Kamis, 18 April 2013

Neofungsionalisme


Di bawah serangan kritik seperti yang baru dilukiskan itu, fungsionalisme struktural mulai merosot arti pentingnya sejak pertengahan 1960-an hingga awal 1980-an. Sekitar pertengahan 1980-an berlangsung upaya besar untuk menghidupkan kembali teori itu dengan tajuk “neofungsionalisme”. Istilah neofungsionalisme digunakan untuk menandai kelangsungan hidup fungsionalisme struktural, tetapi juga sekaligus menunjukkan bahwa sedang dilakukan upaya memperluas fungsionalisme struktural dan mengatasi kesulitan utamannya. Jeffrey Alexander dan Paul Colomy mendefinisikan neofungsionalisme sebagai “rangkaian kritik-diri teori fungsional yang mencoba memperluas cakup intelektual fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya”. Jadi, tampak jelas bahwa Alexander dan Colomy melihat fungsionalisi struktural terlampau sempit dan bahwa tujuan mereka adalah menciptakan teori sintetis yang mereka namakan “neofungsionalisme”. Turner dan Maryanski (1988) menentang neofungsionalisme dengan mengatakan bahwa orientasinya tak sepenuhnya fungsional, karena dia mengabaikan berbagai prinsip dasar fungsionalisme struktural.
Perlu dicatat bahwa ketika fungsionalisme struktural pada umumnya, dan teori Talcott Parsons pada khususnya, menjadi ekstrem, ada inti sintesis yang kuat di dalam teori tersebut sejak awal. Di satu sisi, di sepanjang kehidupan intelektualnya, Parsons berusaha mengintegrasikan berbagai macam input teoritis. Di lain pihak, dia tertarik dengan kesalinghubungan domain-domain utama dari dunia sosial, terutama sistem kultural, sosial, dan personalitas. Akan tetapi, pada akhirnya, Parsons mengadopsi orientasi fungsionalis struktural yang lebih sempit, dan memandang sistem kultural sebagai penentu sistem lainnya. Jadi, Parsons mengabaikan orientasi sintesisnya, dan neofungsionalisme dapat dilihat sebagai usaha untuk menangkap kembali orientasi tersebut.
Alexander (1985a:10) menyebutkan problem yang diasosiasikan dengan fungsionalisme struktural yang perlu diatasi oleh neofungsionalisme, termasuk “anti-individualisme”, “antagonistik terhadap perubahan”, “konservatisme” “idealisme”, dan “bias antiempiris”. Telah dilakukan upaya untuk mengatasi persoalan ini secara terencana (Alexander, 1985a) dan pada level teoritis yang lebih spesifik, misalnya usaha Colomy (1986; Alexander dan Colomy, 1990b; Colomy dan Rhoades, 1994) untuk memperbaiki teori diferensiasi.
Meski bersemangat terhadap neofungsionalisme, pada pertengahan 1980-an Alexander terpaksa menyimpulkan bahwa “neofungsionalisme adalah sebuah tendensi bukan teori yang maju” (1985a:16).
Meskipun neofungsionalisme mungkin bukan teori yang maju, Alexander menguraikan beberapa orientasi dasar neofungsionalisme. Pertama, neofungsionalisme bekerja dengan model masyarakat deskriptif. Model ini melihat masyarakat tersusun dari unsur-unsur yang saling berinteraksi menurut pola tertentu. Pola ini memungkinkan sistem dibedakan dari lingkungannya. Unsur-unsur sistem “berhubungan secara simbiosis” dan iya tak ditentukan oleh kekuatan semata. Jadi, neofungsionalisme bersifat terbuka dan plural.
Kedua, Alexander menyatakan bahwa neofungsionalisme memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan dan keteraturan. Ini berarti menghindarkan kecenderungan fungsionalisme struktural tradisional yang memusatkan perhatian hampir sepenuhnya pada sumber dan keteraturan tingkat makro struktur sosial dan kultur. Perspektif ini memberikan perhatian yang cukup terhadap pola tindakan di tingkat yang lebih mikro. Neofungsionalisme juga mengaku mempunyai perhatian besar terhadap tindakan, tak hanya yang rasional tetapi juga tindakan yang ekspresif.
Ketiga, neofungsionalisme tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai kemungkinan Neofungsionalisme mengakui bahwa penyimpangan dan kontrol sosial realitas dalam sistem sosial. Neofungsionalisme memperhatikan keseimbangan, tetapi dalam konteks yang lebih luas ketimbang perhatian fungsionalisme struktural tradisional. Keseimbangan sosial tak dilihat sebagai keseimbangan statis. Keseimbangan dilihat sebagai titik rujukan untuk analisis fungsional tetapi bukan sebagai deskripsi kehidupan individual sosial yang nyata.
Kempat, neofungsionalisme tetap menerima penekanan Parsonsian tradisional atas kepribadian, kultur, dan sistem sosial. Selain sebagai aspek vital struktur sosial, interpenetrasi atas sistem sosial itu juga menghasilkan ketegangan yang merupakan sumber perubahan dan kontrol.
Kelima, neofungsionalisme memusatkan perhatian pada perubahan sosial proses diferensiasi di dalam sistem sosial, kultural dan kepribadian. Perubahan tak hanya menghasilkan keselarasan dan konsensus, tetapi juga dapat menimbulkan ketegangan, baik individual maupun kelembagaan (Alexander, 1985:10).
Terakhir, neofungsionalisme “secara tak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam mengonseptualisasikan dan menyusun teori berdasarkan analisis sosiologi pada tingkat lain” (1985a:10).
Alexander dan Colomy (1990a) mempertahankan klaim yang sangat ambisius. Mereka tidak melihat neofungsionalisme sebagai sekadar “elaborasi” atau “revisi” fungsionalisme struktural tetapi lebih sebagai “rekonstruksi” terhadap fungsionalisme strukttural di mana perbedaannya dengan pendiriannya (Parsons) diakui dengan jelas dan ada keterbukaan yang eksplisit terhadap teori dan teoritisi lainnya. Pandangan ini, setidaknya sebagian, tampaknya sesuai dengan klaim Turner dan Maryansk: bahwa neofungsionalisme tidak banyak kesamaannya dengan fungsionalisme struktural. Usaha-usaha telah dilakukan untuk mengintegrasikan pandangan neofungsionalisme dari para pakar, seperti struktur material Marx dengan simbolisme Durkheim. Dalam usaha untuk mengatasi bias idealis fungsionalisme struktural Parsonsian, khususnya penekanannya pada makro-subjektif seperti kultur, pendekatan yang lebih materialis dianjurkan. Tendensi struktural fungsional untuk menekankan pada keteraturan diimbangi dengan seruan untuk mendekati kembali teori perubahan sosial. Yang penting, untuk mengimbangi bias level makro dari fungsionalisme struktural tradisional, dilakukan usaha untuk mengintegrasikan ide-ide dari teori pertukaran, interaksionisme simbolik, pragmatisme, fenomenologi, dan sebagainya. Dengan kata lain, Alexander dan Colomy berusaha menyintesak fungsionalisme struktural dengan sejumlah tradisi teoritis lainnya. Rekonstruksi semacam itu dapat membangkitkan kembali fungsionalisme struktural dan memberikan dasar untuk pengembangan tradisi teoritis yang baru. Alexander dan Colomy mengakui perbedaan penting antara neofungsionalisme dengan fungsionalisme struktural:
Riset fungsional awal dipandu oleh skema konseptual tunggal yang serba meliputi yang mengikat area-area riset khusus ke dalam satu paket ketat. Sebaliknya, karya empiris neofungsionalis diorganisasikan secara longgar, yaitu diorganisasikan di seputar logika umum dan memiliki sejumlah “cabang” dan “variasi” yang agak otonom pada tingkat dan domain empiris yang berbeda-beda (Alexander dan Colomy, 1990a:52).
Pemikiran Alexander dan Colomy mengindikasikan pergeseran menjaui dari tendensi Parsonsian untuk melihat fungsionalisme struktural sebagai teori besar. Sebaliknya, mereka menawarkan teori yang lebih terbatas dan sintetis namun tetap holistik.
Akan tetapi, seperti ditunjukkan pada awal, masa depan neofungsionalisme diragukan karena fakta bahwa pendiri dan eksponen utamanya, Jeffrey Alexander, menjelaskan bahwa dia telah keluar dari orientasi neofungsionalisme. Pergeseran pemikiran ini tampak dalam judul dari bukunya yang akan segera terbit, Neofunctionalisme and After (Alexander, 1998). Alexander dalam karya itu mengatakan bahwa salah satu tujuan utamanya adalah membangun (kembali) legitimasi dan arti penting dari teori Parsonsian. Sampai pada tingkat di mana neofungsionalisme telah berhasil dalam upaya ini Alexander menganggap proyek neofungsionalis sudah selesai. Jadi, dia siap melangkah melampaui Parsons, melampaui neofungsionalisme, meskipun dia mengatakan bahwa arah teoritis ke depannya akan banyak berhutang kepada keduanya. Bagi Alexander, neofungsionalisme telah semakin membatasi, dan kini dia menganggapnya sebagai bagian dari apa yang dia sebut “gerakan teoritis baru”. Seperti dikatakannya, “Saya menunjuk pada gelombang baru penciptaan teori yang melampaui arti penting capaian neofungsionalisme” (Alexander, 1998:228). Perspektif teoritis semacam itu akan lebih sintetis ketimbang neofungsionalisme, dan lebih ekletik, mengambil dari bermacam-macam sumber teoritis, dan akan menggunakan sumber sintetis dan ekletik itu dengan cara yang lebih praktis. Secara khusus, Alexander tengah berusaha mengembangkan mikrososiologi dan teori kultural.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar