Minggu, 28 April 2013

Informasionalisme dan Masyarakat Jaringan


Masyarakat Informasi adalah sebuah konsep luas yang mulai digunakan sejak tahun 1970-an untuk merujuk pada berbagai perubahan sosial dan ekonomi yang terkait dengan meningkatnya dampak dan peran teknologi informasi. Konsep ini menonjolkan peran yang dimainkan oleh teknologi informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tempat kerja, perjalanan dan sarana hiburan yang tersedia.
Masyarakat Informasi oleh banyak negara maju (sejak tahun 1970-an) juga diartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang akan dituju dan diraih (bukan terjadi dengan sendirinya). Di Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika misalnya, masyarakat informasi dipromosikan sebagai suatu visi abad 21 yang oleh para pembuat kebijakan digunakan sebagai pedoman dalam mengembangkan sektor informasi pada perekonomian tingkat lokal, regional dan nasional. Pada tahun 1990-an, Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya mulai meluncurkan program pengembangan infrastruktur informasi modern atau apa yang disebut sebagai "information super highway" yang sebenarnya dilandasi pada visi tersebut.

PERKEMBANGAN KONSEP MASYARAKAT INFORMASI
MASYARAKAT PASCA INDUSTRI : DANIEL BELL
Konsep Masyarakat Informasi sebenarnya dikembangkan oleh sosiolog Amerika Daniel Bell (1974), yang berfokus pada prediksinya akan adanya "Masyarakat Pasca Industri". Bell, ketika itu melihat informasi sebagai input teknologi informasi merupakan kekuatan utama pada masa seusai Perang Dunia Kedua, sedangkan bahan-bahan mentah (sumber daya alam) merupakan kekuatan utama bagi masyarakat agraris, mesin/teknologi menjadi energi dalam masyarakat industri (yang merupakan bentuk-bentuk masyarakat sebelum masyarakat industri).
Bell mengidentifikai berbagai kecenderungan yang meninjol dalam masyarakat pasca industri, dengan fokus Amerika Serikat sebagai contoh kasusnya. Kecenderungan utama yang mengiringi proses terbentuknya masyarakat pasca industri meliputi pesatnya berbagai jenis lapangan kerja yang berhubungan dengan informasi, meningkatnya bisnis dan industri dengan produksi, transmisi dan analisis informasi, serta meningkatnya sentralitas peran para teknolog, yaitu para manajer dan profesional terdidik yang memiliki keahlian khusus dalam mengolah dan memanfaatkan informasi untuk keperluan pembuatan keputusan.
Kecenderungan terpenting adalah bergesernya sebagian besar angkatan kerja dari sektor pertanian (sektor primer) dan manufaktur (sektor sekunder) ke sektor-sektor jasa (sektor tersier). Pengembangan lapangan kerja informasi, khususnya yang bersifat kerah putih ikut menopang pesatnya pertumbuhan sektor-sektor jasa tersebut. Pekerjaan informasi itu sendiri sangat beragam, mulai dari pemrograman dan pembuatan perangkat lunak komputer hingga ke pengajaran dan penelitian berbagai hal yang berkaitan. Industri-industri informasi seperti penyedia jaringan data, dan jasa-jasa komunikasi termasuk di dalamnya dan semua itu membuat pekerjaan informasi sebagai pilar perekonomian, di mana sebelumnya sektor pertanian dan manufaktur yang semula dominan. Dalam hal ini, bergesernya jenis-jenis pekerjaan dalam masyarakat informasi ini tidak harus diartikan bahwa sektor primer dan sekunder telah merosot terutama bagi erekonomian nasional dan perekonomian global. Yang perlu dicermati adalah telah terjadi berkurangnya kebutuhan ketenaga kerjaan bagi sektor-sektor tersebut, karena sebagian aspeknya telah ditopang oleh berbagai teknik manajemen komputasi dan telekomunikasi dalam meredesain setiap prosedur pelaksanaan pekerjaan dalam sektor-sektor tadi.
Kecenderungan yang kedua yang mengiringi munculnya masyarakat pasca industri adalah meningkatnya arti penting pengetahuan termasuk pengetahuan teoritis dan metodologis serta kodifikasinya yang menjelma dalam manajemen institusi-institusi sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat pasca industri yang terpenting adalah penyusunan prediksi, perencanaan dan pengelolaan organisasi. Lebih jauh menurut Bell, kompleksitas dan besarnya skala sistem-sistem sosial dan ekonomi menuntut adanya perencanaan dan peramalan sistematik yang lebih baik yang tidak bisa lagi diperoleh dari survei dan eksperimen biasa.
Kecenderungan yang ketiga adalah bergesernya kekuasaan, di mana kalangan profesional dan kelas manajerial (para pekerja pengetahuan) kian dominan. Mereka adalah individu-individu yang memahami bagaimana bekerja dengan pengetahuan, sistem-sistem informasi, simulasi dan berbagai teknik analitis yang terkait. Posisi mereka akan semakin vital dalam proses pembuatan keputusan.

NETWORK SOCIETY (MASYARAKAT JARINGAN) : MANUEL CASTELLS
Salah satu kontribusi terbaru untuk teori sosial modern adalah sebuah trilogi yang ditulis oleh Manuel Castells (1996, 1997, 1998) dengan judul Information Age: Economy, Society and Culture, Castell mengutarakan pandangannya tentang kemunculan masyarakat, kultur dan ekonomi yang baru dari sudut pandang revolusi teknologi informasi (televisi, komputer dsbnya).
Revolusi yang dimulai di Amerika pada tahun 1970an ini mengakibatkan restrukturisasi fundamental terhadap sistem kapitalis yang memunculkan apa yang disebut oleh Castells sebagai “kapitalisme informasional”. Yang memunculkan istilah  "Masyarakat Informasi". Munculnya kapitalisme informasional dan masyarakat informasi ini didasarkan pada "informasionalisme" (sumber utama produksi terletak pada kapasitas dalam penggunaan dan pengoptimalan faktor produksi berdasarkan informasi dan pengetahuan).
Kemunculan 2 fenomena tersebut didasarkan pada “informasionalisme” yaitu sebuah mode perkembangan di mana sumber utama produktivitas terletak pada optimalisasi kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi berbasis pengetahuan dan informasi.
Dalam analisisnya, Castell memberikan pemikirannya tentang paradigma teknologi informasi dengan 5 karakteristik dasar :
1)    Teknologi informasi bereaksi terhadap informasi.
2)    Karena informasi adalah bagian dari aktivitas manusia, maka teknologi ini mempunyai efek pervasif.
3)    Semua sistem yang menggunakan teknologi informasi didefinisikan oleh “logika jaringan”.
4)    Teknologi baru sangatlah fleksibel, bisa beradaptasi.
5)    Teknologi informasi sangatlah spesifik, dengan adanya informasi maka bisa terpadu dengan suatu sistem yang terintegrasi.

Pada tahun 1980-an muncul ekonomi informasional global baru yang semakin menguntungkan dan ekonomi ini bersifat informasional karena produktivitas dan daya saing dari unit-unit dan agen-agen dalam ekonomi ini secara mendasar tergantung pada kapasitas mereka untuk menghasilkan, memproses dan mengaplikasikan pengetahuan dan informasi secara efisien.
Ekonomi ini bersifat menglobal karena mempunyai kapasitas untuk bekerja sebagai unit secara real time pada skala dunia (planetary). Dan semua ini terjadi karena adanya teknologi komunikasi dan informasi.
Fungsi-fungsi dan proses dominan pada jaman informasi semakin terorganisir dalam "jaringan" yang didefinisikan sebagai serangkaian "simpul yang terkait satu sama lain". jaringan tersebut bersifat terbuka, mampu melakukan ekspansi  tanpa batas, dinamis dan mampu berinovasi tanpa merusak sistem. Dengan "jaringan" ini, telah memungkinkan kapitalisme dapat mengglobal dan terorganisir berdasarkan aliran keuangan global.
Mengiringi bangkitnya ekonomi informasional global ini muncullah bentuk organisasional baru yaitu perusahaan jaringan (network enterprise). Yang dimaksud perusahaan jaringan adalah bentuk spesifik perusahaan yang sistem sarananya dibangun dari titik temu sejumlah segmen sistem tujuan otonom. Perusahaan jaringan ini adalah perwujudan dari kultur ekonomi informasional global yang memungkinkan transformasi tanda-tanda ke komoditas.
Berseiring dengan tumbuhnya masyarakat informasional, muncul pula perkembangan kebudayaan virtual riil, yaitu satu sistem di mana realitas itu sendiri sepenuhnya tercakup dan sepenuhnya masuk ke dalam setting citra maya, di dunia fantasi, yang di dalamnya tampilan tidak hanya ada di tempat dikomunikasikannya pengalaman. Dunia memasuki era masa tanpa waktu, di mana masyarakat menjadi didominasi oleh proses daripada lokasi fisik. Dalam kaitan ini, kita memasuki era "masa tanpa waktu" yang di dalamnya (sebagai contoh, informasi segera tersedia di manapun di muka bumi ini)

MASYARAKAT INFORMASI DALAM KONSTELASI PERKEMBANGAN TEORI SOSIAL
Munculnya gagasan tentang Masyarakat Informasi (oleh Castells disebut sebagai Network Society atau Masyarakat jaringan) dalam peta perkembangan Teori Sosial terletak pada peralihan dari Teori Sosial Modern ke Teori PostModern, yang disebut dengan Teori Modernitas Kontemporer.
Sebelum munculnya gagasan tentang Masyarakat Informasi, terbangun teori-teori Modernitas Kontemporer lainnya: Modernitas dari Anthony Giddens, Ulrich Beck, George Ritzer, Zygmunt Bauman, Jurgen Habermas, yang semuanya diantaranya terkait dengan ide tentang Globalisasi.
Giddens melihat modernitas sebagai Juggernaut yang menawarkan sejumlah keuntungan namun juga sejumlah bahaya. Beck menawarkan bahaya-bahaya dalam masayarakat modern yaitu berupa Masyarakat Risiko. Ritzer melihat rasionalitas sebagai ciri utama masyarakat kontemporer dengan konsep McDonalisasi. Bauman menaawarkan konsep Holocaust yang mengindikasikan irasionalitas. Habermas memusatkan perhatiannya pada rasionalitas sistem dan keterbelakangan rasionalitas dunia kehidupan. Castells dengan karyanya yang membahas tentang pertumbuhan informasionalisme dan masyarakat jaringan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar