Senin, 08 April 2013

Perkembangan Marxisme Eropa di Pengujung Abad ke-19


Ketika banyak sosiolog abad 19 mengembangkan teori mereka berlawanan dengan Marx, terjadi upaya serentak sejumlah Marxis untuk menjernihkan dan as teori Marxian. Antara 1875 dan 1925 terdapat sedikit tumpang tindih antara Marxisme dan sosiologi (kecuali Weber). Kedua aliran pemikiran ini dan Weberian) berkembang secara pararel dengan sedikit atau tak ada pertukaran pemikiran antara keduanya.
Setelah kematian Marx, teori Marxian mula-mula didominasi oleh orang yang melihat adanya determinisme ekonomi dan ilmiah di dalam teorinya. Wallerstein menyebutkan era ini sebagai era “Marxisme ortodoks” (1986:1301). Friedrich Engels, kolaborator dan donator bagi Marx yang masih hidup setelah dapat dilihat sebagai eksponen utama perspektif Marxisme ortodoks. Pada dasarnya Marxisme ortodoks ini adalah teori ilmiah Marx yang telah membuka kedok hukum ekonomi yang menguasai dunia kapitalis. Hukum itu menunjukkan keruntuhan sistem kapitalis yang tak terelakkan. Pemikir Marxian awal seperti Karl Kautsky berupaya mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai cara berperannya hukum ekonomi itu. Ada beberapa masalah berkenaan dengan perspektif ini. Pertama, perspektif ini mengesamping tindakan politik, padahal ini adalah salah satu landasan teori Marx. Artinya, individu terutama buruh dipandang tak perlu melakukan apa pun. Menurut pandangan ini, tanpa terelakkan sistem kapitalis akan hancur. Pada tingkat teori, Marxisme deterministis ini mengesampingkan hubungan dialektika antara individu dan struktur sosial yang lebih luas.
Masalah ini menimbulkan reaksi di kalangan teoritisi Marxian dan mendorong perkembangan Marxisme Hegelian di awal 1900-an. Marxis Hegelian menolak untuk menurunkan Marxisme menjadi teori ilmiah yang mengabaikan pemikiran dan tindakan individu. Mereka dinamakan Marxis Hegelian karena mereka mencoba menyatukan pemikiran Hegel tentang kesadaran dengan determinisme ekonomi Marx yang memusatkan perhatian pada struktur ekonomi masyarakat. Sederhananya, pemikiran Marxis Hegelian ini menekankan pada pentingnya tindakan individu dalam melaksanakan revolusi sosial.
Eksponen utama pandangan ini adalah Georg Lukacs (Fisher, 1984). Menurut Martin Jay, Lukacs adalah “bapak pendiri Marxisme Barat” dan bukunya yang berjudul Class and Class Consciousness “secara umum diakui sebagai piagam Marxisme Hegelian” (1984 :84). Lukacs telah mulai menggabungkan Marxisme dengan sosiologi sejak awal 1900-an (khususnya menggabungkan teori Weberian dan Simmelian). Integrasi ini dipercepat dengan perkembangan teori kritis di tahun 1920-an dan 1930-an.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar