Rabu, 03 Oktober 2012

Mitos Pemilih Rasional

Pemilih Indonesia belum bisa dikatakan rasional karena pilihan yang tersedia buat mereka belum memiliki diferensiasi yang jelas.
Pemilih rasional adalah orang yang menentukan pilihan politiknya berdasarkan perhitungan untung dan rugi. Pemilih rasional akan memilih partai politik, anggota legislatif, dan pasangan presiden/wakil presiden, yang menurut perhitungan pribadinya akan membawa keuntungan baginya di masa depan, apa pun bentuk keuntungan itu.
Menyebut bahwa pemilih sudah rasional paling tidak mengandung dua asumsi mendasar. Pertama, objek pilihan mempunyai diferensiasi. Kedua, pemilih itu terdidik. Terdidik di sini berarti tahu atau mempunyai kemampuan untuk mengakses informasi mengenai pilihannya.
Sayangnya, kedua asumsi ini tidak tepat dalam menggambarkan kehidupan politik Indonesia, sehingga kita tidak bisa menyimpulkan bahwa pemilih Indonesia sudah rasional.
Partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2009 hampir tidak ada bedanya. Retorika yang dipakai akhirnya sama, yaitu campuran antara wacana beragama, pluralis, dan nasionalis.
Apalagi dari sisi program atau kebijakan. Semua parpol dipastikan mendukung pemberantasan korupsi. Semua parpol dipastikan mendukung pengurangan kemiskinan. Semua parpol dipastikan ingin membangun petani. Semua parpol dipastikan akan menolak dominasi asing dalam perekonomian Indonesia.
Namun, ini juga menunjukkan bahwa masing-masing partai politik belum mampu mendefinisikan secara unik apa persoalan bangsa yang ingin mereka kedepankan atau prioritaskan. Tentu sangat mungkin bahwa ini merupakan strategi politik para peserta pemilu untuk menggalang dukungan sebanyak-banyaknya.
Dengan mengangkat isu seluas-luasnya, sedangkal-dangkalnya, dan tidak mengangkat program atau kebijakan yang spesifik, peserta pemilu bisa menghindari ketidakpopuleran pada berbagai kalangan.
Dua Kemungkinan
Jika parpol peserta pemilu tidak memiliki perbedaan yang signifikan sepertinya sulit untuk mengatakan bahwa pilihan para pemilih Indonesia di tahun 2009 nanti merupakan pilihan rasional, karena pemilih tidak mempunyai pilihan yang bervariasi untuk ditimbang, mana yang akan memberikan keuntungan optimal.
Dengan kata lain, ada dua kemungkinan dalam situasi ini. Pertama, pemilih tidak menentukan pilihannya berdasarkan rasionalitas karena mereka memilih bukan berdasarkan perbedaan parpol-parpol yang memang tidak ada.
Kedua, pemilih memilih dalam bounded rationality atau dengan modal pengetahuan yang (sangat) terbatas mengenai pilihan yang ada. Jadi, pilihan yang dijatuhkan pada satu partai bukan karena pertimbangan rasional, tapi didasarkan pada kekurangtahuan tentang perbedaan antara partai.
Pemilih rasional akan memilih caleg yang bukan hanya mereka kenal, tapi juga berkualitas, karena caleg yang berkualitas dan bukan caleg yang populer yang akan memberikan keuntungan buat pemilih. Tanpa kapabilitas dan kapasitas yang tinggi, hampir tidak mungkin caleg mampu membawa keuntungan buat pemilihnya.
Sementara itu, pemilih yang kekurangan akses informasi mengenai kualitas caleg yang diajukan akan cederung memilih caleg yang mereka kenal saja. Situasi di mana pemilih masih belum rasional dan mempunyai akses informasi dan pengetahuan politik yang sangat terbatas membuka kesempatan dan mendorong para partai politik untuk mencari jalan pintas dan mudah untuk menang dalam pemilu.
Banyak caleg yang diajukan parpol bukan karena kualitas, tetapi karena popularitas. Ekspektasinya adalah pemilih yang belum rasional atau kekurangan informasi mengenai kapasitas dan kapabilitas politik caleg, mau tidak mau akan memilih caleg yang mereka kenal dan populer. Jadi, banyaknya caleg yang diajukan parpol karena kepopuleran menjadi indikasi pemilih belum rasional.
Variasi Pilihan
Pemilih bisa dikatakan rasional jika dia memiliki informasi yang cukup untuk menentukan pilihan. Pilihannya bisa dikatakan rasional jika pilihan yang tersedia bervariasi. Tanpa variasi dari pilihan yang tersedia, sulit untuk mengatakan bahwa keputusan atau pilihan pemilih bersifat rasional.
Paling tidak ada dua alasan, mengapa pemilih yang rasional penting untuk demokrasi. Pertama, pemilih rasional akan mendorong parpol mengajukan caleg yang bukan hanya populer, tapi juga berkualitas. Ke depan, hal ini akan mendorong kaderisasi politik yang lebih baik. Parpol yang tidak berhasil menghasilkan dan mengajukan caleg yang berkualitas akan kehilangan dukungan dari pemilih rasional.
Kedua, pemilih rasional akan membuat demokrasi menjadi transformatif. Selama ini, demokrasi di Indonesia hanya berfungsi sebagai proses agregasi preferensi dan aspirasi publik. Demokrasi di Indonesia belum mampu mentransformasi preferensi dan aspirasi elite. Pemilih yang rasional akan menolak elite yang hanya mengandalkan popularitas dan yang tidak mampu menampung dan menjawab aspirasi mereka.
Bagaimana kita membangun pemilih yang rasional? Yang jelas, kita harus mulai dari pendidikan politik buat pemilih. Pendidikan ini bukan cuma berkaitan dengan prosedur, tapi juga substansi. Pemilih harus dididik untuk mengetahui, bagaimana cara mengakses informasi politik dan mengolahnya, sehingga mereka bisa menilai secara baik kualitas pilihan yang tersedia dalam pemilu nanti. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar