Minggu, 28 April 2013

Sosiologi dan Teori Sistem Modern


Setiap bidang ilmu mempunyai penganutnya, demikian pula dengan teori sistem. Teori sistem mempunyai sejarah yang bervariasi dalam sosiologi (Baecker, 2001). Akibatnya, jika bukan karena karya pemikir sosial Jerman Nilas Luhmann, teori sistem tidak akan berada di artikel ini. Selama lebih dari dua dekade sampai ia meninggal pada 1998, Luhmann dengan tekun mengembangkan teori sistem-sistem (dia lebih senang menyebutnya sebagai “teori sistem”). Meskipun tidak terlalu terkenal dan berpengaruh, Kenneth Bailey [1990,1994,1997] juga pantas dicatat sebagai kontributor perkembangan teori ini.) Selama bertahun-tahun Luhmann bekerja dalam bidang yang tak dikenal, tetapi belakangan ini karyanya mulai mendapat pengakuan luas. Karena itu, bagian ini sebagian besar dicurahkan untuk membahas pemikirannya. Akan tetapi, sebelum kita masuk ke dalam karyanya, kita akan mendiskusikan beberapa pandangan dan ide konseptual awal dari karya Walter Buckley (1967), khususnya dalam Sociology and Modern Svstems Theory.

Hal-hal yang Dapat Diperoleh dari Teori Sistem
Isu utama yang dibahas oleh Buckley adalah apa yang didapatkan sosiologi dari teori sistem. Pertama, karena teori sistem diturunkan dari ilmu pasti (hard sciences) dan karena teori ini, setidaknya di mata pendukungnya, dapat diaplikasikan ke semua ilmu sosial dan behavioral, maka ia mengandung harapan bisa menyatukan ilmu-ilmu itu. Kedua, teori sistem mengandung banyak tingtkatan dan dapat juga diaplikasikan pada aspek dunia sosial berskala terbesar dan terkecil, ke aspek yang paling subjektif dan objektif. Ketiga, teori sistem tertarik dengan keragaman hubungan dari berbagai aspek dunia sosial dan karena beroperasi terhadap berbagai analisis dunia sosial. Argumen dari teori sistem adalah bahwa hubungan dari bagian-bagian tidak dapat diperlakukan di luar konteks keseluruhan. Teoritisi sistem menolak ide bahwa masyarakat atau komponen masyarakat berskala luas lainnya harus diperlakukan sebagai fakta sosial yang menyatu. Sebaliknya, fokusnya adalah pada hubungan dari proses-proses pada tingkat yang bervariasi di dalam sistem sosial. Buckley mendeskripsikan fokus tersebut : Jenis sistem yang kami minati bisa dideskripsikan secara umum sebagai susunan elemen-elemen atau komponen-komponen yang secara langsung atau tak langsung berkaitan di dalam jaringan kausal sedemikian rupa sehingga masing-masing komponen dikaitkan dengan setidaknya beberapa komponen lain dalam cara yang kurang lebih stabil di dalam periode waktu (Buckley, 1967:41).
Richard A. Ball memberikan konsepsi yang jelas terhadap orientasi relasional dari teori sistem, atau yang dia namakan Teori Sistem Umum (TSU) : TSU dimulai dengan konsepsi prosesual tentang realitas yang secara fundamental terdiri dari hubungan di antara hubungan-hubungan, seperti diilustrasikan dalam konsep “gravitasi” yang dipakai dalam fisika modern. Istilah “gravitasi tidak mendeskripsikan suatu entitas. Tidak ada “sesuatu” seperti gravitasi. Ia adalah seperangkat hubungan. Menganggap hubungan-hubungan sebagai entitas-entitas akan jatuh ke dalam reifikasi pendekatan TSU meminta agar para sosiolog mengembangkan logika hubungan dan mengonseptualisasikan realitas sosial dari segi relasional (Ball, 1978:66).
Keempat, pendekatan sistem cenderung menganggap melihat semua aspek sistem sosiokultural dari segi proses, khususnya sebagai jaringan informasi komunikasi. Kelima, dan mungkin yang terpenting, teori sistem secara inheren bersifat integratif. Buckley, dalam definisinya tentang perspektif, memandang perspektif melibatkan integrasi struktur objektif berskala besar, sistem simbol aksi dan interaksi, serta “kesadaran dan kesadaran diri”. Ball juga menerima ide integrasi level : “individu dan masyarakat diperlakukan secara ekual, bukan sebagai entitas terpisah, tetapi sebagai bidang yang saling konstitutif (constitutive), melalui berbagai proses ‘umpan balik’ (feed back)” (1978:68). Dalam kenyataannya, teori sistem sangat akrab dengan integrasi sehingga Buckley mengkrtik tendensi para sosiolog lainnya yang membuat perbedaan analisis antarlevel : kami melihat kecenderungan dalam kebanyakan sosiologi untuk menekankan pada apa yang dinamakan “perbedaan analitis” (analytic distinction) antara personalitas” (yang dianggap intracranial), sistem simbol (kultur), dan matriks sosial (sistem sosial), meski karya aktual dari proponen pembedaan analisa itu tampak menyesatkan dan atau sering kali tak bisa bertahan dalam praktik (Buckley, 1967:101).
Buckley agaknya kurang adil di sini, karena dia juga melakukan hal yang sama di dalam karyanya. Membuat perbedaan analitis tampaknya dapat diterima para teoritisi sistem sepanjang orang membuat perbedaan itu untuk memahami kesalinghubungan di antara berbagai aspek kehidupan sosial secara lebih baik). Terakhirr, teori sistem cenderung melihat dunia sosial dari sudut dinamis, dengan perhatian yang berlebihan pada “kemunculan sosiokultural dan dinamika secara umum” (Buckley, 1967:39).

Beberapa Prinsip Umum
Buckley mendiskusikan hubungan antarsistem sosiokultural, sistem mekanis, dan sistem organis. Buckley memfokuskan pada penjelasan perbedaan esensial antara sistem-sistem tersebut. Pada sejumlah dimensi ada suatu kontinum mulai dari sistem mekanis ke sistem organis ke sistem sosiokultural yang bergerak dari bagian yang kompleksitasnya kecil sampai yang paling besar, dan dari tingkatan terendah sampai tertinggi yang mana bagian-bagiannya dapat dinisbahkan pada sistem secara keseluruhan.
Pada dimensi lain, sistem lebih berbeda secara kualitatif ketimbang kuantitatif. Dalam sistem mekanis, kesalinghubungan dari bagian-bagian tersebut didasarkan pada transfer energi. Dalam sistem organik, kesalinghubungan dari bagian-bagian tersebut lebih didasarkan pada pertukaran informasi ketimbang pertukaran energi. Dalam sistem sosiokultural, kesalinghubungan itu bahkan lebih banvak didasarkan pada pertukaran informasi.
Tiga tipe sistem itu juga berbeda dalam derajat keterbukaan dan ketertutupannya yakni, dalam derajat pertukaran (interchange) dengan aspek dari lingkungan yang lebih besar. Sistem yang lebih terbuka lebih mampu merespon secara selektif terhadap lingkungan yang lebih luas dan bervariasi.
Dari sisi ini, sistem mekanis cenderung tertutup, sistem organik cenderung terbuka, dan sistem sosiokultural adalah yang paling terbuka (seperti yang kita lihat, Luhmann tidak sepakat dengan poin terakhir ini). Derajat keterbukaan dari suatu sistem akan terkait dengan dua konsep krusial dalam teori sistim; entropi atau tendensi sistem untuk surut (run down), dan negentropi atau kecenderungan sistem untuk mengembangkan (elaborate) sistem (Bailey, 1990). Sistem tertutup cenderung bersifat entropik, sedangkan sistem terbuka cenderung bersifat negentropik. Sistem sosiokultural juga cenderung mempunyai lebih banyak ketegangan ketimbang kedua sistem lainnya. Terakhir, sistem sosiokultural dapat bersifat purposif dan mengejar tujuan karena sistem itu menerima umpan balik (feed back) dari lingkungan yang membuat mereka bisa terus bergerak mengejar tujuannya.
Umpan balik adalah aspek esensial dari pendekatan sibernetik (cybernatic) yang diambil oleh para teoritisi sistem untuk membahas sistem sosial. Ini bertentangan dengan pendekatan keseimbangan (equilibrium), yang menjadi ciri banyak sosiolog (misalnya, Parsons) yang beroperasi dari suatu pendekatan sistem. Dengan menggunakan umpan balik para teoritisi sistem sibernetik mampu memenangani friksi, pertumbuhan, evolusi dan perubahan mendadak. Keterbukaan, dari suatu sistem sosial pada lingkungan dan dampak faktor lingkungan terhadap sistem adalah perhatian penting bagi para teoritisi sistem ini (Bailey, 2001).
Variasi dari proses internal juga memengaruhi sistem sosial. Dua konsep lainnya juga penting sekali dalam hal ini. Morphostasis merujuk pada proses-proses yang membantu sistem berubah dan mempertahankan diri, sedangkan morphogenesis merujuk pada proses-proses yang membantu sistem berubah dan tumbuh berkembang. Sistem sosial mengembangkan “sistem perantara” yang semakin kompleks yang mengintervensi di antara kekuatan eksternal dan, tindakan sistem tersebut. Beberapa sistem perantara ini tumbuh semakin independen, otonom, dan menentukan aksi dari sistem. Dengan kata lain, sistem perantara ini membuat sistem sosial bisa semakin kurang bergantung kepada lingkungan.
Sistem perantara yang kompleks ini melakukan beragam fungsi dalam sistem sosial. Misalnya, sistem-sistem perantara tersebut membuat sistem bisa menyesuaikan diri secara temporer dengan kondisi eksternal. Sistem-sistem perantara itu dapat mengarahkan sistem dari lingkungan yang keras ke lingkungan yang lebih menyenangkan. Sistem-sistem perantara itu juga dapat membuat sistem-sistem bisa mereorganisasi bagian-bagiannya untuk menghadapi lingkungan secara lebih efektif.

Aplikasi untuk Dunia Sosial
Buckley (1967) berpindah dari diskusi prinsip umum ke aspek khusus dari dunia sosial untuk menunjukkan aplikasi teori sistem. Dia mulai pada tingkat individual, di mana dia sangat terkesan dengan karya Mead, di mana kesadaran dan tindakan saling berkaitan. Dalam kenyataannya, Buckley menyusun ulang problematik Meadian dari sudut pandang teori sistem. Tindakan (action) dimulai dengan sinyal dari lingkungan, yang ditransmisikan ke aktor. Akan tetapi, transisi mungkin diperumit oleh kekacauan (noise) dalam lingkungan. Saat ia bergerak, sinyal memberi informasi kepada aktor. Berdasarkan informasi ini, aktor bisa memilih respon. Kuncinya di sini adalah mekanisme mediasi yang dimiliki aktor yakni kesadaran diri (self-consciousness). Buckley mendiskusikan kesadaraan diri dalam terminologi teori sistem:
Dalam bahasa sibernetika (cybernetics), kesadaran diri adalah mekanisme umpan balik internal milik sistem itu sendiri yang bisa dipetakan atau dibandingkan dengan informasi lain dari situasi dan dari memori, mengizinkan seleksi dari perulangan (repertoire) tindakan yang dilakukan berdasarkan tujuan dengan mempertimbangkan diri dan perilaku diri sendiri secara implisit (Buckley, 1967:100).
Menurut Mead dan interaksionis simbolik serta teoritisi sistem, kesadaran tak terpisah dari tindakan dan interaksi, tetapi merupakan bagian integral dari keduanya.
Meskipun Buckley memandang bahwa kesadaran dan interaksi saling berkaitan dan bahwa levelnya tidak boleh dipisahkan, dia tetap bergerak dari domain kesadaran ke domain interaksional. Pola interaksi yakni imitasi dan respon jelas sesuai dengan pandangan sistemik tentang dunia. Yang lebih penting, Buckley mengaitkan dunia interpersonal secara langsung dengan sistem personalitas; dia memandang keduanya saling menentukan satu sama lain, Terakhirr, Buckley beralih ke organisasi masyarakat berskala besar, khususnya peran dan institusi, yang dia lihat dari sudut sistemik dan berhubungan dengan level realitas sosial lainnya.
Buckley menarik kesimpulan dengan mendiskusikan beberapa prinsip umum dari teori sistem sebagaimana diaplikasikan pada domain sosiokultural. Pertama, teoritisi sistem menerima ide bahwa ketegangan adalah normal, senantiasa hadir, dan merupakan realitas yang diperlukan sistem sosial. Kedua, ada fokus pada sifat dan sumber dari variasi dalam sistem sosial. Penekanan pada ketegangan dan variasi membuat perspektif sistem menjadi dinamis. Ketiga, ada perhatian pada proses seleksi di tingkat individual maupun interpersonal di mana beragam alternatif yang terbuka untuk sistem akan disortir dan disaring.
Ini memperbesar dinamismenya. Keempat, level interpersonal dipandang sebagai basis pengembangan dari struktur yang lebih besar. Proses transaksional dari pertukaran, negosiasi, dan tawar-menawar (bargaining) adalah proses-proses yang memunculkan struktur sosial dan kultural yang relatif stabil. Terakhir, kendati
ada dinamisme di dalam pendekatan sistem, ada pengakuan terhadap proses pengekalan (perpetuation) dan transmisi. Seperti dikatakan oleh Buckley, “dari transaksi yang terus-menerus muncullah penyesuaian dan akomodasi yang relatif stabil” (1967:160).
Ada catatan menarik : ada sejumlah kesamaan yang agak mencolok antara teori sistem dan pendekatan dialektika, meski mereka diturunkan dari sumber yang sangat berbeda (yang satu ilmiah, yang satunya lagi filosofis) dan mempunyai perbendaharaan yang sangat berbeda (Ball, 1978). Kesamaan-kesamaan antara keduanya itu adalah fokusnya pada relasi, proses, kreativitas, dan ketegangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar