Rabu, 03 April 2013

Sekilas tentang Pierre Bourdieu


Pierre Bourdieu memegang kedudukan prestisius dalam sosiologi di College de France (Jenkins, 1992). Dia dilahirkan di kota kecil selatan Perancis pada 1930, ayahnya adalah pegawai negeri, dan Bourdieu tumbuh di keluarga menengah ke bawah. Pada awal 1950-an dia masuk sekolah Prestisius di Paris, Ecole Normale Superieure. Akan tetapi dia menolak untuk menulis tesis, sebagian karena dia keberatan dengan kualitas pendidikannya yang sedang-sedang saja dan keberatan terhadap struktur sekolah yang otoriter. Dia aktif dalam menentang orientasi komunis yang kuat yang dianut oleh sekolahnya.
Bourdieu mengajar sebentar di sekolah provinsi, tetapi masuk wajib militer pada 1956 dan menghabiskan waktu dua tahun di Aljazair bersama tentara Perancis. Dia menulis sebuah buku tentang pengalamannya dan tetap berada di Aljazair selama dua tahun setelah wajib militernya usai. Dia kembali ke Perancis pada 1960 dan bekerja sebagai asisten di Universitas Paris selama setahun. Dia mengikuti kuliah antropolog Levi-Strauss di College de France dan bekerja sebagai asisten untuk sosiologi Raymond Aron. Bourdieu pindah ke Universitas Lille selama tiga tahun dan kembali menduduki posisi yang kuat sebagai Direktur Studi di L’Ecole Practique des Hautes Etudes pada 1964.
Selama tahun-tahun selanjutnya Bourdieu menjadi figur utama di Paris, Perancis dan di lingkaran intelektual. Karyanya berpengaruh terhadap sejumah bidang yang berbeda, termasuk pendidikan, antropologi, dan sosiologi. Dia mengumpulkan kelompok murid pada 1960-an, dan sejak itu para pengikutnya berkolaborasi dengannya dan membuat kontribusi intelektual. Pada 1968 Centre de Sociologie Europeenne didirikan dan Bourideu menjadi direkturnya. Bersama asosiasi ini muncul usaha terbitan yang unik, Acte de La Reecherche en Sciences Sociales, yang menjadi outlet penting untuk karya-karya Bourdiew dan pendukungnya.
Ketika Raymond Aron pensiun pada 1981 kedudukan pemimpin College de France menjadi lowong, dan sebagian besar sosiolog terkemuka Perancis (misalnya, Raymond Boudon dan Alain Touraine) bersaing untuk mendudukinya. Akan tetapi, kedudukan itu jatuh ke tangan Bourdieu (Jenkins, 1992). Sejak saat itu Bourideu menjadi pengarang yang lebih prolifik ketimbang sebelumnya dan reputasinya terus menjulang.
Salah satu aspek menarik dari karya Bourdieu adalah cara dimana ide-idenya, terkadang secara eksplisit dan terkadang implisit, berbentuk dialog antara dua sarjana terkemuka pada masa dia masih belajar Jean-Paul Sartre dan Claude Levi-Strauss. Dari eksistensialisme. Sartre, Bourdieu mendapatkan pemahaman yang kuat tentang aktor sebagai kreator dunia sosialnya, akan tetapi, Bourdieu merasa bahwa memberi terlalu banyak kekuasaan kepada aktor dan dalam proses itu dia mengabaikan batasan struktural terhadap para aktor itu. Karena tertarik ke arah struktur, Bourdieu beralih ke karya-karya strukturalis terkemuka, Levi-Strauss. Pertama-tama Bourdieu menganut orientasinya, dalam kenyataannya, dia pernah mendeskripsikan dirinya sebagai “strukturalis yang berbahagia” (dikutip dalam Jenkins, 1992 : 12).
Akan tetapi, beberapa riset awalnya membawanya ke kesimpulan bahwa strukturalisme adalah sama terbatasnya dengan eksistensialisme, meskipun dalam arah yang berbeda. Dia keberatan terhadap fakta bahwa para strukturalis memandang diri mereka sebagai pengamat istimewa terhadap orang lain yang diasumsikan akan dikontrol oleh struktur yang tak mereka sadari. Bourdieu mulai meremehkan bidang yang semata-mata memfokuskan diri pada batasan struktural, dan mengatakan bahwa sosiologi : Barangkali tak akan berharga sedikitpun jika semata-mata berniat membuka kawat yang mengaktifkan individu yang diamatinya jika ia melupakan bahwa ia berhubungan dengan manusia, bahkan mereka yang, seperti boneka memainkan permainan yang mereka tak tahu aturannya jika, singkatnya, sosiologi tidak memulihkan makna tindakan kepada aktor (Bourdieu, dikutip dalam Robbins, 1991:37).
Bourdieu mendefenisikan salah satu tujuan dasarnya dalam reaksi terhadap akses strukturalisme : “Niat saya adalah mengembalikan kehidupabn nyata aktor yang telah dilenyapkan di tangan Levi-Strauss dan strukturalis lainnya….yang menganggapnya sebagai epifenomena struktur” (dikutip dalam Jenkins, 1992 : 17-18). Dengan kata lain, Bourdieu ingin mengintegrasikan setidaknya sebagian dari eksistensialisme Sartre dengan strukturalisme Levi-Strauss.
Pemikiran Bourdieu juga banyak dibentuk oleh teori Marxian dan Marxis. Seperti yang kita lihat, sebagai mahasiswa, Bourdieu keberatan terhadap ekses dari Marxis dan dia kemudian menolak ide Marxisme struktural. Sementara Bourdieu tidak dapat dianggap sebagai seorang Marxis, jelas dalam ide-idenya ada pengaruh dari teori Marxian. Yang paling menonjol adalah penekanannya pada praktik (praksis) dan keinginannya untuk mengintegrasikan teori dengan praktik (riset) dalam sosiologinya. (Dapat dikatakan bahwa Bourdieu mengerjakan “praxeology” bukannya eksistensialisme atau strukturalisme). Ada juga pengaruh liberasionis dalam karyanya dimana dia dapat dikatakan tertarik untuk membebaskan orang dari dominasi politik dan kelas. Tetapi, sebagaimana kasus Sartre dan Levi-Strauss, Bourdieu paling baik dilihat sebagai pencipta ide-idenya sendiri dengan menggunakan Marx dan Marxis sebagai titik tolaknya.
Ada jejak pengaruh teori lainnya dalam karya-karyanya, khususnya dari Weber dan teoritisi sosiologi Perancis terkemuka, Emile Durkheim. Akan tetapi, Bourdieu menolak dicap sebagai Marxian, Weberian, Durkheimian, atau yang lainnya. Dia mengganggap label semacam itu bersifat membatasi, terlalu menyederhanakan, dan berbenturan dengan karya-karyanya. Dalam satu pengertian, Bourdieu mengembangkan ide-idenya dalam dialog kritis yang dimulai ketika dia masih mahasiswa dan berlanjut sampai sekarang “Segala sesuatu yang telah saya lakukan dalam sosiologi dan antropologi telah saya kerjakan dengan menentang apa-apa yang diajarkan kepada saya” (Bourdieu, dalam Bourdieu danb Wacquant, 1992:204). Bourdieu meninggal di usia 71 tahun pada 23 januari 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar