Minggu, 02 Februari 2014

Yahudi Dalam Politik Indonesia

Tak dapat ditampik lagi bahwa pengaruh bisnis Israel sudah masuk ke Indonesia. PT Bakrie and Brothers Tbk dan beberapa perusahaan dalam Kelompok Usaha Bakrie menandatangani perjanjian jual beli saham dengan Vallar Plc—perusahaan investasi milik Rothschild, salah satu keluarga bankir terkaya di dunia yang kita tahu  memegang peran penting dalam bisnis keuangan di Amerika Serikat. Bisnis Yahudi bukan hanya bekerjasama dengan Group Bakrie, sebagian sektor telekomunikasi Indonesia juga ditengarai sudah dimasuki kelompok bisnis Yahudi ini.  Bagi Yahudi, bisnis tak semata  mata bisnis untuk mencari keuntungan  namun ada tujuan pokok  dibaliknya yakni mengkooptasi kekuasaan. Mereka berusaha menancapkan kuku kekuasaannya di seluruh dunia untuk memuluskan ide besar mereka membangun tata pemeritahan tunggal dengan mendompleng politik luar negeri adidaya ini. Novus Ordo Seclorum yang berada di bawah Kendali Zionisme Internasional inilah yang bergerak melalui kebijakan luar negeri Amerika Serikat.  Upaya mengkooptasi kekuasaan, bahkan dengan cara makar sekalipun, pernah dilakukan Dinasti Yahudi di negara-negara Eropa dan Amerika. Awalnya lewat pengusaan lewat sektor bisnis strategis, seperti telekomunikasi, sumber daya alam, perbankan, persenjataan, pertaniaan, dan sebagainya, yang berujung pada kooptasi kekuasaan.
Jika kita menengok sejarah Indonesia, Tjarda van Starkenborch Stachouwer adalah Gubernur-Jendral pemerintahan kolonial Hindia Belanda  yang ke 66 dan  yang memerintah dari tahun 1936 – 1942, secara resmi disebut berasal dari keluarga bangsawan Oranye, namun ditengarai memiliki darah Yahudi. Pada masa pemerintahannya banyak berdatangan bangsa Yahudi dari  wilayah Arab (waktu itu belum berdiri negara Israel) baik sebagai penguasaha, pedagang maupun bergabung kedalam pasukan KNIL. Diantara pasukan KNIL yang berasal dari kaum Yahudi ini kemudian bergabung  kedalam pasukan TNI.  Artinya, bahwa nyatanya kaum Yahudi ini telah membaur dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebagaimana etnis China sejak berdirinya NKRI.  Kehidupan sosial masyarakat yang terbuka seperti bangsa Indonesia pada dasarnya tidak membedakan asal usul kebangsaan, tidak sebagaimana ajaran Islam yang meyakini bahwa bangsa Yahudi adalah musuh agama.  Antara realitas kehidupan masyarakat dan pandangan ajaran agama memungkinkan bangsa Yahudi ini hidup secara tenang di Indonesia. Dalam pemahaman sosiologi politik dalam pandangan liberal, seseoang berhasil menjadi pemimpin memerlukan syarat bahwa dia harus pandai, kaya, kuat dan licik. Apabila syarat itu dimiliki oleh kaum Yahudi, mereka mampu memimpin di Indonesia menjadi sebuah kewajaran. Artinya, keberhasilan bangsa Yahudi menguasai bangsa Indoesia akan tergantung dari bangsa Indonesia  juga. Jika bangsa ini mampu mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat, bukan tidak mungkin mereka juga mampu mengendalikan kebijakan pemerintah Indonesia.
Memang sudah sejak lama, banyak analis meyakini bahwa kelompok lobi Zionis sangat berpengaruh di AS dan mampu mengendalikan kebijakan-kebijakan luar negeri AS.  Berbagai tulisan sudah mengungkap tentang hal ini, dan yang terbaru ditulis oleh Henri Astier yang dimuat di BBC. Dalam artikel yang berjudul “US Storm Over Book on Israel Lobby“, Astier menulis bahwa banyak komentator yang membantah kuatnya lobi Zionis di pemerintahan AS, meski banyak fakta yang membuktikan bahwa kalangan Yahudi AS telah memainkan peran yang sangat besar, meski jumlah mereka sedikit hanya sekitar 2 persen dari jumlah populasi AS. Dalam artikelnya Astir juga menulis, “Bagaimana lobi itu dilakukan ? Apakah pengaruhnya benar-benar legendaris atau hanya legenda ? Dua akademisi AS, John Mearsheimer dari Universitas Chicago dan Stephen Walt dari Universitas Harvard, punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan akibatnya memicu kontroversi. “ Dalam bukunya berjudul “The Israel Lobby and US Foreign Policy” kedua penulis AS itu menulis bahwa AS harus menjelaskan alasannya mendukung Israel. AS selama ini memberikan bantuan sebesar 3 milyar dollar per tahun atau sekitar seperenam dari anggaran bantuang langsung AS, untuk keperluan militer Israel. Tapi menurut Mearsheimer dan Walt, AS hanya mendapat keuntungan sedikit dari kebijakannya itu dan mereka menolak pendapat yang mengatakan bahwa Israel adalah sekutu kuat AS dalam “perang melawan teror.” Menurut analisa Mearsheimer dan Walt dalam bukunya, lobi-lobi Israel terutama berpengaruh pada finansial dan keengganan AS untuk mengkritik Israel. Mereka menambahkan, sama seperti kelompok-kelompok kepentingan lainnya, lobi Israel juga mempengaruhi perdebatan di kalangan politisi dan komentator yang mengecam Israel, namun lobi Israel menyebarkan pengaruhnya dengan efektif dan mainstream media  membalikkan opini negative kepada kedua penulis ini.  Sebagaimana seperti yang terjadi selama ini, Amerika Serikat tetap melanjutkan kebijakan luar negerinya terhadap konflik Timur Tengah yang menguntungkan Israel.
Keberhasilan bangsa Yahudi menguasai Indonesia sesungguhnya sangat tergantung dari karakter bangsa Indonesia sendiri. Mental korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah terbentuk sejak zaman pemerintahan kolonial ini menjadi lahan empuk masuknya kekuasaan  bangsa asig termasuk bangsa Yahudi. Terlebih, selama bangsa ini tidak dapat mensejajrkan dengan bangsa lain terutama dalam ekonomi, ketergantungan ekonomi ini menjadikan bangsa Indonesia mempunyai bargaining yang rendah terhadap bangsa lain.  Seperti halnya terhadap Singapura yang menjadi tempat perlindungan para koruptor atau menggadaikan wilayah udara Indonesia kepada malaysia dengan alasan bisnis adalah sebagai bukti lemahnya bargaining pemerintah saat ini.  Belum lagi soal wilayah perbatasan yang masih terjadi silang sengketa, semakin menggambarkan bahwa krisis moneter yang dialami oleh Indonesia  telah berimbas pada martabat bangsa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar