Kamis, 18 April 2013

Marxisme Hegelian


Akibat kecaman keras, determinisme ekonomi mulai memudar perannya dan sejumlah teoritisi mengembangkan teori Marxian jenis lain. Sebuah kelompok Marxis kembali ke akar Hegelian dari teori Marx dalam meneliti orientasi subjektif untuk melengkapi kekuatan mencoba memperbaiki hubungan dialektika antara aspek subjektif dan aspek objektif kehidupan sosial. Perhatian mereka terhadap faktor subjektif memberikan basis bagi perkembangan teori kritis selanjutnya, yang semula hampir sepenuhnya memusatkan perhatian secara eksklusif pada faktor subjektif. Sejumlah pemikir (misalnya, Karl Korsch) dapat diambil sebagai ilustrasi Marxisme Hegelian, namun kita akan memusatkan perhatian pada karya Georg Lukacs yang sangat terkenal terutama bukunya History and Class Consciousness (1922/1968). Pemikiran Antonio Gramsci juga akan dibahas.

Georg Lukacs
Perhatian terhadap pemikiran Marxian awal abad 20 adalah terbatas hanya terutama pada karya ekonomi Marx yang belakangan, seperti das Kapital (1867/1967). Karya awal Marx, khususnya The Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 (1932/1964), umumnya tak dikenal oleh pemikir Marxian. Penemuan kembali The Manuscripts dan penerbitannya tahun 1932 merupakan titik balik utama. Namun, sekitar tahun 1920-an Lukacs telah menulis karya besarnya yang menekankan sisi subjektif teori Marxian. Seperti dinyatakan Martin Jay, History and Class Consciousness telah mengantipasi implikasi filosofis Manuscripts of 1844 dari Marx yang dipublikasikan hampir seabad lebih dahulu (1984:102). Sumbangan utama Lukacs terhadap teori Marxian berupa dua gagasan besar yakni tentang reifikasi (Dahms, 1998) dan kesadaran kelas.

Reifikasi
Lukacs dari awal menjelaskan bahwa ia tak menolak pemikiran ekonomi Marxis mengenai reifikasi, tetapi mencoba memperluas dan mengembangkan pemikiran tersebut. Lukacs memulai dengan konsep komoditi Marxian yang ia akui sebagai sebuah masalah struktural penting dalam masyarakat kapitalis (1922/1968:83). Komoditi yang mereka yakini berbentuk barang dan berkembang menjadi objek itu menjadi basis hubungan antarindividu. Dalam masyarakat kapitalis, interaksi manusia dengan alam menghasilkan berbagai macam produk atau komoditi (misalnya roti, mobil, film). Tetapi, manusia cenderung tak mampu melihat fakta bahwa merekalah sebenarnya yang menghasilkan komoditi itu dan memberikan nilai. Nilai justru mereka pahami sebagai produk pasar, terlepas dari aktor. Pemujaan mutlak (fetishisme) terhadap komoditi merupakan proses berpikir yang mengakui komoditi dan pasar dalam masyarakat kapitalis sebagai objek yang keberadaannya terlepas dari aktor. Konsep Marx tentang pemujaan mutlak komoditi ini menjadi basis dari konsep reifikasi Lukacs.
Perbedaan penting antara pemujaan mutlak komoditi (Marx) dan konsep reifikasi Lukacs terletak pada keluasan kedua konsep itu. Pemujaan mutlak komoditi terbatas penerapannya pada lembaga ekonomi saja. Sedangkan konsep reifikasi diterapkan oleh Lukacs terhadap seluruh masyarakat, negara, hukum, dan sektor ekonomi. Konsep ini dapat diterapkan secara dinamis dalam semua masyarakat kapitalis. Orang menjadi yakin bahwa struktur sosial mempunyai kehidupannya sendiri dan akibatnya orang meyakini bahwa struktur itu mempunyai ciri objektif. Proses ini dilukiskan Lukacs demikian : Manusia dalam masyarakat kapitalis menghadapi realitas “ciptaannya” sendiri (seperti kelas) yang tampil di hadapannya sebagai fenomena alamiah yang terasing dari dirinya sendiri. Manusia menjadi tergantung sama sekali kepada belas kasihan hukum ciptaannya itu, aktivitasnya terbatas pada eksploitasi untuk pemenuhan kebutuhan individual tertentu yang tak dapat ditawar-tawar. Meski berperan aktif ia tetap menjadi objek bukan subjek aktivitasnya (Lukacs, 1922/1968:135).
Dalam mengembangkan gagasannya tentang reifikasi Lukacs menyatukan pandangan dari Weber dan Simmel. Tetapi, karena konsep reifikasi terdapat di dalam teori Marxian maka konsep itu terlihat seakan-akan hanya berlaku dalam masyarakat kapitalis saja, yang berbeda dengan Weber dan Simmel yang melihat sdfikasi sebagai nasib umat manusia.

Kesadaran Kelas dan Kesadaran Palsu
Sumbangan besar kedua adalah karyanya tentang kesadaran kelas, yang mengacu kepada sistem keyakinan yang dianut oleh orang yang menduduki posisi kelas yang sama dalam masyarakat. Kesadaran kelas bukan rerata atau penjumlahan kesadaran individual; kesadaran kelas adalah sifat sekelompok orang yang secara bersama menempati posisi serupa dalam sistem produksi. Pandangan ini mengarah ke pemusatan perhatian terhadap kesadaran kelas borjuis, dan terutama kelas proletariat. Menurut Lukacs, terdapat hubungan yang nyata antara posisi ekonomi objektif, kesadaran kelas, dan “pemikiran psikologis riil orang mengenai kehidupan nyata mereka” (1922/ 1968:51).
Konsep kesadaran kelas, setidaknya dalam sistem kapitalis, secara tersirat menyatakan keadaan sebelumnya, yang dikenal sebagai kesadaran palsu. Artinya, kelas-kelas dalam masyarakat kapitalis umumnya tidak menyadari kepentingan kelas mereka yang sebenarnya. Contoh, hingga tahap revolusioner, anggota kelas proletariat belum menyadari sepenuhnya sifat dan tingkat pemerasan yang mereka alami dalam sistem kapitalisme. Kepalsuan kesadaran kelas berasal dari posisi kelas dalam struktur ekonomi masyarakat: “Kesadaran kelas secara tersirat menyatakan kondisi ketaksadaran yang dikondisikan kelas dari kondisi sosio historis dan kondisi ekonomi seseorang… ‘kepalsuan’, ilusi yang tersirat dalam situasi ini, adalah tidak arbitrer” (Lukacs, 1922/1968:52). Sebagian besar kelas sosial di sepanjang sejarahnya tak mampu mengatasi kesadaran palsu dan karena itu tak mampu mencapai kesadaran kelas. Tetapi, posisi struktural kelas proletariat dalam kapitalisme memberinya kemampuan khusus untuk mencapai kesadaran kelas.
Kemampuan untuk mencapai kesadaran kelas adalah khusus untuk masyarakat kapitalis. Dalam masyarakat prakapitalis, berbagai faktor mencegah perkembangan kesadaran kelas. Pertama, negara terlepas dari ekonomi, memengaruhi strata sosial. Kedua, kesadaran mengenai status (prestise) cenderung menutupi kesadaran kelas (ekonomi). Akibatnya, seperti disimpulkan Lukacs “dalam masyarakat yang seluruh hubungan sosialnya berdasarkan basis ekonomi tak mungkin tercipta kesadaran kelas” (1922/1968:57). Sebaliknya, basis ekonomi kapitalisme makin jelas dan makin sederhana. Orang mungkin tak menyadari pengaruhnya, tetapi mereka sekurang-kurangnya menyadari ketaksadaran mereka. Akibatnya “kesadaran kelas tercapai pada titik di mana ia dapat menjadi sadar” (Lukacs, 1922/1968:59). Pada tahap ini masyarakat berubah menjadi arena pertarungan ideologi antara pihak yang berupaya menyembunyikan ciri masyarakat yang berkelas dan pihak yang berupaya menampakkannya.
Berdasarkan kriteria kesadaran kelas ini, Lukacs membandingkan berbagai jenis kelas dalam masyarakat kapitalisme. Menurutnya borjuis kecil dan petani tak dapat mengembangkan kesadaran kelas karena posisi struktural mereka dalam kapitalisme bersifat mendua. Karena kedua kelas ini mencerminkan sistem masyarakat di zaman feodal maka mereka tak mampu mengembangkan pemahaman yang jelas mengenai sifat dasar kapitalisme. Borjuis dapat mengembangkan kesadaran kelas, tetapi sebaliknya mereka memahami perkembangan kapitalisme sebagai sesuatu yang bersifat eksternal, tunduk kepada hukum objektif yang hanya dapat dialami secara pasif.
Proletariat mempunyai kemampuan untuk mengembangkan kesadarar kelas yang sebenarnya, dan ketika itu digunakan, borjuis terpaksa berada pada posisi mempertahankan diri. Lukacs menolak pandangan yang menyatakan bahwa proletariat semata-mata digerakkan oleh kekuatan eksternal, tetap. sebaliknya memandang proletariat sebagai pencipta aktif nasibnya sendiri. Dalar konfrontasi antara borjuis dan proletariat, kelas borjuis memiliki semua senja’ intelektual dan organisasional, sedangkan proletariat mula-mula mampu memahami masyarakat sebagaimana adanya. Ketika pertarungan berlangsung proletariat berubah dari “kelas dalam dirinya sendiri”, yakni sebagai kesatuan yang tercipta secara struktural, menjadi sebuah “kelas untuk dirinya sendiri yakni kesadaran kelas tentang posisinya dan misinya. Dengan kata lain “perjuangan kelas harus ditingkatkan dari tingkat tuntutan ekonomi ke tingkat kelas yang efektif dan menyadari tujuan yang hendak dicapai” (Lukacs, 1968:76). Bila mencapai titik ini proletariat mampu melakukan tindakan yang dapat menghancurkan sistem kapitalis.
Lukacs mempunyai teori sosiologi yang kaya meski tersimpan dalam istilah Marxian. Ia memusatkan pada hubungan dialektika antara struktur (terutama ekonomi) kapitalisme, sistem gagasan (terutama kesadaran kelas), pemikiran individual, dan akhirnya tindakan individual. Perspektif teoritisinya menyediakan jawaban penting antara pemikiran determinan ekonomi dan Marxis yang lebih modern.

Antonia Gramsci
Antonio Gramsci, seorang Marxis Italia, juga berperan penting dalam fase transisi dari determinisme ekonomi ke pemikiran Marxian yang lebih modern (Salamini, 1981). Gramsci mengecam Marxis yang disebutnya “deterministis, dan mekanistis” (1971:336). Dia menulis sebuah esai berjudul “The Revolution Against Capital” (Gramsci, 1917/1977). Dalam esai ini ia menyambut kebangkitan kemauan politik menentang determinisme ekonomi dari orang-orang yang mereduksi Marxisme menjadi hukum sejarah dari karya terkenal [das Kapital] (Jay,l 984:155). Meski ia mengakui adanya keteraturan sejarah, ia menyangkal pemikiran yang menyatakan perkembangan sejarah adalah otomatis atau tak terelakkan. Jadi, massa harus bertindak untuk menghasilkan revolusi sosial. Untuk bertindak massa harus menyadari situasi mereka dan harus menyadari watak masyarakat di mana mereka hidup. Dengan demikian, meski Gramsci menyadari pentingnya peran faktor struktural terutama ekonomi, ia tak bahwa faktor struktural itu mendorong massa untuk berevolusi. Massa mengembangkan ideologi revolusioner, tetapi mereka tidak akan mampu mengembangkannya sendiri. Gramsci mengemukakan cara berpikir yang agak Gagasan revolusioner menurutnya dibangkitkan oleh intelektual, kemudian dikembangkan kepada massa dan massa itulah yang akan melaksanakannya. Mssa tak mampu membangkitkan gagasan seperti itu, tetapi mereka mampu menghayatinya dan segera setelah gagasan itu muncul ia akan menjadi satu-satunnya keyakinan mereka. Massa takkan mampu menyadari sendiri gagasan itu atas upaya mereka sendiri, mereka memerlukan bantuan elite sosial. Namun demikian segera setelah massa dipengaruhi oleh gagasan revolusioner itu, mereka akan bertindak yang menimbulkan revolusi sosial. Seperti Lukacs, Gramsci lebih memusatkan perhatian pada gagasan kolektif ketimbang pada struktur sosial seperti ekonomi, dan keduanya beroperasi menurut teori Marxian tradisional.
Konsep sentral Gramsci dan yang mencerminkan Hegelianismenya adalah hegemoni. Menurut Gramsci, “unsur esensial filsafat paling modern tentang praksis (menghubungkan pemikiran dan tindakan) adalah konsep filsafat sejarah tentang hegemoni” (1932/1975:235). Gramsci mendefinisikan hegemoni sebagai kepemimpinan kultural yang dilaksanakan oleh kelas penguasa. Ia membedakan hegemoni dari “penggunaan paksaan yang digunakan oleh kekuasaan legislatif atau eksekutif atau yang diwujudkan melalui intervensi kebijakan” (Gramsci, 1932/1975:235). Meski ekonom Marxis cenderung menekankan aspek ekonomi dan aspek penggunaan kekuasaan dominasi negara, Gramsci menekankan pada “hegemoni dan kepemimpinan kultural” (1932/1975:235). Dalam analisis mengenai kapitalisme. Gramsci ingin mengetahui bagaimana cara beberapa pemikir bekerja deiru kepentingan kapitalis, mencapai kepemimpinan kultural dan persetujuan massa.
Konsep hegemoni tak hanya dapat membantu kita untuk memahami dominasi dalam kapitalisme, tetapi juga membantu mengorientasikan pemikiran Gramsci tentang revolusi. Yakni, revolusi belum cukup untuk mendapatkan pengendalian atas ekonomi dan aparatur negara; masih perlu mendapatkan kepemimpinan kultural atas aspek masyarakat lainnya. Di sinilah Gramsci melihat peran kunci intelektual komunis dan partai komunis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar