Minggu, 28 April 2013

Modernitas dan Holocaust


Menurut Ritzer paradigma modern rasionalitas formal adalah restoran cepat saji, menurut Bauman paradigma modern adalah Holocaust, penghancuran sistematis orang Yahudi oleh NAZI. Holocaust itu dapat dipandang sebagai paradigma modern rasionalitas birokrasi, ada batas yang jelas dalam pemikiran sosiologi tentang rasionalitas modern dari birokrasi ke Holocaust dan kemanusian ke restoran saji. Prinsip rasionalitas Webber dapat diterapkan terhadap ketiga bidang itu secara bermakna dan bermanfaat. Pelaku holocaust menggunakan birokrasi sebagai salah satu alat utama mereka. Kondisi yang memungkinkan terciptanya holocaust itu terutama system rasional formula, terus ada hingga kini, proses mcdonaldisasi tak hanya menunjukkan lestarinya system rasional formal, tetapi juga menujukkan bahwa system ini berkembang secara dramatis.

Produk Modernitas
Menurut bauman, holocaust adalah produk modernitas dan bukan akibat kerusakan modernitas seperti pandangan kebanyakan orang. Sebagai contoh, holocaust memerlukan penerapa prinsip dasar industrilisasi pada umumnya dan penerapan system pabrik pada khususnya untuk menghancurkan umat manusia.
Apa yang berhasil dilakukan nazi adalah menggabungkan prestasi rasional industri dan birokrasi rasional dan kemanusian menggunakannya dengan tujuan untuk menghancurkan manusia. Tanpa modernitas dan rasionalitas “holocaust tak mungkin terjadi”.

Peran Birokrasi
Bauman menyatakan bahwa holocaust bukanlah akibat irasionalitas atau akibat kebiadaban pra-modern, tetapi lebih merupakan produk birokrasi rasional yang modern. Bukanlah orang gila yang menciptakan dan mengelola holocaust itu melainkan birokrat yang sangat rasional dan sangat normal. Bauman tak melihat birokrasi sebagai alat netral yang dapat ditegakkan kesetiap arah, lebih menyerupai dadu. Meski dapat digunakan baik untuk tujuan kekejaman maupun kemanusiaan, birokrasi lebih besar kenumbuhkan dan menyokong proses yang berperikemanusiaan. Birokrasi diprogramkan untuk bertindak optimum dalam arti seperti tak dapat membedakan antara tujuan seorang manusia dan tujuan manusia lainnya atau tujuan yang berperikemanusiaan dan tujuan yang tak berperikemanusiaan.
Memang birokrasi dan para pejabat tidak dapat menciptakan holocaust berdasarkan kemauannya sendiri, masih ada factor lain yang diperlukan, pertama, adanya control mutlak aparatur Negara yang memegang monopoli untuk melakukan tindakan kekejaman terhadap anggota masyarakat lain. Kedua adalah paham antisemitisme. Berdasarkan paham ini orang Yahudi secara sistematis dipisahkan darimasyarakat lainnya dan diprogandakan seolah-olah mereka menghalang-halang Jerman menjadi masyarakat sempurna.
Faktor lainnya adalah bahwa didalam struktur masyarakat modern, seperti birokrasi tidak ada tempat bagi pertimbangan moral.

Holocaust dan McDonaldisasi
Holocaust memiliki seluruh ciri-ciri McDonaldisasi. Holocaust mempunyai garis perakitan dengan deretan panjang gerbong kereta api yang mengangkut Yahudi ke kamp kematian, dengan barisan panjang manusia berjejal di bawah pancuran dan produknya adalah anggota yang harus dibuang dipenghujung proses. Holocaust ini menggunakan teknologi non manusia seperti kekuasaan dan peraturan tentang kamp-konsentrast dan pelaksanan garis perakitan dari jalur, untuk mengontrol para tahanan dan penjaga
Ciri-ciri McDonaldisasi yang paling sesuai dengan holocaust adalah irasionalitas dari rasionalitas, terutama dehumanisasi. Bauman menggunakan gagasan tentang pemisahan untuk menunjukan bahwa korban tak dianggap manusia karena birokrat membuat keputusan mengenai nasib mereka tanpa melalui kontak pribadi dengan mereka. Untuk mencegah holocaust lain dibutuhkan moralitas yang kuat dan kekuatan politik pluralistis. Tetapi mungkin pada suatu masa ada kekuatan tunggal yang mendominasi dan tak banyak hal yang membuat kuat percaya bahwa ada system moral yang cukup kuat untuk mencegah pertemuan pemimpin yang kuat dengan birokrasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar