Rabu, 10 Oktober 2012

Central Place Theory


Lahirnya kota menyebabkan kota memiliki 3 (tiga) fungsi, yaitu :
-      fungsi melancarkan pengawasan (administratif-politis)
-      fungsi sebagai pusat pertukaran (komersial)
-      fungsi memproses bahan sumber daya (industrial).
Untuk lebih mendapatkan gambaran yang nyata mengenai akibat perluasan ekonomi daerah perkotaan, khususnya mengenai kegiatan pelayanan yang diberikan oleh penduduk kota kepada penduduk daerah sekitarnya (hinterland), teori ini cocok untuk melihat kegiatan tersebut. Secara garis besar, teori ini menggambarkan tentang cara kerja yang secara konsepsi serasi untuk pengertian kota sebagai pusat pelayanan. Oleh karena itu, teori CENTRAL PLACE ini disusun untuk menjawab 3 (tiga) pertanyaan utama yang berkaitan dengan pengertian kota sebagai pusat pelayanan, yaitu  :  Apakah yang menentukan
(a)  banyaknya,
(b)  besarnya, dan
(c)  persebaran kota.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka digunakan konsep Range (jangkauan) dan Threshold (ambang). Oleh karena itu, perkembangan suatu pusat pelayanan akan sangat tergantung pada konsumsi barang dari penduduk sekitar kota. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi barang tersebut, adalah :
-      Penduduk (distribusi, kepadatan dan struktur).
-      Permintaan dan penawaran serta harga barang.
-      Kondisi wilayah dan transportasi.

Lebih jauh digambarkan bahwa, kota sebagai pusat wilayah yang komplementari dari daerah sekitarnya, sehingga kota merupakan pusat yang menyediakan dan melayani (goods and services) daerah sekitarnya (hinterland). Agar kota dan daerah sekitarnya benar-benar merupakan suatu sistem yang saling berhubungan, maka semuanya itu tergantung pada batas sampai di mana aliran pertukaran uang yang dikeluarkan penduduk daerah sekitar kota untuk mendukung penyediaan kebutuhan dan pelayanan yang diberikan oleh penduduk kota. Di sini, teori CENTRAL PLACE berhubungan dengan Lokasi, Luas dan Fungsi dari pusat-pusat pelayanan.

WALTER CHRISTALLER, mengakui adanya hubungan ekonomi antara kota dan daerah sekitarnya, di mana fasilitas pertukaran penyediaan kebutuhan dan pelayanan adalah menguntungkan. Pendapat tersebut, adalah merupakan pelengkap dari teori Lokasi yang dikemukakan oleh von THUNEN, di mana lahan pertanian mengelilingi pusat-pusat pasar ; dan teori WEBER, mengenai lokasi pabrik yang mengelilingi pusat-pusat pasar. Pada dasarnya, teori WALTER CHRISTALLER ini ditujukan pada kegiatan tersier dari segmen perekonomian yang dikembangkan oleh penduduk kota itu sendiri (segi pelayanan jasa). Dengan demikian, maka teori CENTRAL PLACE tidak lain adalah, daerah yang berbentuk atau berwujud penyediaan kebutuhan dan pelayanan untuk penduduk di sekitar kota.

Untuk mendukung teorinya itu, WALTER CHRISTALLER mengemukakan 4 asumsi guna memperjelas konsepsi mekanis mengenai pengertian tentang peran kota sebagai pusat pelayanan. Di samping itu, untuk mengetahui urutan pengertian teori CENTRAL PLACE, dikemukakan adanya beberapa elemen sebagai berikut :
1.   THRESHOLD
2.   RANGE OF GOODS AND SERVICES
3.   COMPLEMENTARY REGION
4.   CONTENT HIRARCHY
5.   CENTRAL GOODS AND CENTRAL SERVICES.

Perlu diketahui bahwa, tidak semua wilayah perkotaan dapat disebut dengan CENTRAL PLACE. Tetapi, untuk mengetahui bagaimana bentuk distribusi dari pelayanan, harus diperhatikan berbagai faktor lokasi yang mempengaruhi lokasi kota. Pada umumnya, faktor lokasi berpengaruh terhadap berbagai macam aktivitas manusia di perkotaan. Apabila CENTRAL PLACE ini dihubungkan dengan penyebaran penduduk suatu daerah sekitar kota ; jika dasar populasinya melebar, maka distribusi penyediaan kebutuhan dan pelayanan juga akan melebar. Apabila karena sesuatu sebab penyebaran populasinya tak sama, maka melebarnya penyediaan kebutuhan dan pelayanan juga tidak sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar