Sabtu, 20 April 2013

Analisis Spasial Neo-marxian


Kategorisasi teori-teori neo-Marxian, dan bahkan semua teori, agak bersifat arbitrer. Hal itu dijelaskan di sini dengan fakta bahwa karya tentang sistem dunia yang didiskusikan di bagian “Sosiologi Ekonomi Neo-Marxian” juga dapat didiskusikan di bagian ini. Misalnya, ide tentang sistem dunia adalah, antara lain, secara inheren bersifat spasial, berkaitan dengan diferensiasi global ekonomi dunia. Karya tentang sistem dunia adalah bagian dari kumpulan karya yang lebih luas yang melibatkan sejumlah kontribusi penting dari teoritisi neo Marxian terhadap pemahaman kita tentang ruang (space) dan perannya dalam dunia sosial. Dan ini hanya bagian dari kebangkitan minat yang lebih terhadap ruang dalam sosiologi (Gieryn, 2000) dan teori sosial. Dalam bagian ini kita akan membahas beberapa kontribusi utama untuk area ini di mana neo Marxis berada di garis depan.
Titik awal untuk pertumbuhan minat dalam ruang dalam teori neo-Marxian (dan teori lainnya) adalah karya Michel Foucault. Yang menunjukkan bahwa banyak teori, tetapi khususnya teori Marxian, lebih mengutamakan waktu ketimbang ruang: “Devaluasi ruang telah mengemuka selama beberapa generasi ini.. .ruang yang dianggap mati, tetap, tak dialektis, tak bergerak. Waktu sebaliknya, adalah kekayaan, kesuburan, kehidupan, dialektika” (Fouca; 1980b:70). Implikasinya adalah ruang, bersama waktu, seharusnya diberi hak yang sama dan dianggap kaya, subur, dan dialektis. Sementara fokusnya mungkin hanya pada waktu (dan sejarah) di masa lampau, Foucault (1986:22) berpendat “Epos sekarang mungkin terutama akan berupa epos tentang ruang.” Sesungguhnya, seperti yang akan kita lihat, Foucault menawarkan sejumlah pandangan penting mengenai ruang dalam diskusinya tentang topik-topik seperti Carcerfal Archipelago dan Panopticon.

Produksi Ruang
Karya terobosan dalam teori ruang neo-Marxian adalah The Production of Space karya Henri Lefebvre (1974/1991). Lefebvre mengatakan bahwa teori Marxian perlu menggeser fokusnya dari cara-cara produksi ke produksi ruang. Atau dengan kata lain, dia ingin melihat pergeseran fokus dari hal-hal dalam ruang (misalnya, cara-cara produksi seperti pabrik) ke produksi ruang aktual itu sendiri. Teori Marxian perlu memperluas perhatiannya dari produksi (industri) ke produksi ruang. Ini adalah cerminan dari fakta bahwa fokus perlu digeser dari produksi ke reproduksi. Ruang berfungsi dengan berbagai macam cara untuk mereproduksi sistem kapitalis, struktur kelas di dalam sistem ekonomi, dan sebaliknya. Jadi, setiap aksi revolusioner harus berhubungan dengan restrukturisasi ruang.
Aspek kunci dari argumen Lefebvre yang kompleks itu terletak dalam tiga perbedaan berikut ini. Dia mulai dengan praktik spasial (spatial practice), yang menurutnya melibatkan produksi dan reproduksi ruang. Yang melapisi dan akhirnya mendominasi praktik spasial adalah apa yang dinamakan Lefebvre sebagai representasi ruang (representation of space). Ini adalah ruang sebagaimana dibayangkan oleh elite masyarakat seperti perencana tata kota dan arsitek. Mereka menganggapnya sebagai “ruang sesungguhnya”, dan dipakai oleh mereka dan oleh yang lainnya untuk mencapai dan mempertahankan dominasi. Jadi, misalnya, perencana tata kota mendesain, secara teoritis, untuk menggusur rumah-rumah kaum miskin yang kumuh dan menggantikannya dengan perumahan yang jauh lebih baik dan modern. Akan tetapi, pembaruan kota itu kemudian disebut “pembongkaran urban”. Kelompok miskin digusur untuk membuka perumahan baru, tetapi ketika perumahan baru itu telah dibangun, perumahan itu sering kali diperuntukkan bagi keluarga kelas menengah atas perkotaan. Sering kali kelompok miskin ini harus pindah ke daerah baru, dan sering kali mendapatkan rumah yang tak lebih baik daripada yang mereka tinggalkan. Mereka juga terpaksa beradaptasi dengan daerah baru, komunitas, dan tetangga baru. Jadi, “praktik spasial” terhadap kaum miskin secara radikal diubah oleh “representasi ruang” dari mereka yang mendukung, menciptakan, dan mengimplementasikan pembaruan urban.
Representasi ruang mendominasi bukan hanya atas praktik spasial, tetapi ruang-ruang representasional (representational spaces). Sementara representasi ruang adalah ciptaan dari kelompok dominan, ruang representasional berasal dari pengalaman hidup orang khususnya dari kalangan bawah atau klendestin. Seperti yang telah kita lihat, sementara representasi ruang dianggap sebagai “ruang sesungguhnya” oleh pemegang kekuasaan, representasi ruang itu lalu menghasilkan “kebenaran ruang”. Yakni, mereka mencerminkan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam pengalaman hidup ketimbang sebuah kebenaran abstrak yang diciptakan oleh seseorang seperti perencana tata untuk meraih dominasi. Akan tetapi, dalam dunia kontemporer, representasi ruang, sebagaimana praktik ruang, menderita karena hegemoni representasi ruang. Dalam kenyataannya, Lefebvre (1974/1991:398) melanjutkan dengan mengatakan, “ruang representasional lenyap di dalam representasi ruang”. Jadi problem utama menurut Lefebvre adalah pradominasi dari elite representasi ruang atas praktik spasial sehari-hari dan ruang-ruang representasional. Lebih jauh, jika ide-ide baru dan berpotensi revolusioner yang mengalir dari ruang representasional lenyap, bagaimana hegemoni elite seperti perencana tata bisa ditandingi, apalagi digoyahkan ? Meski acara yang dikemukakan di atas adalah cara ideal untuk membahas ruang, Lefebvre memberikan perbedaan tripartit kedua yang membahasnya dalam sudut pandang yang lebih material, lebih optimis. Sejajar dengan gagasan Marx tentang spesies manusia, Lefebvre mulai dengan apa yang dinamakan spesies absolut, atau ruang natural (yakni area “hijau”) yang tak dapat dikolonsasi, diubah menjadi tak autentik, atau dihancurkan oleh kekuatan ekonomi dan politik.
Sebagaimana Marx tak banyak menganalisa species-being (dan komunisme), Lefebvre juga tak banyak mencurahkan perhatian pada waktu absolut. Sementara Marx mencurahkan sebagian besar perhatiannya untuk mengkritik kapitalisme, Lefebvre tertarik untuk menganalisa secara kritis apa yang dia sebut sebagai ruang abstrak. Seperti representasi ruang, ini adalah ruang dari sudut pandang subjek abstrak seperti perencana kota atau arsitek, meskipun subjek abstrak juga bisa berupa orang biasa seperti pengemydi mobil. Tetapi, ruang abstrak bukan hanya ideasional; ia secara aktual menggantikan ruang historis (yang didirikan di atas ruang absolut). Ruang abstrak dicirikan oleh ketiadaan sesuatu yang diasosiasikan dengan ruang absolut (pohon, udara bersih, dan sebagainya). Ia adalah ruang represif (bahkan melibatkan brutalitas dan kekerasan), otoritarian, terkontrol, diduduki, dan didominasi. Lefebvre menekankan pada peran negara lebih besar ketimbang kekuatan ekonomi dalam menjalankan kekuasaan (power) atas ruang abstrak, meski pelaksanaan kekuasaan itu tersembunyi. Lebih jauh, “ruang abstrak adalah alat kekuasaan” (Lefebvre, 1974/1991:391). Yakni, bukan hanya kekuasaan yang dijalankan di dalamnya, ruang abstrak itu sendiri adalah kekuasaan (power). Sementara pihak yang berkuasa selalu berusaha mengontrol g, apa-apa yang baru di sini adalah bahwa “kekuasaan berusaha mengontrol ruang secara menyeluruh” (Lefebvre, 1974/1991:388). Jadi, kelas penguasa menggunakan ruang abstrak sebagai alat kekuasaan untuk mendapatkan kontrol atas ruang yang semakin meluas. Sementara Lefebvre mengurangi tekanan pada faktor dan kekuatan ekonomi, dia mengakui bahwa kekuasaan dari dan atas ruang abstrak menghasilkan keuntungan. Yakni, bukan hanya pabrik yang menghasilkan keuntungan, tetapi juga rel kereta dan jalan layang yang menyediakan ke pabrik untuk pengangkutan bahan mentah dan produk akhir.
Sebagai teoritisi Marxis yang baik Lefebvre menekankan pada kontradiksi. Sementara ruang abstrak berfungsi untuk memperhalus kontradiksi, ia secara stimultan memunculkannya, termasuk yang berpotensi memecahnya. Meski dia heran mengapa orang menerima jenis kontrol yang dikenakan atas mereka oleh ruang abstrak dan hanya berdiam diri, dia tampaknya menerima ide bahwa mereka pada akhirnya akan terpicu untuk bertindak karena adanya kontradiksi-kontradiksi ini. Seperti dalam analisis kontradiksi dalam kapitalisme oleh Marx, Lefebvre berargumen bahwa benih ruang jenis baru ini dapat dilihat di dalam konntradiksi-kontradiksi ruang abstrak.
Jenis ruang baru itu, tipe ketiga dari ruang yang akan didiskusikan di sini, adalah ruang diferensial. Sementara ruang abstrak berusaha mengontrol dan mendominasi setiap orang dan segala sesuatu, ruang diferensial mengasentuasikan perbedaan dan kebebasan dari kontrol. Sementara ruang abstrak memecah kesatuan natural yang ada di dunia, ruang diferensial memulihkan kesatuan itu. Sekali lagi, Lefebvre lebih banyak berbicara tentang apa yang dia kritik—ruang abstrak—ketimbang apa alternatif yang diharapkannya.
Lefebvre mengatakan bahwa ruang dapat memainkan berbagai peran dalam dunia sosioekonomi. Pertama, dia dapat mengambil peran dari salah satu kekuatan produksi (yang lainnya, kekuatan yang lebih tradisional, adalah pabrik, alat dan mesin). Kedua, ruang itu sendiri dapat menjadi komoditas luas yang dikonsumsi seperti, misalnya, oleh turis yang mengunjungi Disneyland), atau dapat dikonsumsi secara produktif (misalnya, tanah tempat pabrik dibangun). Ketiga, ruang adalah penting secara politik, memfasilitasi kontrol sistem (pembangunan alan untuk memfasilitasi gerak maju pasukan untuk memadamkan pemberontakan). Keempat, ruang menopang reproduksi produksi dan relasi properti misalnya, komunitas mahal untuk kapitalis dan kampung kumuh untuk orang miskin). Kelima, ruang dapat berbentuk suprastruktur yang, misalnya, tampaknya netral, tapi menyembunyikan basis ekonomi yang menghasilkan suprastruktur
dan jauh dari netral. Jadi, sistem jalan layang mungkin tampaknya netral, namun sesungguhnya menguntungkan pengusaha kapitalis yang bisa memindahkan bahan baku secara mudah dan murah. Terakhir, selalu ada potensi positif dalam ruang, seperti penciptaan karya kreatif dan manusiawi, dan kemungkinan pengambilan kembali ruang atas nama mereka yang dikontrol dan dieksploitasi.
Produksi ruang menduduki dua posisi dalam karya Lefebvre. PERTAMA seperti didiskusikan di atas, ia merupakan fokus baru dari analisis dan kritis. Yakni, perhatian kita akan bergeser dari cara produksi ke produksi ruang. KEDUA Lefebvre menempatkan ini dalam term arah perubahan sosial yang diharapkan. Yakni, kita hidup dalam dunia yang dicirikan oleh mode produksi dalam ruang. Ini adalah suatu dunia dominasi di mana kontrol dipegang oleh negara, kapitalis dan borjuis. Ini adalah dunia yang tertutup dan steril, dunia yang dikosongkan dari isinya (misalnya, jalan layang menggantikan dan menghancurkan komunitas lokal). Dalam sebagai penggantinya kita memerlukan dunia yang dicirikan oleh produksi ruang. Kita akan mempunyai dunia di mana penyediaan adalah dominan bukan dominasinya. Yakni, orang bekerja sama dengan orang lain di dalam dan dengan ruang untuk menghasilkan apa-apa yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup dan makmur. Dengan kata lain, mereka memodifikasi ruang natural dalam rangka menyelamatkan kebutuhan kolektif mereka. Jadi, tujuan Lefebvre (1974/1991:422) adalah “memproduksi ruang spesies manusia.. .ruang seluas planet sebagai landasan sosial dari kehidupan sehari-hari yang transformasikan”. Tak perlu dikatakan lagi, keadaan politik dan kepemilikan privat atas cara-cara produksi bukanlah satu-satunya fokus Lefebvre, tetapi juga tujuan politiknya yang mirip dengan tujuan politik Marx, yakni komunisme.

Trialektika
Edward Soja (1989) sangat dipengaruhi oleh Foucault dan Lefebvre. Misalnya, seperti Foucault, dia mengkritik fokus pada waktu (dan sejarah) sebagai penciptaan “carceral historicism” dan “temporal prisonhouse” (Soja, 1989:1). Dia berusaha mengintegrasikan studi ruang dan geografi dengan studi waktu. Lefebvre sangat memengaruhi pemikiran Soja, tetapi Soja kritis terhadap beberapa aspek dari karyanya dan mencoba melampauinya dalam berbagai cara.
Mungkin inti kontribusi teoritis Soja (1996, 2000) untuk pemahaman tentang ruang adalah gagasannya tentang trialektika (trialectics). Soja jelas membangun, mengembangkan, gagasan dialektika Marxian (dan Hegelian). Akan tetapi, sumber yang lebih dekat adalah karya Lefebvre, khususnya perbedaan antara praktik spasial, representasi ruang, dan ruang representasional, seperti yang telah diuraikan di atas. Secara umum Lefebvre membuat perbedaan antara praktik material dan dua tipe ide tentang ruang. Soja menggunakan perbedaan dasar ini untuk menyusun teori yang disebut ruang-kota (cityspace), atau “kota sebagai fenomena historis-sosial-spasial, tetapi dengan spasialitas intrinsik yang ditekankan untuk tujuan penafsiran dan penjelasan” (Soja, 2000:8). Definisi ini menggarisbawahi salah satu premis dasar Soja; yakni, sementara dia mengutamakan ruang, dia ingin memasukkan analisis (atau waktu pada umumnya) dan sosial ke dalam sejarah. Sementara dia ingin memasukkan ruang ke dalam analisis sosial, hal itu harus dilakukan tidak dengan merusak analisis sejarah dan waktu. Lebih jauh, pemasukan relasi sosial membuat perspektif Soja sama dengan tradisi teori sosiologi dan sosial yang dibahas disini.
Perspektif Firstspace pada dasarnya adalah berorientasi material yang konsisten dengan pendekatan yang sering diambil oleh ahli geografi dalam studi perkotaan (dan pemahaman praktik spasial dari Lefebvre). Demikianlah Soja (2000:lO) mendeskripsikan pendekatan Firstspace: “Ruang-kota dapat dikaji sebagai seperangkat ‘praktik sosial’ yang dimaterialisasikan yang bekerja sama untuk memproduksi dan mereproduksi bentuk-bentuk konkret dan pola-pola urbanisme spesifik sebagai gaya hidup. Di sini ruang kota secara fisik dan empiris dibayangkan sebagai bentuk dan proses, sebagai konfigurasi dan praktik kehidupan urban yang dapat diukur dan dipetakan.” Pendekatan Firstspace berfokus pada fenomena objektif dan menekankan pada “benda-benda di dalam ruang.”
Sebaliknya, pendekatan Secondspace (mencakup representasi ruang dan ruang representasional dari Lefebvre) cenderung lebih subjektif dan berfokus pada “pemikiran tentang ruang”. Dalam perspektif Secondspace, “ruang-kota menjadi lebih sebagai bidang mental atau ideasional, dikonseptualisasikan dalam imaji (imagery), pemikiran refleksif, dan representasi simbolik, sebuah ruang imajinasi yang dibayangkan (conceived), atau…imajinasi urban” (Soja, 2000:11). Contoh perspektif Secondspace mencakup peta mental yang kita bawa dalam diri kita, visi utopia urban, dan metode yang lebih formal untuk mendapatkan dan menyampaikan informasi tentang geografi kota.
Soja mencoba meringkas kedua perspektif di atas dalam Thirdspace, yang dilihat sebagai : cara pemikiran lain tentang produksi sosial atas spasialitas (spatiality) manusia yang menggabungkan perspektif Firstspace dan Secondspace sementara pada saat yang sama membuka ruang lingkup dan kompleksitas geografis atau imajinasi spasial. Dalam perspektif alternatif atau perspektif “ketiga” ini, kekhususan (spesificity) urbanisme diinvestigasi sebagai ruang yang dihidupkan (lived space) secara penuh, sekaligus riil dan bayangan, aktual dan virtual, fokus dari individu yang terstruktur dan pengalaman kolektif dan agen (Soja, 2000:11).
Ini adalah pandangan tentang ruang-kota (cityspace) yang sangat kompleks. Karena kompleksitasnya dan karena banyak yang tersembunyi dan tak dapat diketahui, yang bisa kita lakukan adalah mengeksplorasi ruang-kota secara selektif “melalui dimensi historis, sosial dan spasial, spasialitasnya, sosialitasnya dan kesejarahannya, yang saling berkaitan” (Soja, 2000:12). Di sepanjang karirnya ruang kota favorit Soja adalah Los Angeles, dan dia selalu kembali ke kota itu untuk menganalisanya dari berbagai perspektif, termasuk pandangan Thirdspacenya yang integratif.

Ruang-ruang Harapan
Kita memulai bagian ini dengan poin bahwa kategorisasi teori bersifat agak arbitrer. Sesungguhnya, karya Edward Soja sesuai dengan satu kategori teori Marxian post modern yang akan kita bahas di bawah, dan juga cocok untuk kategori analisis spasial Marxian. Hal sama juga berlaku untuk karya dari pemikir yang akan kita bahas nanti, David Harvey dan, dalam kenyataannya, kita akan mendiskusikan karyanya bukan hanya di bawah tajuk ini, tetapi juga tajuk teori Marxian post-modern.
Sesungguhnya Harvey menghasilkan analisa ruang dalam berbagai bentuk karena karyanya mengalami beberapa perubahan. Dalam merefleksikan karya awalnya, Harvey menganggap dirinya lemah dari segi ilmiah, namun mengalami perubahan orientasi pertamanya pada akhir 1960-an dan menyatakan dirinya seorang positivis yang dibimbing oleh metode ilmiah dan, akibatnya, berorientasi pada kuantifikasi, pengembangan teori, penemuan hukum, dan sejenisnya (Harvey, 1969). Akan tetapi, dalam waktu beberapa tahun Harvey (1973) mengubah paradigmanya dan menolak komitmennya pada positivisme. Kini dia mendukung teori materialis dengan banyak mengambil dari Karl Marx.
Seperti yang akan kita lihat nanti, sementara Harvey bermain-main dengan teori post modern dan jelas dipengaruhi oleh teori itu dalam banyak hal, mempertahankan komitmennya pada teori Marxian, dan ini tampak jelas dalam salah satu bukunya yang terbaru, Spaces of Hope (Harvey, 2000). Salah satu aspek argumen Harvey yang secara khusus relevan dengan diskusi teori neo Marxian adalah analisis dan kritiknya terhadap argumen geografis yang disusun dalam Communist Manifesto. Harvey memandang ide “spatial fix” sebagai ide sentral untuk Manifesto. Yakni, kebutuhan untuk menciptakan laba tinggi berarti bahwa perusahaan kapitalis harus, antara lain, terus-menerus mencari area geografis (dan pasar) baru untuk mengeksploitasi dan menemukan cara yang lebih lengkap untuk mengeksploitasi area di mana mereka telah beroperasi. Sementara argumen geografis tersebut menduduki tempat penting dalam Manifesto, mereka secara khas disubordinasikan dalam “mode retoris yang lebih mementingkan waktu sejarah ketimbang ruang dan geografi” (Harvey, 2000:24).
Harvey (2000:31) mulai dengan mengakui kekuatan Manifesto dan pengakuannya bahwa “penataan ulang dan restrukturisasi geografis, strategi spasial dan elemen geopolitik, perkembangan geografis yang tak rata, dan sebagainya, adalah aspek-aspek vital untuk akumulasi modal dan dinamika perjuangan kelas, baik di masa lalu maupun sekarang.” Akan tetapi, argumen Manifesto tentang ruang (dan soal-soal lainnya) sangat terbatas, dan Harvey mencoba memperkuatnya dan memperbaruinya.
Misalnya, Harvey mengatakan bahwa Marx dan Engels beroperasi dengan diferensiasi yang terlalu sederhana antara area barbad-beradab, dan lebih umum lagi antara pusat-pinggiran di dunia. Sehubungan dengan itu, Manifesto beroperasi dengan model difusionis, dengan kapitalisme dilihat sebagai penyebaran dari area beradab ke barbar, dari pusat ke pinggiran. Sementara Harvey mengakui bahwa ada contoh difusi seperti itu, ada contoh lainnya, baik di masa lampau maupun sekarang, di mana perkembangan internal di dalam bangsa-bangsa pinggiran membuat tenaga kerja dan komoditasnya masuk ke dalam pasar global.
Yang lebih penting, Harvey (2000:34) mengatakan bahwa “salah satu kekurangan dalam Manifesto adalah ia kurang memperhatikan organisasi teritorial dunia pada umumnya dan kapitalisme pada khususnya”. Jadi, pengakuan bahwa negara adalah alat eksekutif dari kalangan borjuis perlu ditopang dengan pengakuan bahwa “negara harus didefinisikan secara teritorial, diorganisasikan dan ditata” (Harvey, 2000:34). Misalnya, provinsi-provinsi yang berhubungan secara longgar harus disatukan untuk membentuk sebuah bangsa. Akan tetapi, teritori-teritori itu tidak membeku setelah mereka ditransformasikan menjadi negara. Semua hal mengubah konfigurasi teritori, termasuk revolusi dalam sarana transportasi dan komunikasi, mengubah “dinamika perjuangan kelas yang tak seimbang”, dan “anugerah sumber daya yang tak merata”. Lebih jauh, “aliran komoditas, modal, tenaga kerja, dan informasi selalu mengubah batas-batas” (Harvey, 2000:35). Jadi, teritori terus-menerus didefinisikan kembali dan direorganisasikan, dengan akibat bahwa setiap model yang membayangkan formasi final suatu negara berdasarkan basis teritorial adalah bayangan yang terlampau menyederhanakan persoalan. Implikasinya adalah kita perlu menyesuaikan diri terus-menerus terhadap perubahan teritorial di dunia yang didominasi kapitalisme.
Argumen spasial lainnya dalam Manifesto adalah bahwa konsentrasi kapitalisme (misalnya, pabrik-pabrik di kota) menghasilkan konsentrasi proletariat, yang dulunya tersebar di seluruh negeri. Mungkin tak akan terjadi konflik antara pekerja yang terisolasi dengan kapitalis, tetapi kemungkinan besar kolektivitas pekerja akan menghadapi kapitalis, yang diri mereka sendiri mungkin diorganisir dalam kolektivitas. Jadi, dalam kalimat Harvey (2000:36), “produksi perjuangan spasial tidaklah netral sehubungan dengan perjuangan kelas.” Akan tetapi, ada banyak yang bisa dikatakan tentang relasi antara ruang dan perjuangan kelas, dan ini ditunjukkan dalam sejarah kapitalisme belakangan ini. Misalnya, kapitalis di abad sembilan belas menyebarkan pabrik dari kota ke sub-urban dalam usaha untuk membatasi konsentrasi pekerja dan kekuatannva. Dan di akhir abad 20 kita menyaksikan penyebaran pabrik ke area-area terpencil di dunia dalam usaha untuk memperlemah proletariat dan memperkuat kapitalis Harvey juga menunjukkan bahwa Manifesto cenderung berfokus pada proletariat urban dan karena itu mengabaikan daerah pedesaan dan pekera agrikultural dan petani. Tentu saja, kelompok yang disebut terakhir itu selama bertahun-tahun telah terbukti aktif dalam gerakan revolusioner. Lebih jauh, Marx dan Engels cenderung menghomogenkan (homogenize) buruh dunia, cenderung berargumen bahwa mereka tak punya negara dan bahwa perbedaan nasional lenyap dalam perkembangan proletariat yang homogen. Harvey mencatat bahwa bukan hanya perbedaan nasional tetap bertahan, tetapi juga kapitalisme itu sendiri memproduksi perbedaan nasional (dan lainnya) di antara pekerja, “terkadang disuburkan oleh perbedaan kultural lama, relasi jender, kegemaran etnis, dan kepercayaan agama” (Harvey, 2000:40). Selain itu, di sini tenaga kerja memainkan peran dalam mempertahankan perbedaan spasial dengan, misalnya, memobilisas. “melalui bentuk organisasi teritorial, pembentukan en route loyalitas yang terikat oleh tempat” (Harvey, 2000:40). Terakhir, Harvey memperhatikan seruan terkenal dalam Manifesto untuk pekerja di seluruh dunia agar bersatu dan menyatakan bahwa mengingat semakin meningkatnya karakter global dari kapitalisme, seruan itu kini semakin relevan dan lebih penting ketimbang sebelumnya.
Ini hanyalah bagian kecil dari berbagai argumen yang dibuat oleh Harvey, tetapi apa yang dia maksudkan dengan “ruang-ruang harapan”? Pertama, dia ingin menghadapi apa yang dianggapnya sebagai pesimisme di kalangan sarjana dewasa ini. Kedua, dia ingin mengakui eksistensi “ruang perjuangan politik” dan karena itu ruang harapan, dalam masyarakat. Terakhir, dia mendeskripsikan ruang utopian masa depan yang menawarkan harapan bagi mereka yang peduli pada penindasan ruang dewasa ini.
Jadi, dalam beberapa cara, Harvey mengembangkan pandangan Marx (dan dalam hal ini Engels) tentang ruang dan kapitalisme untuk membangun perspektif kontemporer yang lebih kaya tentang hubungan mereka satu sama lain dalam pengertian itu, apa yang dilakukan Harvey di sini merupakan contoh yang hampir paradigmatik dari teori neo-Marxian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar