berasal dari kontingensi dari kata-kata yang dipilih.

Kontingensi Ganda (Double Contingency)
Sistem sosial yang didasarkan pada komunikasi menciptakan struktur sosial untuk memecahkan apa yang disebut Luhmann, “problem kontingensi ganda” Parsons (1951) juga membahas problem kontingensi ganda ini, tetapi dia membatasi solusinya pada konsensus nilai yang sudah ada sebelumnya. Luhmann mengakui kemungkinan bahwa konsensus nilai baru dapat diciptakan (Vanderstraeten, 2002). Kontingensi ganda mengacu pada fakta bahwa setiap komunikasi harus mempertimbangkan cara komunikasi itu diterima. Tetapi, kita juga tahu bahwa cara ia diterima akan tergantung kepada estimasi penerima terhadap komunikator. Ini membentuk lingkaran yang mustahil: penerima tergantung kepada komunikator, dan komunikator tergantung kepada penerima. Misalnya, seorang profesor, dalam memilih memberi salam kepada mahasiswanya, akan menggunakan bentuk informal, “Hai!” jika dia menganggap bentuk itu akan terdengar lebih bersahabat (komunikator mempertimbangkan si penerima). Tetapi, jika mahasiswa yang diberi salam itu mengira profesor itu menyombongkan diri di hadapannya, maka dia tidak akan menganggap ucapan itu bersahabat (penerima mempertimbangkan komunikator). Semakin sedikit yang kita ketahui tentang ekspektasi orang lain, semakin besar problem kontingensi gandanya.
Untungnya, kita hampir selalu tahu banyak tentang ekspektasi orang lain karena ada struktur sosial. Dalam contoh di atas, kita tahu bahwa orang yang terlibat adalah profesor dan mahasiswa. Berdasarkan ini saja, kita memperkirakan bahwa mereka akan mempunyai hubungan tertentu yang sesuai dengan peran dan tradisi institusionalnya. Kita akan mengetahui ekspektasi orang lain dengan mengetahui jenis kelaminnya, etnisnya, usianya, pakaiannya, dan sebagainya. Karena ekspektasi ini, norma dan peran ekspektasi berkembang untuk menginterpretasikan komunikasi orang. Masing-masing orang sesuai dengan ekspektasi norma dan peran atau mungkin juga tidak. Jika kita menemukan sejumlah contoh yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, maka ekspektasi kita mungkin berubah, tetapi masyarakat tak pernah melakukannya tanpa ekspektasi karena problem kontingensi ganda ini.
Adalah karena masing-masing dari kita memiliki seperangkat norma yang berbeda sehingga komunikasi menjadi diperlukan, dan karena komunikasi ini memiliki problem kontingensi ganda maka kita mengembangkan seperangkat norma. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat sebagai sistem autopoietic bekerja: struktur (peran, norma institusional dan tradisional) dari masyarakat menciptakan elemen-elemen (komunikasi) masyarakat dan elemen-elemen itu menciptakan struktur, sehingga, sebagaimana dalam sistem autopoietic lainnya, sistem tersebut menyusun elemennya sendiri.
Karena kontingensi ganda, setiap komunikasi tertentu (given) adalah mustahil. PERTAMA, adalah mustahil bahwa kita akan mempunyai sesuatu yang ingin kita komunikasikan kepada orang tertentu. KEDUA, karena informasi dapat dikomunikasikan dengan sejumlah cara, maka tidak mungkin kita akan memilih cara khusus saja. KETIGA, adalah mustahil bahwa orang yang kita ajak berbicara akan memahami kita dengan tepat. Struktur sosial berkembang untuk menjadikan komunikasi yang mustahil (improbable) menjadi lebih mungkin (probable). Misalnya, mengatakan “selamat siang” kepada orang tertentu pada waktu tertentu adalah tidak mungkin, tetapi struktur sosial membuat salam menjadi normatif pada lingkungan tertentu, memberi kita sejumlah cara terbatas yang dapat diterima untuk memberi salam kepada orang-orang, dan memastikan bahwa pihak yang disapa akan memahami ucapan salam dengan cara yang hampir sama dengan yang dimaksudkan oleh si pemberi salam.
Kemustahilan (improbability) yang kita diskusikan sejauh ini mengacu hanya kepada interaksi, tetapi masyarakat adalah lebih dari sekadar kumpulan interakal independen. Interaksi hanya bertahan selama orang yang terlibat dalam komunikasi itu hadir, tetapi, dari sudut pandang masyarakat, interaksi adalah episode-episode dalam proses sosial yang terus berjalan. Setiap sistem sosial dihadapkan dengan sebuah problem: ia akan berhenti eksis jika tidak ada jaminan komunikasi lebih lanjut, yaitu tak ada kemungkinan menghubungkan komunikasi sebelumnya dengan komunikasi masa depan. Untuk menghindari keterputusan komunikasi, struktur harus dikembangkan agar mengizinkan komunikaa terdahulu berhubungan dengan komunikasi yang kemudian. Seleksi yang dilakukan dalam satu komunikasi dibatasi oleh seleksi yang dilakukan dalam komunikasi sebelumnya, dan komunikasi sekarang juga membatasi komunikasi masa depan. Ini adalah cara lain di mana ketidakmungkinan proses komunikasi diatasi dan diubah menjadi kemungkinan oleh sistem sosial. Kebutuhan untuk mengatasi kontingensi ganda dan memungkinkan komunikasi yang tak mungkin inilah yang mengatur evolusi dari sistem sosial.

Evolusi Sistem Sosial
Evolusi secara sederhana adalah sebuah proses trial-and-error. Evolusi bukan teleologis. Hasilnya tidak diatur oleh tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Salah satu implikasinya adalah bahwa, dalam teori Luhmann, ide kemajuan menjadi tidak ada artinya. Ini membedakannya dari ide evolusioner universal masyarakt modern dari Parsons. Mengasumsikan satu jalan pasti dari perkembangan kemasyarakatan adalah teleologis dan mengabaikan fakta bahwa ada variasi jalan untuk menghadapi masalah tertentu.
Pada tingkat umum, evolusi membuat kemustahilan menjadi lebih mungkin. Misalnya, adalah mustahil bahwa serangkaian mutasi biologis acak akan menghasilkan hewan tertentu seperti manusia. Seleksi alam dan warisan karakteristik yang stabil menjadikannya lebih mungkin bahwa kera akan berevolusi menjadi sesuatu seperti manusia ketimbang menjadi cumi-cumi.
Secara ketat, dapat dikatakan bahwa evolusi bukan sebuah proses, tetapi seperangkat proses yang dapat dideskripsikan sebagai pelaksanaan tiga fungsi: varian, seleksi, dan stabilisasi karakteristik yang dapat direproduksi. Fungsi-fungsi ini merepresentasikan mekanisme konkret yang dengannya evolusi itu beroperasi. Variasi adalah proses trial-and-error. Jika sebuah sistem menghadapi problem yang unik, suatu variasi solusi mungkin akan berkembang untuk menangani gangguan lingkungan. Beberapa dari solusi ini akan berhasil, dan yang lainnya mungkin tidak. Seleksi atas solusi tertentu bukan berarti bahwa yang dipilih adalah solusi yang “terbaik”. Ini mungkin berarti bahwa solusi tertentu adalah yang paling mudah untuk menstabilkan, atau dengan kata lain, solusi yang paling mudah untuk mereproduksi struktur yang stabil dan tahan lama. Dalam sistem sosial, stabilisasi ini biasanya menyangkut jenis diferensiasi yang memerlukan penyesuaian dari semua bagian sistem kepada solusi baru. Proses evolusioner akan mencapai akhir temporer hanya ketika stabilisasi telah selesai.
Mari kita ambil contoh dari ekonomi. Salah satu problem yang dihadapi ekonomi adalah bagaimana menukarkan barang-barang secara ekual dengan sistem ekonomi lainnya yakni bagaimana ekonomi menggunakan mata uang dollar untuk menjual barang-barang kepada sistem ekonomi yang menggunakan mata uang yen? Variasi dari solusi yang berbeda akan berkembang (varian evolusioner). Beberapa sistem terdahulu mengawali pertukaran “hadiah” mengeliminasi perhatian pada ekualitas pasti dari barang-barang yang dipertukarkan. Yang lainnya menggunakan komoditas yang stabil seperti emas untuk mengatur pertukaran itu. Kedua solusi itu ternyata sulit untuk direproduksi pada skala global. Untuk solusi pertama, tak banyak yang bisa ditukarkan sebagai hadiah, sedangkan solusi kedua, nilai komoditas seperti emas tidak selalu stabil karena emas yang tersedia pada waktu tertentu berubah-ubah. Sebaliknya, bentuk yang lebih dapat direproduksi (reproducible) adalah membangun struktur baru, pasar pertukaran uang (valas), yang beroperasi di tingkat global dan memberikan nilai tukar mata uang yang mengambang (seleksi evolusioner). Ini mungkin bukan solusi terbaik karena ia rawan terhadap fluktuasi yang diakibatkan oleh para spekulan, seperti tampak dalam krisis finansial “Asia” pada 1998. Akan tetapi, adalah satu-satunya solusi yang tampaknya dapat direproduksi pada skala global (stabilisasi evolusioner). Tentu saja, reproduksibilitas dari solusi ini bukan berarti bahwa solusi lainnya lenyap. Negara masih menukarkan hadiah, khususnya dengan kepala negara melalui diplomat, dan banyak negara mencoba mematok nilai tukar mereka menjadi tetap dengan mengikatkannya pada komoditas seperti emas, atau bahkan dengan mata uang lain seperti dollar Amerika.

Diferensiasi
Dari sudut pandang teori sistem Luhmann, ciri utama dari masyarakat modern adalah meningkatnya proses diferensiasi sistem sebagai cara menghadapi kompleksitas lingkungannya (Rasch, 2000). Diferensiasi adalah “replikasi, di dalam sistem, dari perbedaan antara sebuah sistem dan lingkungannya” (1982:230). Ini berarti bahwa dalam sistem diferensial ada dua jenis lingkungan yang lazim untuk semua subsistem dan sebuah lingkungan internal yang berbeda untuk masing-masing subsistem. Misalnya, pabrik mobil, seperti Ford, melihat pabrik-pabrik lainnya, General Motor dan Daimler Chrysler, misalnya, sebagai bagian dari lingkungannya. Departemen relasi internasional (subsistem) dari Ford juga melihat General Motors dan Chrysler sebagai di luar dan bagian dari lingkungannya. Akan tetapi, departemen relasi internasional juga melihat subsistem lainnya di dalam Ford (seperti departemen relasi manusia [subsistem]) sebagai di luar subsistem relasi internasional dan karena itu bagian dari lingkungannya. Subsistem lainnya, seperti departemen relasi manusia, adalah internal untuk sistem organisasi secara keseluruhan, tetapi berada dalam lingkungan subsistem internasional, dan karena itu sebuah lingkungan internal. Demikian pula, subsistem relasi manusia melihat pabrik lain sebagai bagian lingkungannya, tetapi selain itu ia melihat subsistem lainnya (kali ini termasuk subsistem relasi internasional) sebagai bagian dari lingkungannya. Oleh karena itu, masing-masing subsistem mempunyai pandangan yang berbeda tentang lingkungan internal dari sistem. Ini menciptakan lingkungan internal yang sangat kompleks dan dinamis.
Diferensiasi di dalam sistem adalah cara penanganan perubahan dalam lingkungan. Seperti yang sudah kita lihat, masing-masing sistem harus menjaga batas-batasnya dalam hubungannya dengan lingkungan. Jika tidak ia akan dikuasai oleh kompleksitas lingkungannya, ambruk dan berhenti eksis. Untuk bertahan hidup, sistem harus mampu menghadapi variasi lingkungannya. Misalnya, sudah diketahui bahwa setiap organisasi skala besar menyesuai diri secara pelan dengan perubahan lingkungannya (misalnya, tuntutan oleh publik, perubahan politik, atau bahkan perubahan teknologi seperti tersedianya komputer). Akan tetapi, organisasi itu berkembang; mereka berevolusi dengan menciptakan diferensiasi di dalam sistem. Yakni, perubahan lingkungan akan “diterjemahkan” ke dalam struktur organisasi. Contohnya adalah penciptaan oleh pabrik mobil sebuah departemen baru yang menangani situasi baru seperti hadirnya komputer di tempat kerja. Karyawan baru akan disewa, mereka akan dilatih untuk menangani teknologi baru, seorang manajer akan dipilih, dan seterusnya.
Proses diferensiasi ini berarti meningkatkan kompleksitas sistem, karena subsistem dapat membuat hubungan yang berbeda-beda dengan sistem lainnya. Ia menghasilkan lebih banyak variasi di dalam sistem untuk merespon variasi di lingkungan. Dalam contoh di atas, departemen baru itu adalah, seperti departemen sistem birokrasi lainnya, sebuah lingkungan untuk departemen lainnya, tetapi ia meningkatkan kompleksitas organisasional karena relasi tambahan baru antardepartemen menjadi mungkin. Departemen yang baru yang diciptakan untuk menyervis komputer pekerja akan lebih mampu beradaptasi dengan perubahan dalam teknologi komputer dan membantu seluruh organisasi untuk berintegrasi dengan kapabilitas baru ini. Selain itu, ia mungkin menyediakan koneksi baru antardepartemen yang ada, seperti mengizinkan akunting umum disentralisasikan atau tenaga penjualan dapat mengakses inventori secara langsung.
Lebih banyak variasi yang dihasilkan oleh diferensiasi bukan hanya akan menghasilkan respon yang lebih baik terhadap lingkungan, tetapi ia juga mempercepat evolusi. Ingat bahwa evolusi adalah proses seleksi dari variasi. Semakin banyak variasi yang tersedia, semakin baik seleksinya. Akan tetapi, Luhmann menyatakan bahwa hanya sedikit bentuk diferensiasi internal yang telah berkembang. Dia menyebut ini segmentasi, stratifikasi, pusat-pinggiran, dan diferensiasi fungsional. Diferensisasi-diferensiasi ini meningkatkan kompleksitas dari sistem melalui repetisi diferensiasi antara sistem dan lingkungan di dalam sitem. Dari segi potensi evolusionernya, bentuk-bentuk diferensiasi ini mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk menghasilkan keragaman dan karena itu menyediakan lebih banyak pilihan untuk proses evolusi. Semakin kompleks bentuk diferensiasi akan berpotensi mempercepat evolusi sistem.

Segmentary Differentiation
Diferensiasi segmentasi ini membagi bagian-bagian dari sistem berdasarkan kebutuhan untuk memenuhi fungsi-fungsi yang identik secara terus-menerus. Misalnya, pabrik mobil kita berfungsi sama dengan pabrik-pabrik untuk produksi mobil di lokasi yang lain. Setiap lokasi diorganisasikan dengan cara yang hampir sama, masing-masing memiliki struktur yang sama dan memenuhi fungsi yang sama yakni membuat mobil.

Diferensiasi Stratifikasi
Diferensiasi ini adalah diferensiasi vertikal berdasarkan urutan atau status dalam sistem yang dibayangkan sebagai hierarki. Setiap urutan memenuhi fungsi yang khusus di dalam sistem. Dalam pabrik mobil, kita menjumpai urutan yang berbeda-beda. Misalnya, manajer departemen relasi internasional yang baru menduduki urutan atas di dalam hierarki departemen ini. Manajer mempunyai fungsi menggunakan kekuasaannya untuK mengarahkan operasi dari departemen itu. Kemudian ada variasi karyawan jajaran rendah di departemen tersebut yang menangani berbagai fungsi spesifik (misalnya, mengetik). Selain itu, manajer departemen relasi internasional mempunyai posisi dalam sistem stratifikasi pabrik mobil. Oleh karena itu presiden perusahaan mempunyai posisi yang lebih tinggi ketimbang manajer relasi internasional dan mempunyai wewenang untuk memerintah sang manajer.
Dalam diferensiasi segmentasi, ketimpangan berasal dari variasi aksidental dalam lingkungan (seperti lebih banyak mobil yang terjual di satu daerah tertentu ketimbang daerah lain), tetapi ia tidak mempunyai fungsi sistemik. Akan tetapi dalam diferensiasi stratifikasi, ketimpangan itu adalah esensial untuk sistem. Lebih tepat lagi, kita melihat interplay dari ekualitas dan inekualitas. Semua anggota dalam jajaran yang sama (misalnya semua pengetik komputer) pada dasarnya adalah sederajat, sedangkan jajaran yang berbeda akan dibedakan berdasarkan inekualitas mereka. Jajaran yang lebih tinggi (misalnya manajer departemen) mempunyai lebih banyak akses ke sumber daya dan kemampuan lebih besar untuk menjadi subjek dari komunikasi influensial. Konsekuensinva sistem yang terstratifikasi lebih memperhatikan kesejahteraan dari mereka yang berada di jajaran atas dan pada umumnya memperhatikan jajaran rendahan hanya jika mereka mengancam jajaran atas, akan tetapi, kedua jajaran itu saling tergantung, dan sistem sosial dapat bertahan jika semua jajaran, termasuk yang paling rendah, berhasil merealisasikan fungsi-fungsi mereka.
Arti penting dari jajaran bawah dan kesulitan mereka untuk menjadi subjek komunikasi influensial menciptakan problem struktural yang membatasi kompleksitas sistem. Ketika mereka yang mengarahkan sistem menjadi terlalu jauh dari jajaran bawah, sistem cenderung ambruk karena fungsi penting dari jajaran yang di bawah tidak berfungsi dengan benar. Agar memengaruhi sistem jajaran di bawah harus mengandalkan konflik.

Diferensiasi Pusat-Pinggiran
Tipe ketiga diferensiasi, antara pusat (centre) dan pinggiran (periphery), adalah kaitan antara diferensiasi segmentasi dengan stratifikasi (Luhmann, 1997:663-678). Misalnya, beberapa perusahaan mobil membangun pabrik di negara lain; meski demikian, kantor pusatnya tetap di pusat, berkuasa dan, pada tingkat tertentu, mengontrol pabrik-pabrik di pinggiran. [Muncul keberatan (Schimank, 1996) bahwa diskusi ini tidak sesuai dengan argumen umum Luhmann. Diferensiasi antara pusat dan pinggiran tidak mengacu kepada sistem sosial secara keseluruhan. Dalam contoh di atas ia mengacu pada diferensiasi fungsi di dalam sistem industri. Jadi ia mengacu pada sistem spesifik di dalam sistem sosial dan tidak mengacu pada sistem sosial secara keseluruhan.]

Diferensiasi Sistem Fungsional
Diferensiasi fungsional adalah bentuk diferensiasi paling kompleks dan bentuk yang mendominasi masyarakat modern. setiap fungsi di dalam sistem dianggap berasal dari unit tertentu. Misalnya, pabrik mobil mempunyai departemen yang berbeda secara fungsional seperti produksi, administrasi, akuntansi, perencanaan dan personalia.
Diferensiasi fungsional lebih fleksibel ketimbang diferensiasi stratifikasi, tetapi jika satu sistem gagal untuk memenuhi tugasnya, maka seluruh sistem akan mengalami kendala besar untuk bertahan [sebagian besar sistem yang didiskusikan di sini juga dapat disebut subsistem dari sistem sosial dunia. Akan tetapi, kami akan menggunakan istilah sistem ketimbang subsistem kecuali ketika ia diperlukan untuk membedakan antara subsistem dan sistem yang melingkupinya.] Akan tetapi, selama masing-masing unit menjalankan fungsinya, unit-unit yang berbeda dapat mencapai derajat independensi yang tinggi. Sesungguhnya sistem yang didiferensiasikan fungsional adalah campuran kompleks dari interdependensi dan indepedennsi. Misalnya, sementara divisi perencanaan adalah tergantung kepada divisi akuntansi untuk data ekonomi, selama angka-angkanya akurat, maka divisi perencanaan dapat mengabaikan bagaimana cara akuntan menghasilkan data.
Ia menunjukkan perbedaan lebih jauh antara bentuk-bentuk diferensiasi. Dalam kasus diferensiasi segmentasi, jika satu segmen gagal menjalankan fungsinya, (misalnya salah satu dari pabrik pembuat mobil tidak dapat menghasilkan mobil karena pemogokan buruh), ia tidak mengancam sistem. Akan tetapi, dalam bentuk diferensiasi yang lebih kompleks, seperti diferensiasi fungsional, kegagalan akan menyebabkan problem untuk sistem sosial, dan mungkin mengakibatkan keruntuhan. Jadi, di satu sisi, pertumbuhan kompleksitas meningkatkan kemampuan dari sistem untuk menangani lingkungannya. Di lain pihak. kompleksitas meningkatkan resiko keruntuhan sistem jika satu fungsi tidak terpenuhi dengan benar.
Akan tetapi, dalam sebagian besar kasus, peningkatan kerentanan ini adalah yang harus dibayar untuk peningkatan kemungkinan hubungan antara subsistem-subsistem yang berbeda. Mempunyai lebih banyak tipe relasi antara berarti juga lebih banyak penggunaan variasi untuk memilih respon struktural terhadap perubahan dalam lingkungan. Dalam sistem segmentasi, relasi antarsubsistem yang berbeda tidaklah berbeda secara struktural. Misalnya, relasi setiap dua pabrik dengan pabrik dengan lainnya pada dasarnya adalah sama. Dalam sistem yang terstratifikasi, relasi antarjajaran pada dasarnya berbeda dengan yang di dalam jajaran. Misalnya, relasi pabrik dengan kantor pusatnya berbeda dengan relasi antara pabrik dengan pabrik lainnya. Dalam sistem yang didiferensiasikan secara fungsional, relasinya semakin berbeda. Hubungan departemen akuntansi dan produksi berbeda dengan hubungan antara departemen produksi dan riset. Diferensiasi fungsional memberi fleksibilitas yang lebih besar kepada pabrik. Jadi, misalnya, dalam lingkungan di mana kemajuan teknis memberi peluang untuk keuntungan ekonomi, perusahaan dapat dipimpin oleh bagian riset, tetapi dalam lingkungan di mana ada keunggulan ekonomi, maka perusahaan dapat dipimpin oleh bagian akuntansi.
Kita harus mencatat bahwa bentuk diferensiasi yang lebih kompleks tidak mengesampingkan bentuk yang kurang kompleks, dan, dalam kenyataannya. mereka mungkin memerlukan bentuk yang kurang kompleks. Misalnya, pabrik mobil distratifikasikan, tetapi ia masih mengandung pabrik individual yang berbentuk segmentasi. Ini adalah penting, karena kita biasanya berbicara tentang sistem yang didiferensiasikan secara fungsional di dalam masyarakat modern untuk mendeskripsikan mode dominan dari diferensiasinya; meski demikian. bentuk-bentuk lainnya tetap eksis.

Kode
Sebuah kode (code) adalah satu cara untuk membedakan elemen-elemen sistem dari elemen-elemen yang tidak termasuk sistem. Sebuah kode adalah “bahasa” dasar dari sistem fungsional. Kode-kode itu adalah, misalnya. kebenaran (versus ketidakbenaran) untuk sistem sains, pembayaran (versus nonpembayaran) untuk sistem ekonomi, dan legal (versus ilegal) untuk sistem hukum. Setiap komunikasi yang menggunakan kode tertentu adalah bagian dari sistem yang referensi kodenya dipakai.
Kode dipakai untuk membatasi jenis komunikasi yang diperbolehkan. Setiap komunikasi yang tidak menggunakan kode itu bukan komunikasi yang masuk pada sistem terkait. Jadi, di dalam sistem ilmiah (scientific) kita biasanya menemukan komunikasi yang hanya mengacu kepada kode kebenaran (code of truth). Misalnya, jika kepala NASA (National Aeronautics and Space Administration) dan kepala NIH (National Institutes of Health) bertemu untuk mendiskusikan fakta-fakta yang ditemukan mengenai penuaan John Glenn penerbangan pada 1998, pertemuan itu akan menjadi bagian dari sistem ilmiah yang menggunakan kode kebenaran atau kesalahan. Jika beberapa orang yang sama bertemu untuk mendiskusikan siapa yang akan membayar riset pesawat ruang angkasa, maka ini adalah sistem ekonomi dengan menggunakan kode pembayaran atau nonpembayaran.
Dalam teori sistem Luhmann, tidak ada sistem yang menggunakan dan memahami kode sistem lainnya. Tidak ada cara untuk menerjemahkan kode satu sistem ke dalam kode sistem lainnya. Karena sistem-sistem itu tertutup, mereka dapat bereaksi hanya kepada hal-hal yang terjadi dalam lingkungan mereka (jika yang terjadi itu menimbulkan cukup banyak “kebisingan” hingga diperhatikan oleh sistem). Tetapi, sistem itu harus mendeskripsikan kebisingan atau gangguan dalam lingkungan yang berhubungan dengan kodenya sendiri. Ini adalah satu-satunya cara untuk memahami apa yang terjadi, satu-satunya cara untuk memberi makna kepadanya. Misalnya, sistem ekonomi akan “melihat” sistem ilmiah hanya dari segi apa yang bisa menghasilkan uang (memungkinkan pembayaran di masa depan) atau memerlukan investasi (memerlukan biaya awal sebelum mendapatkan pembayaran kembali).

Problem Diferensiasi Fungsional
Diferensiasi fungsional menyebabkan setidaknya satu problem sentral untuk masyarakat modern. Apa yang diperlukan masyarakat secara keseluruhan mungkin tidak ditangani oleh sistem fungsional apa pun. Sistem fungsional mungkin tidak mempunyai kode yang dapat merepresentasikan problem secara memadai. Misalnya, sistem ekonomi tidak dapat merepresentasikan problem ekologis secara memadai, karena sebagian besar polusi secara ekonomis adalah rasional. Sistem legal mungkin mempunyai undang-undang yang ditujukan untuk membatasi polusi udara, tetapi undang-undang tersebut diinterpretasikan dalam sistem ekonomi dari pencemaran udara. Ini ditunjukkan oleh contoh dari bekas Cekoslowakia, di mana di sana ada pembatasan pencemaran udara secara legal. Industri-industri bereaksi terhadap aturan ini dengan membangun cerobong asap lebih tinggi lagi, mengakibatkan penyebaran polusi lebih meluas dan karena itu menurunkan tingkat polusi udara di dekatnya. Reaksi ini bertentangan dengan maksud dari undang-undang tersebut, tetapi ini adalah reaksi yang sesuai dengan kode sistem ekonomi; ini adalah cara untuk meminimalkan biaya. Proteksi yang lebih baik terhadap polussi udara akan membutuhkan lebih banyak biasa ketimbang dengan membangun cerobong yang lebih tinggi.
Problem-problem seperti itu umumnya diakibatkan oleh diferensiasi fungsioanal. Diferensiasi fungsional memerlukan pembuangan problem dari level masyarakat ke level subsistem. Setiap subsistem mendapatkan independensi dan fleksibilitas dalam membuat keputusan dengan kodenya masing-masing. Akan tetapi, masing-maisng tergantung kepada subsistem lainnya untuk menggerakkan sosial secara keseluruhan. Ringkasnya, akibat dari independensi sistem fungsional yang lebih besar adalah sistem sosial secara keseluruhan menjadi semakin rentan.
Luhmann menginvestigasi hubungan problematik antara diferensiasi fungsional masyarakat modern dengan usahanya untuk mengatasi problem ekologi (1986/1989). Segala sesuatu yang terjadi dalam lingkungannya (perhatikan makna ganda dari istilah ini: lingkungan dari suatu sistem dan lingkungan alam) harus dibicarakan di dalam sistem fungsional yang ada dan kode-kodenya. Ini berarti bahwa setiap problem dalam lingkungan adalah problem untuk sistem hanya jika ia dapat direpresentasikan dalam kode sistem tersebut. Misalnya, hukum dapat bergerak melawan pihak pencemar hanya jika apa yang mereka lakukan direpresentasikan sebagai tindakan melanggar hukum (ilegal). Jadi, adalah mungkin bahwa problem ekologi tidak akan ditangani secara memadai. Yang lebih penting adalah kesimpulan umum: diferensiasi fungsional dapat dibayangkan sebagai faktor penyebab dari krisis ekologis (Luhmann, 1986/ 1989:42).
Sistem fungsional menghasilkan terlalu banyak dan terlalu sedikit resonansi (resonance) terhadap problem dalam lingkungan mereka. Terlalu sedikit resonansi berarti bahwa sebuah sistem tidak bereaksi dengan baik terhadap problem yang tidak dapat direpresentasikan oleh kode-kodenya. Misalnya, kelompok lingkungan mungkin melawan industri mobil dengan tuntutan agar produksi mobil tidak menimbulkan banyak polusi; akan tetapi, industri mobil tidak mungkin bereaksi terhadap tuntutan itu kecuali protes-protes itu mulai memengaruhi profit industri tersebut. Terlalu banyak resonansi berarti bahwa penanganan problem ekologi di dalam sistem fungsional mungkin menghasilkan reaksi dalam sistem fungsional lainnya karena sistem-sistem itu saling tergantung (interdependent). Misalnya, industri mobil mungkin memproduksi mobil tanpa banyak menimbulkan polusi dengan cara membuat mobil yang lebih kecil, ringan dan konsekuensinya, lebih murah. Ini dapat mengandung konsekuensi bahwa pengembangan sistem transportasi akan melambat karena setiap orang dapat membeli mobil. Selain itu, adalah mungkin bahwa ini juga akan meningkatkan jumlah kecelakaan lalu lintas dan, karena itu, meningkatkan biaya dalam sistem kesehatan. Reaksi terhadap tuntutan kelompok lingkungan menimbulkan konsekuensi yang tak terduga di dalam sistem fungsional yang saling tergantung dan kompleks.

Sosiologi Pengetahuan Luhmann
Menurut Luhmann, pertanyaan prinsip untuk sosiologi adalah: Apakah masyarakat itu? Ini adalah titik awal dari usaha Luhmann untuk mengembangkan sebuah teori sistem (1987). Sosiologi, sebagai ilmu tentang masyarakat, hanya mungkin terwujud apabila ada konsep tentang masyarakat yang didefinisikan dengan jelas. Teori sistem Luhmann mendefinisikan masyarakat sebagai “semuaa yang mencakup sistem sosial termasuk semua sistem kemasyarakatan lainnya” (1997:78; diterjemahkan oleh salah seorang penulis). Ini mengimplikasikan bahwa konsep masyarakat identik dengan konsep masyarakat dunia; hanya akan ada satu konsep masyarakat. Sistem sosial adalah setiap sistem yang menghasilkan komunikasi sebagai elemen dasarnya untuk mereproduksi dirinya sendiri. Sistem kemasyarakatan (societal) adalah sistem fungsional seperti ekonomi, sains, dan hukum di dalam semua sistem masyarakat yang serba meliputi. Sejak publikasi awal Social Systems (1984/1995) Luhmann telah memperdalam dan menerapkan pendekatannya ini untuk berbagai sistem fungsional di dalam sistem masyarakat, seperti ekonomi (Luhmann, 1988), sains (Luhmann, 1990), hukum (Luhmann, 1993) dan seni (Luhmann, 1995). berusaha menunjukkan kegunaan dari teori umumnya untuk analisis setiap sistem yang dideferensiasikan secara fungsional. Dia juga mendiskusikan isu yang menyinggung sistem fungsional, khususnya komunikasi resiko ekologi (Luhmann, 1986/1989) dan penggunaan konsep umum tentang resiko (Luhmann, 1991).
Sebuah masyarakat dunia yang serba meliputi (all-encompassing) tidak punya batas-batas dalam ruang dan waktu; dalam satu pengertian, sebuah masyarakat dunia tidak punya “alamat” dan tak ada masyarakat lain dalam lingkungan itu. Lalu bagaimana masyarakat dapat diamati? Hanya ada satu jawaban: Suatu masyarakat dapat diamati hanya dari perspektif di dalam masyarakat, yaitu melalui sistem fungsional dari masyarakat. Akan tetapi, tidak sistem fungsional yang mempunyai perspektif “yang benar” untuk observasi masyarakat. Setiap perspektif adalah sah. Lalu bagaimana kita dapat sampai pada jalan tunggal untuk mencipatkan informasi tentang dunia sosial? Sesungguhnya, tidak ada jalan untuk menciptakan perspektif sederhana semacam itu. Tidak ada sudut pandang superior terhadap sudut pandang lainnya. Oleh karena itu, perspektif yang dipakai umum tidak pernah dapat dicapai karena tidak ada kemungkinan mengevaluasi pandangan pesaing. Misalnya, jika kita sebagai sosiolog ingin mengetahui sesuatu tentang masyarakat, kita sudah terbiasa dengan pencarian pengetahuan sosiologis. Menurut argumen Luhmann, pencarian ini juga akan mungkin lewat membaca koran, buku, menonton televisi, atau berbicara dengan teman. Masing-masing metode ini adalah cara yang sah untuk mendapatkan informasi tentang masyarakat. Sistem sains atau sistem lainnya tak punya privilese dalam hal ini. Jika tidak ada sistem fungsional yang memiliki kedudukan lebih tinggi untuk mengamati dan karena itu untuk mendeskripsikan masyarakat sebagai sistem, kita punya persoalan dengan variasi observasi terhadap masyarakat yang tak terbatas dan sama-sama valid.
Luhmann (2002) mencoba mencari cara di mana kita bagaimanapun juga dapat sampai ke pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat mendeskripsikan dirinya melalui, misalnya, legenda dan mitos di masa kuno dan pengetahuan ilmiah di masa modern. Akan tetapi, sosiolog mampu untuk mengamati observasi ini. Dan karena para sosiolog sebagai pengamat sekunder mampu mengamati observasi pertama, mereka dapat menarik kesimpulan tentang relasi antara masyarakat dan semantiknya, yakni, deskripsi diri dari masyarakat. Ini adalah kunci untuk mengetahui tentang masyarakat mengamati semantik masyarakat (semantics of society), yaitu “komunikasi tentang komunikasi”, yang menyusun sistem masyarakat.
Luhmann berusaha menunjukkan bahwa observasi atas masyarakat tidaklah arbitrer karena “ada kondisi struktural untuk representasi yang masuk akal, dan ada tren historis dalam evolusi semantik yang sangat membatasi luasnya variasi. Teori sosiologi mampu mengenali koneksi-koneksi dari jenis korelasi antara struktur sosial dan semantik” (1997:89; diterjemahkan oleh salah seorang penulis). Studi Luhmann merekonstruksi penggunaan historis dan makna istilah itu dalam kaitannya dengan perubahan struktur sosial, mengambil semantik sebagai sebuah ekspresi dari interpretasi struktur sosial. Jadi, cara yang tepat untuk mengamati masyarakat secara sosiologis adalah investigasi perubahan semantik dalam relasinya dengan struktur sosial yang berubah. Luhmann telah berusaha keras menjelaskan perkembangan, misalnya, semantik moralitas, individualitas, hukum, pengetahuan (1980/1981/1989/1995), puisi (2001), dan cinta (1982/1986). Metode ini adalah bagian dari sosiologi pengetahuan dan dapat dipakai dalam tugas umum pengembangan teori tentang masyarakat.

Kritik
Ringkasnya, teori Luhmann tentang masyarakat modern dan konsepnva tentang masyarakat merupakan alat analitik yang sangat maju yang membuat sosiologi dapat memperoleh perspektif segar tentang problem di masyarakat (dan di dalam sosiologi) dewasa ini. Teori umum evolusi dan diferensiasi, dan pemikiran Luhmann tentang sistem spesifik seperti sains dan ekonomi, membuka area teori dan riset baru. Perbedaan dasar antara sistem dan lingkungan membuka kemungkinan riset interdisipliner baru yang didasarkan pada asumsi bahwa kompleksitas adalah problem besar yang menghubungkan bidang-bidang terpisah dari ilmu manusia dan ilmu alam (Luhmann, 1985).
Ada sejumlah kritik terhadap teori sistem Luhmann (Bliihdom, 2000), tetapi hanya akan meninjau empat kritik secara ringkas. Pertama, banyak teoritisi, termasuk Jurgen Habermas, mengatakan bahwa yang dilihat Luhmann sebagai keniscayaan perkembangan evolusioner sesungguhnya adalah bersifat regresif dan tidak mesti (unnecessary). Masyarakat kenyataannya mungkin berkembang menjadi sistem dunia yang terdiferensiasi secara fungsional dan tertutup yang tak mampu bertindak atas dunia sosial secara keseluruhan, tetapi ini adalah sesuatu yang harus dilawan. Teori seharusnya dikembangkan untuk membantu mengatasi kecenderungan ini, bukan membuatnya tak terhindarkan, seperti yang dilakukan Luhmann. Kedua, dalam teori Luhmann, diferensiasi adalah kunci untuk mendeskripsikan perkembangan masyarakat dan meningkatnya kompleksitas sistem sosial dalam menghadapi lingkungannya (Rasch, 2000). Tetapi, kita juga dapat menemukan dua proses yang berbeda dalam masyarakat kontemporer. Yang satu adalah de-dirensiasi (Lash, 1988), yaitu, proses pembubaran batas-batas antarsistem , misalnya antara kultur tinggi dan kultur populer. Yang satunya lagi adalah letrasi (R. Miinch, 1987), yaitu, proses pembentukan institusi untuk memperantarai sistem-sistem sosial. Teori sistem Luhmann cenderung melihat proses-proses ini sebagai antievolusioner karena evolusi didefinisikan sebagai peningkatan diferensiasi. Adalah mungkin bahwa teori Luhmann dapat mengakui de-diferensiasi dan interpenetrasi sebagai sumber valid dari variabilitas evolusioner, tetapi ini berarti akan membubarkan fokus pada diferensiasi yang terbukti sangat berharga secara teoritis. Ketiga, teori sistem Luhmann tampaknya terbatas kemampuannya untuk mendeskripsikan relasi antarsistem. Tidak semua sistem tampak tertutup dan seperti yang diasumsikan Luhmann. Bukan hanya beberapa sistem tampaknya bisa menerjemahkan kode masing-masing pihak, tetapi terkadang mereka menggabungkan sistem lain dengan elemen mereka sendiri. Yang paling jelas adalah cara di mana sistem sosial menggabungkan sistem psikis. Makna dari komunikasi di dalam sistem sosial tidak sepenuhnya ditentukan oleh sistem itu sendiri. Sistem psikis (individual) memprotes dan membatasi makna yang ditetapkan untuk komunikasi tertentu. Luhmann benar ketika mengatakan bahwa makna komunikasi bukan sekadar maksud dari individu, tetapi maksud itu jelas mempunyai, meski kompleks, efek terhadap makna sosial. Sistem sosial sekadar tertutup terhadap sistem psikis. Demikian pula, adalah mungkin bahwa sistem yang tampaknya otonom seperti sistem politik dapat direduksi statusnya menjadi subsistem dari sistem lain seperti sistem ekonomi. Dalam kasus itu, kode sistem politik mungkin sekadar variasi kode sistem ekonomi. Terakhir, teori sistem Luhmann mengasumsikan variasi pandangan terhadap masyarakat yang semuanya valid tanpa kemungkinan memberi priority pada satu pandangan. (Ini menyerupai pandangan yang dianut oleh teoritisi sosial post-modern Lyotard [1984]). Meski demikian, Luhmann mengklaim bahwa kita mampu untuk mengembangkan pengetahuan yang pasti tentang masyarakat yang mengamati semantik dari deksripsi diri masyarakat. Pandangan ini inkonsisten karena tidak mungkin mengklaim keduanya sekaligus.
Meski ada kelemahan, teori sistem Luhmann telah muncul sebagai salah satu teori sosial terkemuka saat kita masuk ke abad 21, dan ia telah menandai kebangkitan kembali minat terhadap teori sistem.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar