Rabu, 10 Oktober 2012

Diskripsi Kota


Bagaimana suatu kota menjadi besar, terutama pengaruhnya terhadap daerah sekitarnya, akan menjadi pembicaraan pokok dalam Diskripsi Kota. Untuk melihat keadaan yang demikian, terlebih dahulu akan dibicarakan mengenai Pola Lokasi Kota berdasarkan luas dan ruang dari daerah perkotaan. Setiap Pola Lokasi Kota, timbul akibat perbedaan dari fungsi kota yang bersangkutan. Pola-pola yang ada, pada dasarnya ditandai dengan tersebarnya kota-kota itu di suatu wilayah yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Adapun Pola Lokasi Kota, pada umumnya dibedakan menjadi :
1.    Pola Liniair, yaitu kota-kota yang tersebar di sepanjang jalur transportasi.
2.    Pola Cluster, pola ini menunjukkan adanya ciri-ciri di mana terdapat pengelompokan kota dalam jumlah yang relatif besar.
3.    Pola Hirarkhi, pola ini mempunyai ciri-ciri di mana kota diatur berdasarkan kesamaan wilayah.

Di dalam pengembangan wilayah, pengaruh dari daerah perkotaan terhadap daerah sekitarnya tidak dapat diabaikan begitu saja. Semakin berkembang wilayah suatu kota, maka semakin luas pula wilayah pengaruhnya. Pengaruh kota terhadap daerah sekitarnya, biasanya tidak terlepas dari kegiatan atau fungsi yang ada di daerah perkotaan. Oleh karena itu, teori-teori yang berkaitan dengan pembangunan wilayah perkotaan, mencoba untuk menjelaskan bagaimana pengaruh kegiatan yang ada pada kota terhadap daerah sekitarnya (wilayah atau daerah pengrauhnya).

Berbicara mengenai Diskripsi Kota, ada empat teori yang saling berkaitan satu sama lain. Artinya, teori yang pertama akan menjelaskan teori yang kedua, yang kedua menjelaskan yang ketiga, dan teori ketiga menjelaskan teori yang keempat. Adapun teori-teori tersebut, adalah :
1.    ECONOMIC BASE THEORY
2.    LABOUR BASE THEORY
3.    CENTRAL PLACE THEORY\
4.    GROWTH POLE THEORY

ECONOMIC BASE THEORY  
Teori ini sangat tepat untuk membicarakan mengenai perencanaan pertumbuhan kota yang potensial dalam jangka panjang, terutama pada kota-kota yang mempunyai fungsi tunggal. Pada pokoknya, teori ini membicarakan tentang majunya perekonomian kota yang diakibatkan oleh sektor industri. Akibat lebih lanjut, menyebabkan arus urbanisasi yang semakin besar. Pada akhirnya, akan mendorong perluasan perencanaan pertumbuhan kota ke daerah sekitranya, terutama yang berkaitan dengan kegiatan pelayanan jasa dari bidang industri.

Menurut  THOMPSON, perkembangan kota yang awalnya mempunyai fungsi tunggal, berubah menjadi kota dengan fungsi ganda akibat dari pertumbuhan ekonomi kota yang didukung oleh kegiatan industri. Perkembangan kota itu sendiri terbagi dalam 5 (lima) tahapan, di mana masing-masing tahapan menjelaskan bagaimana peran industri dalam mendukung perekonomian kota, sehingga kota menjadi kota metropolitan pada tahap yang ke 5 (lima). Dengan semakin majunya perekonomian kota, baik yang didukung dari sektor industri maupun sektor pelayanan bidang industri, pada tahap selanjutnya terjadilah perluasan industri ke daerah pedesaan.

LABOUR BASE THEORY
Pada saat kegiatan industri di daerah perkotaan sudah tidak lagi mapu menampung pembangunan industri akibat mahalnya harga tanah di daerah perkotaan serta tingginya upah buruh, maka terjadilah perluasan kegiatan industri ke daerah pedesaan. Di mana kegiatan, ini mempunyai hubungan yang erat dengan perluasan perekonomian kota yang menuju pada pembangunan industri di daerah pedesaan. Pembangunan industri di daerah pedesaan, pada pokoknya bukan merupakan pembangunan perekonomian daerah pedesaan. Hal ini disebabkan, kegiatan di bidang industri merupakan pekerjaan utama bagi masyarakat pedesaan, sedangkan kegiatan pelayanan di bidang industri tidak dimiliki oleh masyarakat pedesaan. Dengan demikian, secara normal dapat dikatakan bahwa, kegiatan industri di pedesaan menarik ”income in elastic industry”, di mana industri tidak menggunakan seluruh waktunya seperti di daerah pedesaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar