Minggu, 14 April 2013

Kesadaran Individu dan Interaksi Sosial


Simmel memusatkan perhatiannya pada bentuk interaksi sosial dan tidak terlalu memerhatikan masalah individu. Simmel berpikiran bahwa setiap orang  harus memiliki kesadaran kreatif. Baginya basis kehidupan sosial adalah individu dan kelompok yang sadar dan berinteraksi satu sama lain untuk berbagai tujuan, motif dan kepentingan. Kesadaran memiliki peran lain dalam karya Simmel. Sebagai contoh, meskipun Simmel percaya bahwa struktur sosial dan budaya memiliki hidupnya sendiri. Ia sadar setiap orang harus mengkonsepkan atau merefleksikan struktur-struktur tersebut agar bisa memiliki pengaruh pada dirinya.

Adanya kesadaran individu yang dikemukakan oleh Georg Simmel menjadi sumber awal Simmel dalam mengkaji lebih jauh tentang interaksi sosial, ia telah melakukan teoretisasi masalah modernitas dengan penekanan pada perkembangan pesat dari ilmu, teknologi, pengetahuan obyektif, berikut diferensiasinya di satu sisi dan erosi budaya subyektif di sisi lain. Konflik dan krisis kebudayaan modern dilukiskan Simmel dalam bentuk pemiskinan-subyektivitas yang disebutnya endemi atrophy (terhentinya pertumbuhan budaya subyektif) karena hypertrophy (penyuburan budaya obyektif). Simmel berusaha menjelaskan adanya ketimpangan budaya individu atas manusia sebagai subjeknya dibandingkan dengan perkembangan media atau sarana kehidupan yang mengurangi peran aktif  manusia dalam berkarya. Sehubungan dengan fenomena endemi antrophy interaksi menjadi salah satu pokok pemikiran dalam teori Simmel.
Masyarakat kemudian dapat didefinisikan sebagai sejumlah individu yang dihubungkan dengan interaksi. Interaksi ini dapat menjadi mengkristal sebagai bidang permanen. Hubungan ini, atau bentuk sociation, sangat penting karena mereka menunjukkan bahwa masyarakat bukan merupakan substansi, tetapi sebuah peristiwa, dan karena bentuk-bentuk sociation mengatasi individu atau dualisme sosial (individu terlibat dengan satu sama lain dan dengan demikian merupakan sosial). Sedangkan interaksi sosial menurut Georg Simmel memiliki poin-poin tersendiri yang menurutnya merupakan hal yang perlu untuk disertakan dalam teori-teorinya, Simmel mengungkapkan bahwa interaksi :
1.    Menurut bentuk, meliputi :
ü  Subordinasi (ketaatan)
ü  Superordinasi (dominasi)
ü  Hubungan seksual
ü  Konflik
ü  Sosiabilita (interaksi yang terjadi demi interaksi itu sendiri dan bukan untuk tujuan lain)
2.    Menurut tipe, meliputi :
ü  interaksi yang terjadi antar individu-individu
ü  interaksi yang terjadi antar individu-kelompok
ü  interaksi yang terjadi antar kelompok-individu
Pada keadaan yang sama yaitu kehidupan dengan interaksi dan komunikasi dapat menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan tertentu, dimana memiliki dampak positif dan negatif, ada pada suatu saat seseorang merasakan kedekatan, kekompakan, dan kebersamaan baik secara pribadi maupun  kelompok. Adanya kontak merupakan faktor yang mendorong terjadinya komunilkasi, kontak tersebut terdiri dari kontak secara langsung maupun secara tidak langsung (melalui media), dan komunikasi itu sendiri adalah gambaran dari adanya interaksi dalam hidupnya dengan orang lain. Simmel juga memusatkan pemikirannya mengenai relasi, khususnya interaksi antar pemeran sadar dan tujuannya adalah melihat besarnya cakupan interaksi yang mungkin sepele namun pada saat lain sangat penting. Menurut Simmel interaksi timbul karena kepentingan-kepentingan dan dorongan tertentu (Soerjono Soekanto, 405:2003). Salah satu bentuk interaksi yang dibicarakan Simmel adalah gaya (fashion). Gaya adalah bentuk relasi sosial yang menginginkan orang menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. Gaya bersifat dialektis yang berarti keberhasilan dan persebaran gaya akan berujung pada kegagalan. Hal positif yang muncul dari adanya interaksi bisa terjadi melalui terjalinnya solidaritas masyarakat, dan hal negatif adalah berupa adanya konflik. Minat Simmel pada bentuk interaksi menuai banyak kritikan. Ia dituduh memaksa suatu tatanan yang sebenarnya tidak ada dan menghasilkan studi yang tidak saling terkait yang akhirnya sama sekali tidak menerapkan tatanan yang lebih baik pada realitas sosial. Menurut bentuknya terdapat konsep yang disebut dengan Subordinasi (ketaatan) dan Superordinasi (dominasi), jika kita ulas lebih lanjut tentang kedua hal tersebut ada beberapa kata kunci untuk memahaminya yaitu antara lain :
1.    Dominasi merupakan suatu bentuk interaksi. Bahkan dalam bentuk paling ekstrim subordinasi, ada beberapa kebebasan pribadi.
2.    Otoritas berwibawa menunjukkan perilaku yang dapat menjadi tujuan atau supra-individu, serta fakta bahwa kekuatan supra-individu mungkin rompi seseorang dengan penuh wibawa. Prestige adalah individu dan tidak memiliki objektivitas supra-individual.
3.    Para pemimpin dan yang dipimpin saling terkait dalam sociation dengan cara timbal balik, mereka tidak mengecualikan satu sama lain, sebaliknya, mereka menyiratkan satu sama lain.
4.    Interaksi adalah penting bagi gagasan hukum. Tidak akan ada timbal balik antara penguasa dan yang dikuasai ketika penguasa dipilih berdasarkan kontrak bersama antara yang diperintah.Dalam kasus ini tidak ada timbal balik.
Superordinasi dan subordinasi memiliki hubungan timbal balik. Pemimpin tidak ingin sepenuhnya menginginkan dan mengarahkan tindakan orang lain. Justru pemimpin member kesempatan kepada yang tersubordinasi agar dapat berprilaku positif atau negatif. Superordinat sering memperhitungkan kebutuhan dan keinginan subordinat dengan tujuan untuk mengontrolnya. Simmel menganggap subordinasi dibawah prinsip obyektif sebagai sesuatu yang paling menyakitkan, mungkin karena hubungan antarmanusia dan interaksi sosial tereliminasi.

Interaksi yang terjadi baik antar individu maupun antar kelompok kadang menimbulkan konflik, dan konflik merupakan pokok bahasan tersendiri yang diuraikan oleh Simmel,menurut Simmel masalah mendasar dari setiap masyarakat adalah konflik antara kekuatan-kekuatan sosial dan individu, karena, pertama, sosial melekat kepada setiap individu dan, kedua, sosial dan unsur-unsur individu dapat berbenturan dalam individu, meskipun pada sisi lain dari konflik merupakan sarana mengintegrasikan individu-individu. Karena setiap individu meiliki kepentingan yang berbeda-beda dan adanya benturan-benturan kepentingan tersebut mencerminkan dari sikap-sikap individu tersebut dalam usahanya memenuhi kebutuhannya, dari sikap yang nampak ini Simmel memiliki sebuah pemikiran yang menghasilkan konsep individualisme ini (dari kepribadian yang berbeda) terwujud dalam prinsip-prinsip ekonomi, masing-masing, persaingan bebas dan pembagian kerja.

Dalam pembagian-pembagian kerja, individu terbentuk dalam kelompok-kelompok kecil, kelompok ini menurut Simmel memiliki analisa tersendiri dimana terdiri dari satu, dua, dan tiga orang. Satu orang atau singkatnya individu berada dalam posisi sendirian, tidak terjadi interaksi dan ia akan mendapat penolakan dari masyarakat, maka itu Simmel menghadirkan konsep dyad dan triad dimana menurut pandangan Simmel bahwa kebebasan tidak akan terjadi jika seseorang itu sendirian, tetapi jika ia ada dalam kelompok. Simmel memiliki filosofi tentang angka 2 dan 3, angka dua adalah bentuk yang paling sederhana sociation, antara dua orang atas mana hal itu sepenuhnya tergantung, angka  dua adalah sepele dan intim, perkawinan terjadi antara dua orang dan setelah lahir anak diantara mereka konsep dyad ini sepenuhnya berubah menjadi triad dan hadirnya orang ketiga menjadi penghancur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar