Minggu, 14 April 2013

Teori Modernitas dan Postmodernitas


Sementara berbagai perkembangan yang dibahas terdahulu menjadi semakin penting pada akhir abad 20, pada bagian ini akan dijelaskan empat gerakan besar yang menjadi sangat penting dalam dekade-dekade itu, keempatnya adalah integrasi mikro-makro, integrasi agen-struktur, sintesis teori, dan metateori dalam sosiologi.

Integrasi Mikro-Makro
Banyak sekali karya paling akhir dalam teori sosiologi Amerika yang memusatkan perhatian pada hubungan antara teori-teori mikro dan makro serta menyatukan antara berbagai tingkat analisis (Barnes, 2001). Ritzer (1990a) hendak menegaskan bahwa hubungan mikro-makro muncul sebagai masalah sentra] dalam teori sosiologi Amerika pada 1980-an dan terus menjadi sasaran perhatian pada 1990-an. Kontribusi penting untuk karya-karya Amerika kontemporer tentang hubungan mikro-makro ini adalah kontribusi sosiolog Eropa, Norbert Elias (1939/1994) terhadap pemahaman kita mengenai hubungan antara cara analisis tingkat mikro-makro dan keadaan tingkat makro (Kilminster dan Mennell, 2000; van Krieken, 2001). Ada sejumlah contoh terakhir dari upaya mengembangkan tingkat analisis dan atau teori mikro-makro ini. Ritzer (1979,1981a) mencoba membangun sebuah paradigma sosiologi yang terintegrasi dengan mengintegrasikan tingkat mikro-makro, baik dalam bentuk objektifnya maupun subjektifnya. Dengan demikian menurut pandangan saya ada empat tingkatan utama analisis sosial yang harus dijelaskan menurut cara yang terintegrasi: subjektivitas makro, objektivitas makro, fubjektivitas mikro, dan objektivitas mikro. Jeffrey Alexander (1982-83) telah menciptakan sosiologi multidimensional yang, paling tidak sebagian, sependapat dengan model tingkatan analisis yang sangat menyerupai model yang dikembangkan Ritzer. James Coleman (1986) berkonsentrasi pada masalah integrasi mikro ke makro, sedangkan Allen Liska (1990) memperluas pendekatan Coleman untuk membahas problem mikro ke makro: Coleman (1990) memperluas model mikro makronya dan mengembangkan teori yang jauh lebih rinci tentang bubungan mikro makro berdasarkan pendekatan pilihan rasional yang berasal dari ilmu ekonomi.

Integrasi Agen-Struktur
Sejalan dengan pertumbuhan minat terhadap analisis integrasi mikro makro di Amerika, di Eropa orang memusatkan perhatian pada analisis integrasi agen struktur (Sztompka, 1994). Sebagaimana Ritzer melihat masalah mikro-makro sebagai masalah sentral dalam teori di Amerika, Margaret Archer (1988) melihat topik agen-struktur sebagai sasaran perhatian utama dalam teori sosial Eropa. Meski banyak kesamaan antara literatur mikro makro dan agen struktur (Ritzer dan Gindoff, 1992,1994), namun ada juga perbedaan substansialnya. Misalnya, meski agen biasanya adalah aktor tingkat mikro, kehidupan kolektif seperti organisasi buruh pun dapat menjadi agen. Dan meski struktur biasanya merupakan fenomena tingkat makro, kita pun dapat menemukan struktur di tingkat mikro. Jadi, kita harus hati-hati dalam menyamakan kedua kumpulan model analisis ini, dan diperlukan ketelitian dalam menghubungkan keduanya. Ada empat upaya analisis utama dalam teori sosial Eropa masa kini yang dapat dihimpun di bawah topik integrasi agen struktur. Pertama adalah teori strukturasi (structuration) Anthony Giddens (1984). Kunci pendekatan Giddens adalah bahwa ia melihat agen dan struktur sebagai dualitas, artinya keduanya dapat dipisahkan satu sama lain. Agen terlibat dalam struktur dan struktur melibatkan agen. Giddens menolak untuk melihat struktur semata sebagai pemaksa terhadap agen (misalnya, seperti Durkheim), tetapi melihat struktur baik sebagai pemaksa maupun penyedia peluang. Margaret Archer (1982) menolak pendapat yang menyatakan agen dan struktur dapat dipandang sebagai dualitas, tetapi lebih melihatnya sebagai dualisme. Artinya, agen struktur dapat dan mesti dipisahkan. Dengan memisahkannya kita akan lebih mampu menganalisis hubungannya satu sama lain. Archer (1988) juga terkenal karena memperluas literatur agen struktur untuk menganalisis hubungan antara kultur dan agen dan karena mengembangkan teori agen-struktur umum (Archer, 1995). Giddens dan Archer adalah orang Inggris, sedangkan tokoh utama ketiga yang terlibat dalam kajian hubungan agen-struktur ini adalah seorang Perancis, Piere Bourdieu (Bourdieu, 1977; Bourdieu dan Wacquant, 1992; Swartz, 1997). Dalam buku Bourdieu, masalah agen struktur diterjemahkan menjadi pemusatan perhatian terhadap hubungan antara habitus dan bidang atau lapangan (field). Habitus adalah struktur mental atau kognitif yang diinternalkan (internalized), yang melaluinya individu memahami kehidupan sosial. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh bermasyarakat. Lapangan adalah jaringan hubungan antara berbagai posisi objektif. Struktur lapangan membantu memaksa atau meng- hambat agen, yang mungkin individual atau kolektif. Secara menyeluruh, Bourdieu memusatkan perhatian pada hubungan antara habitus dan lapangan. Sementara lapangan mensyaratkan adanya habitus, habitus merupakan lapangan. Jadi, ada hubungan dialektis antara habitus dan lapangan. Teoritisi utama terakhir tentang hubungan agen-struktur adalah pemikir sosial Jerman, Jurgen Habermas. Di atas telah ditunjukkan Habermas sebagai penyumbang penting bagi pengembangan teori kritis. Dalam karyanya yang lebih akhir, Habermas (1987a) menjelaskan masalah agen struktur di bawah judul “kolonisasi kehidupan dunia”. Kehidupan adalah dunia mikro tempat individu berinteraksi dan berkomunikasi. Sistem sosial mempunyai akar di dalam kehidupan dunia, tetapi akhirnya sistem tumbuh dengan mengembangkan ciri-ciri strukturalnya sendiri. Ketika struktur ini tumbuh dengan bebas dan kuat ia makin lama makin memaksakan pengendaliannya terhadap dunia kehidupan. Dalam dunia modern, sistem sosial (struktur) menjadi penjajah kehidupan dunia memaksakan kontrol terhadap kehidupan dunia. Teoritisi yang dibahas di seksi ini tak hanya yang menonjol dalam masalah agen struktur, tetapi juga yang menonjol di seluruh dunia (terutama Bourdieu, Giddens, dan Habermas). Setelah dalam jangka panjang didominasi oleh teoritisi Amerika (Mead, Parsons, Merton, Homans, dan lain-lain), pusat teori sosial kembali ke tempat kelahirannya di Eropa. Selanjutnya, Nedelmann dan Sztompka menyatakan bahwa dengan berakhirnya perang dingin dan kejatuhan komunisme, kita hampir menyaksikan “era masa keemasan lain sosiologi Eropa” (1993:1). Ini rupanya didukung oleh fakta bahwa kini karya yang menarik perhatian sejumlah besar teoritisi dunia berasal dari Eropa. Satu contoh adalah karya Ulrich Beck, Risk Society: Toward a New Modernity (1992) yang membahas tentang risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dihadapi masyarakat dewasa ini. Jelaslah, sekurangnya untuk sekarang, pusat teori sosiologi telah beralih kembali ke Eropa.

Sintetis Teoritis
Gerakan ke arah integrasi mikro makro dan agen struktur berawal pada 1980-an dan menguat pada 1990-an. Mereka membuka jalan untuk gerakan lebih luas menuju sintesis teoritis yang dimulai sekitar awal tahun 1990-an. Lewis (1991) menvatakan bahwa status sosiologi yang relatif rendah mungkin akibat fragmentasi berlebihan, dan gerakan menuju integrasi yang lebih kompak dapat meningkatkan status sosiologi. Yang tersirat di sini adalah upaya besar-besaran untuk menyintesiskan dua atau lebih teori yang berbeda (misalnya, fungsionalisme struktural dan interaksionisme simbolik). Upaya seperti itu telah terjadi sepanjang sejarah teori sosiologi (Holmwood dan Steward, 1994). Namun, ada dua aspek khusus karya sintesis baru dalam teori sosiologi. Pertama, sintesis yang sngat luas dan tak terbatas pada upaya sintesis yang terpisah. Kedua, sintesis yang bertujuan menyintesiskan pemikiran teoritisi yang relatif sempit dan tidak gembangkan teori sintesis besar yang meliputi semua teori sosiologi. Karya antesis ini muncul di dalam dan di antara berbagai teori yang didiskusikan ini. Kemudian ada usaha untuk memasukkan perspektif dari luar sosiologi ke dalam teori sosiologi. Ada karya-karya yang berorientasi membawa ide-ide biologi ke dalam sosiologi dalam rangka menciptakan sosiobiologi (Crippen, 1994; Maryanski dan Turner, 1992). Teori pilihan rasional didasarkan pada ilmu ekonomi, namun telah masuk ke beberapa bidang, termasuk sosiologi (Coleman, 1990). Teori sistem berakar pada ilmu pasti, tetapi di akhir abad 20, Niklas Luhmann (1984/1995) telah berusaha mengembangkan teori sistem yang dapat diterapkan ke dunia sosial.

Memasuki abad 21 para teoritisi sosial semakin sibuk dengan persoalan apakah masyarakat, dan juga teori-teori, telah mengalami perubahan dramatis atau tidak. Di satu sisi ada sekelompok teoritisi (misalnya, Jurgen Habermas dan Anthony Giddens) yang yakin bahwa kita masih akan terus hidup dalam masyarakat bertipe modern dan karena itu kita dapat menata teori menurut cara yang ditempuh para pemikir sosial yang telah lama meneliti masyarakat. Di sisi lain ada sekelompok pemikir (misalnya, Jean Baudrillard, Jean Francois Lyotard,dan Fredric Jameson) yang berpendapat bahwa masyarakat telah berubah secara dramatis dan kini kita hidup dalam masyarakat yang kualitasnya sangat berbeda, yakni masyarakat post-modern. Lebih lanjut mereka menyatakan bahwa masyarakat baru ini harus dipikirkan menurut cara baru dan berbeda.

Pembela Modernitas
Semua teoritisi sosiologi klasik besar (Marx, Weber, Durkheim, dan Simmel) memikirkan dunia modern, serta keuntungan dan kerugiannya. Tentu saja, setelah Weber wafat tahun 1920, dunia berubah pesat. Meski semua teoritisi masa kini mengakui perubahan pesat itu, namun ada yang yakin bahwa ada lebih banyak kontinuitas ketimbang diskontinuitas antara dunia kini dan dunia yang muncul di ujung abad 20. Mestrovic (1998:2) memberi label Anthony Giddens sebagai “pangeran modernitas”. Giddens (1990,1991,1992) menggunakan istilah seperti modernitas “radikal” atau “tinggi”, untuk melukiskan masyarakat dewasa ini dan untuk menandai bahwa ineski masyarakat modern kini tak persis sama dengan masyarakat modern seperti yang dilukiskan teoritisi klasik, namun ciri-ciri mendasarnya masih berlanjut. Giddens melihat modernitas sekarang sebagai “juggernaut” yang lepas kontrol. Ulrich Beck (1992) berpendapat meski modernitas tahap klasik berhubungan dengan masyarakat industri, modernitas yang baru muncul ini paling tepat dilukiskan sebagai “masyarakat berisiko”. Sementara dilema utama dalam modernitas klasik adalah kekayaan dan bagaimana seharusnya didistribusikan, masalah utamanya ini adalah pencegahan, minimalisasi, dan penyaluran risiko (misalnya, dari kecelakaan nuklir). Jurgen Habermas (1981, 1987b) melihat modernitas sebagai proyek yang belum selesai. Artinya, masalah sentral dalam dunia modern adalah rasionalitas, sebagaimana pada masa Weber. Tujuan utopianya adalah masih memaksimalkan rasionalitas sistem dan dunia kehidupan Ritzer pun (2002) melihat rasionalitas sebagai proses kunci di dunia kini. Akan tetapi, Ritzer memusatkan perhatian pada masalah peningkatan rasionalitas formal dan bahaya kurungan besi rasionalitas. Sementara Weber memusatkan perhatian pada masalah birokrasi, Ritzer melihat paradigma birokrasi seperti restoran cepat saji dan ia melukiskan peningkatan rasionalitas formal seperti memusatkan perhatian pada McDonaldisasi masyarakat.

Pendukung Post Modernitas
Pemikiran post-modernisme sangat panas (Crook, 2001; Ritzer, 1997; Ritzer dan Goodman, 2001; Kellner, 1989a) dan sedemikian panasnya sampai terus-menerus didiskusikan di berbagai bidang ilmu, termasuk sosiologi, sehingga mungkin telah berada dalam proses kematiannya (Lemert, 1994b). Perlu dibedakan antara teori sosial post modern dan post modernitas (Best dan Kellner, 1991). Post-modernitas adalah sejarah baru yang dianggap telah menggantikan era modern atau modernitas. Teori sosial post modern adalah cara berpikir baru tentang post modernitas; dunia sudah demikian berbeda sehingga memerlukan cara berpikir yang sama sekali baru. Teoritisi post modern cenderung menolak perspektif teoritis yang dijelaskan di bagian-bagian di atas dan juga menolak cara berpikir untuk menciptakan teorinya. Cara melukiskan post modernitas ini sama banyaknya dengan teoritisi sosial post modern. Untuk menyederhanakannya akan dirangkum beberapa elemen kunci gambaran yang dikemukakan oleh salah seorang teoritisi post-modernitas terkemuka, Fredric Jameson (1984,1991). Pertama, post modernitas adalah sebuah dunia yang dangkal, dunia superfisial (misalnya hutan jelajah di Disneyland tak sama dengan hutan sebenarnya). Kedua, post modernitas adalah dunia yang kekurangan hubungan kasih sayang dan emosi. Ketiga, lenyapnya makna tempat seseorang dalam sejarah; sukar membedakan antara masa lalu, masa kini dan nasa datang. Keempat, modernitas ditandai oleh teknologi produktif, eksplosif dan meluas (misalnya, perakitan mobil), sedangkan post-modernitas didominasi oleh teknologi yang implosif, mendatar, dan reproduktif (misalnya, televisi). Dalam hal ini masyarakat post-modern sangat berbeda dari masyarakat modern. Perbedaan dunia seperti itu memerlukan cara berpikir yang berbeda pula. Rosenau (1992; Ritzer, 1992) mendefinisikan mode pemikiran post modern dari segi hal-hal yang ditentangnya. Pertama, teoritisi post modern menolak jenis teori-teori besar yang menandai kebanyakan teori sosiologi klasik. Mereka lebih meyakini penjelasan yang lebih terbatas, atau tanpa penjelasan sama sekali. Kedua, menolak kecenderungan membatasi antara disiplin ilmu terlibat dalam sesuatu yang dinamakan teori sosiologi (atau sosial) yang berbeda dari, katakanlah, pemikiran filsafat atau bahkan dari cerita novel. Ketiga, teoritisi post modern sering lebih tertarik mengejutkan pembaca ketimbang terlibat dalam diskusi akademis. Keempat, teoritisi post modern lebih cenderung memusatkan perhatian pada aspek pinggiran masyarakat ketimbang meneliti inti masyarakat (katakan­lah, rasionalitas atau eksploitasi kapitalis).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar