Senin, 08 April 2013

Sifat Dasar Manusia, Struktur-struktur Masyarakat Kapitalis, dan Pemahaman Materialis tentang Sejarah


Dalam hubungan antara kerja dengan sifat dasar manusia terdapat hubungan inheren, akan tetapi hubugan tersebut dapat diselewengkan oleh kapitalisme, yang kemudian di kenal dengan aliensi. Marx menganalisis bentuk yang aneh bahwa hubungan kita dengan kerja kita berada di bawah kapitalisme. Kita tidak lagi melihat kerja kita sebagai sebuah ekspresi dan tujuan kita. Tidak ada obyektivasi. Malah, kita bekerja berdasarkan tujuan kapitalis yang menggaji dan mengubah kita. Di dalam kapitalisme, kerja tidak lagi menjadi tujuan pada dirinya sendiri (sebagai ungkapan dari kemampuan dan potensi kemanusiaan ) melainkan tereduksi menjadi sarana untuk mencapai tujuan, yaiu memperoleh uang. Marx menggunakan konsep aliensi untuk menyatakan pengaruh produksi kapitalis terhadap manusia dan masyarakat. Hal terpenting yang perlu di catat adalah sistem dua kelas di mana kapitalis menggunakan dan memperlakukan para pekerja sebagaimana produk produk akhir dan para pekerja dipaksa menjual waktu kerja mereka kepada kpitalis agar mereka bisa bertahan.
Aliensi terdiri dari empat unsur dasar. Pertama, para pekerja di dalam masyarakat kapitalis teraliensasi dari aktivitas produktif mereka. Kaum pekerja tidak memproduksi obyek berdasarkan ide mereka sendiri, melainkan bekerja kepada kapitalis untuk menyambung hidup mereka dengan menerima imbalan. Kedua, pekerja tidak hanya teraliensasi dari aktivitas produktif, akan tetapi juga dari tujuan aktivitas aktivitas tersebut ( produk). Produk kerja mereka tidak menjadi milik mereka, melainkan menjadi milik para kapitalis. Ketiga, para pekerja di dalam kapitalisme teralienasi dari semua pekerja. Asumsi marx adalah bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan dan menginginkan bekerja secara kooperatif untuk mengambil apa yang mereka butuhkan dari alam untuk terus bertahan. Namun, di dalam kapitalisme kooperasi ini dikacaukan, dan manusia dipaksa untuk bekerja untuk kapitalis dan tidak saling kenal walaupun mereka bekerja berdampingan. Terakhir, para pekerja dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari potensi kemanusiaan mereka sendiri. Kerja tidak lagi menjadi transformasi  dan pemenuhan sifat dasar manusia, akan tetapi membuat kita merasa kurang menjadi manusia dan kurang menjadi diri kita sendiri.
Pemikiran Karl Marx dapt dikatakan telah bergeser dari politik ke bidang ekonomi, menurutnya keterasingan yang dialami manusia merupakan hasil pekerjaan kapitalis. Secara samar Karl Marx memiliki keyakinan moral, dia memiliki pandangan tentang hakikat manusia dan bagaimana seharusnya manusia diperlakukan. Menurutnya pekerjaan adalah tindakan manusia yang paling dasar yang membuat manusia menjadi nyata sebagai makhluk sosial yang menunjukkan hakikatnya yang bebas dan universal namun juga menjadi penyebab utama keterasingan manusia. Bekerja merupakan tindakan manusia mengambil bentuk alami dan menambahkan bentuk yang dinginkan. Namun yang terjadi adalah manusia bekerja semata-mata karena terpaksa sehingga menyebabkannya terasing. Karl Marx membagi manusia ke dalam dua kelompok, kaum proletar (buruh) dan kaum borjuis (pemilik modal) yang semuanya memiliki kepentingan-kepentingan sendiri. Kaum proletar bekerja untuk mendapatkan upah, sedangkan para borjuis menekan para buruh untuk mendapatkan keuntungan. Menurut Karl Marx kaum proletar memiliki tiga dimensi keterasingan, yang pertama adalah terasing dari dirinya sendiri, yang kedua adalah terasing dari produknya, dan yang ketiga adalah terasing karena memperalat dirinya sendiri untuk mencari nafkah. Dan menurut Karl Marx jika seseorang sudah terasing dari hakikatnya maka dia akan terasing dari sesama manusia lainnya, karena setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda, dan semua itu saling berkontradiksi. Sudah jelas bahwa buruh dan pemilik modal saling bertentangan, dan menurutnya di antara sesama buruhpun terjadi pertentangan dalam merebut tempat bekerja sedangkan di antara pemilik modal terjadi pertentangan memperebutkan pasar.

Namun baginya hubungan manusia yang tidak terasing hanya ada pada hubungan antara pria dan wanita yang saling mencinta, hal tersebut dapat dilihat dari sifat Karl Marx yang digambarkan sangat mencintai keluarganya. Bagi Karl Marx pada hakikatnya keterasingan dalam pekerjaan disebabkan oleh sistem hak milik pribadi antara yang menguasai alat kerja dan yang menguasai tenaga kerja semua itu terwujud oleh sistem pembagian kerja dalam masyarakat. Dan bagi Karl Marx ini hanyalah tahap kedua bagi perkembangan manusia, yang pada tahap pertama adalah manusia purba tanpa pembagian kerja sedangkan di tahap ketiga adalah tahap kebebasan apabila sistem hak milik pribadi telah dhapuskan.
Sehingga di bab enam Karl Marx menjelaskan tentang teori kelas dimana yang disebabkan oleh sistem pembagian kerja. Di dalam masyarakat terdapat kelas yang menguasai dan kelas yang dikuasai. Namun Karl Marx lebih mengkritik keadaan pada masyarakat kapitalis, yang menurutnya terdapat tiga kelas yaitu, kaum buruh (yang hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba), dan para tuan tanah yang kemudian menjadi pemilik modal. Pemilik modal dan buruh sebenarnya saling membutuhkan namun saling bertentangan karena keduanya memiliki ketergantungan yang tidak seimbang. Menurut Karl Marx buruh adalah kaum yang lemah sedangkan pemilik modal adalah kelompok yang kuat. Buruh bisa hidup hanya jika memiliki pekerjaan yang dberikan oleh pemilik modal, sedangkan pemilik modal hidup dari hasil kerja buruh, sehingga bagi Karl Marx hal ini merupakan sistem kerja eksploitasi, pemilik modal dianggap sebagai penindas dan kaum buruh dianggap sebagai kaum tertindas. Dalam pandangan Karl Marx hubungan kerja dalam sistem kapitalis tidak stabil, karena pemilik modal yang menguasai ekonomi mereka dapat memenangkan kepentingan mereka atas kepentingan buruh, tetapi apabila kekuatan kelas atas berkurang dan buruh mampu memenangkan kepentingan mereka maka akan terjadi revolusi dan hak milik dihapuskan. Menurut Karl Marx perubahan hanya bisa dilakukan dengan revolusi.
Hal ini dapat dibagi ke dalam tiga unsur yaitu, pertama segi struktural lebih besar perannya dibandingkan kesadaran dan moralitas, kedua kepentingan yang berbeda akan menimbulkan sikap yang berbeda terhadap perubahan, dan ketiga bagi Karl Marx kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat dilakukan dengan jalan kekerasan, yaitu revolusi. Selanjutnya Karl Marx mengkritik negara dan agama yang baginya tidak memihak pada kaum buruh. Negara menurut Karl Marx merupakan alat bagi pemilik modal yang merupakan penguasa dan pengendali ekonomi untuk melegalkan hubungan kerja yang tidak adil dan tidak stabil sehingga kaum pemilik modal diuntungkan, perwujudannya berupa ideologi-ideologi. Ideologi kapitalis yang membuka kesempatan yang sama bagi siapapun untuk berusaha maju dan mendapatkan prestasi telah mengabaikan kenyataan bahwa semua manusia tidak memiliki kekuatan yang sama termasuk dalam aspek ekonomi, sehingga pamilik modal yang diilustrasikan sebagai kaum yang kuat akan selalu menang dan menindas kaum buruh yang lemah. Sedangkan agama hanyalah candu manusia, agama mengajarkan manusia yang “sabar” dan sanggup memikul “salibnya” (keadaan saat itu dimana gereja sangat berpengaruh) telah mengakibatkan manusia menjadi enggan untuk berjuang tetapi memilih untuk menerima kenyataan hidupnya yang tertindas. Dan kritiknya terhadap sejarah yang dianggapnya juga sebagai salah satu bentuk penipuan, diamana para raja dan orang besar lainnya yang kisahnya ditulis dalam buku-buku sejarah, secara terselubung semua itu juga ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu.

Dalam hal ini mereka yang memiliki modal, dan pengaruh yang kuat.
Karl Marx mengklaim bahwa sosialismenya adalah sosialisme ilmiah karena sosialismenya berdasarkan pengetahuan tentang hukum objektif perkembangan masyarakat, pengetahuan itulah yang disebut pandangan materialis sejarah. Asusmsi dasar pandangan materialis sejarah adalah ”bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, namun keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka”. Bagi Karl Marx keadaan manusia adalah tentang cara manusia menghasilkan sesuatu untuk hidup, oleh karena itu untuk memahami sejarah dan arah perkembangannya kita tidak perlu memperhatikan apa yang dipikirkan oleh manusia tetapi bagaimana manusia bekerja, bagaimana ia berproduksi. Singkatnya sejarah manusia ditentukan oleh syarat-syarat produksi material, yang menentukan sejarah adalah materialisme.

Pertentangan kelas sosial merupakan jawaban ata segalanya, kesadaran dan cita-cita manusia ditentukan oleh kedudukannya dalam kelas sosial.
Karl Marx membagi lingkup kehidupan manusia dalam dua bagian besar yaitu dasar nyata atau basis dan bangunan atas. Basis adalah bidang produksi kehidupan material dan bangunan atas adalah proses kehidupan sosial, politik dan spiritual, namun kehidupan bangunan atas ditentukan oleh kehidupan dalam basis. Basis ditentukan oleh dua faktor yaitu, tenaga-tenaga produktif (alat-alat kerja, manusia dengan kecakapannya, dan pengalaman dalam produksi/teknologi), dan hubungan-hubungan produksi (pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi). Sedangkan Bangunan atas terdiri dari tatanan institusional (lembaga yang mengatur sistem pasar, pendidikan, kesehatan, hukum dan negara), dan tatanan kolektif (sistem kepercayaan, norma, dan nilai-nilai termasuk pandangan dunia, agama, filsafat, moralitas, budaya, seni dan sebagainya).
Bertolak dari dua hal tersebut maka Karl Marx berpandangan bahwa perubahan masyarakat terjadi akibat adanya dinamika dalam basis bukan dalam bangunan atas. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa akibat ketidakseimbangan dalam sistem produksi dimana kaum buruh yang tertindas (akibat penindasan membuat orang menjadi progresif dan menginginkan perubahan) apabila mereka semakin kuat maka akan terjadi perubahan berupa revolusi. Karena pertentangan dalam masyarakat akibat adanya sistem hak milik maka Karl Marx berpendapat bahwa bangunan atas bisa berubahapabila struktur hak milik berubah.

Perubahan sosial menurutnya haruslah bersifat revolusioner bukan perubahan secara perlahan-lahan karena jika secara perlahan, kita tahu bahwa pemilik modal tidak menginginkan perubahan, mereka akan berusaha untuk menghentikan perubahan agar mereka selalu bisa menjadi pengendali atas buruh yang berujung pada dominasi ekonomi oleh kelompok pemilik modal. Pada akhirnya, dari semua hasil pemikiran Karl Marx muncul berbagai pertanyaan dari penulis sendiri, apakah ketika hak milik dihapuskan dan semua manusia sama secara ekonomi?. Bukankah pasti ada manusia yang memiliki kelebihan dalam hal ini, karena semua manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda sejak dilahirkan?, jika hak milik dihapuskan dan tidak ada yang menguasai dan yang dikuasai bukankah akan menimbulkan kekacauan? Karena manusia yang ada adalah manusia yang telah terbentuk pola pikirnya oleh sistem yang sebelumnya ada yaitu sistem kapitalis (karena yang ditentang oleh Karl Marx adalah kapitalis), kecuali manusia dilahirkan kembali, itupun susah karena jika ditilik dari sejarah agama dari awal manusia diciptakan keinginan-keinginan manusia akan rasa memiliki sesuatu telah muncul, hal inilah yang menjadi bukti bahwa sekarang ini di seluruh dunia telah mengalami kegagaglan dari teori dan pemikiran Karl Marx, kecuali dihilangkan rasa iri, dengki, dan sebagainya. Saat manusia berusaha untuk bertahan hidup di situlah sebagian besar pemikiran Karl Marx dianggap gagal, binatang saja yang tidak memiliki akal budi bisa saling bunuh hanya untuk mendapatkan makanan. Namun seperti yang saya katakan bahwa tidak sepenuhnya pemikiran Karl Marx tidak bermanfaat bagi manusia, Karl Marx telah menyadarkan kita bahwa sistem kapitalis telah membawa kita pada ketidakadilan dalam segala aspek kehidupan, namun pada hakikatnya dari semua yang dihasilkan oleh manusia termasuk pemikiran manusia tidak ada yang sempurna.

Analisis marx tentang alienasi merupakan respons terhadap perubahan ekonomi, sosial, dan politis yang dia lihat disekelilingnya. Marx tidak ingin memahami alienasi sebagai sebuah filosofis, melainkan marx ingin memahami perubahan semacam apa yangdibutuhkan untuk membuat suatu masyarakat bisa mengekspresikan potensi kemanusiaannya secara memadai. Mrx mengembangkan suatu pengertian penting: sistem ekonomi kapitalis adalah sebab utama alienasi. Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana sejumlah besar pekerja, hanya memiliki sedikit hak milik, memproduksi komoditas komoditas demi keuntungan sejuklah kecil kapitalis yang memiliki hak berikut: komoditas komoditas, alat produksi, dan bahkan waktu kerja para pekerja karena mereka membeli para pekerja tersebut melalui gaji. Namun salah satu pengertian sentral Marx adalah bahwa kapitalisme lebih dari sekedar sistem ekonomi, melainkan sebuah sistem kekuaksaan. Rahasia kapitalisme adalah bahwa kekuatan kekuatan politis telah diubah menjadi relasi relasi ekonomi. Para kapitalis bisa memaksa para pekerja dengan kewenangan mereka untuk memecat dan menutup pabrik pabrik. Karena hal inilah para kapitalis bebas untuk menggunakan paksaan yang kasar. Maka kapitalisme tidak hanya menjadi sekedar sistem ekonomi, di samping itu, kapitalisme juga merupakan sistem politis, suatu cara menjalankan kekuasaan, dan suatu proses eksploitasi atas para pekerja. Selain itu, marx memiliki tujuan untuk memperjelas aspek sosial dan politis dari ekonomi dengan memperlihatkan” hukum gerak ekonomi masyrakat modern “ serta memperlihatkan kontradiksi kontradikasi internal yang dia perkirakan akan mengubah kapitalisme.

Komoditas
Pandangan marx tentng komoditas berakar dari orientasi materialisnya, dengan fokus pada aktivitas aktivitas produktif para aktor. Sebagaimana yang telah kita lihat di awal, pandangan marx bahwa di dalam interaksi interaksi mereka dengan alam dan para actor lain, orang orang memproduksi obyek obyek yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Obyek-obyek ini di produksi untuk digunakan oleh dirinya sendiri atau orang lain di dalam lingkingan terdekat. Inilah yang disebut marx sebagai nilai guna komoditas, namun proses ini di dalam kapitalisme merupakan bentuk baru sekaligus berbahaya. Para actor bukannya memproduksi memproduksi untuk dirinya atau asosiasi langsung mereka, melainkan untuk orang lain (kapitalis). Produk-produk memiliki nilai tukar, artnya bukan digunakan langsung, tapi dipertukaran di pasar demi uang atau demi obyek obyek lain. Nilai guna dihubungkan dengan relasi kuat antara kebutuhan kebutuhan manusia dan obyek obyek actual yang bisa memenuhi kebutuhan kebutuhan tersebut.

Fetisisme komoditas komoditas
Komoditas menjadi suatu realitas eksternal yang marx menyebut ini sebagai fetisisme komoditas. Marx tidak memaksudkan bahwa komoditas komoditas berada pada makna makna seksual, karena dia menulis sebelum freud memberiakn nuansa pengertian seksual pada fetish. Akan tetapi amrx merujuk pada cara cara di mana penganut agama tertentu, seperti kaum zuni, memahat patung yang kemudian menyembahnya. Inilah yang dimaksud marx dengan fetish, sesuatu yang kita buat untuk diri kita sendiri, akan tetapi sekarang kita sembah, yang seolah dia dewa. Di dalam kapitalisme, produk produk yang kita buat, dan eonomi yang terbentuk dari pertukaran pertukaran yang kita lakukan, semuannya terlihat memiliki kehidupan sendiri. Mereka teriash dari kebutuhan maupun keputusan manusia. Menurut marx ekonomi dapat berfungsi jika dijlankan oleh produksi nilai. Bagi marx, nilai sebenarnya dari sesuatu muncul karena ada kerja untuk membuatnya dan ada orang yang membutuhkannya. Nilai tersebut mempresentasikan relasi relasi sosial manusia, akan tetapi di dalam kapitalisme mrx menyatakan bahwa, “suatu relasi sosial yang jelas antarmanusia…, di mata mereka, terlihat seolah olah menjadi relasi antarbenda”. Karena menyandarkan realitas pada komoditas dan pasar, individu dalam kapitalisme lambat laun kehilangan control atas keduanya.
Oleh karena itu suatu komoditas adalah sesuatu yang misterius, karena di dalamnya karakter sosial dari kerja seseorang akan dia lihat sebagai karakter obyektif yang tecap pada produk kerja tersebut: karena relasi para produser dengan seluruh kerja mereka dihadirkan kepada mereka sebaga sebuah relasi sosial, relasi yang tidak eksis diantara mereka, melainkan di antara produk produk kerja mereka itu sendiri.
Fetisisme komoditas memberi ekonomi suatu realitas obyektif independen yang berada di luar actor dan paksaan terhadapnya. Dilihat dari sudut ini, fetisisme komoditas kemudian di terjemahkan menjadi konsep reifikasi. Konsep reifikasi mengimplikasikan bahwa orang percaya kalau struktur struktur sosial berada di luar control mereka dan tidak bisa mereka ibah. Reifikasi muncul ktika kepercayaan ini telah menjadi ramaalan yang membenarkan dirinya sendiri. Ketika orang mereifikasi komoditas komoditas lainnya, mereka juga bisa mereifikasi struktur strukutr religious, politik, organisasi. Kapitalisme terbentuk dari tipe tipe relasi sosial partilular yang cenderung mengambil bentuk bentuk yang terlihat, dan pada akhirnya, independen dari orang orang.

Kapital, kapitalis, dan proletariat
Marx menemukan inti masyarakat kapitalis di dalam komoditas, dua tipe yang menjadi perhatian marx yaitu proletar dan boruis ( kapitalis). Proletar adalah para pekerja yang menjual kerja mereka dan tidak memiliki alat alat produksi sendiri. Walaupun mereka tidak memiliki sarana dan pabrik sendiri, marx percaya bahwa proletariat bahkan akan kehilangan keterampilan mereka seiring dengan meningkatnya mesin mesin yang menggantikan keterampilan mereka. Kerena proletar hanya memiliki sarana untuk memproduksi kebutuhan kebutuhan mereka sendiri, maka mereka harus menggunakan upah yang mereka peroleh untuk membeli apa yang mereka butuhkan ( yang mereka buat). Maka dapat disimpulkan bahwa proletariat sepenuhnya bergantung pada upahnya untuk bertahan hidup.
Orang yang member upah adalah kapitalis. Jelas, kapitalis adalah orang orang yang memiliki alat alat produksi. Bagaimanapun, sebelum kita mengerti apa itu kapitalis, maka kita harus mengerti dahulu apa itu capital. Capital adalah uang yang menghasilkan lebih banyak uang. Dengan kata lain, capital lebih merupakan uang yang diinvestasiakn ketimbang uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Dalam hal ini munculah kemudian teori sirkulasi komoditas.
Marx membagi teori tersebut menjadi dua yaitu cirri sirkulasi yang pertama adalah ciri capital : sedangkan cirri yang kedua yaitu bukan ciri capital dalam sirkulasi komoditas non kapitalis, sirkuit C1- M –C2 yang menonjol. Sebagai contoh misalnya nelayan yang menjual tangkapannya (C1) dan kemudian menggunakan uang (M) untuk membeli roti (C2). Dengan kata lain, tujuan utama pertukaran di dalam sirkulasi nonkapitalis adalah komoditas yang bisa kita gunakan dan nikmati. Sedangkan sirkulasi komoditas kapitalis (M1- C- M2) memiliki tujuan untuk mendapat keuntungan, bukan untuk digunakan. Misalnya seorang pemilik took akan membeli (M1) ikan (C) untuk menjualnya kembali demi lebih banyak uang (M2). Jadi dapat disimpulkan bahwa, capital adalah uang yang menghasilkan lebih banyak uang, namun marx mengungkapkan kepada kita bahwa capital bukan hanya itu: capital juga merupakan seluruh relasi sosial tertentu. Dengan kata lain, uang hanya akan menjadi capital karena ada relasi sosial antara proletar yang bekerja dan harus membeli produk dengan orang yang menginvestasikan uangnya ( kapitalis). Sistem kapitalis adalah struktur sosial yang muncul dari dasar hubungan eksploratif tersebut. Para kapitalis adalah orang orang yang hidup dari keuntungan capital mereka, dan kita bisa melihat bahwa mereka adalah pewaris eksploitasi proletariat.

Eksploitasi
Bagi marx, eksploitasi dan dominasi lebih dari sekedar distribusi kesejahteraan dan kekuasaan yang tidak seimbang. Eksploitasi merupakan suatu bagian penting dari ekonomi kapitalis. Tentu saja, semua masyarakat memiliki sejarah eksploitasi, tetapi yang unik dalam kapitalisme adalah bahwa eksploitsi dilakukan oleh sistem ekonomi yang impersonal dan obyektif.
Hal ini kemudian kurang menjadi persoalan kekuasaan dan lebih menjadi persoalan grafik dan gambar gambar para ekonom. Kemudian, paksaan jarang dianggap sebagai kekerasan, malah menjadi kebutuhan pekerja itu sendiri, yang sekarang bisa terpenuhi hanya melalui upah, marx menggambarkan kebebasan upah kerja ini : Untuk mengubah uangnya menjadi kapital… pemilik uang harus bertemu di pasar dengan buruh buruh yang bebas, bebas dalam dua pengertian, di satu sisi sebagai seseorang yang bebas dia bisa mengatur tenaganya sebagai komoditasnya sendiri, dan di sisi lain sebagai seseorang yang tidak memiliki komoditas lain untuk dijual, dia kekurangan segala sesuatu yang penting untuk merealisasikan tenaganya.

Konflik dan teori kelas sosial
Marx sering menggunakan istialh kelas di dalam tulisan tuisannya, tetapi dia tidak pernah mendefinisikan seara sistematis apa yang dimaksud dengan istilah ini.  Kelas sosial atau golongan sosial merujuk kepada perbedaan hierarkis (atau stratifikasi) antara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau budaya. Biasanya kebanyakan masyarakat memiliki golongan sosial, namun tidak semua masyarakat memiliki jenis-jenis kategori golongan sosial yang sama. Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat. Beberapa masyarakat tradisional pemburu-pengumpul, tidak memiliki golongan sosial dan seringkali tidak memiliki pemimpin tetap pula. Oleh karena itu masyarakat seperti ini menghindari stratifikasi sosial.. Dalam masyarakat seperti ini, semua orang biasanya mengerjakan aktivitas yang sama dan tidak ada pembagian pekerjaan.
Pada masyarakat Romawi,tepatnya Ketika para penguasa Romawi pertama kali memperkenalkan istilah kelas (classis) untuk membagi penduduk ke dalam kelompok-kelompok pembayaran pajak, mereka tidak membayangkan akibat lanjut dari kategorisasi demikian. Kategori yang mereka buat setidaknya mengandung perbedaan penilaian terhadap penduduk. Di satu pihak adalahassidui, yakni orang yang termasuk ke dalam 100.000 penduduk yang mereka hormati; di lain pihak adalah proletarii, yakni orang yang memeiliki kekayaan yang terdiri dari sejumlah anak cucu (proles) dan yang menang atas lumpenproletariat, hanya karena dihitung menurut jumlah kepala (capita censi) mereka belaka. Seperti istilah golongan pendapatan orang Amerika, walau semula tak lebih dari sekedar kategori statistik, namun menyentuh sebagian besar persoalan peka mengenai ketimpangan sosial; begitu pula kelas-kelas Romawi kuno, membagi-bagi penduduk lebih dari sekedar unit-unit statistika belaka. Jika anak-anak muda itu mengatakan sebuah film itu hebat, itu berarti termasuk film kelas utama atau kelas tinggi. Begitu pula jika dikatakan: orang Romawi adalah classis atau classicus, itu berarti bahwa ia termasuk ke dalam kelas utama atau kelas tinggi, kecuali jika secara explisit ia dinyatakan sebagai orang dari kelas ke lima atau proletar.
Dalam makna istilah kelas dapat ditemukan di semua bahasa-bahasa Eropa di penghujung abad ke-18. di abad ke-19, konsep kelas secara bertahap memperoleh corak yang makin pasti. Adam Smith telah berbicara mengenai “si miskin” atau “kelas pekerja”. Di dalam karya Ricardo dan Ure, Saint Simon dan Fourier, dan tentu saja di dalam karya Marx dan Engels, “kelas kapitalis” muncul di sepanjang “kelas pekerja”, “kelas si kaya” di samping “kelas si miskin”, “kelas borjuis” disamping “kelas proleratiat” (yang telah menyertai semua konsep kelas yang yang semula berasal dari Romawi). Sejak konsep kelas khusus in diterapkan petama kali di abad ke-19, sejarah konsep ini telah menjadi sangat pentingnya dalam masyarakat yang dibentuknya.
Pada umumnya, marx menggunakan istilah kelas untuk menyatakan sekelompok orang yang berada di dalam situasi yang sama dalam hubungannya dengan kontrol mereka terhadapa alat alat produksi. Namun, pada hal ini belumlah merupakan deskripsi yang sempurna dari istilah kelas sebagaimana yang digunakan marx. Kelas bagi marx, selalu didefinisiakn berdasarkan potensinya terhadap konflik. Individu individu membentuk kelas sepanjang mereka berada di dalam suatu konflik biasa dengan individu individu lain tentang nilai surplus. Karena kelas didefinisikan sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik, maka konsep ini berbeda beda, baik secara teoristis maupun historis. Bagi marx, sebuah kelas benar benar eksis hanya ketika orang menyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas kelas lain. Tanpa kesadaran ini mereka hanya akan membentuk apa yang disebut marx dengan suatu kelas di dalam dirinya. Ketika mereka menyadari konflik, maka mereka menjadi suatu kelas yang sebenarnya. Dalam kapitalisme, marx menganalisis dua macam kelas, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar.
Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat alat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan. Konflik antara kelas borjuis dan kelas proletar adalah contoh lain dari kontradiksi material yang sebenarnya. Kontradiksi ini berkembang sampai menjadi kontradiksi antara kerja dan kapitalisme. Tidak satupun dari kontradiksi kontradiksi ini yang bisa diselesaikan kecuali dengan mengubah struktur kapitalis. Bahkan sampai perubahan tersebut tercapai, kontradiksi makin memburuk. Masyarakat akan semakin berisi pertentangan dua kelas besar yang berlawanan. Karena kapitalis telah mengganti para pekerja dengan mesin mesin yang menjalankan serangkaian operasi yang sederhana, maka mekanisasi menjadi semakin mudah. Sebagaimana berjalannya mekanisasi, maka akan banyak orang yang kemudian keluar dari pekerjaan dan berpindah dari proletariat ke “tentara cadangan” industri. Marx pun berpendapat suatu situasi di mana masyarakat akan terdiri dari minoritas kalangan kapitalis eksploitatif dan kelas proletariat serta “tentara cadangan” industri yang sangat besar. Dengan hal ini, kapitalisme menciptakan massa yang akan membawanya kepada keruntuhan. Hubungan pabrik pabrik dan pasar pasar menganjurkan para pekerja untuk menyadari lebih dari sekedar kepentingan lokal mereka sendiri, yang kemudian akan membawa pada revolusi. Revolusi tersebut jelas dicegah oleh kapitalis itu sendiri, namun menurut pandangan marx, usaha usaha seperti itu pasti akan gagal, karena kapitalis dan para pekerja sama sama dikontrol oleh aturan ekonomi kapitalis. Di samping itu, kapitalis sendiri berada di bawah tekanan untuk selalu berkompetisi satu sama lain.
Mau tidak mau para kapitalis harus tetap menggerkakan pabriknya dengan memberi upah rendah pada para pekerja, karena jika tidak maka dia tidak akan mampu untu bersaing dengan kapitalis lainnya yang melakukan hal serupa. Logika sistem kapitalis ini memaksa kapitalis menghasilkan lebih banyak proletariat yang tereksploitasi dan orang orang inilah yang akan mengakhiri kapitalisme dengan teori mereka. “oleh karena itu, kaum birjuis sedang menggali kuburan mereka sendiri” (Marx dan Engels, 1848/1948).
Pada akhirnya, kontradiksi kapitalisme memnyebabkan beberapa krisis yang dialami oleh individu maupun masyarakat, misalnya pada sisi individu, marx berpendapat bahwa alienasi sebagai penyebab timbulnya rasa tidak berarti yang dirasakan oleh banyak orang di dalam kehidupannya. Pada level ekonomi, marx memprediksikan suatu ledakan dan deperesi yang disebabkan oleh produksi yang berlebihan oleh kapitalis. Pada level politis, marx memprediksikan adanya peningkatan ketidakmampuan masyarakat untuk mendiskusikan dan menyelesaikan persoalan persoalan sosial. Dan bahkan kita dapat melihat pertumbuhan suatu wlayah yang hanya bertujuan untuk melindungi milik pribadi kapitalis dan suatu intervensi yang kadang kadang brutal ketika kekerasan ekonomi oleh kapitalis mengalami kegagalan.

Pandangan materialis sejarah adalah teori Karl Marx tentang hukum perkembangan masyarakat. Inti pandangan ini ialah bahwa perkembangan masyarakat ditentukan oleh bidang produksi. Bidang ekonomi adalah basis, sedangkan dua dimensi kehidupan masyarakat lainnya, institusi-institusi sosial, terutama negara, dan bentuk-bentuk kesadaran sosial merupakan bangunan atas. Oleh karena faktor penentu adalah basis, maka harus memperhatikan dahulu bidang ekonomi. Ciri yang menurut Marx paling menentukan bagi semua bentuk ekonomi sampai sekarang adalah pemisahan antara para pemilik dan pekerja. Masyarakat terdiri dari kelas-kelas sosial yang membedakan diri satu sama lain berdasarkan kedudukan dan fungsi masing-masing dalam proses produksi yaitu kelas-kelas pemilik dan kelas-kelas pekerja. Disini kelas pemilik begitu berkuasa. Misalnya para pemilik tanah mengontrol para buruh tani. Itu berarti bahwa para pemilik dapat menghisap tenaga kerja para pekerja. Kelas-kelas pemilik merupakan kelas-kelas atas dan kelas-kelas pekerja merupakan kelas-kelas bawah dalam masyarakat. Jadi menurut Marx ciri khas semua pola masyarakat sampai sekarang ialah, bahwa masyarakat dibagi ke dalam kelas-kelas atas dan bawah. Struktur ekonomi tersusun sedemikian rupa hingga yang pertama (pemilik) dapat hidup dari penghisapan tenaga kerja yang kedua (pekerja).
Bangunan atas mencerminkan keadaan itu. Negara adalah alat kelas-kelas atas untuk menjamin kedudukan mereka sedangkan “bangunan atas idealis” istilah Marxis bagi agama, filsafat, pandangan-pandangan moral, hukum, estetis dan lain sebagainya berfungsi untuk memberikan legitimasi pada hubungan kekuasaan itu. Jadi Marx menolak paham bahwa negara mewakili kepentingan seluruh masyarakat. Negara dikuasai oleh dan berpihak pada kelas-kelas atas, meskipun kadang-kadang juga menguntungkan kelas-kelas bawah. Walaupun negara mengatakan ia adalah milik semua golongan dan bahwa kebijaksanaannya demi kepentingan seluruh masyarakat namun sebenarnya negara melindungi kepentingan kelas atas ekonomis. Maka negara menurut Marx termasuk lawan kelas-kelas bawah. Negara bukan milik dan bukan kepentingan mereka. Dari negara mereka tidak dapat mengharapkan sesuatu yang baik. Seperti halnya negara, begitu pula agama, filsafat, pandangan tentang norma-norma moral dan hukum dan sebagainya menurut Marx tidak mempunyai kebenaran pada dirinya sendiri, melainkan hanya berfungsi untuk melegitimasikan kepentingan kedudukan kelas atas.
Seperti halnya negara, begitu pula agama, filsafat, pandangan tentang norma-norma moral, serta hukum dan sebagainya menurut Marx tidak mempunyai kebenaran pada dirinya sendiri, melainkan hanya berfungsi untuk melegitimasikan kepentingan kedudukan kelas atas. Cara suatu masyarakat berfikir, apa yang dianggapnya sebagai baik, bernilai, dan masuk akal, menurut Marx ditentukan oleh kelas-kelas yang menguasai masyarakat. “Bangunan atas ideologis” itu menciptakan kesan bahwa kesediaan masing-masing kelas untuk menerima kedudukannya dalam masyarakat adalah sesuatu yang baik dan rasional. Jadi fungsinya ialah membuat kelas-kelas bawah bersedia untuk menerima kedudukan mereka sebagai kelas-kelas bawah.
Materialisme Historis atau sejarah materialisme (istilah yang tidak digunakan Marx) sangat berguna untuk memberinya nama pada asumsi-asumsi dasar mengenai teorinya, dan memberinya suatu pemahaman yang tepat. Dari The Coomunist Manifesto dan Das Kapital, secara tradisional sudah diasumsikan bahwa tekanan utama Marx adalah pada kebutuhan materil dan perjuangan kelas sebagai akibat dari usaha-usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Dalam pandangan ini, ide-ide dan kesadaran manusia tidak lain daripada refleksi yang salah tentang kondisi-kondisi materil. Tambahan pula, perhatian dipusatkan pada usaha Marx untuk meningkatkan suatu revolusi sosialis sehingga kaum proletariat dapat menikmati sebagian besar kelimpahan materil yang dihasilkan oleh indurteialisme. Asumsi-asumsi tradisional ini sedikit menyimpang (bias), dimana Marx sangat menekankan pentingnya kondisi-kondisi materil yang bertentangan dengan idealisme Hegel, tetapi dia tidak menyangkal kenyataan kesadaran subyektif atau peranan penting yang mungkin ikut menentukan dalam perubahan sosial.

Kelemahan-kelemahan Filsafat Abstrak Tradisional
Tekanan materialisme Marx harus dimengerti sebagai reaksi terhadap interpretasi idealistik Hegel mengenai sejarah. Filsafat sejarah ini menganggap bahwa suatu peranan yang paling menentukan adalah yang berasal dari evolusi progresif ide-ide. Marx menolak filsafat sejarah Hegel, dimana teori idealistik Hegel mengabaikan kenyataan yang jelas bahwa ide-ide tidak ada yang secara terlepas dari orang-orang yang benar hidup dalam lingkungan materil dan sosial yang sungguh-sungguh riil.
Konsepsi materialis Marx yang diterapkan pada perubahan sejarah untuk pertama kalinya dijelaskan dalam The German Ideology yang disusun bersama Engels. Tema pokok dalam karya ini adalah bahwa perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk kesadaran, ideologi-ideologi, atau asumsi-asumsi filosofis mencerminkan, bukan meyebabkan perubahan-perubahan dalam kehidupan sosial dan materil manusia. Kondisi-kondisi materil manusia bergantung pada sumber-sumber alam yang ada dan kegiatan manusia yang produktif. Manusia tidak seperti binatang, dimana kebutuhan manusia itu tak pernah terpuaskan. Manusia juga tidak menyesuaikan dirinya dengan alam atau mengolah lingkungan materilnya sebagai manusia yang terisolasi sebaliknya mereka masuk dalam hubungan-hubungan sosial dengan orang lain dalam usaha mencoba memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.
Dalam kehidupan masyarakat yang terus berlangsung, kondisi-kondisi materil dan hubungan-hubungan sosial yang menyertainya ada terlebih dahulu dari individu dan independen dari setiap kemauan individu atau kemauan maksud-maksud yang sadar. Seperti yang berulang-ulang kali ditekankan Marx, bahwa kesadaran tidak terpisah dari pengalaman aktual orang dalam dunia riil ini dan tak satupun dari berbagai aspek kebudayaan ini yang terlepas dari dasarnya dalam dunia materil. Namun demikian, dunia kesadaran subyektif dan ide-ide budaya tidak hanya suatu cerminan lingkungan materil dan sosial.

Penjelasan Materialistik tentang Perubahan Sejarah
Diterapkan pada pola-pola perubahan sejarah yang luas, penekanan materialistis ini berpusat pada perubahan-perubahan cara atau teknik-teknik produksi materil sebagai sumber utama perubahan sosial dan budaya. Hal ini akan mencakup perkembangan teknologi baru, penemuan sumber-sumber baru, atau perkembangan beru lain apapun dalam bidang kegiatan produksi.
Dalam The German Ideology, Marx dan Engels menelusuri perubahan-perubahan utama kondisi-kondisi material dan cara-cara produksi di satu pihak dan hubungan-hubungan sosial serta norma-norma pemilikan di lain pihak, mulai komunitas suku bangsa primitif sampai ke kapitalisme modern. Maksud dari The German Ideology adalah untuk menunjukkan bahwa manusia menciptakan sejarahnya sendiri selama mereka berjuang menghadapi lingkungan metirilnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam proses ini. Tetapi kemampuan manusia untuk membuat sejarahnya sendiri dibatasi oleh keadaan lingkungan materil dan sosial yang sudah ada itu.
Pandangan sejarah Marx merupakan pandangan sejarah yang dinamis dan oleh karena itu dia percaya bahwa kekuatan-kekuatan produksi akan berubah menjadi lebih baik dalm menyediakan kebutuhan-kebutuhan material.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar