Senin, 08 April 2013

Kekuatan-kekuatan Sosial dalam Perkembangan Teori Sosiologi


Semua bidang intelektual dibentuk oleh setting sosialnya. Hal ini terutama untuk sosiologi, yang tak hanya berasal dari kondisi sosialnya, tetapi juga menjadikan lingkungan sosialnya sebagai basis masalah pokoknya. Kita akan memusatkan perhatian pada beberapa kondisi sosial terpenting abad 19 dan awal abad 20 yang sangat signifikan dalam perkembangan teori sosiologi.

Revolusi Politik
Rentetan panjang revolusi politik yang dihantarkan oleh Revolusi Perancis 1789 dan revolusi yang berlangsung sepanjang abad 19 merupakan faktor yang paling besar perannya dalam perkembangan teori sosiologi. Dampak revolusi politik terhadap masyarakat sangat dahsyat dan banyak perubahan positif yang dihasilkannya. Tetapi, yang menjadi sasaran perhatian kebanyakan ahli ilu bukan konsekuensi positifnya, tetapi efek negatifnya. Para pemikir prihatin dengan munculnya chaos dan kekacauan yang ditimbulkan revolusi terutama di Perancis. Mereka bertekad untuk berupaya memulihkan ketertiban masyarakat. Sejumlah pemikir yang lebih ekstrem saat itu benar-benar ingin kembali ke keadaan seperti Abad Pertengahan yang penuh kedamaian dan ketertiban. Pemikir yang lebih canggih menyadari bahwa ada kemungkinan untuk menciptakan perubahan sosial yang dapat mengembalikan kepada hadaan vang didambakan itu. Karena itu mereka mencoba menemukan landasan tatanan baru dalam masyarakat yang telah dijungkirbalikkan oleh revolusi politik abad 18 dan 19. Perhatian terhadap masalah ketertiban sosial ini menjadi salah satu perhatian utama teoritisi sosiologi klasik, terutama Comte dan Durkheim.

Revolusi Industri don Kemunculan Kopitolisme
Revolusi politik dan revolusi industri yang melanda masyarakat Eropa terutama di abad 19 dan awal abad 20 merupakan faktor langsung yang memunculkan teori sosiologi. Revolusi industri bukan kejadian tunggal, tetapi merupakan berbagai perkembangan yang saling berkaitan yang berpuncak pada transformasi dunia Barat dari corak sistem pertanian menjadi sistem industri. Banvak orang meninggalkan usaha pertanian dan beralih ke pekerjaan industri yang ditawarkan oleh pabrik-pabrik yang sedang berkembang. Pabrik itu sendiri telah berkembang pesat berkat kemajuan teknologi. Birokrasi ekonomi berskala muncul untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh industri dan sstem ekonomi kapitalis. Harapan utama dalam sistem ekonomi kapitalis adalah sebuah pasar bebas tempat memperjualbelikan berbagai produk industri. Di dalam sistem ekonomi kapitalis inilah segelintir orang mendapat keuntungan sangat besar sementara sebagian besar orang lainnya yang bekerja membanting tulang dalam jam kerja yang panjang menerima upah yang rendah. Dari situasi seperti itulah munculnya reaksi menentang sistem industri dan kapitalisme pada umumnya. Reaksi penentangan ini selanjutnya diikuti oleh ledakan gerakan buruh dan berbagai gerakan radikal lain yang bertujuan menghancurkan sistem kapitalis.
Revolusi industri, kapitalisme dan reaksi penentangan tersebut menimbulkan pergolakan dahsyat dalam masyarakat Barat. Pergolakan ini pula yang sangat memengaruhi para sosiolog. Empat tokoh utama dalam sejarah awal teori sosiologi (Marx, Weber, Durkheim dan Simmel) sangat prihatin terhadap perubahan-perubahan sosial besar dan berbagai masalah yang ditimbulkannya bagi masyarakat sebagai keseluruhan. Keempat tokoh ini menghabiskan hidupnya untuk mempelajari masalah tersebut, dan dalam berbagai kasus mereka berupaya keras mengembangkan program yang dapat membantu menyelesaikan masalah itu.

Kemunculan Sosialisme
Seperangkat upaya perubahan yang bertujuan menanggulangi ekses sistem industri dan kapitalisme itu dapat dimasukkan dalam istilah “sosialisme”. Meskipun beberapa sosiolog lebih menyukai makna sosialisme sebagai solusi atas masalah industri, namun sebagian besar sosiolog secara pribadi maupun secara intelektual menentang pengertian yang demikian. Marx adalah pendukung penghancuran sistem kapitalisme dan hendak menggantikannya dengan sistem sosialis. Meski Marx tak mengembangkan teori sosialisme namun ia menghabiskan banyak waktunya untuk mengkritik berbagai aspek masyarakat kapitalis. Ia pun terlibat dalam berbagai aktivitas politik yang diharapkannya dapat membantu melahirkan masyarakat sosialis.
Marx tak sendirian di tahun-tahun permulaan perkembangan teori sosiologi. Sebagian besar teoritisi di tahun permulaan ini, seperti Weber dan Durkheim, menentang sosialisme (setidaknya menentang sosialisme seperti yang diimpikan Marx). Kendati mereka menyadari adanya berbagai masalah dalam masyarakat kapitalis namun, menurut mereka, mencoba melakukan reformasi di dalam sistem kapitalisme akan jauh lebih baik ketimbang mengadakan revolusi sosial seperti yang didesakkan Marx. Mereka lebih mengkhawatirkan sosialisme daripada kapitalisme. Dalam pembentukan teori sosiologi, ketakutan ini memainkan peran yang lebih besar ketimbang dukungan Marx terhadap sosialisme sebagai pengganti kapitalisme. Seperti yang akan kita lihat nanti, sebenarnya, dalam berbagai kasus, pengembangan teori sosiologi lebih merupakan reaksi yang menentang teori Marxian dan teori sosialis pada umumnya.

Feminisme
Dalam satu pengertian, selalu ada perspektif feminis. Di mana pun perempuan disubordinasikan dan mereka disubordinasikan hampir di mana saja mereka tampaknya telah mengakui dan memprotes situasi itu dalam berbagai bentuk (Lerner, 1993). Sementara feminis awal dapat dilacak kembali ke 1630-an, aktivitas dan tulisan feminis mencapai puncaknya pada gerakan liberalis di dalam sejarah Barat modern. Gelombang pertama produktivitas ini terjadi pada 1780-an dan 1790-an dengan munculnya perdebatan di seputar revolusi Perancis dan Amerika; usaha yang lebih terorganisir dan terfokus muncul pada 1850-an sebagai bagian dari mobilisasi menentang perbudakan dan mendukung hak-hak politik untuk kelas menengah; dan mobilisasi masif untuk hak pilih perempuan dan reformasi undang-undang kewargaan dan industrial di awal abad 20, khususnya di Era Progresif di Amerika Serikat.
Semuanya ini sangat memengaruhi perkembangan sosiologi, khususnya pada sejumlah karya perempuan yang berkaitan dengan bidang ini, seperti Harriet Martineau, Charlotte Perkins Gilman, Jane Addams, Florence Kelley, Anna Julia Cooper, Ida Wells-Barnett, Marianne Weber, dan Beatrice Potter Webb. Tetapi, karya-karya mereka sering kali terdesak ke pinggiran, dan diserobot, diabaikan, atau diremehkan oleh lelaki yang menyusun sosiologi sebagai basis kekuatan profesional. Perhatian feminis hanya masuk ke sisi pinggiran dalam sosiologi, dalam karya-karya teoritisi pria marginal, atau teoritisi perempuan yang terus-menerus dipinggirkan. Kaum pria yang memegang pusat kekuasaan dalam bidang ini mulai dari Spenser, melalui Weber dan Durkheim merespon argumen feminis tersebut secara konservatif, dan membuat isu jender menjadi topik yang terpisah (inconsequential). Terhadap topik ini mereka lebih banyak memberi respon konservatif ketimbang kritis. Mereka merespon dengan cara ini bahkan ketika kaum perempuan telah menulis teori sosiologi yang signifikan. Sejarah politik jender dalam profesi, yang juga merupakan bagian dari sejarah respon lelaki terhadap klaim feminis, baru ditulis belakangan ini (misalnya, lihat Deegan, 1988; Fitzpatrick, 1990; Gordon, 1994; Lengermann dan Niebrugge Brantley, 1998; Rosenberg, 1982).

Urbanisasi
Sebagian sebagai akibat Revolusi Industri, banyak orang di abad 19 dan 20 tercabut akarnya dari lingkungan pedesaan mereka dan pindah ke lingkungan urban. Migrasi besar-besaran ini sebagian besar disebabkan oleh lapangan kerja yang diciptakan sistem industri di kawasan urban. Tetapi, migrasi ini menimbulkan berbagai persoalan bagi orang yang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan urban. Lagi pula, perluasan kota menimbulkan sederetan masalah urban, seperti kepadatan yang berlebihan, polusi, kebisingan, kepadatan lalu lintas, dan sebagainya. Kondisi kehidupan urban dan berbagai masalah yang dihadapinya menarik perhatian banyak sosiolog awal, terutama Weber dan Georg Simmel. Bahkan, aliran utama sosiologi Amerika pertama dikenal sebagai mazhab Chicago memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah kota Chicago, dan karena ketertarikannya, aliran ini menjadikan kota Chicago sebagai “laboratorium” tempat untuk meneliti urbanisasi dan berbagai masalah yang ditimbulkannya.

Perubahan Keagamaan
Perubahan sosial yang diakibatkan oleh revolusi politik, Revolusi Industri dan ubanisasi, berpengarnh besar terhadap religiositas. Banyak sosiolog awal yang berlatar belakang religius dan secara aktif terlibat dalam aktivitas keagamaan profesional (Hinkle dan Hinkle, 1954). Mereka membawa cara berpikir dalam kehidupan keagamaan mereka ke dalam sosiologi. Mereka ingin meninggkatkan taraf hidup manusia (Vidich dan Lyman, 1985). Menurut beberapa rang (seperti Comte) sosiologi ditransformasikan ke dalam agama; menurut yang lainnya, teori sosiologi mereka mengandung nilai keagamaan yang tak mungkin keliru. Durkheim menulis salah satu karya besarnya tentang agama. Moralitas memainkan peran kunci bukan hanya dalam karya Durkheim, tetapi juga dalam karya Talcott Parsons. Banyak karya Weber juga dicurahkan untuk membahas agama-agama di dunia. Marx pun mempunyai perhatian terhadap masalah keagamaan, tetapi orientasinya jauh lebih kritis.

Pertumbuhan llmu Pengetahuan (Sains)
Ketika teori sosiologi sedang dibangun, minat terhadap ilmu pengetahuan (Science) meningkat pesat, tak hanya di universitas, tetapi juga di dalam masvarakat pada umumnya. Produk teknologi dari sains tersebar dan meresapi setiap sektor kehidupan dan seiring dengan itu sains mendapat prestise yang sangat besar. Ini berkaitan erat dengan sukses besar sains (fisika, biologi, dan kimia) sehingga mendapat tempat terhormat dalam masyarakat. Para sosiolog awal (terutama Comte dan Durkheim) semula memang telah berkecimpung dalam sains itu dan banyak yang menginginkan agar sosiologi meniru kesuksesan ilmu biologi dan fisika. Tetapi, pendebatan segera berkembang antara orang yang sungguh-sungguh ingin menerima model sains dengan yang berpendapat bahwa ciri-ciri kehidupan sosial yang sangat berbeda dengan dri-ciri objek studi sains akan menimbulkan kesukaran dan tidak bijaksana bila mencontoh model sains secara utuh (Lepenies, 1987). Masalah hubungan sosiologi dan sains itu hingga kini masih diperdebatkan, meski di jurnal utama yang memuat perdebatan itu menampakkan kesan adanya keunggulan pemikiran yang lebih menyukai sosologi sebagai sains.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar