Kamis, 11 April 2013

Metodologi dan Sosiologi Substantif


Sejarah & sosiologi merupakan 2 hal berbeda yang harus dipelajari sebelum membahas metodologi. Ada perbedaan mendasar diantara kedua hal tersebut adalah :
1.    Sosiologi berusaha merumuskan konsep tipe & keseragaman umum proses-proses empiris.
2.    Sejarah berorientasi pada analisis kausal & penjelasan atas tindakan, struktur, dan kepribadian individu yang memiliki signifikansi kultural.
Meskipun kedua hal tersebut berbeda, Weber mampu memadukan 2 hal tersebut. Sehingga, sosiologi disini berorientasi pada pengembangan konsep sehingga ia dapat menganalisis kausal terhadap fenomena sejarah. Berdasarkan hal itu, Weber mendapat julukan sebagai sosiolog historis.
Terkait hal ini, Weber percaya bahwa sejarah terdiri dari berbagai fenomena spesifik yang tidak akan habis. Untuk mempelajari fenomena ini harus melalui beragam konsep yang diciptakan untuk menunjang penelitian di dunia nyata. Disinilah sosiologi memiliki peran sebagai pengembang konsep-konsep tersebut yang digunakan sejarah dalam menganalisa kausalitas tentang fenomena sejarah yang spesifik.

Verstehen (Pemahaman Subyektif)
Istilah ini diartikan oleh Weber sebagai suatu penggunaan intuisi oleh peneliti, yang melibatkan penelitian yang ketat & sistematis serta melalui prosedur studi yang rasional. Verstehen merupakan suatu metode yang dilakukan Weber untuk memperoleh pemahaman yang valid (sah) tentang arti-arti subyektif dari suatu tindakan sosial yang memerlukan rasa empati untuk memahami arti-arti subyektif tersebut.

Kausalitas
Dalam hal ini, Weber cenderung berpendapat bahwa studi sebab-sebab fenomena sosial berada pada ranah (ruang lingkup) sejarah, bukan pada sosiologi. Disini, kausalitas diartikan sebagai suatu kemungkinan suatu kejadian diikuti atau disertai oleh kejadian yang lain. Dalam bekerja, Weber menggunakan pendekatan multikausal, dimana sekumpulan pengaruh interaktif (akibat interaksi) sering kali menjadi suatu faktor kausal (penyebab) yang efektif.

Tipe-tipe Ideal
Hal ini merupakan salah satu sumbangan terpenting terhadap sosiologi kontemporer dari Weber. Tipe ideal adalah suatu konsep (tolok ukur) yang dikonstruksi oleh ilmuan sosial, menurut minat, orientasi teoretisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial dan membantu dalam melakukan penelitian empiris maupun memahami aspek tertentu dari dunia sosial. Selain itu, tipe-tipe ideal juga dapat diartikan sebagai perangkat heuristik yang digunakan dalam irisan sejarah. Adapun macam dari tipe ideal antara lain :
a.    Tipe Ideal Historis ( Terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu, contoh : pasar kapitalis modern).
b.    Tipe Ideal Sosiologis Umum ( Terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat, contoh : birokrasi).
c.    Tipe Ideal Tindakan ( Merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku, contoh: tindakan afektual, tindakan yang berkaitan dengan perasaan).
d.    Tipe Ideal Struktural ( merupakan bentuk sebab dan akibat dari tindakan sosial, contoh : dominasi oleh kalangan elit).

Nilai
Dalam menjelaskan konsep nilai, Weber memfokuskan pada hubungan nilai terhadap ajaran dan penelitian. Namun ia memisahkan antara nilai dengan fakta. Dalam hubungan antara nilai dengan penelitian, nilai-nilai itu harus dibatasi hanya sampai sebelum penelitian sosial. Hal ini dikarenakan, nilai-nilai itu nanti dapat mempengaruhi pemilihan apa-apa yang akan dikaji dalam penelitian. Hal ini bertujuan agar proses tetap berjalan pada prosedur reguler penelitian ilmiah.

Dalam metodologi individualis, Weber tertarik untuk mereduksi aktivitas menjadi tindakan individu. Namun, dikebanyakan sosiologi substantifnya, Weber memfokuskan perhatiannya pada struktur skala besar (seperti birokrasi dan kapitalisme) dan tidak memberikan perhatian secara langsung pada apa yang dilakukan individu atau mengapa mereka melakukannya. Dengan ini, definisi sosiologi yang dikemukakan weber adalah bahwa sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatiannyapada pemahaman interpretif atas tindakan sosial pada penjelasan kausal atas proses dan konsekuensi tindakan tersebut. Gabungan dari penjelasan dari awal, dapat disimpulkan bahwa sosiologi haruslah berupa ilmu, harus memusatkan perhatian pada kausalitas, dan sosiologi juga harus menggunakan pemahaman interpretif.

Sosiologi
Weber termasuk tokoh yang menentang organisisme (yang terdapat pada sosiologi evolusi skala besar pada saat itu). Hal itu dikarenakan, ia lebih berpegang pada metode individualis, meskipun ia mengakui bahwa tidak mungkin menghapus gagasan kolektivitas dari sosiologi. Dengan kata lain, konsep-konsep kolektif itu merupakan tipe ideal dari sosiologi.
Ciri-ciri (karakter) Sosiologi :
a)    Merupakan disiplin ilmu yang membutuhkan perumusan yang ketat.
b)    Bukan hanya sekedar bentuk-bentuk (forms), melainkan juga sebagai suatu aksi sosial.
c)    Berkaitan dengan persoalan makna, tetapi memerlukan prosedur ilmiah.
d)    Merupakan ilmu yang mengupayakan pemahaman interpretatif tentang aksi soal, dengan tujuan untuk mengeluarkan eksplanasi kausal mengenai aksi sosial dan dampaknya.
Menurut Weber, sosiologi adalah ilmu yang fokus pada pemahaman interpretif atas tindakan sosial dan pada penjelasan kausal (penjelasan mengenai penyebab dari sesuatu) atas proses dan konsekuensi tindakan tersebut. Selain itu, Weber juga mensyaratkan bahwa sosiologi itu harus :
1)    Merupakan sebuah ilmu.
2)    Memfokuskan perhatian pada kausalitas (dalam hal ini Weber juga memadukan antara sosiologi dengan sejarah).
3)    Menggunakan pemahaman interpretif (yang bersifat menafsirkan).

Tindakan Sosial
Dalam hal ini, Weber membedakan antara tindakan dan perilaku yang murni reaktif. Perilaku reaktif ditafsirkan sebagai perbuatan otomatis yang tidak melalui proses pemikiran. Perilaku muncul setelah ada stimulus (rangsangan) dan terdapat jeda waktu diantara keduanya. Namun Weber tidak memfokuskan perhatiannya pada masalah ini (masalah perilaku). Weber lebih memfokuskan pada masalah tindakan. Tindakan ditafsirkan sebagai suatu orientasi perilaku yang dapat dipahami secara subyektif hanya hadir sebagai perilaku individual. Dalam hal ini, ia juga berpendapat bahwa sosiologi tindakan berkutat (hanya fokus)  pada individu, bukan pada suatu kolektivitas kelompok. Selain itu, ia juga mengelompokkan tindakan kedalam 4 bentuk. 4 bentuk tersebut adalah :
A.   Tindakan rasionalitas sarana - tujuan (Tindakan Rasional-Instrumental)
Yaitu suatu tindakan yang ditentukan oleh harapan terhadap perilaku obyek dalam lingkungan dan perilaku manusia lain, yang mana harapan ini nanti merupakan syarat untuk mencapai tujuan melalui upaya dan perhitungan yang rasional. Contoh : seseorang belajar agar pandai, untuk meraih status sosial yang lebih tinggi kita perlu pendidikan.
B.   Tindakan rasionalitas nilai
Yaitu suatu tindakan yang ditentukan oleh keyakinan penuh kesadaran akan nilai perilaku-perilaku etis, estetis, religius maupun bentuk perilaku lain yang terlepas dari prospek keberhasilannya. Contoh : seseorang bekerja sesuai dengan bidang keahliannya, seseorang berpakaian rapi dilandasi nilai-nilai etika.
C.   Tindakan Afektif
Yaitu suatu tindakan yang ditentukan oleh kondisi emosi si aktor tersebut. Jenis tindakan ini merupakan suatu tingkah laku yang berada di bawah dominasi langsung perasaan-perasaan individu. Weber tidak lebih jauh dalam mengulas jenis tindakan yang ini. Contoh : sedih, marah, bangga.
D.   Tindakan Tradisional
Yaitu tindakan yang ditentukan oleh cara bertindak aktor yang biasa dan telah lazim dilakukan. Selain itu, tindakan jenis ini mencakup tingkah laku berdasarkan kebiasaan yang timbul dari praktik-praktik yang telah mapan & menghormati otoritas yang telah ada. Contoh : membungkuk saat melintas didepan orang yang lebih tua.

Struktur Sosial
Dalam pandangan Weber, struktur sosial didefinisikan dalam istilah-istilah yang bersifat probabilistik (kemungkinan) dan bukan sebagai kenyataan empirik yang terlepas dari aspek individu.

Kelas, Status, dan Partai
Menurut Weber, masyarakat terstratifikasi menurut kriteria ekonomi, status dan kekuasaan. Akibatnya, individu dapat menempati tingkat yang tinggi di satu atau dua dimensi (bidang) namun di dimensi lain berada pada posisi yang rendah. Kelas, menurut Weber, bukanlah komunitas, namun kelas itu merupakan kelompok individu yang dalam situasi bersama mereka menjadi basis dari tindakan suatu kelompok. Kelas hadir pada suatu tatanan ekonomi. Weber juga memberikan 3 syarat munculnya situasi kelas :
1.    Sejumlah individu memiliki kesamaan komponen kausal spesifik peluang hidup mereka.
2.    Komponen ini hanya direpresentasikan oleh kepentingan ekonomi (penguasaan barang, peluang memperoleh pendapatan).
3.    Direpresentasikan menurut syarat-syarat komoditas atau pasar tenaga kerja.
Status menurut Weber, merupakan setiap komponen khusus kehidupan manusia yang ditentukan oleh estimasi (penilaian) sosial tentang positif atau negatif, dan derajat martabat tertentu. Status hadir pada suatu tatanan sosial. Status biasanya terkait dengan gaya hidup individu. Individu yang berada pada status sosial yang atas akan berbeda dengan gaya hidup individu pada status sosial rendah.
Partai, menurut Weber, memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
      I.        Merupakan struktur yang berusaha menciptakan dominasi / meraih posisi dominan.
    II.        Merupakan elemen yang paling teratur dalam sistem stratifikasi Weber.
   III.        Tidak hanya mencakup hal-hal yang ada dalam Negara, tetapi juga dalam kelompok-kelompok sosial.
  IV.        Berorientasi pada kekuasaan.

Struktur Otoritas
Menurut Weber, struktur otoritas ada pada setiap institusi sosial. Dalam menganalisis stuktur otoritas, Weber selalu mengawali dengan asumsinya tentang hakikat dan sifat dasar tindakan. Dalam sebuah struktur otoritas, dapat dijumpai suatu dominasi. Dominasi adalah suatu probabilitas (kemungkinan) dipatuhinya perintah oleh semua orang. Sedangkan  otoritas itu merupakan bentuk dominasi yang sah. Adapun bentuk struktur otoritas adalah :
      i.        Struktur Otoritas Legal
Struktur otoritas ini tumbuh dari legitimasi sistem rasional-legal. Dalam struktur otoritas ini, Weber memfokuskan pada bentuk struktur berupa birokrasi. Yang mana birokrasi ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
ü  Merupakan gabungan dari bagian-bagian resmi yang memiliki fungsi resmi dan terikat oleh suatu aturan tertentu.
ü  Setiap bagian memiliki ruang lingkup kompetensi yang spesifik.
ü  Bagian-bagian tersebut terorganisasi kedalam sebuah sistem hierarki.
ü  Dalam bagian-bagian tersebut terdapat suatu kualifikasi (syarat) teknis yang harus dipenuhi oleh individu yang akan masuk kedalamnya (menjadi staf didalamnya).
ü  Sarana produksi tidak dimiliki oleh staf. Staf hanya memanfaatkan sarana tersebut untuk melakukan pekerjaannya.
ü  Pegawai tetap menjadi bagian dari organisasi, namun tidak boleh mengubah posisi.
ü  Tindakan, keputusan, dan aturan administratif dirumuskan & dirancang secara tertulis.
    ii.        Struktur Otoritas Tradisional
Struktur otoritas ini didasarkan pada klaim pemimpin & keyakinan pengikutnya yang didasarkan pada anggapan bahwa adanya kelebihan dalam kesucian aturan dan kekuasaan bagi orang yang telah berusia tua. Dalam sistem ini, pemimpin bukan penguasa superior, melainkan hanya personal.
Menurut Weber, Struktur otoritas tradisional memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
ü  Kompetensi dalam jabatan tidak didefinisikan secara jelas, dan cenderung terikat pada tatanan impersonal (netral).
ü  Tidak memiliki hubungan yang bersifat rasional antara pihak yang berada pada posisi superior dengan pihak yang berada pada posisi inferior.
ü  Tidak memiliki hierarki (susunan tingkatan kekuasaan) yang jelas.
ü  Tidak ada sistem aturan bagi penunjukan dan promosi yang didasarkan pada kontrak bebas.
ü  Pelatihan teknis bukanlah persyaratan utama  untuk meraih jabatan tradisional.
ü  Jabatan tidak diberikan gaji dalam bentuk uang.
Adapun bentuk otoritas tradisional pertama kali adalah bentuk patrimonialisme, yang merupakan dominasi tradisional dengan administrasi serta kekuatan militer menjadi instrument penguasa yang bersifat personal. Kemudian dalam perkembangannya, memiliki 2 bentuk, yaitu Gerontokrasi (pemerintahan yang dijalankan oleh orang/kalangan tua) dan Patriarkalisme primer (kepemimpinan yang diwariskan). Dan yang paling modern adalah feodalisme. Dalam memandang struktur otoritas tradisional, Weber berpendapat bahwa struktur otoritas tradisional itu merupakan penghambat dalam perkembangan rasionalitas. Dari sini pula nanti Weber akan menarik kesimpulan bahwa struktur dan praktik otoritas tradisional menjadi penghambat bagi kelahiran struktur ekonomi rasional. Yang mana struktur ekonomi rasional ini identik dengan kapitalisme.
   iii.        Struktur Otoritas Kharismatik
Dalam struktur otoritas ini, pemimpin diposisikan sebagai pihak yang memiliki kharisma. Padahal belum tentu ia memiliki kelebihan yang menonjol dan ia hanya manusia biasa. Namun, yang penting untuk diperhatikan adalah adanya upaya pemisahan atau pembedaan antara seorang pemimpin dari orang biasa dan diperlakukan seolah-olah ia memiliki kemampuan diluar kemampuan manusia biasa pada umumnya. Dalam Struktur otoritas ini, legitimasinya terletak pada ketaatan dan kesetiaan terhadap seorang individu yang dipandang memiliki karakter yang patut diteladani, heroik dan memiliki kelebihan yang belum tentu dimiliki orang lain. Menurut Weber, karisma dan otoritas karismatik menunjuk pada suatu sifat tertentu dari seorang individu, yang karena sifatnya ini dia dipandang luar biasa dan diperlakukan sebagai seorang yang memiliki kemampuan-kemampuan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain.

Agama, Kapitalisme, dan Rasionalisasi
Sebagian besar karya Weber, merupakan karya pada level sosial-struktural dan kultural, diyakininya dipengaruhi oleh perubahan struktur sosial dan institusi sosial. Karya-karyanya banyak yang terfokus pada pengaruh keyakinan agama terhadap tindakan. Dalam melakukan penelitian sejarah lintas budaya, ia memiliki beberapa perhatian utama, antara lain :
1)    Hubungan antar berbagai agama dunia dengan perkembangan sistem ekonomi kapitalis yang hanya terjadi di barat.
2)    Sistem gagasan agama-agama di dunia, kapitalisme, dan rasionalisasi sebagai nilai dan norma sistem modern.
Struktur agama dan masyarakat tempat agama tersebut berkembang, yang menurutnya dapat menghambat rasionalisasi dan aspek-aspek struktural kapitalisme.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar