Rabu, 10 Oktober 2012

Konsep Kesehatan


Setidaknya terdapat 3 pendekatan untuk mendefinsikan konsep kesehatan :

  1. Pendekatan Biomedik

          “ Kesehatan didefinisikan sebagai ketiadaan penyakit (disease) atau  
            malfungsi fisik”

Menurut Wolinsky (1988) model biomedik menampilkan 4 asumsi dalam memberikan pemahaman tentang health dan illness.

(a). Kehadiran penyakit; diagnosisnya dan treatment merupakan fenomena obyektif yang menyeluruh. Gejala dan tanda-tanda menampilkan informasi yang akurat dan diagnosis yang valid.
Ada kritik   : asumsi ini bisa keliru. Sebab studi menemukan bahwa latar belakang budaya individu memberikan pengaruh tidak hanya berkaitan dengan reaksi terhadap gejala tetapi juga bagaimana gejala tersebut dilaporkan pada tenaga medis. Akhirnya gejala yang nampak juga memberikan pengaruh terhadap diagnosa (Zola dan Mechanic :1980).

(b). Hanya orang professional kedokteran yang mampu/ capable mendefinisikan health dan illness. Tapi kenyataan  menunjukkan bahwa pasien/ significant others juga turut terlibat dalam proses penentuannya. Termasuk juga dalam memperoleh diagnosis dan treatment.

(c). Health dan Illness seharusnya tidak hanya didefinisikan dalam term malfungsi dari fisik semata. Sebab manusia tidak hanya makhluk biologis/ fisik tetapi makhluk sosial dan memiliki perasaan (psikologis) dan konsep kesehatan melibatkan seluruh aspek tersebut.

(d). Kesehatan tidak hanya ketiadaan penyakit. Artinya definisi hanya terpaku pada malfungsi dari organ tubuh dan penyakit saja tapi mengesampingkan perhatian pada masalah kesehatannya. Banyak studi dilakukan hanya konsentrasi pada penyakitnya bukan masalah kesehatannya.


  1. Pendekatan Psikologis

Pendekatan ini memfokuskan perhatian pada individu yang secara subyektif membuat evaluasi terhadap kesehatan mereka sendiri. Pendekatan ini mencakup:

(a). Pleasureable involvement : (the good feelings related with personal accomplishments and interesting daily activites) 
(b). Longterm satisfaction : (the longer lasting happiness related with positive personal; familial; and work situations)
(c). The absence of negative affect : (unhappiness; loneliness; and critism from others)


  1. Pendekatan Sosiologis/ sosio cultural

          Pendekatan ini mengembangkan definisi alternative tentang kesehatan dengan menitikberatkan pada aspek sosio cultural berkaitan dengan kesehatan dan rasa sakit.
Pendekatan ini menitik beratkan pada : (a) kemampuan seseorang menampilkan peran dan tugas secara baik dan (b). adanya perbedaan masyarakat dalam mendefinisikan health dan illness.

(a). Kemampuan menampilkan peran dan tugas

Talcott Parson : kesehatan dipandang sebagai kemampuan mengikuti norma sosial. Parson (1972) mendefinisikan kesehatan sebagai kemampuan optimal individu untuk menampilkan secara efektif tugas dan peran yang telah disosialisasikan.
Definisi lebih pada aspek sosial daripada malfungsi fisik. Kesehatan juga didefinisikan sebagai kemampuan mengisi peran dan semua aspek yang terdapa pada individu yang berpengaruh terhadap partisipasi sosial.

(b). Perbedaan masyarakat dalam mendefinisikan kesehatan

Twadle (1974) melihat definisi kesehatan lebih ke arah criteria sosial dibandingkan fisik.
Menurut Twadle : health dan illness dalam masyarakat sangat relative definisinya, artinya menurut seseorang sehat tapi orang lain mempersepsi tidak sehat. Persepsi tentang sakit akan berbeda menurut culture dan struktur sosial dalam masyarakat.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa faktor sosial mempengaruhi  individu dalam mendefinisikan status kesehatan. Artinya definisi kesehatan bisa dipengaruhi oleh jenis kelamin (aspek gender), usia dan sebagainya.


Definisi Health menurut WHO (1986):

“Health as a state of complete physical, social, and mentall well-being”.

Menurut  WHO kesehatan mencakup kemampuan seseorang untuk mengatasi/menyelesaikan kegiatan sehari-hari dan menjadi manusia yang berfungsi secara baik/ penuh baik secara fisik, sosial maupun emosi. Kesehatan merupakan sumber bagi kehidupan sehari-hari.

Pengukuran Status Kesehatan.  

John Ware (1986) menyebutkan adanya 6 dimensi untuk mengukur status kesehatan:

(a). Physical Fungtioning : memfokuskan pada keterbatasan fisik berkaitan dengan kemampuan perawatan diri sendiri; mobilitas dan partisipasi fisik serrta kemampuan melakukan aktivitas/ tugas sehari-hari.

(b). Mental Health : Fokus pada perasaan cemas (anxiety) dan depresi (depression); kondisi psikologis dan control terhadap emosi dan perilaku.

(c). Social well beings : focus pada faktor interaksi sepertti; kunjungan dengan atau berbicara melalui telepon dengan teman dan familiy.

(d). Role functioning : focus pada situasi kebebasan dari  keterbatasan berkaitan dengan aktivitas peran yang dilakukan sehari-hari seperti pekerjaan atau sekolah.

(e). General health perceptions: focus pada persepsi dan kondisi kesehatan diri secara umum dan sejumlah rasa sakit yang pernah dialami.

(f). Symptoms memfokuskan pada catatan fisik dan psikis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar