Rabu, 24 Oktober 2012

Pertumbuhan Ekonomi dan Masalah-masalah Kemiskinan


Sebelum tahun 90-an, titik perhatian utama ekonomi dunia ditujukan pada upaya-upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi riil. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu negara dapat dijadikan sebagai sebagai ukuran atau kinerja perekonomian bagi suatu negara.
Beberapa faktor yang penting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara yaitu :
Akumulasi Modal, termasuk dalam hal ini semua investasi baru yag berupa tanah, dan sumber daya manusia.
Pertumbuhan penduduk.                          
Kemajuan teknologi.
Akumulasi modal akan terjadi jika ada proporsi tertentu dari pendapatan sekarang yang ditabung dan kemudian diinvestasikan untuk memperbesar output di masa yang akan datang. Pabrik-pabrik, mesin-masin, peralatan-peralatan, dan barang-barang baru akan meningkatkan stok kapital fisikal dari suatu negara yang memungkinkan untuk mencapai tingkat output yang lebih besar. Investasi yang telah disebutkan di atas sering juga disebut dengan investasi produktif secara langsung yang mirip dengan investasi dalam bentuk infrastruktur seperti jalan, listrik, air, dan sanitasi, serta telekomunikasi.
      Selain itu, cara lain untuk menginvestasikan dapat menggunakan melalui cara tidak langsung. Seperti pembangunan irigasi, penggunaan pupuk, dan pembasmian serangga yang dapat meningkatkan output pertanian. Sama halnya dengan investasi tidak langsung di atas yaitu sumber daya manusia (human investment) yang bisa memperbaiki kualitasnya dan bahkan dapat meningkatkan produksi secara lebih besar.
      Semua fenomena di atas dan lain-lainnya adalah bentuk investasi menuju terjadinya akumulasi modal. Akumulasi modal dapat menambah sumber daya baru atau meningkatkan kualitas sumber daya yang ada, tetapi ciri-cirinya yang utama bahwa investasi itu menyangkut suatu “trade off” antara konsumsi sekarang dan konsumsi masa yang akan datang atau memberikan hasil yang sedikit saat sekarang tetapi hasilnya akan lebih banyak di masa yang akan datang. 
Pertumbuhan penduduk dan hal –hal yang berhubungan dengan kenaikan angkatan kerja (labor force) secara tradisional telah dianggap sebagai faktor yang positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi. Sehingga semakain banyak angkatan kerja berarti semakin produktif tenaga kerja, sedangkan semakin banyak penduduk akan meningkatkan potensi pasar domestik.
      Namun demikian, timbul pertanyaan : apaka peningkatan penawaran tenaga kerja yang cepat dalam suatu negara yang sedang berkembang yang mempunyai surplus tenaga kerja dapat memberikan pengaruh yang positif atau negatif terhadap kemajuan ekonomi. Tentu saja hal tersebut tergantung pada kemampuan sistem ekonomi tersebut untuk menyerap dan memperkerjakan tambahan-tambahan pekerja itu secara produktif, suatu kemampuan yang sangat berkaitan dengan tingkat dan jenis akumulasi modal dan tersedianya faktor-faktor lain yang berhubungan, seperti misalnya keahlian dalam manajerial dan adminsitratif.
      Kemajuan teknologi merupakan faktor yang paling penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dalam bentuk yang sangat sederhana, kemajuan teknologi disebabkan oleh cara-cara baru dan cara-cara yang diperbaiki dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional seperti cara menanam padi, membuat pakaian atau membangun rumah. Ada 3 macam klasifikasi dari kemajuan teknologi yaitu : netral, hemat tenaga kerja (labour saving), dan hemat modal (capital saving).
      Kemajuan teknologi yang bersifat netral terjadi jika tingkat output yang dicapai lebih tinggi pada kuantitas dan kombinasi faktor-faktor input yang sama. Inovasi-inovasi yang timbul dari pembagian kerja bisa menghasilkan tingkat output total yang lebih tinggi dan konsumsi yang lebih banyak untuk semua orang. Dalam hubungannya dengan analisa kemungkinan produksi, kemajuan teknologi yang bersifat netral adalah penduakalian output total adalah sama dengan menduakalikan semua input produktif.
      Dari sisi lain, kemajuan teknologi bersifat hemat tenaga kerja atau hemat modal, yaitu tingkat output yang lebih tinggi bisa dicapai dengan kuantitas tenaga kerja atau input modal yang sama. Penggunaan komputer, traktor, dan lainnya bisa diklasifisikasikan sebagai hemat tenaga kerja.
      Kemajuan teknologi yang bersifat hemat modal adalah sangat jarang terjadi, karena hampir semua penelitian ilmiah dan perkembangan teknologi yang dilakukan di negara maju adalah bertujuan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modal. Tetapi untuk negara-negara yang mempunyai tenaga kerja yang melimpah seperti negara-negara sedang berkembang pada umumny, maka kemajuan teknologi yang bersifat hemat modal sangat dibutuhkan. Metode produksi yang lebih efisien (biaya yang murah) adalah metode produksi yang padat tenaga kerja (labour intensive).      
      Kemajuan teknologi bisa juga bersifat perluasan tenaga kerja (labour augmenting) atau perluasan modal (capital augmenting). Kemajuan teknologi yang bersifat perluasan tenaga kerja terjadi jika kualitas atau keahlian angkatan kerja ditingkatkan. Sementara itu, kemajuan teknologi yang bersifat perluasn modal terjadi jika penggunaan modal secara lebih produktif, misalnya penggantian bahan untuk membuat bajak dari kayu menjadi baja dalam produksi pertanian.



KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN EKONOMI MODERN

      Simon Kuznets yang pernah menerima nobel tahun 1971, mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai “ kemampuan negara itu untuk menyediakan barang-barang ekonomi yang terus meningkat bagi penduduknya, pertumbuhan kemampuan ini didasarkan kepada kemajuan teknologi dan kelembagaan serta penyesuaian ideologi dan kelembagaan serta penyesuaian ideologi yang dibutuhkan. Berdasarkan definisi ini maka ada tiga komponen pokok yang sangat penting artinya :
A.    Kenaikan output nasional secara terus menerus merupakan perwujudan dari pertumbuhan ekonomi dan kemampuan untuk menyediakan berbagai macam barang ekonomi merupakan tanda kematangan ekonomi.
B.    Kemajuan teknologi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, namun belum merupakan syarat yang cukup.
C.    Penyesuaian kelembagaan, sikap, dan ideologi juga harus dilakukan.
Dalam analisa yang mendalam, Simon Kuznets memisahkan 6 karakteristik yang terjadi dalam proses pertumbuhan pada hampir semua negara maju yaitu :
Dua variabel ekonomi agregatif :
1)    Tingginya tingkat pertumbuhan output per kapita dan populasi
2)    Tingginya tingkat kenaikan produktivitas faktor produksi secara keseluruhan,  terutama produktivitas tenaga kerja.
Dua variabel transformasi struktural :
1)    Tingginya tingkat transformasi struktur ekonomi.
2)    Tingginya tingkat transformasi sosial dan teknologi.
Dua faktor yang mempengaruhi meluasnya pertumbuhan ekonomi internasional:
1)    Kecenderungan negara-negara maju secara ekonomis untuk menjangkau seluruh dunia untuk mendapatkan pasar dan bahan baku.
2)    Pertumbuhan ekonomi ini hanya terbatas pada sepertiga populasi dunia.



PERDEBATAN MASALAH PERTUMBUHAN EKONOMI

      Pada  awal tahun 70-an, perubahan persepsi pemerintah dan swasta mengenai tujuan ekonomi telah bergeser. Di negara yang sudah maju, tekanan yang utama tampaknya usaha untuk menggeser orientasi pada pertumbuhan ekonomi menuju ke usaha yang lebih memperhatikan kualitas hidup. Perhatian ini didukung dengan adanya gerakan lingkungan hidup. Terjadi protes yang sangat keras terhadap ganasnya pertumbuhan ekonomi dan akibat polusi air dan udara, penipisan cadangan sumberdaya alam, dan kerusakan keindahan alam.
      Sementara itu, di negara miskin yang menjadi perhatian utama adalah masalah pertumbuhan versus distribusi pendapatan. Banyak negara berkembang yang menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi hanya sedikit memberikan manfaat bagi pemecahan masalah kemiskinan. Bagi ratusan juta penduduk di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, tingkat kehidupannya mandeg dan bahkan untuk beberapa negara terjadi penurunan tingkat kehidupan riil. Tingkat pengangguran meningkat di daerah perdesaan dan perkotaan. Distribusi pendapatan antara kaya dan miskin semakin tidak merata. Banyak orang merasakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah gagal untuk menghilangkan atau bahkan mengurangi luasnya kemiskinan absolut di negara-negara sedang berkembang.
      Dengan kata lain, pertmbuhan ekonomi yang cukup tinggi tidak secara otomatis meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bahkan pertumbuhan ekonomi ini dibeberapa negara telah menimbulkan absolut dalam tingkat hidup orang miskin di perkotaan dan perdesaan. Apa yang disebut dengan proses “trickle down effect” dari manfaat pertumbuhan ekonomi bagi orang miskin tidak terjadi.  


DISTRIBUSI PENDAPATAN

Ketidakmerataan Distribusi Pendapatan

      Penghapusan kemiskinan dan berkembangnya ketidakmerataan pembagian pendapatan merupakan inti permasalahan pembangunan. Walaupun titik perhatian utama pada ketidakmerataan distribusi pendapatan dan harta kekayaan, hal tersebut hanyalah merupakan sebagian kecil dari masalah ketidakmerataan yang lebih luas di negara-negara sedang berkembang.
Melalui pemahaman yang mendalam terhadap masalah ketidakmerataan dan kemiskinan ini memberikan dasar yang baik untuk menganalisis msalah pembangunan yang lebih khusus  seperti : pertumbuhan populasi; pengangguran; pembangunan perdesaan; pendidikan; perdagangan internasional, dan sebagainya.
      Secara umum yang menyebabkan ketidakmerataan distribusi pendapatan di negara-negara sedang berkembang adalah :
1)    Pertambahan penduduk yang tinggi yang mengakibatkan menurunnya pendapatan per kapita.
2)    Inflasi, dimana pendapatan uang bertambah tetapi tidak diikuti secara proporsional dengan pertambahan produksi barang-barang.
3)    Ketidakmerataan pembangunan antar daerah.
4)    Investasi ditanamkam pada proyek-proyek yang padat modal, sehingga persentase pendapatan dari dari harta tambahan besar dibandingkan dengan persentase pendapatan yang berasal dari kerja, sehingga pengangguran bertambah.
5)    Rendahnya mobilitas sosial.
6)    Pelaksanaan kebijaksanaan industri subsitusi impor yang mengakibatkan kenaikan harga-harga barang hasil industri untuk melindungi usaha-usaha golongan kapitalis.
7)    Memburuknya nilai tukar (terms of trade)  bagi negara-negara sedang berkembang dalam perdagangan dengan negara-negara maju, sebagai akibat ketidak elatisitasan permintaan negara-negara maju terhadap barang-barang ekspor negara sedang berkembang.
8)    Hancurnya industri-industri kerajinan rakyat seperti industri rumah tangga.



KEMISKINAN

      Pada tahun terakhir ini perhatian para ilmuawan sosial dan lembaga-lembaga penelitian serta perguruan tinggi terhadap masalah kemiskinan semakin meningkat. Perhatian tersebut mencakup betapa luasnya masalah kemiskinan, definisi, dan sebab-sebab yang menimbulkan kemiskinan.
      Ada beberapa aspek dari kemiskinan yaitu :
1)    Kemiskinan itu bersifat multidimensional.  Artinya, karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam, maka kemiskinan itu memiliki banyak aspek. Jika dilihat dari sisi kebijaksanaan secara umum, maka kemiskinan meliputi aspek primer yang berupa miskin akan aset-aset, pengetahuan serta keterampilan. Aspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan sosial, sumber-sumber keuangan dan informasi. Sementara itu, dimensi kemiskinan tersebut termanefestasikan dalam bentuk kekurangan gizi, air, perumahan yang tidak sehat, perawatan kesehatan yang kurang baik, dan pendidikan yang juga kurang baik.
2)    Aspek-aspek kemiskinan itu saling berkaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung.   Hal ini berarti bahwa kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek dapat mempengaruhi kemajuan atau kemunduran pad aspek lainnya.
3)    Bahwa yang miskin adalah manusianya, baik secara individual maupun kolektif.
                                                                                    
Sementara itu, ada beberapa karateristik kemiskinan yaitu :
1)    Mereka yang hidup di bawah kemiskinan pada umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri, seperti : tanah yang cukup, modal dan keterampilan yang tidak mencukupi. Sebagai akibat faktor produksi yang dimiliki sangat terbatas, maka kemampuan untuk memperoleh pendapatan menjadi sangat terbatas.
2)    Mereka pada umumnya tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri. Pendapatan yang diperolehnya tidak cukup untuk memperoleh tanah garapan ataupun modal usaha. Di samping itu, mereka tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kredit perbankan. Sehingga mereka lebih cenderung beralih ke para reteiner yang biasanya memberikan kredit dengan tingkat bunga tinggi.
3)    Tingkat pendidikan pada umumnya rendah. Pendidikan ini sangat rendah karena waktu mereka lebih banyak tersita untuk mencari nafkah. Demikian juga dengan anak-anak mereka, tak dapat menyelesaikan sekolahnya karena harus membantu orang tuanya mencari tambahan pendapatan. 
4)    Banyak diantara mereka tidak mempunyai tanah. Pada umumnya mereka menjadi buruh tani atau pekerja kasar di luar pertanian. Oleh karena pekerjaan pertanian bersifat musiman, maka kesinambungan kerja menjadi kurang terjamin. Bnyak diantara mereka lalu menjadi pekerja bebas yang berusaha apa saja. Akibatnya, dalam situasi penawaran kerja yang besar, maka tingkat upah menjadi rendah sehingga membuat mereka selalu hidup di bawah kemiskinan.
5)    Banyak diantara mereka yang hidup di kota masih berusia muda dan tindak memiliki ketrampilan atau pendidikan, sehingga kota tidak siap menampung gerak urbanisasi dari desa. Dengan kata lain, kemiskinan perdesaan membuahkan fenomena urbanisasi dari desa ke kota.



KEMISKINAN ABSOLUT DAN RELATIF

      Kemiskinan absolut diartikan sebagai suatu keadaan dimana tingkat pendapatan absolut dari satu orang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, permukinan, kesehatan dan pendidikan. Besarnya masalah kemiskinan abosolut tercermin dari jumlah penduduk yang tingkat pendapatannya atau tingkat konsumsi berada di bawah garis kemiskinan (poverty line) atau tingkat hidup minimum yang biasanya telah ditentukan.
      Perkembangan garis kemiskinan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Perkembangan Garis Kemiskinan Indonesia
Tahun 1976 – 1999
(Dalam Rupiah)
Tahun
Makanan
Perkotaan
Non Makanan
Total

Makanan
Perdesaan
Non
Makanan
Total
1976
1978
1980
1981
1984
1987
1990
1993
1996
1999

-
-
-
-
-
-
17.520
23.303
29.681
64.396

-
-
-
-
-
-
3.094
4.602
8.565
25.449
4.522
4.969
6.831
9.777
13.731
17.381
20.614
27.905
38.246
89.845
-
-
-
-
-
-
12.617
15.576
23.197
52.319

-
-
-
-
-
-
678
2.668
4.216
17.101
2.849
2.981
4.449
5.877
7.746
10.294
13.295
18.244
27.413
69.420

Sumber : Susenas Biro Pusat Statistik beberapa terbitan.
Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin
                                                 Tahun 1976 – 1999      
(Dalam Juta Jiwa)
Tahun
Daerah Perkotaan
Daerah Perdesaan
Total

1976
1978
1980
1981
1984
1987
1990
1993
1996
1999



10,0
8,3
9,5
9,3
9,3
9,7
9,4
8,7
7,2
12,4

44,2
38,9
32,8
31,3
25,7
20,2
17,8
17,2
15,3
25,1

54,2
47,2
42,3
40,6
35,0
30,0
27,2
25,9
22,9
37,5
Sumber : Susenas Biro Pusat Statistik beberapa terbitan.
Pada tahun 1977, Sayogo mengembangkan pula pengertian kemiskinan absolut. Menurut Sayogo, kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimum yang ditetapkan berdasarkan atas kebutuhan pokok pangan yang membuat orang cukup bekerja dan hidup sehat berdasarkan atas kebutuhan beras dan kebutuhan gizi.
Klasifikasi Kemiskinan di Perdesaan Indonesia
Menurut Ukuran Sayogo

Klasifikasi
Garis Kemiskinan Dalam Setara Beras
(Kg/Kapita/Tahun)
Miskin
Miskin Sekali
Paling Miskin

320
240
180

Sumber : Sayogo, Garis kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan, artikel dalam
Harian Kompas, 17 November 1977.
      Pengertian kemiskinan yang kedua adalah kemiskinan relatif. Tingkat kemiskinan suatu daerah dapat dihitung dengan melihat proporsi pendapatan nasional yang diterima oleh sekelompok penduduk dengan kelas pendapatan tertentu dibandingkan dengan proporsi pendapatan nasional yang diterima oleh sekelompok penduduk dengan kelas pendapatan lainnya.
      Pada umumnya ukuran yang dipakai adalah membandingkan proporsi pendapatan nasional yang diterima oleh 40 persen penduduk dengan pendapatan terendah, 40 persen penduduk dengan pendapatan berikutnya, dan 20 persen penduduk dengan pendapatan tertinggi.
      Menurut kriteria Bank Dunia, ketidakmerataaan tinggi bila pembagian 40 persen penduduk dengan pendapatan terendah menerima kurang dari 12 persen pendapatan nasional, ketidakmerataan sedang bila kelompok tersebut menerima antara 12 –1 7 persen, dan ketidakmerataan rendah bila kelompok tersebut menerima lebih dari 17 persen dari seluruh pendapatan nasional.



PILIHAN KEBIJAKSANAAN UNTUK MENGURANGI KEMISKINAN DAN KETIMPANGAN PENDAPATAN

      Kebijakan utama yang umumnya dalam mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan adlah sebagai berikut :
1)    Mengubah distribusi pendapatan fungsional melalui kebijakan yang ditujukan untuk mengubah harga relatif faktor. Hal ini terutama dimaksudkan untuk mengurangi/menghilangkan distorsi harga faktor yang sering merugikan kelompok miskin.
2)    Memperbaiki distribusi pendapatan melalui redistribusi pemilikan aset secara progresif, yang antara lain dilakukan melalui land reform, dan pemberian kredit lunak bagi usaha kecil.
3)    Mengurangi bagian pendapatan penduduk golongan atas melalui pajak pendapatan dan pajak progresif. Dengan demikian peningkatan penerimaan negara dapat digunakan untuk perbaikan kesejahteraan kelompok miskin.
Meningkatkan bagian pendapatan penduduk golongan bawah melalui pembayaran transfer secara langsung serta penyediaan barang dan jasa publik atas tanggungan pemerintah. Hal ini dapat dilakukan antara lain melalui : pembebasan pajak/keringanan pajak bagi kelompok miskin, tunjangan atau subsidi pangan, bantuan pelayanan kesehatan, bantuan pelayanan umum lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar