Rabu, 10 Oktober 2012

Growth Poles Theory


Teori ini merupakan syarat pokok yang lebih baik dari beberapa konsep yang berhubungan dengan pembangunan perekonomian suatu wilayah, guna mendapatkan gambaran yang penting tentang kota. Secara teori maupun empirik, GROWTH POLES THEORY ini sangat baik digunakan untuk pembangunan perekonomian wilayah dibandingkan dengan ECONOMIC BASE THEORY  dan LABOUR BASE THEORY. Secara konseptual, GROWTH POLES ini sangat sesuai terutama dalam proses pertumbuhan ekonomi wilayah di negara berkembang. Banyak contoh telah menggunakan teori ini untuk menguraikan atau lebih menekankan pada perkembangan wilayah, di dalam konteks dari kehidupan kota-kota secara hirarkhi.

BERRY menghubungkan perkembangan wilayah dengan proses penyebaran inovasi, di mana inovasi baru disebarkan ke pusat-pusat yang lebih kecil. Selain itu, pusat pertumbuhan dapat digunakan untuk merencanakan perembesan ke daerah-daerah pinggiran secara efektif di dalam wilayah metropolitan. Dari keadaan di atas, timbul perubahan substansi pada daerah yang dipengaruhi, bukan pada industri, tetapi pada pemilihan tempat tinggal atau pemukiman yang bersih, aman dan bebas dari gangguan jalur transportasi. Hal ini menurut BERRY, akan menimbulkan akibat pada integrasi ekonomi keruangan yang begitu hebat.

PERROUX, yang pertama kali mengembangkan teori ini berdasarkan pengamatannya terhadap proses pembangunan. Sebenarnya, ia mengakui bahwa pembangunan di mana-mana tidak terjadi secara serentak, tetapi muncul di tempat-tempat tertentu dengan intensitas berbeda. Tempat-tempat itulah yang dinamakan dengan titik-titik pertumbuhan atau kutub-kutub pertumbuhan (GROWTH POLES). Dari sinilah pembangunan akan menyebar melalui beberapa saluran dan mempunyai akibat akhir yang berlainan untuk perekonomian secara keseluruhan.

Implikasi perencanaan GROWTH POLES ini terbukti berguna untuk segala kawasan, dan menunjukkan adanya perubahan yang signifikan di dalam kebijaksanaan pembangunan wilayah. Secara teori, adalah dinamik dan sesuai untuk semua tahapan dari proses pembangunan, di mana pendekatannya sangat realistis terutama untuk beberapa pendekatan tingkah laku pada prioritas waktu untuk alokasi sumber alam. Seperti dikatakan oleh PERROUX bahwa, pertumbuhan ekonomi suatu wilayah tidak seimbang tetapi terpusat secara disproporsional pada daerah-daerah tertentu. Tetapi efek dari perkembangan yang memusat dapat diawasi bentuk elemennya – propulsive industry – di mana menimbulkan pertumbuhan. Pertumbuhan menjadi besar dan cepat, sehingga derajat interaksinya sangat kuat (berhubungan dengan penjualan dan pembelian). Juga menambah pertumbuhan dari daerah yang bersangkutan, sehingga kutub-kutub pertumbuhan menjadi ekonomi metropolitan. Hal Ini disebut dengan Circulair and Cumulative Causation.

Pada keadaan yang demikian, pelayanan menjadi faktor infra-struktur yang penting di dalam mendorong konsentrasi dari kegiatan di negara-negara di mana industri kurang berkembang, juga menyesuaikan dengan rangkaian perkembangan ini. Banyak contoh bahwa, pendekatan GROWTH POLES telah digunakan untuk menguraikan proses perkembangan di dalam konteks dari kehidupan kota-kota secara hirakhi. Di mana perencanaan kota sebagai point yang berkenaan dengan penekanan perkembangan wilayah perkotaan. Di mana dalam proses pertumbuhan dari wilayah pusat (Core Region) lambat laun dipindahkan ke wilayah pinggiran (Peripheral Region). Dengan adanya pemindahan pusat kegiatan ini, muncul 6 (enam) akibat :
1.    akibat yang dominan (sumber-sumber alam yang ada di daerah pusat dipindahkan).
2.    akibat informasi (kecepatan interaksi dan inovasi pada daerah pusat).
3.    akibat psikologi (penampakan dan perkiraan yang lebih besar yang berhubungan dengan wilayah pusat).
4.    akibat modernisasi (mendukung perubahan lingkungan sosial).
5.    akibat linkage (akibat circulair and cumulatiove causation).
6.    aibat produksi.

Menurut HAN REDMANA, di dalam membahas teori ini harus mendasarkan diri pada teori CENTRAL PLACE – nya WALTER CHRISTALLER, di mana menurutnya teori GROWTH POLES ini digunakan untuk membahas perencanaan pembangunan nasional di Indonesia, yang pelaksanaannnya menggunakan pendekatan regional. Perencanaan pembangunan ini tidak lain adalah menyelaraskan antara ‘pembangunan nasional’ dengan ‘pembangunan regional’. Ini berarti bahwa, di dalam setiap kegiatan pembangunan, di samping pertimbangan-pertimbangan sektoral, harus pula diperhatikan pertimbangan-pertimbangan regional. Teori GROWTH POLES menyarankan perlunya untuk memusatkan investasi dalam sejumlah sektor kecil sebagai sektor kunci di beberapa tempat tertentu. Di dalam memusatkan usaha pada sejumlah sektor dan tempat yang kecil, diharapkan pembangunan akan menjalar ke sektor-sektor lain pada seluruh wilayah. Dengan demikian, sumber daya mineral dan manusia yang digunakan dapat dimanfaatkan lebih baik dan lebih efisien. Adapun sektor kunci yang dimaksudkan di sini adalah, sektor industri atau wilayah lain dengan kaitan ke belakang dan ke depan (backward and forward linkage). Sektor ini sering juga dinamakan dengan ‘kesatuan yang memimpin’ (leading sector) yang mempengaruhi perkembangan unit-unit lain dengan stimulasi ataupun hambatan.

Kesatuan yang memimpin tadi akan berubah menurut waktu, bergeser dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Di negara-negara maju, kegiatan-kegiatan tersebut mungkin saja dalam sektor jasa. Di samping itu, pengaruh dari leading sector memerlukan waktu tertentu untuk dapat dirasakan oleh sektor-sektor lainnya dan berbeda menurut sektor-sektornya, dan juga tergantung dari macam pengaruhnya. Faktor lain yang penting yaitu, reaksi penduduk terhadap sumber daya alam yang tersedia ; jika tidak ada reaksi, maka pembangunan tidak berhasil. Ringkasnya, teori kutub-kutub pembangunan itu meneranglan akibat dari sekelompok leading sector dengan istilah polarisasi. Isinya, proses pembesaran dari kutub atau makna komprehensifnya akibat stimulasi berasal dari integrasi ruang yang sedang berlaku.

Dari pembahasan di atas jelas bahwa, untuk penerapan teori GROWTH POLES, harus terlebih dahulu diketahui hirarkhi tempat-tempat pusat (CENTRAL PLACES). Tetapi, di samping untuk memilih kutub-kutub pertumbuhan diperlukan pengetahuan tentang peranan tempat pusat dalam waktu lampau, suatu pandangan ke depan dan pertimbangan-pertimbangan lokasi. Misalnya,  antara lain : keterjangkauan suatu tempat, tersedianya sumber daya dan perubahan dari perilaku dan sikap penduduk, serta aneka perubahan teknologi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar