Sabtu, 20 April 2013

Teori Post-marxis


Tahun 1980-an dan 1990-an membawa perubahan dramatis bagi teori neo-Marxis (Aronson, 1995; Grossberg dan Nelson, 1988; Jay, 1988). Jenis teori neo-Marxis paling akhir menolak berbagai premis dasar teori asli Marx maupun premis dasar teori neo-Marxian yang telah dibahas di awal. Karena itu pendekatan baru ini harus dianggap sebagai teori post-Marxis (Wright, 1987; Dtandaneau, 1992). Meski teori ini menolak unsur-unsur dasar teori Marxian, namun masih mempunyai afinitas yang cukup dengan teori Marxian karena dinggap menjadi bagian teori neo-Marxian. Teori post-Marxis dibahas di sini karena teori itu sering menggunakan sintensis teori-teori Marxian dengan teori, gagasan, dan metode lain. Lalu bagaimana cara menjelaskan perubahan dramatis png dialami teori neo-Marxian ini? Ada dua kumpulan faktor yang terlibat: PERTAMA, faktor eksternal teori itu dan yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan sosial. Kedua, faktor internal teori itu sendiri (Anderson, 1984; Ritzer, 1991a).
Pertama, dan bukan berasal dari teori Marxian, adalah berakhirnya era perang dingin (Halliday, 1990) dan keruntuhan komunis dunia. Uni Soviet sudah bubar dan Rusia bergeser menuju ekonomi pasar, setidaknya sebagian menverupai ekonomi kapitalis (Piccone, 1990; Zaslavsky, 1988). Eropa Timur sedang bergeser menuju perekonomian gaya kapitalis, bahkan pergeserannya itu ada yang lebih cepat daripada yang dialami Rusia (Kaldor, 1990). Cina setelah tragedi Tiananmen bangkrut sebagai model bagi sisa dunia komunis lain, meski memegang teguh komunisme. Kuba terisolasi, tinggal menunggu kematian atau kejatuhan Fidel Castro untuk bergeser ke kapitalisme. Jadi, kegagalan komunisme berskala dunia menyebabkan pemikir Marxis merasa perlu mempertimbangkan kenbali dan merekonstruksi teori mereka (Burawoy, 1990; Aronson, 1995).
Perubahan-perubahan di dunia ini berkaitan dengan perubahan kedua, yang ada dalam teori itu sendiri, yakni serangkaian perubahan intelektual yang pada gilirannya memengaruhi teori neo-Marxian (Anderson, 1990a, 1990b). Pemikiran teoritisi baru sekarang ini, seperti post strukturalisme dan post modern berpengaruh besar terhadap teori neo-Marxian. Lagi pula gerakan yang dikenal sebagai Marxisme analitis mendapatkan landasan, yakni premis tentang keyakinan bahwa teori Marxian perlu menggunakan metode yang sama dengan yang digunakan peneliti ilmiah lainnya. Pendekatan ini mendorong dilakukan penafsiran ulang pemikiran Marx menurut persyaratan intelektual yang lebih konvensional, suatu upaya untuk menerapkan teori pilihan rasional terhadap masalah-masalah Marxian dan upaya meneliti topik-topik Marxian dengan menggunakan metode dan teknik ilmu pengetahuan positivistik. Seperti dikatakan Meyer bahwa “meningkatkan kerendahan hati terhadap kaidah ilmu pengetahuan konvensional sama artinya dengan mengurangi ketaatan terhadap teori Marxis itu sendiri” (1994:296).
Jadi, kombinasi perubahan sosial dan intelektual secara dramatis mengubah pandangan teori Marxian di tahun 1990-an. Meski teori yang dibahas terdahulu penting, namun kini teori neo-Marxian lebih banyak menekankan pada teori yang dibahas berikut ini.

Marxisme Analitis
John Roemer, tokoh aliran ini mendefinisikannya Marxisme analitis sebagi berikut:
Selama dekade lalu, telah terbentuk apa yang kini muncul sebagai spesies baru adalah dalam teori sosial: Marxisme analitis canggih. Praktisi-praktisinya kebanyakan terilhami oleh pertanyaan Marxian, yang mereka mencoba menjawabnya dengan menggunakan perangkat logika, matematika, dan dengan penyusunan model. Gaya metodologi mereka adalah konvensional. Para penulisnya adalah produk tradisi Marxian dan neo-Marxisme (Roemer, 1986a: 1).
Marxis analitis menggunakan metode analitis filsafat dan ilmu sosial dalaim membahas masalah substantif Marxian (Mayer, 1994:22). Aliran ini dibahas di sini karena “secara tegas bermaksud menyintesiskan metode non-Marxis dan teori Marxis” (Weldes, 1989:371).
Marxisme analitis menggunakan pendekatan neodogmatik terhadap teori Marx. Tidak mendukung teori Marx secara membabi-buta dan tanpa pikir, tidak menolak fakta-fakta sejarah dalam usahanya untuk mendukung teori Marxis dan tidak secara total menolak Marx sebagai keliru secara mendasar. Teori Marx dianggap sebagai kekuatan besar dan berinti yang sahih meski juga ada kelemahan substantifnya. Teori Marx harus digunakan, namun perlu memanfaatkan metode dan teknik yang dibangun di akhir abad 20. Aliran ini menyangkal ada metodologi Marxian yang distingtif dan mengecam mereka yang mengira metodologi seperti itu ada dan sahih:
Saya tak yakin ada bentuk khusus logika atau penjelasan Marxis. Marxis terlalu sering berlindung di belakang istilah dialektika Marxisme yang dikaburkan. Yoga Marxisme adalah dialektika. Logika dialektika berdasarkan atas beberapa proposisi yang mengandung pertimbangan induktif tertentu, tetapi mustahil bisa dijadikan hukum untuk menarik kesimpulan: bahwa sesuatu dapat berubah menjadi kebalikannya dan kuantitas dapat berubah menjadi kualitas. Dalam ilmu sosial Marxian, dialektika sering digunakan untuk membenarkan sejenis penalaran teleologis yang malas. Perkembangan terjadi karena memang harus terjadi agar sejarah dapat berperan seperti yang diharapkan (Roemer, 1986b: 191).
Elster mengatakan, “tak ada bentuk analisis Marxis yang khusus…tak ada komitmen terhadap metode analisis khusus apa pun selain dari metode yang digunakan ilmu sosial pada umumnya” (1986:220). Bersamaan dengan itu pengnut aliran ini menolak pandangan bahwa fakta dan nilai tak dapat dipisahkan, bahwa fakta dan nilai berhubungan secara dialektis. Dengan mengikuti aliran utama filsafat dan cara berpikir ilmu sosial, Marxis analitis ini mencoba memisahkan antara fakta dan nilai serta berupaya menerangkan fakta dengan tanpa memihak melalui analisis teoritis, konseptual, dan empiris.
Orang mungkin bertanya, mengapa Marxisme analitis mesti disebut Marxis. Dalam menjawab pertanyaan ini Roemer mengatakan, “saya tak yakin itu harus” (1986a:2). Namun, ia mengemukakan beberapa alasan mengapa kita dapat menganggapnya sebuah teori (neo-) Marxian. Pertama, aliran ini menganalisis topik-topik tradisional seperti kelas dan eksploitasi. Kedua, aliran ini mencoba memahami dan menerangkan masalah yang berkaitan dengan kapitalisme. tetapi, meski dalam artian ini aliran ini adalah Marxis mereka juga “mau dan gampang meminjam dari pandangan lain” (Roemer, 1986a:7). Sekali lagi Marxisme analitis sangat banyak kesamaannya dengan teori sintesis yang dikemukakan.
Tiga jenis Marxisme analitis akan dibahas, meski secara ringkas di seksi berikut. PERTAMA, dibahas upaya menganalisis ulang pemikiran Marx yang menggunakan peralatan intelektual aliran utama. KEDUA, akan dibahas Marxisme teori pilihan rasional dan teori permainan Marxisme. KETIGA, akan disinggung riset empiris dari sebuah perspektif Marxian yang menggunakan peralatan metodologi state-of-the-art.

Menganalisis Ulang Marx
Seperti dikemukakan di atas, Marxis analitis olak penggunaan konsep idiosinkronik seperti dialektika dan sebaliknya mencoba menganalisis Marx (maupun kehidupan sosial) dengan menggunakan konsep yang menjadi bagian dari tradisi intelektual yang lebih luas. Contoh utamanya dan merupakan salah satu dokumen kunci dalam Marxisme analitis adalah buku G.A. Cohen, Karl Marx’s Theory of History: A Defence (1978). Dalam bukunya Cohen menggunakan lebih banyak bentuk penjelasan fungsional yang lazim. Ia mengemukakan contoh penjelasan fungsional dalam karya Marx sebagai berikut :
ü  Hubungan produksi dapat disamakan dengan kekuatan produktif.
ü  Superstruktur hukum dan politik dibangun di atas fondasi nyata.
ü  Proses sosial, politik, dan intelektual dikondisikan oleh cara produksi kehidupan material.
ü  Kesadaran ditentukan oleh kehidupan sosial (Cohen, 1978/1986:221).
Di setiap contoh-contoh ini, konsep kedua menerangkan konsep pertama. Menurut pandangan Cohen, sifat penjelasan adalah fungsional karena “karakter dari apa yang dijelaskan ditentukan oleh pengaruhnya terhadap apa yang menjelaskannya” (1978/1986:221). Dengan demikian dalam kasus contoh terahir sifat kesadaran dijelaskan oleh efeknya terhadap makhluk sosial. Secara lebih umum, fenomena sosial diterangkan berkenaan dengan akibatnya terhadap fenomena sosial lain. Menurut pandangan Cohen, Marx mempraktikan pemikiran fungsional dalam contoh di atas, dan di seluruh karyanya, karena ia mencoba menerangkan fenomena sosial dan ekonomi menurut cara ini. Jadi Marx bukan penganut logika dialektika; ia adalah pemikir fungsional. Dalam menerima perspektif seperti ini Cohen menginterpretasi ulang pemikiran Marx dengan menggunakan pemikiran filsafat aliran utama dan memandang Marx sebagai bagian dari aliran utama itu.
Cohen dengan hati-hati membedakan pemikiran fungsional dari jenis fungsionalisme (struktural) sosiologi yang dibahas. Cohen melihat fungsionalisme (struktural) terdiri dari tiga tesis. Pertama, seluruh untuk kehidupan sosial adalah saling berhubungan. Kedua, seluruh komponen masyarakat saling menguatkan. Ketiga, setiap aspek masyarakat tetap seperti apa adanya karena kontribusinya terhadap masyarakat lebih luas. Tesis ini tak dapat diterima oleh Marxis karena berbagai alasan, khususnya karena konservatismenya. Namun, penjelasan fungsional di atas dapat digunakan Marxis tanpa harus menerima prinsip fungsionalisme struktural. Jadi, penjelasan fungsional tak selalu konservatif; ia dapat menjadi revolusioner.

Marxisme Pilihan Rasional
Banyak Marxis analitis yang mengambil ekonomi neoklasik, khususnya teori pertukaran rasional dan teori permainan (bahasan tentang penggunaan teori pilihan rasional dalam teori sosiologi utama). Roemer menyatakan bahwa analisis Marxis memerlukan fondasi mikro terutama teori pilihan rasional dan teori permainan maupun segudang teknik pembuatan model yang dikembangkan oleh ekonom neoklasik (1986b:192). Dalam mengambil pendekatan demikian, teori Marxian mengorbankan keinginannya untuk tetap berbeda dan memanfaatkan pendekatan yang digunakan di seluruh ilmu sosial. Tetapi, meski teori neo-Marxian dapat dan harus menggunakan teori ekonomi neoklasik, namun keduanya tetap berbeda. Contoh, neo-Marxian tetap memusatkan perhatian pada tindakan kolektif untuk mengubah masyarakat dan menerima gagasan bahwa kapitalisme adalah sistem tak adil.
|on Elster (1982,1986) sama dengan Roemer, adalah penyokong utama Marxisme analitis. Ia yakin teori neo-Marxian telah terhambat karena menerima teori fungsional yang dibahas Cohen. Ia juga yakin teori Marxian seharusnya makin banyak menggunakan teori permainan, sebuah varian dari teori pertukaran rasional. Teori permainan, seperti tipe teori pilihan rasional lainnya, beranggapan bahwa aktor adalah rasional dan berupaya memaksimalkan keuntungan mereka. Meski disadari adanya hambatan struktural, tak berarti bahwa hambatan itu sama sekali menentukan pilihan aktor. Keistimewaan teori permainan sebagai salah satu tipe pilihan rasional adalah bahwa teori ini memungkinkan untuk menganalisis melampaui pilihan rasional aktor tunggal dan menjelaskan saling pengaruh antara keputusan dan tindakan sejumlah aktor. Elster (1982) mengidentifikasi tiga saling ketergantungan antara aktor yang terlibat dalam permainan. pertama, hadiah untuk masing-masing aktor tergantung pada pilihan yang dibuat oleh semua aktor. kedua, hadiah untuk setiap aktor tergantung pada hadiah untuk semua. ketiga, pilihan yang dibuat setiap aktor tergantung pada pilihan yang dibuat oleh semua. Analisis “pertandingan” (seperti permainan “dilema tahanan” yang terkenal itu, di mana aktor akan bernasib jauh lebih buruk jika mereka mengikuti kepentingan diri mereka sendiri ketimbang jika mereka mengorbankannya) membantu menerangkan strategi berbagai jenis aktor dan kemunculan kolektivitas seperti kelas sosial. Marxisme pilihan rasional mencari landasan mikro teori Marxis, meski aktor rasional teori ini sangat berbeda dari aktor teori kritis (yang telah dibahas terdahulu, yang sebagian besar berasal dari teori Freudian.
Orientasi pilihan rasional Elster juga jelas terlihat dalam Making Sense of Marx (1985). Dalam hal ini Elster menyatakan bahwa metode dasar Marx untuk menerangkan fenomena sosial adalah perhatian pada konsekuensi yang tak diharapkan dari tindakan manusia. Menurut Elster, dan berbeda dengan teoritis Marxis lainnya, yang memandang Marx sebagai “holis metodologis” yang membahas struktur makro, Marx mempraktikkan “individualisme metodologis”, atau “doktrin bahwa semua fenomena sosial struktur dan perubahannya pada prinsipnya dapat dijelaskan dengan cara yang hanya melibatkan individu propertinya, tujuannya, keyakinannya, dan tindakannya” (1985:5). Elster, Marx memusatkan perhatian pada aktor, tujuan, maksud, dan pilihan rasional mereka. Elster menggunakan perspektif pilihan rasional untuk mengkritik orientasi Marxis struktural: “Pengusaha kapitalis adalah agen yang aktif dalam arti sebenarnya. Mereka tak dapat diturunkan ke tingkat pemegang jabatan semata dalam sistem produksi kapitalis” (1985:130). Marxisme pilihan rasional memusatkan perhatian pada agen yang rasional ini (kapitalis dan proletariat) dan antarhubungannya.
Roemer (1982) berada paling depan dalam mengembangkan pendekatan Marxisme analitis yang menekankan eksploitasi (untuk kritik. Ia telah jauh meninggalkan pemikiran yang mengira eksploitasi terjadi di titik produksi (dan karena itu meninggalkan teori nilai tenaga kerja yang sangat meragukan itu) dan mengarah pada pemikiran bahwa eksploitasi berkaitan erat dengan penggunaan paksaan yang berhubungan dengan perbedaan pemilikan kekayaan. Seperti dinyatakan Mayer, “eksploitasi dapat muncul dari pemilikan sumber produktif yang timpang bahkan tanpa penggunaan paksaan dalam prses produksi” (1994:62). Perspektif ini antara lain memungkinkan kita untuk membayangkan eksploitasi, baik itu dalam masyarakat kapitalis maupun dalam masyarakat sosialis. Pandangan tentang eksploitasi ini juga berkaitan dengan teori pilihan rasional dalam arti misalnya, bahwa mereka yang tereksploitasi yang lahir dari distribusi kekayaan yang tidak merata itu dapat menjadi anggota, gerakan sosial yang direncanakan untuk mendistribusikan kekayaan secara lebih merata. Orientasi seperti itu juga memungkinkan Marxisme analisis mempertahankan tujuan etis dan politisnya sambil memasukkan orientasi aliran utama seperti teori pilihan rasional.

Marxisme Berorientasi Empiris
Tokoh utama yang memasukkan menerapkan konsep Marxian ke dalam studi empiris adalah Erik Olin Wright (1985; Burawoy dan Wright, 2001). Ia secara tegas menghubungkan dirinya dengan Marxisme analitis pada umumnya dan dengan pemikiran Roemer pada khususnya. Pemikiran Wright meliputi tiga komponen mendasar: (1) menjelalaskan konsep-konsep dasar Marxian seperti kelas; (2) melakukan studi empiris berdasarkan konsep-konsep itu; (3), membangun teori yang lebih berkaitan logis berdasarkan konsep-konsep itu (terutama konsep kelas).
Dalam bukunya Classes (1985) Wright mencoba menjawab pertanyaan yang dihadapi oleh Marx, tetapi tidak pernah dijawabnya: apakah kelas itu? Wright menjelaskan bahwa jawaban yang ia berikan akan benar menurut agenda teoritis asli Marx. Tetapi, jawabannya itu tak akan sama dengan jawaban yang mungkin dikemukakan Marx karena pemikiran teoritisnya itu telah berusia lebih dari 1 tahun. Begitulah waktu telah berubah dan secara teoritis kita makin canggih. Akibatnya, Wright, seperti Marxis analitis lainnya, memulai dari Marx, tapi menerima pemikirannya sebagai dogma atau mencoba meramalkan bagaimana cara Marx mendefinisikan kelas, karena Marx dan pemikiran teoritisnya dirumuskan di masa hidupnya. Marxis masa kini berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengemukakan pertanyaan seperti itu. Bagaimanapun kita hidup di zaman yang sangat berbeda dangan definisi Marx, meski dapat kita ramalkan, mungkin takkan cocok untuk masyarakat modern.
Karena hal ini membahas teori, maka hasil riset Wright dan orientasi Marxis lainnya tak perlu dibahas lebih rinci lagi. Namun, akan berguna membicarakan sumbangan konseptual Wright yang sangat terkenal, yakni pemikirannya mengenai “letak pertentangan di dalam hubungan kelas” (Wright, 1985:43). Premis dasar Wright adalah bahwa posisi tertentu tak perlu ditempatkan didalam kelas tertentu; posisi itu mungkin terletak di dalam lebih dari satu kelas secara serentak. Jadi, posisi tertentu mungkin secara serentak sebagai proletariat borjuis. Sebagai contoh, manajer adalah borjuis dalam arti bahwa mereka mengawasi bawahan, tetapi mereka juga adalah proletariat dalam arti mereka diawasi oleh orang lain. Pemikiran mengenai lokasi pertentangan kelas ini diperoleh melalui analisis konseptual yang teliti dan kemudian dikaji secara empiris.

Marxisme Analitis Dewasa Ini
Seperti telah terlihat, meski Marxis analitis menganggap diri mereka sendiri adalah Marxis, namun ada yang berpikir (misalnya, Callinicos, 1989) apakah ketertarikan mereka terhadap konsep dan metode aliran utama ini membuat designasi ini menjadi tidak berarti. Elster menegaskan: “kebanyakan pandangan yang saya anggap benar dan penting saya lacak kembali ke Marx” (1985:531).
Mayer (1994) mengemukakan ikhtisar tentang Marxisme analitis yang mencoba membuat tinjauan dan menangkis apa yang ia lihat sebagai enam kritikan utama atas pendekatan Marxisme analitis. Namun, sebelum membahas kritikan itu, ada satu kritikan yang berasal dari karya Mayer itu sendiri: “Marxisme analitis bukanlah sebuah kumpulan pemikiran yang menyatu atau konsisten secara internal” (1994:300). Perbedaan antara tiga orang praktisi yang dibahas di sini (Cohen, Roemer, dan Wright) sangat besar dan sulit membahas pemikiran mereka masing-masing dalam konteks yang sama. Perbedaannya itu memecah belah Marxisme analitis sebelum berpeluang untuk berkembang menjadi perspektif yang berkaitan secara logis.
Kritik pertama yang dibahas Mayer adalah bahwa Marxisme analitis dituduh atomistik dan memusatkan perhatian pada aktor rasional. Mayer menjawab bahwa Marxis analitis tak membayangkan masyarakat tersusun dari individu-individu yang terisolasi dan mereka mengakui bahwa individu tak selalu berperilaku rasional. Kedua, Marxis analitis dituduh memuat determinisme ekonomi, tetapi jawaban Mayer adalah bahwa pandangan dominannya adalah faktor ekonominya merupakan faktor primer, bukan faktor yang menentukan. Kritik ketiga, Marxis analitis dituduh ahistoris, tetapi Mayer tak melihat ciri ini melekat dalam pendekatan ini. Ini dapat ditelusuri pada kebaruannya dan pada fakta bahwa pendekatan ini belum pernah sekalipun berurusan dengan masalah-masalah historis. Keempat, pendekatan ini dituduh mengalami kesukaran dalam menerangkan perubahan sosial. Meski Mayer mengakui masalah ini, ia menyatakan bahwa sebenarnya semua ilmuwan sosial menghadapi kritikan ini. Kelima ada tuduhan pendekatan ini bersifat tautologi, mengasumsikan apa yang perlu dibuktikan (Mayer, 1994:305). Mayer melihat masalah ini sebagai ciri bawaan dalam semua pendekatan deduktif. Keenam, Marxisme analitis dianggap kekurangan semangat moral. Namun Mayer menangkis, “Marxis analitis cukup besar semangat moralnya dan kecaman moral mereka mengenai kekurangan kapitalisme lebih besar semangat moralnya ketimbang untuk mendapatkan telitian dan pemahaman” (1994:315).
Dengan membahas enam tantangan yang dihadapi Marxisme analitis itu Mayer menyimpulkan bahwa tantangan itu harus diterima jika pendekatan hendak menjadi kekuatan yang berarti dalam ilmu sosial. (1) Marxisme analitis harus membangun pendekatan yang lebih dinamis. Seperti dinyatakan Mayer. “versi Marxisme mana pun yang tak mampu menganalisis dinamika sosial dapat diharapkan akan berkembang” (1994:317). (2) Teori dari Marxis analitis harus mampu menganalisis masalah yang berkaitan dengan situasi dan peristiwa khusus dengan cara yang lebih baik. (3) Praktisi pendekatan ini harus memperbaiki ketakseimbangan arah teori dan harus lebih banyak melakukan riset empiris.
(4) Marxis analitis harus memperluas basis mereka dari faktor ekonomi berurusan dengan faktor sosial yang lebih beraneka ragam. (5) Mereka juga harus beralih dari memusatkan perhatian pada masyarakat kapitalis maju menekankan pada masyarakat yang kurang berkembang. (6) Marxis analitis harus menunjukkan adanya pilihan lain terhadap kapitalisme.

Teori Marxian Post-Modern
Teori Marxian sangat dipengaruhi oleh perkembangan teoritis dalam strukturalisme, post-strukturalisme (Anderson, 1984:33) dan post-modernisme yang menjadi perhatian khusus kita di sini. (Landry, 2000; Wood dan Foster, 1997).

Hegemoni dan Demokrasi Radikal
Wakil utama post-modernisme adalah karya Ernesto Laclau dan Muffe, Hegemony and Socialist Strategy (1985). Menurut Ellen Wood karya ini, dengan menerima fokus pada ilmu bahasa, naskah, dan wacana dalam post-modernisme, melepaskan ideologi dari basis materialnya athirnya melarutkan “kehidupan sosial ke dalam ideologi atau diskursus” (1986:47). Konsep hegemoni yang sangat penting bagi Laclau dan Mouffe adalah yang semula dikembangkan oleh Gramsci yang lebih menekankan pada kepemimpinan kultural ketimbang pada pengaruh koersif dominasi negara. Pergeseran pusat perhatian ini tentu saja menjauhkan kita dari Marxian tradisional yang memusatkan perhatian pada kehidupan material, gagasan, dan wacana. Seperti dikatakan Wood, “Singkatnya, argumen Laclau dan Mouffe adalah bahwa tak ada hal-hal semacam kepentingan material, namun hanya ide-ide tentang kepentingan material yang disusun secara diskursif.” (1986:61).
Di samping mengganti gagasan dengan kepentingan material, Laclau dan Mouffe juga memindahkan proletariat dari posisi keistimewanya di pusat teori Marxian. Seperti dinyatakan Wood, Laclau dan Mouffe adalah bagian dari dalam “penguraian kelas dari proyek sosialis” (1986:4). Laclau dan Mouffe menempatkan kelas dalam pengertian subjektif. Kehidupan sosial ditandai oleh bermacam-macam posisi dan antagonisme. Karena itu mustahil munculnya semacam “diskursus yang disatukan” seperti yang oleh Marx dibayangkan berada di sekeliling proletariat. “Diskursus universal tentang proletariat telah digantikan oleh bermacam-macam suara yang masing-masing membangun identitasnya sendiri yang tak berhubungan satu sama lain” (Laclau dan Mouffe, 1985:191). Jadi, ketimbang memusatkan perhatian pada diskursus tunggal mengenai proletariat, teoritisi Marxian didesak untuk memusatkan dan pada sejumlah diskursus beraneka ragam yang berasal dari suara golongan yang terampas haknya seperti golongan wanita, kulit hitam, kaum ekoligis, imigran, konsumen, dan sebagainya. Akibatnya teori Marxian terdesentralisasi (decentralized) dan terdetotalisasi (detotalized) karena tak lagi hanya memusatkan perhatian pada proletariat dan tak lagi melihat masalah proletariat sebagai masalah dalam masyarakat.
Setelah menolak memusatkan perhatian pada faktor material dan proletariat, Laclau dan Mouffe kemudian menolak komunisme, termasuk emansipasi ploretariat, sebagai tujuan teori Marxian. Sebagai alternatifnya, mereka mengusulkan sistem yang diberi nama “demokrasi radikal”. Sebagai pengganti pemusatan perhatian pada hak demokrasi individual, mereka mengusulkan untuk “menciptakan hegemoni baru yang akan menjadi hasil artikulasi sejumlah perjuangan demokrasi” (Mouffe, 1988:41). Apa yang dibutuhkan dalam hegemoni baru ini adalah “hegemoni nilai demokrasi dan ini memerlukan praktik demokrasi yang berulang kali, melembagakannya menjadi hubungan sosial yang makin beraneka ragam” (Mouffe, 1988:41). Demokrasi radikal berupaya membangkitkan kesadaran bersama di bawah payung besar perjuangan demokratis yang meliputi antiras, antiseksis (pembedaan jenis kelamin), antikapitalis, eksploitasi alam (Eder, 1990), dan banyak lagi lainnya. Jadi, inilah demokrasi radikal dan plural (Laclau, 1990:27). Perjuangan satu kelompok tak boleh merugikan kelompok lain. Seluruh perjuangan demokratis harus dilihat sebagai perjuangan yang sederajat. Dengan demikian perlu membangkitkan perjuaangan bersama ini dengan memodifikasi identitas mereka sedemikian rupa sehingga kelompok-kelompok itu melihat diri mereka sendiri sebagai bagian perjuaangan lebih luas untuk mencapai demokrasi radikal. Seperti dinyatakan Laclau Muoffe : Alternatif yang ditawarkan aliran kiri terdiri dari upaya menempatkan diri sendiri di bidang revolusi demokratis dan memperluas ikatan kesederajatan antara berbagai perjuangan menentang penindasan. Karena itu tugas aliran kiri tak boleh meninggalkan ideologi demokrasi liberal, tetapi sebaliknya memperdalam dan memperluas menurut arah demokrasi plural dan radikal.. .bukan meninggalkan bidang demokrasi, melainkan memperluas bidang perjuangan demokrasi keseluruh negara dan masyarakat sipil yang kemungkinannya terleta pada strategi hegemoni aliran kiri (Laclau dan Mouffe, 1985:176).
Sementara demokrasi radikal tetap bertujuan melenyapkan kapitalisme, mengakui bahwa penghancuran kapitalisme tidak akan menghilangkan ketimpangan lain dalam masyarakat. Untuk menanggulangi seluruh ketimpangan sosial diperlukan gerakan yang jauh lebih luas daripada yang dibayangkan oleh teoritisi Marxis tradisional.
Kontinuitas dan Kompresi Ruang-Waktu. Perampasan Marxian terhadap teori post-modern tercermin dalam karya David Harvey, The Condition of Post-modern (1989). Meski Harvey melihat banyak kebaikan dalam pemikiran post-modern ia melihat kelemahan serius di dalamnya dilihat dari sudut pandang Marxian. Teori post-modern dituduh terlalu menekankan masalah kehidupan modern dan kurang memperhatikan prestasi materialnya. Yang paling penting, tanpaknya teori tersebut menerima post-modernitas dan persoalan yang berkaitan dengannya ketimbang menyarankan cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut: “Retorika post-modernisme adalah berbahaya karena menghindar dari realitas ekonomi politik dan kekuasaan global”(Harvey, 1989:117). Yang perlu dihadapi teori post-modern adalah sumber pemikirannya: transformasi politik dan ekonomi kapitalisme di akhir abad 20.
Masalah pokok sistem ekonomi politik adalah pengendalian pasar dan proses kerja (kedua bidang ini menimbulkan masalah akumulasi dalam kapitalisme). Meski periode sesudah perang antara 1945 dan 1973 ditandai oleh proses akumulasi yang tak fleksibel, namun sejak 1973 kita telah bergerak menuju yang makin fleksibel. Periode sebelumnya dikaitkan Harvey dengan fordisme (maupun ekonomi Keynesian) dan periode sesudah itu dihubungkan dengan post-Fordisme, tetapi masalah ini takkan dibahas di sini karena telah dibahas disini. Sementara Fordisme bersifat tak fleksibel, Harvey melihat post-Fordisme berhubungan dengan “kelenturan akumulasi proses kerja, pasar kerja, produk dan pola konsumsi. Kelenturan akumulasi ini ditandai oleh kemunculan sektor-sektor produksi yang sama sekali baru, cara-cara baru, penyediaan pelayanan jasa keuangan, pasar baru dan terutama sangat tingginya tingkat pembaruan di bidang komersial, teknologi dan organisasi” (1989:147).
Meski Harvey melihat perubahan besar dan menyatakan bahwa perubahan ini menjadi dasar pemikiran post-modernisme, ia yakin masih banyak kontinuitas antara era Fordisme dan post-Fordisme. Kesimpulan utama adalah “meski memang telah terjadi perubahan kapitalisme yang tampak di permukaan sejak 1973…namun logika yang melandasi akumulasi kapitalisme dan kecenderungan krisisnya tetap sama” (Harvey, 1989:189).
Harvey memusatkan perhatian pada pendekatan rentang waktu krisis. Ia yakin modernisme mampu memperpendek, waktu maupun ruang, dan proses itu dipercepat di era post-modernisme yang mengarah ke suatu perpendekan rentang waktu yang hebat yang berdampak merusak terhadap praktik ekonomi, kesinambungan kekuatan kelas maupun terhadap kehidupan sosial dan kultural (Harvey, 1989:284). Perpendekan rentang waktu ini pada dasarnya tak berbeda dari era sebelumnya dalam kapitalisme: “kita telah menyaksikan rentetan dahsyat proses pembasmian jarak ruang maupun waktu yang selalu terletak di pusat dinamika kapitalisme” (Harvey, 1989:293). Contoh pembasmian ruang melalui waktu adalah keju yang suatu waktu hanya tersedia di Perancis, kini dijual di seluruh Amerika karena transportasi yang cepat dan murah. Atau dalam perang dengan Irak tahun 1991 televisi saat itu juga membawa kita ke peristiwa mulai dari serangan udara di Baghdad, serangan rudal Scud dari Tel Aviv, sampai ke brifing militer di Riyadh.
Jadi, menurut Harvey, post-modernisme tak terputus dengan modernisme: keduanya mencerminkan dasar yang sama dari dinamika kapitalisme. Baik modernisme dan post-modernisme maupun Fordisme dan post-Fordisme hidup berdampingan dalam dunia kini. Penekanan pada Fordisme dan post-Fordisme
yang “berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat tergantung pada susunan yang mana yang menguntungkan dan mana yang tidak” (Harvey, 1989:344). Sudut pandang demikian membantu memasukkan masalah post modernisme ke bawah payung teori neo-Marxian meski kemudian diubah oleh perkembangan dalam pemikiran post modernisme.
Perubahan dan keretakan yang dilihat Harvey dalam kehidupan post modernis menandakan bahwa kita telah bergerak ke era baru, yang harus diteorikan oleh teoritisi neo-Marxian dengan mengintegrasikannya dengan sistem pemikiran lain.

Pasca-Marxisme
Ada banyak pendapat di kalangan pemikir Marxis semua tipe, tetapi di sini hanya dibahas satu pendapat yang lebih ekstrem mengenai pendapat itu.
Aronson yang mengaku dirinya Marxis menulis After Marxisme (1995). Menurutnya Marxisme sudah berakhir. Kini teoritisi Marxis menganalisi ? kehidupan sosial dan masalahnya dengan pemikiran mereka sendiri tanpa bersandar pada pemikiran Marx. Sikap ini berdasarkan gagasan bahwa pembangunan Marxian memerlukan integrasi teori dan praktik. Meski beberapa orang Marxis masih terus menggunakan sebagian tesis Marxian, namun pembangunan Marxian dalam arti transformasi dari kapitalisme ke sosialisme sudah mati karena jelas gagal mencapai tujuannya. Bukan Aronson, tetapi sejarahlah yang menilai bahwa pembangunan Marxian telah gagal. Jadi, Marxis yang masih terus menggunakan teori Marxian berarti menghancurkan keseluruhan dialektika teori dan praktik yang merupakan bangunan Marxian. Perpecahan ini adalah malapetaka karena yang memberikan Marxisme kekuatan memaksa adalah fakta bahwa Marxisme “mencerminkan sebuah bangunan teori dan praktik yang berhubungan logis” (Aronson, 1995:52).
Tetapi, kenapa bangunan Marxian bisa berakhir jika kapitalisme terus ada dan, dengan kematian komunisme, kapitalisme akan lebih kuat daripada sebelumnya? Sebenarnya Aronson mengakui bahwa ada berbagai argumen yang dapat dibuat untuk menyatakan Marxisme masih relevan. Contoh, ia mengakui bahwa sebagian besar manusia di dunia kini lebih buruk keadaannya dibandingkan dengan keadaan di awal perkembangan kapitalisme, dan meskipun telah terjadi sejumlah perubahan, struktur eksploitatif mendasar kapitalisme tak berubah. Meski kenyataannya demikian, Aronson menyatakan bahwa berbagai jenis transformasi mengharuskan kita menyimpulkan bahwa beberapa aspek penting teori Marxian sudah kuno :
ü  Kelas buruh ternyata tidak semakin melarat.
ü  Struktur kelas tidak makin sederhana menjadi dua kelas yang bertentangan (Borjuis dan Proletariat).
ü  Karena transformasi proses manufaktur, jumlah pekerja industri menurun, kelas pekerja menjadi semakin terbagi-bagi dan kesadaran mereka mengenai situasi mereka mengalami erosi.
ü  Penyusutan secara menyeluruh kelas pekerja menurunkan kekuatannya, kesadaran kelasnya, dan kemampuannya untuk terlibat dalam perjuangan kelas.
ü  Buruh semakin kurang mengenali diri mereka sendiri sebagai buruh, mereka mempunyai identitas ganda dan bersaing sehingga kini menjadi seorang buruh hanyalah salah satu di antara banyak identitas.
Aronson menyatakan meski Marxisme sudah berakhir namun kita tak perlu menyesali keberadaannya bahkan terhadap tindakan keterlaluan (contohnya stalinisme) yang dilakukan atas namanya. Marxisme:
memberi harapan, memberikan pengertian tentang kehidupan, memberikan arah dan makna terhadap kehidupan bagi banyak orang. Selama panggilan untuk mengangkat senjata terbesar di abad 20, Marxisme mengilhami jutaan orang untuk siap berjuang meyakini bahwa di suatu hari manusia akan mampu menentukan kehidupan dan memenuhi kebutuhan mereka (Aronson, 1995:85).
Aronson selain mencari penyebab kegagalan Marxisme dalam kehidupan nyata juga mencari penyebab kematian Marxisme dalam kehidupan teori itu sendiri. Menurutnya masalahnya berawal pada kenyataan bahwa teori asli Marx diciptakan di awal era modern dan akibatnya mengandung campuran tak serasi antara pemikiran modern dan pramodern. Masalah inilah yang telah mengganggu teori Marxian sepanjang riwayatnya. Sebagai contoh, keyakinan pramodern profetik mengenai emansipasi berdampingan dengan keyakinan sains dan pencarian fakta: “di bawah lapisan ilmiahnya, ramalan dogmatis tersebut menampakkan kaitannya yang lebih dalam dengan harapan keagamaan pramodern tentang kehidupan yang diselamatkan oleh kekuasaan Tuhan di luar kontrol manusia” (Aronson, 1995:97). Contoh lain, Marxisme cenderung menekankan proses objektif dan mengabaikan proses subjektif.
Salah satu bgian After Marxisme berjudul pernyataan provokatif: “Feminisme menghancurkan Marxisme” (1995:124). Aronson menjelaskan bahwa feminisme tak sendirian dalam menghancurkan Marxisme. Feminisme menyumbang atas kehancuran Marxisme dengan menuntut agar teori memusatkan perhatian pada penindasan wanita sebagai wanita” (Aronson, 1995:126). Pemusatan perhatian ini jelas meruntuhkan teori Marxian yang mengaku menawarkan teori yang dapat diterapkan terhadap seluruh umat manusia. Feminisme juga membuat tahapan perkembangan kelompok lain yang menuntut teori itu memusatkan perhatian lebih pada aliran khusus mereka ketimbang terhadap masalah kemanusiaan universal.
Aronson melukiskan teori-teori post Marxis seperti Marxisme analitis yang selalu dibahas sebagai Marxisme tanpa Marxisme. Maksudnya teori-teori itu adalah teori murni yang kekurangan dalam praktiknya dan karena itu menurutnya, tak seharusnya disebut Marxisme.
Seperti Marxisme analitis, teori-teori itu mengklaim nama Marxisme, tetapi mereka mengklaim Marxisme tanpa Marxisme. Pemikiran teoritis mereka sudah jauh berubah, terbatas dan sempit bahkan nada pesan dan janji mereka sebenarnya mengesankan bahwa mereka hanya memusatkan perhatian pada lingkaran cahaya Marxisme, tak lebih dari itu. Gagasan mereka tak dapat menyulap realitas yang sudah layu (Aronson 1995:149).
Teori Marxian seperti itu akan bertahan, tetapi akan jauh lebih rendah tempatnya di dunia. Teori Marxian hanya akan mencerminkan satu pernyataan teoritisi.
Aronson menyimpulkan bahwa para analis kritis dunia modern membuat analisis mereka sendiri tanpa bermaksud membangun bangunan Marxian. Namun, inilah berkah campuran ketika bangunan Marxian sangat kuat pun ternyata ada juga “albatros” di sekitar leher analisis kritis. Haruskah bekas Marxis mencari-cari Marx baru atau bangunan Marxian baru? Mengingat perkembangan dalam masyarakat dan dalam teori, menurut Aronson jawabannya adalah tidak karena kita telah bergerak “melampaui kemungkinan holisme, integrasi, koherensi, dan keyakinan yang ada dalam Marxisme” (1995:168). Jadi, misalnya, ketimbang gerakan radikal tunggal, yang harus kita coba kini adalah koalisi radikai dari kelompok dan gagasan. Tujuan koalisi semacam itu adalah pembebasan kemodernan dari ketegangan di dalam dan berbagai bentuk penindasannya.
Satu masalah yang dihadapi gerakan radikal baru seperti itu adalah bahwa gerakan tersebut tak lagi dapat diharapkan akan digerakkan oleh impian yang mendorong pandangan utopia. Tetapi, gerakan itu harus mempunyai ikatan emosional bersama dan tetap melangkah maju. Gerakan itu harus mempunyai basis moral, pengertian mengenai apa yang benar dan apa yang salah. Juga harus mempunyai harapan meski harapan yang jauh lebih sederhana ketimbang harapan yang menjadi ciri bangunan Marxian. Meski sederhana, harapan seperti itu mungkin pula kurang menimbulkan kekecewaan besar yang menandai bangunan Marxian ketika gagal mencapai tujuan sosialnya.

Kritik Terhadap Post-Modernisme
Perlu diingat bahwa banyak teoritisi Marxian yang kecewa atas perkembangan. Post-Marxis (contoh, Burawoy 1990; Wood 1986; Wood dan Foster, 1997). Burawoy, misalnya, menyerang pemikiran Marxis analitis karena menyingkirkan masalah historis dan karena memuja kemurnian dan kekakuan. Weldes mengecam Marxisme analitis karena membiarkan dirinya dijajah oleh pemikiran ekonomi aliran utama, menerima mentah-mentah “pendekatan teknis penyelesaian masalah” menjadi semakin bersifat akademis, kurang bersifat politis, dan semakin konservatif (1989:354). Wood menyoroti masalah politik dan mengecam Marxisme analitis dan Marxisme post-modern karena kebungkaman politisnya dan karena sikap menyerahnya dan “kesinisannya yang mengatakan bahwa setiap program perubahan radikal pasti gagal” (1989:88). Bahkan pendukung salah satu cabang Marxisme analitis yang melakukan studi empiris yang sangat teliti tentang pemikiran Marxian telah mengecam teori pilihan rasional yang mereka pandang keliru, yang menerima pandangan individualisme paetodologis (Levine, Sober dan Wright, 1987).
Karya Laclau dan Mouffe mendapat serangan berat. Misalnya, Allen Hunter mengkritik mereka karena komitmen menyeluruh mereka terhadap idealisme lebih khusus lagi karena menempatkan diri mereka “di ujung ekstrem analisis wacana yang memandang segala sesuatu sebagai wacana” (1988:892). Begitu pula Geras (1987) menyerang Laclau dan Mouffe karena idealisme mereka, tetapi ia pun melihat mereka jangak, perisau, tak logis, dan mengaburkan. Laclau dan Mouffe membalas dengan judul artikel mereka “Post-Marxism Without Apologies” (1987). Burawoy menyerang Laclau dan Mouffe karena memahami “tersesat dalam jaringan sejarah di mana segala sesuatu adalah penting dan karena penjelasannya adalah mustahil” (1990:790).
Terakhir, berbeda dengan Aronson, Burawoy yakin bahwa Marxisme tetap berguna dalam memahami dinamika dan kontradiksi kapitalisme. Jadi, dengan kematian komunisme dan dengan kapitalisme yang menguasai seluruh dunia “Marxisme.. .sekali lagi akan menjadi dirinya sendiri” (Burawoy, 1990:792). Dari sudut perkembangan di era 1990-an, Wood dan Foster (1997:67) mengatakan bahwa Marxisme lebih dibutuhkan ketimbang sebelumnya karena “kemanusiaan semakin terkait dalam dimensi global dari eksploitasi dan penindasan”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar