Minggu, 28 April 2013

Akar-akar Historis Utama Interaksionisme Simbolik


Diskusi interaksionisme simbolik ini kita mulai dengan Mead (Shalin, 2000). Dua akar intelektual terpenting dari karya Mead pada khususnya, dan interaksionisme simbolik pada umumnya, adalah filsafat pragmatisme dan behaviorisme psikologis (Joas, 1985; Rock, 1979).

Pragmatisme
Pragmatisme adalah pemikiran filsafat yang meliputi banyak hal. Ada beberapa aspek pragmatisme yng mempengaruhi orietasi sosiologis yang dikembangkan oleh Mead (Chargon, 2000; Joas, 1993). Pertama, menurut pemikiran pragmatisme, realitas sebenarnya tak berada “di Luar” dunia nyata; realitas “diciptakan secara aktif saat kita bertindak di dalam dan terhadap dunia nyata” (Hewitt, 1984:8; Lihat juga Shalin, 1986). Kedua, manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka mengenai dunia nyata pada apa yang telah terbukti berguna bagi mereka. Ada kemungkinan mereka mengganti apa-apa yang tidak lagi “bekerja”. Ketiga, manusia mendefinisikan “objek” sosial dan fisik yang mereka temui di dunia nyata menurut kegunaannya bagi mereka. Keempat, bila kita ingin memahami aktor, kita harus mendasarkan pemahaman itu di atas apa-apa yang sebenarnya mereka kerjakan dalam dunia nyata. Ada tiga hal yang penting bagi interaksionisme simbolik :
1)    Memusatkan perhatian pada interaksi antara aktor dan dunia nyata.
2)    Memandang baik aktor maupun dunia nyata sebagai proses dinamis dan bukan sebagai struktur yang statis.
3)    Arti penting yang di hubungkan kepada kemampuan aktor untuk menafsikan kehidupan sosial.

Poin terakhir adalah yang paling menonjol dalam karya filosof pragmatis John Dewey (Sjoberg et al., 1997). Dewey tak membayangkan pikiran sebagai sesuatu atau struktur, tetapi lebih membayangkan sebagai proses berpikir yang meliputi serentetan tahapan. Tahapan proses berpikir itu mencakup pendefinisian objek dalam dunia sosial, melukiskan kemungkinan cara bertindak, menghilangkan kemungkinan yang tak dapat dipercaya dan memilih cara bertindak yang optimal (Stryker, 1980) pemusatan perhatian pada proses berpikir ini sangat berpengaruh dalam perkembangan interaksionisme simbolik.
Sebenarnya David Lewis dan Richard Smith menyatakan bahwa Dewey (bersama dengan Wiliam James; lihat Musolf, 1994) lebih besar pengaruhnya dalam perkembangan interaksionisme simbolik ketimbang Mead. Lebih jauh mereka mengatakan : “pemikiran Mead berada di pinggiran aliran utama sosiologi Chicago awal” (Lewid dan Smith, 1980:xix). Dalam membuat argumen ini mereka membedakan antara dua cabang pragmatisme – “Realisme Filosofi” (dihubungkan dengan Mead) dan “ Pragmatisme Nominalis” (dihubungkan dengan Dewey dan James). Menurut pandangan mereka, interaksionisme simbolik lebih bnayak dipengaruhi oleh pendekatan nominalis dan bahkan tak konsisten dengan pemikiran filsafat realisme. Pendirian nominalis adalah bahwa meski ada fenomena tingkat makro, namun hal itu tidak mempunyai “pengaruh yang independen dan menetukan terhadap kesadarn dan perilaku individual” (Lewis dan Smith, 1980:24). Lebih positif lagi, pandangna ini “membayangkan individu itu sendiri sebagai agen yang bebas secara eksistensial, yang menerima, menolak, memodifikasi, atau sebaliknya ‘mendefinisikan’ norma, peran, dan keyakinan komunitas menurut kepentingan mereka sendiri dan rencana waktu” (Lewis dan Smith, 1980:24). Sebaliknya, pemikir realisme sosial menekankan pada masyarakat dan cara terbentuknya, dan cara masyarakat mengontrol proses mental individual. Aktor tak dibayangkan sebagai agen yang bebas; aktor, dan kesadaran dan perilaku mereka, dikendalikan oleh komunitas yang lebih luas.
Secara teoritis, Lewis dan Smith menagkap esensi perbedaan mereka : “Blumer.... bergerak sepenuhnya menuju interaksionisme psikis... berbeda dengan behavioris sosial Meaadian, interaksionisme psikis berpendiian bahwa makna simbol-simbol tidak universal dan objektif dalam arti makna-makna itu  “dilekatkan” pada simbol oleh penerima sesuai dengan cara ia  pilih untuk menafsirkannya (Lewis dan Smith, 1980:172).

Behaviorisme
Lewis dan Smith menafsirkan bahwa Mead dipengaruhi oleh behaviorisme psikologis (Baldwin, 1986, 1988a, 1988b), sebuah perspektif yang juga membawanya ke arah realis dan empiris. Mead sebenarnya menyebu basis pemikirannya sebagai behaviorisme sosial untuk membedakannya dari behaviorisme radikal dari John B. Watson (salah seorang murid Mead).
Behaviorisme radikal Watson (Bucley, 1989) memusatkan perhatian pada perilaku individual yang dapat diamati. Sasaran perhatiannya adalah pada stimuli atau perilaku yang mendatang respon. Penganut behaviorisme radikal menyangkal atau tak mau menghubungkan proses mental tersembunyi yang terjadi di antara saat stimuli dipakai dan respon dipancarkan. Mead mengakui arti penting perilaku yang dapat diamati, tetapi dia juga merasa bahwa ada aspek arti penting perilaku yang dapat diamati, tetapi dia juga merasa bahwa ada aspek tersembunyi dari perilaku yang diabaikan oleh behavorisme radikal. Tetapi, karena dia menerima empirisme yang merupakan dasar dari behavorisme, mead tidak sekedar ingin berfilsafat tentang fenomena tersembunyi ini. Ia lebih berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan empiris behaviorisme terhadap fenomena itu yakni terhadap apa yang terjadi antara stimulus dan respon. Bernard Meltzer merangkum pemikiran Mead.
Menurut Mead, unit studi adalah “tindakan” yang terdiri dari aspek tersembunyi dan yang terbuka dari tindakan manusia. Di dalam tindakan itulah semua kategori psikologis tradisional dan ortodoks menemukan tempatnya. Perhatian, persepsi, imajinasi, alasan, emosi, dan sebagainya dilihat sebagai bagian dari tindakan.... karenanya tindakan meliputi keseluruhan proses yang terlibat dalam aktivitas manusia (Meltzer, 1964/ 1978:23).
Mead dan Behavioris radikal juga berbeda pandangan mengenai hubungan antara perilaku manusia dan perilaku binatang. Sementara behavioris radikal cenderung melihat tak ada perbedaan antara perilaku manusia dan binatang, Mead mengatakan adanya perbedaan kualitatif yang signifikan. Kunci perbedaannya adalah bahwa manusia mempunyai kapasitas mental yang memungkinkannya menggunakan bahasa antara stimulus dan respon untuk memutuskan bagaimana cara merespon.
Mead juga menunjukkan utang budinya kepada behaviorisme Watsonian dan sekaligus menjauhkan pendiriannya dari aliran itu. Mead menjelaskan pendiriannya ini ketika ia menyatakan bahwa di satu pihak “kita akan mendekati bidang ini (psikologi sosial) dari sudut pandang behavioristik”. Di lain pihak, Mead mengkritik pendirian Watson ketika menyatakan, “Behaviorisme yang akan kita gunakan itu jauh lebih memadai daripada yang digunakan Witson”(1934/1962:2).
Charel Morris dalam pengantarnya untuk buku Mead, Mind, Self and Society, menyebutkan satu per satu tiga perbedaan mendasar Mead dan Watson. Pertama, Mead menganggap pemusatan perhatian Watson terhadap perilaku terlalu disederhanakan. Karena itu ia menuduh Watson merenggut perilaku keluar konteks sosialnya yang lebih luas. Mead ingin memperlakukan perilaku sebagai kbagian kecil dari kehidupan sosial yang lebih luas.
Kedua, Mead menuduh Watson tak berkeinginan memperluas behaviorisme ke proses mental. Watson tak memahami proses mental dan kesadaran aktor. Mead membandingkan perpektifnya dengan perspektif Watson : “perspektif saya adalah perspektif behavioristik, tetapi berbeda dengan behaviorisme Watsonian, perspektif saya mengakui bagian tindakan yang tak dapat diamati secara eksternal” (1934/1962:8). Lebih tepat lagi, Mead memandang tugasnya adalah mengembangkan prinsip-prinsip behaviorisme Watson sehingga mencakup proses mental.
Terakhir, karena Watson menolak variabel pikiran, Mead memandangnya mempunyai citra pasif tentang aktor sebagai boneka. Mead, sebaliknya, mempunyai citra yang jauh lebih dinamis dan kreatif tentang aktor inilah yang menyebabkannya menarik perhatian penganut interaksionis-simbolik yang kemudian.
Pragmatisme dan behaviorism, terutama dalam teori Dewey dan Mead, diajarkan ke banyak mahasiswa di Universitas Chicago, terutama pada 1920-an. Mahasiswa-mahasiswa itu, di antaranya adalah Herbert Blumer, membangun interaksionisme-simbolik. Tentu saja ada teoritis lain yang mempengaruhi mahasiswa ini, dan yang terpenting di antaranya adalah Georg Simmel. Perhatian Simmel terhadap entuk-bentuk tindakan dan interaksi adalah sesuai dengan, dan merupakan perluasan dari teori Meadian.

Antara Reduksionisme dan Sosiologisme
Blumer menciptakan istilah interaksionisme-simbolik tahun 1937 dan menulis beberapa esai yang menjadi instrumen penting bagi perkembngannya. Sementara Mead berupaya membedakan interaksionisme-simbolik yang baru lahir itu dari behaviorisme, Blumer melihat interaksionisme-simbolik berperang di dua front. Pertama adalah behaviorisme-reduksionis yang membuat Mead cemas. Masih ada lagi ancaman serius yang berasal dari teori sosiologi berskala luas terutama fungsionalisme struktural. Menurut Blumer, baik behaviorisme maupun fungsionalisme struktural sama-sama cenderung memusatkan perhatian pada faktor yang melahirkan perilaku manusia (contohnya, stimulus dari luar dan norma). Menurut Blumer, kedua perspektif teori itu mengabaikan proses penting yang memberikan aktor kekuatan bertindak terhadapya dan yang memberikan makna atas perilakunya sendiri (Morrione, 1988).
Menurut Blumer, kaum behavioris, dengan penekanan mereka pada tampak stimuli eksternal terhadap perilaku indiividu, jelas merupakan reduksionis psikologis. Di samping bahaviorisme, beberapa tipe reduksionisme psikologis yang lain mengganggu Blumer. Sebagai contoh, ia mengkritik teoritis yang mencoba menerangkan tindakan manusia dengan bersandar pada gagasan konvensional tentang konsep “sikap” (Blumer, 1955/ 1969:94). Menurut pandangannya, sebagian besar teoritisi yang menggunakan konsep sikap itu mengira sikap sebagai sebuah kecenderungan yang telah teroorgnisir di dalam diri aktor. Mereka cenderung mengira tindakan dipaksakan oleh sikap. Menurut Blumer, ini adalah cara berpikir yang sangat mekanistis. Yang penting bukanlah sikap sebagai kecenderungan yang diinternalisasikan, “tetapi proses yang menentukan yang dilalui aktor dalam menempa tindakannya” (Blumer, 1955)1969:97). Blumer pun secara khusus mengkritik teoritis yang memusatkan perhatian pada motif yang disadari dan yang tak disadari. Ia terutama terganggu oleh pandangan mereka yang menyatakan aktor dipaksa oleh dorongan mentalistis independen yang menurut mereka tak terkontrol. Teori Freudian yang melihat aktor dipaksa oleh kekuatan seperti id atau libido adalah contoh teoori psikologi yang ditentang Blumer. Singkatnya, Blumer menentang teori psikologi yang mengabaikan proses yang dengannya aktor membangun makna fakta bahwa aktor mempunyai diri dan menghubungkan dirinya itu dengan dirinya sendiri. Kritik umum Blumer serupa dengan kritik Mead, tetapi Blumer mengembangkan kritikannya melampaui behaviorisme dengan memasukkan bentuk-bentuk reduksionisme-psikologis yang lain.
Blumer juga menentang teori sosiologi (terutama fungsionalisme struktural) yang memandang perilaku individu ditentukan oleh kekuatan eksternal berskala luas. Ke dalam kategori teori sosiologi yang ditetangnya ini Blumer memasukkan teori-teori yang memusatkan perhatian pada aktor sosial-struktural dan sosial-kultural seperti “sistem sosial”, “struktur sosial”, “kultur”, ”posisi status”, ”peran sosial”, ”adat”, ”institusi”, ”perwakilan kolektif”, ”situasi sosial”, ”norma sosial”, dan “nilai” (Blumer, 1962/1969:83). Baik teori sosiologi maupun teori psikologis mengabaikan arti penting dari makna dan konstruksi sosial dari realitas. Blumer merangkum kritiknya atas teori sosiologi dan psikologi sebagai berikut : Baik dalam penjelasan psikologis maupun sosiologis semacam itu, makna sesuatu bagi manusia yang bertindak telah diabaikan atau disingkiran dari faktor yang digunakan untuk menerangkan perilaku mereka. Bila seseorang menyatakan bahwa jenis perilaku tertentu adalah akibat dari faktor khusus yang dianggap menghasilkannya, maka orang itu merasa tak perlu lagi memikirkan makna sesuatu yang menjadi motif tindakan manusia (Blumer, 1969b:3).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar