Sabtu, 20 April 2013

Sosiologi Ekonomi Neo-marxian


Kebanyakan pemikir neo Marxian (misalnya teoritisi kritis) tak banyak membahas lembaga ekonomi, sekurangnya sebagai reaksi terhadap ekses pemikiran pemikir determinisme ekonomi. Namun reaksi itu dengan sendirinya telah menggerakkan serentetan reaksi balik. Bagian ini akan menjelaskan pemikiran beberapa pemikir Marxis yang kembali memusatkan perhatian pada bidang ekonomi. Pemikiran mereka tak semata ulangan teori Marxian awal. Pemikiran mereka merupakan upaya menyesuaikan teori Marxian dengan realitas masyarakat kapitalis modern (Lash dan Urry, 1987; Meszaros, 1995).
Di bagian ini akan dibahas dua kelompok karya. Pertama berfokus pada isu modal dan tenaga kerja secara luas. Yang kedua adalah karya kontemporer yang lebih sempit, tentang transisi dari Fordisme ke post-Fordisme.

Modal dan Tenaga Kerja
Pemahaman asli Marx tentang struktur dan proses ekonomi, didasarkan atas hasil analisisnya tentang kapitalisme di zamannya (pertengahan abad 20) yang dapat kita bayangkan sebagai kapitalisme kompetitif. Industri kapitalis relatif tergolong kecil. Akibatnya tak ada industri tunggal atau sekelompok kecil industri yang dapat mengendalikan pasar sepenuhnya dan tanpa persaingan. Kebanyakan pemikiran ekonomi Marx didasarkan atas premis (yang memang akurat di zamannya) bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem kompetitif. Marx memang membuat ramalan tentang kemungkinan munculnya sistem monopoli di masa datang, tetapi komentarnya mengenai hal ini hanya singkat. Kebanyakan teoritisi Marxian terus berpikir seakan-akan kapitalisme tetap banyak persamaannya dengan kapitalisme di zaman Marx.

Monopoli Modal
Dalam konteks inilah kita harus memeriksa karya Paul Baran dan Sweezy (1966). Kedua pemikir ini memulai dengan mengkritik ilmu sosial Marxian karena mengulangi rumusan yang sudah lazim dan karena gagal menerangkan perkembangan penting terakhir yang terjadi di dalam masyarakat kapitalis. Mereka menuduh teori Marxian mengalami stagnasi karena teori itu terus bersandar pada asumsi ekonomi kompetitif. Menurut mereka teori Marxian modern mestinya menyadari bahwa kapitalisme persaingan sebagian besar telah digantikan oleh kapitalisme monopoli.
Kapitalisme monopoli dalam satu hal berarti pengendalian satu atau sedikit kapitalis terhadap sektor ekonomi tertentu. Jelas dalam kapitalisme monopoli kompetisi jauh lebih sedikit ketimbang dalam kapitalisme kompetitif. Dalam kapitalisme kompetitif organisasi usaha bersaing atas dasar harga; artinya kapitalis berupaya menjual barang lebih banyak dengan menawarkan harga lebih rendah. Dalam kapitalisme monopoli perusahaan tak lagi bersaing dengan cara seperti itu karena satu atau beberapa perusahaan mengendalikan pasar; kompetisi bergeser ke bidang penjualan. Periklanan, pengemasan, dan metode lain yang bertujuan menarik minat kosumen potensial adalah bidang utama kompetisi.
Pergerakan dari persaingan harga ke persaingan penjualan adalah bagian proses lain yang menjadi watak kapitalisme monopoli rasionalisasi progresif. Persaingan harga makin dipandang sangat tidak rasional. Artinya, dilihat dari sudut pandang kapitalis monopoli, menawarkan harga yang makin rendah hanya akan menimbulkan kekacauan di pasar; itu belum lagi membicarakan keuntungan yang makin kecil dan kemungkinan bangkrut. Sebaliknya, kompetisi penjualan bukanlah sistem persaingan yang tajam, yang saling membunuh; kenyataarm persaingan penjualan ini menyediakan pekerjaan bagi industri periklanan. Harga dapat dipertahankan tinggi karena biaya penjualan dan promosi ditambahkan pada harga. Jadi, kompetisi penjualan juga jauh lebih kecil risikonya ketimbang kompetisi harga.
Aspek penting lain kapitalisme monopoli adalah munculnya perusahaan raksasa dan sejumlah kecil perusahaan besar yang mengendalikan sebagian besar sektor ekonomi. Dalam kapitalisme kompetitif, organisasi perusahaan hampir seluruhnya dikendalikan oleh seorang pengusaha. Perusahaan modern dimiliki oleh sejumlah besar pemegang saham, namun sebagian kecil dari pemegang saham yang besar jumlahnya itu memiliki sebagian besar saham. Meski pemegang saham memiliki perusahaan, namun para manajer melaksanakan kontrol sungguhnya sehari-hari. Manajer adalah sentral dalam kapitalisme monopoli sedangkan pengusaha adalah sentral dalam kapitalisme kompetitif. Manejer mempunyai kekuasaan sangat besar yang mereka upayakan untuk mempertahankannya. Mereka juga berupaya secara bebas membiayai perusahaan yang mereka pimpin dengan mencoba semaksimal mungkin menghasilkan dana apapun yang mereka butuhkan secara internal ketimbang menggantungkan diri pada sumber dana dari luar.
Baran dan Sweezy menguraikan secara luas mengenai posisi sentral manajer perusahaan dalam masyarakat kapitalis modern. Manajer dipandang sebagai kelompok yang sangat rasional yang berpikir untuk memaksimalkan keuntungan organisasi. Karena itu mereka tak berkecenderungan mengambil risiko yang menjadi watak para pengusaha awal. Kapitalisme awal cenderung tertarik untuk memaksimalkan keuntungan jangka pendek, sebaliknya manajer menyadari bahwa upaya seperti itu menyebabkan kekacauan persaingan harga yang sebaliknya mungkin akan memengaruhi keuntungan jangka panjang perusahaan. Karena itu manajer mungkin akan menangguhkan keuntungan jangka pendek antuk memaksimalkan keuntungan jangka panjang.
Baran dan Sweezy dikritik karena berbagai alasan. Misalnya, mereka terlalu rasionalitas manajer. Herbert Simon (1957), misalnya, menyatakan manajer lebih tertarik untuk menemukan (dan hanya mampu menemukan) solusi yang memuaskan secara minimal ketimbang menemukan solusi yang paling rasional dan paling menguntungkan. Masalah lain, apakah manajer benar-benar adalah tokoh sangat penting dalam kapitalisme modern. Banyak orang yang akan menyatakan bahwa para pemegang saham mayoritaslah sebenarnya yang mengontrol sistem kapitalis.

Tenaga Kerja dan Monopoli Modal
Harry Braverman (1974) memandang tenaga kerja dan eksploitasi buruh merupakan inti teori Marxian, tak hanya bermaksud memperbarui pemikiran Marx mengenai pekerja manual, tetapi juga hendak meneliti apa yang terjadi pada pekerja kantoran dan pekerja pelayanan.
Untuk mengembangkan analisis Marx, Braverman menyatakan bahwa konsep “kelas buruh” tidak mendeskripsikan sekelompok orang atau kelompok tertentu, tetapi lebih merupakan sebuah pernyataan tentang proses pembelian dan penjualan tenaga kerja. Dilihat dari proses itu, Braverman bahwa dalam kapitalisme modern sebenarnya tak seorang pun di antara tenaga kerja itu memiliki alat produksi; karena itu segolongan besar orang pekerja kantoran dan pelayan terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada segolongan kecil yang memiliki alat produksi. Menurut Braverman, pengendalian dan eksploitasi kapitalis maupun proses yang berasal dari mekanisasi dan rasionalisasi diperluas ke pekerja kantoran dan pelayan meski dampaknya belum sebesar yang dialami oleh buruh kasar.

Pengendalian Manajerial
Braverman mengakui adanya eksploitasi ekonomi menjadi sasaran perhatian Marx, tetapi ia menekankan perhatian pada pengendalian. Ia mengajukan pertanyaan: “Bagaimana cara kapitalis mengendalikan tenaga kerja yang mereka pekerjakan?” Jawabannya adalah mereka melaksanakan pengendalian tenaga kerja melalui manajer. Braverman mendefinisikan manajemen sebagai “proses memimpin tenaga kerja yang bertujuan mengendalikannya di dalam perusahaan” (1974:267).
Braverman memusatkan perhatian pada cara-cara yang lebih bersifat yang digunakan manajer untuk mengendalikan tenaga kerja. Salah satu sasaran perhatiannya adalah pemanfaatan spesialisasi untuk mengendalikan tenaga kerja. Di sini ia dengan hati-hati membedakan antara pembagian kerja ke dalam masyarakat sebagai satu kesatuan dan spesialisasi pekerjaan di dalam organisasi. Seluruh masyarakat dikenal mempunyai pembagian kerja (misalnya antara lelaki dan wanita, antara petani dan pengrajin, dan seterusnya), tetapi spesialisasi pekerjaan di dalam organisasi adalah sebuah perkembangan khusus kapitalisme meski tampak ada pula dalam masyarakat sosialis. Braverman yakin bahwa pembagian kerja di tingkat kemasyarakatan dapat meningkatkan individualisme; sebaliknya spesialisasi di tempat bekerja menimbulkan malapetaka memecah belah kemampuan utuh manusia: “membagi-bagi pekerjaan individu dalam bagian-bagian kecil bila dilakukan tanpa menghiraukan kemampuan dan kebutuhan manusia adalah sebuah kejahatan terhadap perseorangan dan terhadap kemanusiaan” (1974:73).
Spesialisasi di tempat kerja meliputi pembagian tugas atau operasi menjadi bagian-bagian kecil dan sangat terspesialiasi, yang tiap bagian diserahkan kepada pekerja yang “berlainan”. Proses ini merupakan ciptaan dari apa yang disebut Braverman “pekerja detail”. Kapitalis memilih sejumlah kecil pekerja yang akan digunakan mengerjakan pekerjaan yang berada di luar kemampuan individu untuk menyelesaikannya secara utuh. Seperti dikatakan Braverman, kapitalis awal memerinci proses pekerjaan dan kemudian membagi-bagi pekerja menggunakan sebagian kecil kemampuan dan ketrampilannya. Menurut istilah Braverman pekerja “tak pernah dengan sukarela mengubah dirinya sendiri menjadi pekerja detil seumur hidup. Inilah kontribusi kapitalis” (1974:78).
Mengapa kapitalis melakukan ini ? PERTAMA, untuk meningkatkan kontrol manajemen. Jauh lebih mudah mengontrol pekerja yang mengerjakan tugas khusus ketimbang mengontrol pekerja yang menggunakan keterampilan berskala luas. KEDUA, meningkatkan produktivitas, yakni sekelompok pekerja yang melaksanakan tugas yang sangat terspesialisasi dapat menghasilkan lebih banyak daripada yang dihasilkan oleh sejumlah pekerja tangan yang sama dengan masing-masing berketerampilan sama dan melaksanakan seluruh aktivitas produksi. Contohnya, pekerja perakitan mobil dengan terspesialisasi menghasilkan lebih banyak mobil daripada yang dapat dihasilkan oleh sejumlah pekerja terampil yang sama yang masing-masing menyelesaikan perakitan sendirian. KETIGA, spesialisasi memungkinkan kapitalis membayar upah paling rendah untuk tenaga kerja yang dibutuhkan. Kapitalis cenderung mempekerjakan tenaga kerja tak terampil dengan upah lebih rendah ketimbang tenaga kerja terampil dengan upah lebih tinggi. Dengan mengikuti logika kapitalisme, majikan secara bertahap berupaya mencari tenaga kerja yang lebih murah yang cadangannya tersedia dalam “tenaga kerja biasa”.
Spesialisasi bukanlah alat kontrol memadai yang dapat digunakan kapitalis manajer. Alat kontrol penting lainnya adalah teknik ilmiah, termasuk upaya seperti manajemen ilmiah, yakni upaya penerapan ilmu untuk mengendalikan cara kerja atas nama manajemen. Menurut Braverman, manajemen ilmiah ilmu mengenai “cara terbaik untuk mengendalikan tenaga kerja yang teralienasi” (1974:90). Manajemen ilmiah ditemukan dalam sederetan tahapan bertujuan mengendalikan tenaga kerja sebagai berikut: mengumpulkan sejumlah pekerja dalam satu ruangan kerja, menetapkan lamanya hari kerja dan kerja, mengawasi pekerjaan mereka, melaksanakan peraturan terhadap gangguan (misalnya, dengan teguran), dan menetapkan tingkat produksi minimal yang dapat diterima. Ringkasnya manajemen ilmiah memberikan sumbangan terhadap “pengendalian dengan menetapkan cara bekerja yang tepat yang harus dilaksanakan oleh pekerja” (Braverman, 1974:90), Misalnya, Braverman bahas karya awal F.W. Taylor (Kanigel, 1997) tentang cara menyekop batu yang menuntunnya mengembangkan aturan mengenai jenis sekop yang akan digunakan, cara berdiri, posisi sekop ketika memasuki tumpukan batu bara, dan berapa banyak batu bara yang harus terambil sekali sekop. Dengan kata lain Taylor mengembangkan metode yang menjamin terkendalinya secara total hampir keseluruhan proses pekerjaan. Pekerja hanya dibiarkan membuat keputusan sendiri sesedikit mungkin. Jadi, pemisahan mental dan tangan benar-benar sempurna. Manajemen menggunakan monopolinya terhadap pekerjaan yang berkenaan dengan pengetahuan untuk mengontrol setiap langkah proses pekerjaan. Akhirnya, pekerja itu sendiri dibiarkan tanpa keterampilan isi atau pengetahuan yang bermakna; keterampilan dan keahlian dihancurkan sama sekali.
Braverman pun melihat mesin sebagai alat kontrol terhadap pekerja. Mesin modern tercipta ketika “peralatan dan atau pekerjaan cenderung diatur gerakannya oleh struktur mesin itu sendiri” (Braverman, 1974:188). Keterampilan lebih ditujukan untuk melayani mesin ketimbang membiarkan didapatkan oleh pekerja. Pekerja menjadi dikontrol oleh mesin ketimbang mengontrol pekerjaan. Selanjutnya akan jauh lebih mudah bagi manajemen untuk mengontrol mesin ketimbang mengontrol pekerja.
Braverman menyatakan bahwa melalui mekanisme seperti spesialisasi pekerjaan, manajemen ilmiah dan mesin, manajemen mampu memperluas kontrolnya terhadap pekerjaan tangannya. Meski penekanan terhadap kontrol ini berguna, kontribusi khusus Braverman adalah upayanya mengembangkan jenis analisis ini ke sektor tenaga kerja yang belum dianalisis Marx ketika menganalisis proses kerja. Braverman menyatakan pekerja kantoran dan pekerja pelayanan tunduk pada proses kontrol yang sama dengan yang digunakan terhadap pekerja tangan di abad terakhir (Schmutz, 1996).
Contoh yang dikemukakan Braverman adalah pekerja kerah putih yang tergolong klerek. Di suatu ketika klerek ini dianggap sebagai kelompok yang berbeda dari pekerja tangan karena ciri-ciri seperti pakaian, keterampilan, pendidikan, dan prospek karir mereka (Lockwood, 1956). Tetapi, kini kedua golongan pekerja itu tunduk pada alat kontrol yang sama. Demikianlah kini semakin sukar membedakan antara pabrik dan kantor yang menyerupai pabrik, karena pekerja di kantor menyerupai pabrik ini makin lama makin diproletariatkan. Pekerjaan pekerja klerek menjadi makin lama makin dispesialisasikan. Antara lain ini berarti bahwa aspek mental dan tangan pekerjaan kantor telah dipisahkan. Manajer kantor telah dipisahkan. Manajer kantor insinyur dan teknisi kini melaksanakan pekerjaan mental, sedangkan barisan pekerja klerek mengerjakan pekerjaan yang kurang lebih sama dengan tugas tangan seperti mengetik, mengarsip, dan mengetik dengan mesin ketik pelubang (keypunch). Akibatnya, tingkat keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan itu telah diturunkan dan pekerjaan itu sedikit sekali atau hampir tak memerlukan latihan khusus.
Kini manajemen ilmiah juga terlihat menyerbu kantor. Tugas klerek pun sudah dikaji secara ilmiah dan akibat dari hasil riset itu tugas klerek telah disederhanakan, dirutinkan, dan distandarisasi. Akhirnya, mekanisasi mulai melakukan serangan yang berarti ke dalam kantor terutama melalui peralatan komputer.
Dengan menerapkan mekanisasi ini ke pekerjaan klerek, manajer makin mudah mengontrol pekerja seperti itu. Mekanisme kontrol seperti itu tak mungkin sama kuat dan efektifnya di kantor dan di pabrik; tetapi kecenderungannya adalah menuju perkembangan pabrik pekerja kantoran. Perlu diingat buku Braverman ditulis sebelum ledakan pemakaian komputer di kantor, terutama sebelum menyebarnya penggunaan prosesor data. Teknologi seperti itu mungkin memerlukan latihan dan keterampilan lebih besar ketimbang yang diperlukan oleh teknologi perkantoran yang lebih tua dan juga meningkatkan otonomi pekerja (Zuboff,1988).
Ada beberapa kritik yang dapat ditujukan kepada Braverman. Pertama, ia melebih-lebihkan derajat kesamaan antara pekerjaan tangan dan pekerjaan klerek. Kedua, pemusatan perhatiannya terhadap kontrol menyebabkannya relatif sedikit mencurahkan perhatian terhadap dinamika eksploitasi ekonomi dalam kapitalisme. Namun demikian, ia telah memperkaya pemahaman kita tentang proses kerja dalam masyarakat kapitalis modern (Foster, 1994; Meiksins, 1994).
Karya Lain tentang Tenaga Kerja dan Modal
Masalah kontrol ini lebih dibahas oleh Richard Edwards (1979). Menurut Edwards, kontrol di jantung transformasi tempat kerja di abad 20. Dengan mengikuti Marx, Edwards melihat tempat kerja, di masa lalu maupun kini, sebagai arena konflik menurut istilahnya sendiri sebagai “arena pertarungan”. Di arena inilah terjadi perubahan dramatis di mana mereka yang berada di atas mengontrol yang berada di bawah. Dalam kapitalisme kompetitif abad 19 digunakan kontrol sederhana di mana “para atasan menggunakan kekuasaan secara pribadi, campur tangan dalam proses kerja sering dengan cara memaksa pekerja, menggertak dan mengancam pekerja, memberi hadiah atas pelaksanaan pekerjaan yang baik, mengangkat dan memecat dengan segera, menyayangi pekerja yang setia dan umumnya bertindak seperti despot atau orang yang dermawan, atau lainnya” (Edwards, 1979:19). Meski sistem kontrol ini berlanjut di banyak perusahaan kecil, sistem ini terlalu kasar untuk organisasi modern berskala besar. Dalam organisasi besar demikian kontrol sederhana cenderung digantikan oleh kontrol birokratis dan teknis yang lebih canggih dan impersonal. Pekerja modern dapat dikontrol oleh teknologi yang digunakan di tempat mereka bekerja. Contoh klasiknya adalah deretan perakitan mobil di mana tindakan pekerja ditentukan oleh tuntutan yang tak putus-putusnya dari deretan perakitan itu. Contoh lain adalah komputer modern yang dapat mengawasi dengan teliti berapa banyak pekerjaan yang dikerjakan seorang pekerja dan berapa banyak kesalahan yang dibuatnya. Pekerja modern juga dikontrol oleh aturan birokrasi yang lebih bersifat impersonal ketimbang dikontrol secara personal oleh pengawas. Kapitalisme terus berubah dan bersamaan dengan itu mengubah cara mengontrol pekerja.
Penting pula disimak karya Michael Burawoy (1979) dan kajiannya tentang mengapa pekerja dalam sistem kapitalis bekerja demikian keras. Ia menolak penjelasan Marx yang menyatakan bahwa kerja keras itu karena adanya koersi atau paksaan. Kedatangan Serikat buruh dan perubahan lainnya telah melenyapkan sebagian besar kekuasaan sewenang-wenang. “Koersi sendiri tak lagi dapat menjelaskan apa yang dilakukan pekerja segera setelah tiba di tempat kerja” (Burawoy, 1979:xii). Menurut Burawoy, pekerja, setidaknya sebagian, menyetujui bekerja keras dalam sistem kapitalis dan, sebagian persetujuannya itu dihasilkan di tempat kerja.
Satu aspek yang diteliti Burawoy adalah permainan yang dimainkan pekerja ditempat kerja dan lebih umum lagi praktik informal yang mereka kembangkan ditempat kerja. Kebanyakan analisis melihat ini sebagai upaya pekerja untuk mengurangi keterasingan dan perasaan tak senang lainnya sehubungan dengan pekerjaan. Lagi pula perasaan tak senang itu biasanya telah dipandang sebagai mekanisme sosial yang dikembangkan pekerja untuk menentang manajemen.
Sebaliknya, Burawoy menyimpulkan bahwa permainan ini biasanya bukan berdiri sendiri dan bukan untuk menentang manajemen (1979:80). Kenyataannva manajemen, sekurangnya di tingkat lebih rendah, benar-benar tak hanya berpartisipasi dalam organisasi permainan itu, tetapi juga dalam pelaksanaan aturannya (1979:80). Ketimbang menentang manajemen organisasi atau akhirnya sistem kapitalis, permainan ini benar-benar mendukungnya. Satu hal memainkan permainan menimbulkan perasaan tak senang di kalangan pekerja terhadap aturan yang melandasi permainan itu dan lebih umum lagi terhadap sistem hubungan sosial (pemilik manajer pekerja) yang menetapkan aturan permainan itu. Hal lainnya adalah karena manajer dan pekerja sama-sama terlibat dalam permainan, maka pertentangan dalam sistem hubungan sosial diperkirakan akan mudah dikendalikan.
Burawoy menyatakan metode membangkitkan kerja sama secara aktif dan persetujuan seperti itu jauh lebih efektif dalam membawa pekerja untuk bekerja sama dalam mengejar keuntungan ketimbang metode penggunaan paksaan (seperti memecat pekerja yang tak mau bekerja sama). Burawoy yakin bahwa metode perlombaan dan praktik informal lainnya itu dapat membujuk pekerja untuk menerima sistem dan memberikan kontribusi untuk terus-menerus mengejar keuntungan yang lebih tinggi.

Fordisme dan Post-Fordisme
Salah satu masalah yang paling banyak menyita perhatian pemikir ekonomi berorientasi Marxis adalah masalah apakah kita telah mengalami ataukah sedang mengalami transisi dari “Fordisme” ke “post-Fordisme” (Amin, 1994; Kiely, 1998). Ini berkaitan dengan masalah lebih luas apakah kita telah mengalami transisi dari masyarakat modern ke post modern. Umumnya Fordisme dihubungkan dengan era modern, sedang post Fordisme dikaitkan dengan era yang lebih akhir, era post modern. (Perhatian Marxian terhadap Fordisme tidak baru; Gramsci (1971) menerbitkan esai tentang Fordisme ini tahun 1931.)
Fordisme merujuk pada gagasan, prinsip, dan sistem yang dikembangbiakkan oleh Henry Ford. Ford umumnya berjasa dalam mengembangkan sistem produksi massal modern, terutama melalui penciptaan sistem perakitan mobil secara bergilir (assembly line). Ciri-ciri Fordisme itu adalah sebagai berikut :
ü  Produksi massal untuk produk sejenis.
ü  Menggunakan teknologi yang tidak fleksibel seperti perakitan bergilir (assembly line).
ü  Mengadopsi sistem pekerjaan rutin yang distandarkan (Taylorisme).
ü  Kenaikan produktivitas berasal dari skala “ekonomi maupun dari penurunan tingkat keterampilan, intensifikasi dan homogenisasi tenaga kerja (Clarke, 1990:73).
ü  Meningkatnya pekerja massal dan serikat (unions) yang birokratis.
ü  Negosiasi oleh serikat mengenai keseragaman upah berkaitan erat dengan kenaikan keuntungan dan produktivitas.
ü  Pertumbuhan pasar untuk produk homogen industri produksi massal dan homogenisasi pola konsumsi.
ü  Kenaikan upah, berkaitan dengan unionisasi, menyebabkan kenaikan permintaan atas kenaikan suplai produk yang diproduksi secara massal.
ü  Pasar untuk produk yang dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi Keynesian dan pasar untuk tenaga kerja yang ditangani melalui persetujuan kolektif yang diatur pemerintah.
ü  Lembaga pendidikan umum menyediakan tenaga kerja massal yang diperlukan oleh industri (Clarke, 1990:73).
Sementara Fordisme tumbuh sepanjang abad 20, terutama di Amerika serikat, ia mencapai puncaknya dan mulai menurun di tahun 1970-an terutama setelah krisis minyak bumi tahun 1973 dan disusul kemerosotan industri mobil Amerika dan berkembangnya industri mobil Jepang. Akibatnya dinyatakan bahwa kita menyaksikan kemerosotan Fordisme dan bangunnya post-Fordisme ditandai oleh hal berikut :
ü  Menurunnya minat terhadap produk massal diikuti oleh pertumbuhan minat terhadap produk yang lebih terspesialisasi, terutama produk yang bergaya dan berkualitas tinggi.
ü  Produk yang lebih terspesialisasi memerlukan jangka waktu produksi lebih pendek, yang dapat dihasilkan dalam sistem yang lebih kecil dan lebih produktif.
ü  Produksi yang lebih fleksibel menjadi menguntungkan dengan datangnya teknologi baru.
ü  Teknologi baru memerlukan tenaga kerja yang selanjutnya mempunyai keterampilan yang makin berbeda dan pendidikan yang lebih baik, lebih bertanggung jawab dan otonomi makin besar.
ü  Produksi harus dikontrol melalui sistem yang lebih fleksibel.
ü  Birokrasi yang sangat besar dan tidak fleksibel perlu diubah secara dramatis agar beroperasi lebih lentur.
ü  Serikat buruh yang dibirokratisasikan (dan partai politik) tak lagi memadai untuk mewakili kepentingan tenaga kerja baru yang sangat terdiferensiasi.
ü  Perundingan kolektif yang didesentralisasi menggantikan negosiasi yang disentralisasir.
ü  Tenaga kerja menjadi semakin terdiferensiasi dan memerlukan komoditi, gaya hidup dan saluran kultural yang makin terdiferensiasi.
ü  Kekayaan negara yang tersentralisasi tak lagi dapat memenuhi kebutuhan (misalnya kesehatan, kesejahteraan, pendidikan) rakyat yang berbeda-beda dan diperlukan lembaga yang lebih terdiferensiasi dan lebih fleksibel. (Clarke, 1990:73-74).
Bila diringkas, pergeseran dari Fordisme ke post Fordisme dapat dilukiskan sebagai transisi dari homogenitas ke heterogenitas. Ada dua masalah umum yang muncul di sini. PERTAMA: Apakah transisi dari Fordisme ke post Fordisme itu benar-benar telah terjadi (Pelaez dan Holloway, 1990) ? KEDUA: Apakah post Fordisme memberikan harapan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan Fordisme ?.
PERTAMA, belum jelas adanya pemutusan historis antara Fordisme dan post Fordisme (Hall, 1988). Meski kita ingin mengakui bahwa unsur post Fordisme telah muncul dalam kehidupan modern, namun sama jelasnya bahwa unsur Fordisme masih bertahan dan tak ada tanda-tanda yang menunjukkan kelenyapannya. Contoh, sesuatu yang akan kita sebut McDonaldisme, sebuah fenomena yang banyak kesamaannya dengan Fordisme, tumbuh pesat dalam masyarakat masa kini. Berdasarkan model restoran cepat saji, makin lama makin banyak sektor masyarakat yang memanfaatkan prinsip McDonaldisme (Ritzer. 2000a). McDonaldisme mempunyai banyak kesamaan ciri-ciri dengan Fordisme: produk yang homogen, teknologi yang kaku, rutinitas pekerjaan yang distandarisasi, penurunan keterampilan, homogenisasi tenaga kerja (dan pelanggan), tenaga kerja massal, homogenisasi konsumsi, dan seterusnya. Jadi Fordisme masih hidup dalam kehidupan modern meski telah berubah bentuk menjadi McDonaldisme. Lagi pula Fordisme klasik contohnya dalam bentuk sistem perakitan bergilir tetap muncul secara signifikan dalam perekonomian Amerika.
KEDUA, meski kita mengakui pemikiran bahwa pos Fordisme sudah bersama kita apakah itu mencerminkan penyelesaian masalah masyarakat kapitalis modern? Beberapa pemikir neo-Marxis dan banyak pendukung sistem kapitalis (Womack, Jones dan Roos, 1990) mempunyai harapan besar demikian: post Fordisme sebagian besar mengungkapkan harapan bahwa perkembangan kapitalis di masa depan akan menyelamatkan demokrasi sosial” (Clarke, 1970:75). Namun, ini hanyalah harapan dan, bagaimanapun juga, telah ada bukti bahwa post Fordisme menurut beberapa pengamat tidak memberikan harapan baik.
Model Jepang (yang dinodai oleh penurunan industri Jepang pada 1990-an) diyakini menjadi basis post Fordisme. Tetapi, riset tentang industri Jepang (Satoshi, 1982) dan tentang penggunaan teknik manajemen Jepang dalam industri
Amerika (Parker dan Slaughter, 1990) menunjukkan bahwa terdapat masalah berkenaan dengan harapan sistem itu dan bahkan “meninggikan” tingkat eksploitasi terhadap pekerja. Parker dan Slaughter menamakan sistem Jepang di Amerika itu sebagai “manajemen dengan ketegangan”: “tujuannya adalah merentangkan sistem seperti tali karet hingga ke titik putusnya” (1990:33). Pekerjaan dipercepat melebihi kecepatan berdasarkan sistem perakitan bergilir tradisional Amerika, menanamkan tekanan hebat pada pekerja yang harus bekerja heroik untuk menyelesaikan gilirannya secepatnya. Levidow melukiskan di sistem post Fordisme ini sebagai “ditekan dengan tanpa belas kasihan meningkatkan produktivitas mereka sering dengan upah nyata yang lebih ketimbang penghasilan buruh pabrik, pedagang pakaian bekas, pekerja, bahkan guru politeknik” (1990:59). Jadi, ketimbang menawarkan penyelesaian masalah kapitalis, post Fordisme ini barangkali sebuah fase baru yang lebih berbahaya dalam meningkatkan eksploitasi pekerja oleh kapitalis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar