Selasa, 11 Februari 2014

Manusia yang Sempurna (Abraham H. Maslow)

Salah satu teori yang klasik dan abadi adalah yang dikembangkan Abraham Maslow tentang konsep pribadi yang teraktualisasi (self-actualizing people) dan keterkaitannya dengan motivasi seseorang dalam menghadapi situasi pribadinya yang dipengaruhi oleh kondisi sosial-politik di masyarakat maupun lingkungkungannya. Konsep aktualisasi diri merupakan pemikiran yang dikembangkan oleh Abraham Maslow mengenai bagaimana manusia dapat mengembangkan potensi diri untuk menjadi manusia yang sempurna.
Manusia yang dapat mengembangkan diri menjadi manusia yang sempurna –menurut Abraham Maslow- adalah manusia yang mampu mengaktualisasikan seluruh potensi terbaiknya. Abraham Maslow melakukan penelitian pada orang-orang yang luar biasa untuk melihat bagaimana seseorang dapat menjadi manusia yang teraktualisasi. Proses aktualisasi ini merupakan perkembangan atau penemuan jati diri dan mekarnya potensi yang ada atau terpendam pada setiap orang.
Beberapa ciri umum orang luar biasa atau orang yang sempurna atau orang bisa mengakttualisasikan diri menurut Abraham Maslow adalah kemampuan mereka melihat hidup secara jernih, apa adanya, dan bukan menurut keinginan mereka. Mereka tidak bersikap emosional melainkan bisa melihat secara obyektif. Memiliki sikap yang lebih tegas, memiliki pemahaman yang jelas tentang benar dan salah. Memiliki sikap rendah hati dan mampu mendengrakan orang lain. Persepsi yang dimilikinya mampu sedikit dicemari oleh hasrat-hasrat, kecemasan, ketakutan, harapan palsu dan pesimisme.
Orang yang teraktualisasi membaktikan hidup pada pekerjaan, tugas, kewajiban dan panggilan tertentu yang dianggap penting. Memiliki sifat kreatif, fleksibel, spontan, berani membuat kesalahan, terbuka dan rendah hati. Mereka memiliki kadar konflik yang rendah dan suka pada manusia. Secara alami mereka menjadi berang (marah) terhadap hal-hal yang dianggapnya melanggar kebaikan atau keadilan. Mereka orang-orang yang otonom, tidak tergantung pada orang lain, tapi juga suka bergaul dan ramah.
Orang-orang yang teraktualisasi diri lebih gembira dan bahagia. Lugas dan kurang suka basa-basi, serta punya rasa harga diri yang tinggi. Orang-orang yang sempurna selalu ingin memahami. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas, bukan hanya pada hal-hal yang intelektual, tetapi juga musik dan kebudayaan.
Sebaliknya dengan keadaan yang membentuk manusia menjadi manusia yang sempurna adalah keadaan yang membentuk manusia yang mengalami skeptisme, nihilisme, anomi, alienasi, dan apatisme. Apatisme dan skeptisme terjadi karena orang mengalami keterasingan dari lingkungannya dan tidak dapat menemukan harapan dari tatanan sosial dan politiknya.
Motivasi manusia menurut Maslow adalah melakukan aktualisasi diri dan hanya dapat sampai pada tahap tersebut bila hirarki kebutuhan dasar terpenuhi. Mengenai konsep motivasi dipaparkan oleh Abraham Maslow dalam bukunya yang berjudul “Motivation and Personality” sebagai konsep “metamotivation” yaitu motivasi yang digerakkan oleh kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi yaitu berupa hasrat manusia untuk mencapai nilai-nilai hidup.
Abraham Maslow menggambarkan hirarki kebutuhan manusia yang terkenal dengan skema gambar berikut ini. Hirarki ini tidak berlaku kaku, namun secara relatif perlu dipenuhi terlebih dahulu kebutuhan yang paling dasar sebelum seseorang dapat mengaktualisasikan diri.
Orang yang digerakkan oleh motivasi yang kuat dan mampu mengaktualisasikan diri lebih bahagia. Bahagia atau kebahagiaan merupakan konsep politik yang menarik. Konstitusi Amerika menyatakan bahwa kebahagiaan adalah hak (the right to pursuit the happines). Apakah yang bisa membuat seorang bahagia? Manusia akan bahagia apabila kemanusiaannya hidup dan berkembang. Tidak tertindas. Dalam konsep Hak-hak Asasi Manusia (HAM), kemanusiaan yang paling mendasar adalah terpenuhinya hak-hak dasar, baik hak ekonomi, sosial, budaya maupun politik.
Untuk Negara berkembang seperti Indonesia, memang pertanyaan ini susah dijawab: mana yang seharusnya lebih dahulu, mensejahterakan masyarakat dulu (ekonomi) atau deemokratisasi dulu?.
Kalau melihat teori hirarki kebutuhan memang kebutuhan fisik yang meliputi kebutuhan dasar terlebih dahulu yang harus dipenuhi. Tetapi tidak selalu harus berurutan demikian. Kebutuhan untuk hal-hal yang lebih tinggi seperti rasa aman, penghargaan, dan harga diri adalah milik semua orang, termasuk orang-orang miskin yang hak-hak dasarnya belum terpenuhi.
Reformasi itu sendiri merupakan hasil gugatan nilai-nilai karena lebih banyak digerakkan oleh kalangan mahasiswa dan activist ketimbang rakyat.
Bila kita merunut kembali tuntutan perubahan Indonesia menjadi Negara (yang menuju) demokrasi yang mengemuka pada era Orde Baru adalah menggugat kekuasaan mutlak dan diktatorial selama 32 tahun oleh rejim militer Soeharto, tidak adanya pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif, sensor pers dan pengekangan hak politik rakyat, Pemilu yang tidak Jurdil, represi terhadap oposisi dan suara kritis yang sama sekali tidak ditolerir saat itu, monopoli ekonomi, serta kesenjangan sosial yang mencolok.
Sesudah reformasi, apakah manusia Indonesia tetap dapat mengembangkan diri sebagai manusia yang sempurna dalam situasi saat ini? Bagaimana manusia Indonesia mensikapi situasi yang terjadi sekarang dan bagaimana memandang masa depannya? Ataukah manusia Indonesia semakin terpuruk dalam situasi apatis, skeptis, anomi dan teralienasi yang berkelanjutan. Ataukah kemudian masyarakat yang demikian akan melahirkan gerakan perlawanan untuk melahirkan perubahan? Masa depan Indonesia itu akan seperti apa?.
Masyarakat Indonesia belum dioptimalkan potensinya agar bisa menjadi manusia yang teraktualisasi dengan sempurna sehingga memiliki motivasi dan metamotivasi yang dapat menggerakkan seluruh potensinya untuk bisa berkembang selain bagi kebahagiaan dirinya juga untuk memajukan masyarakat dan menjadi warga negara yang memiliki kapasitas sebagai asset Bangsa dan Negara.
Skeptisme dan apatisme masyarakat Indonesia –misalnya terhadap politik dengan semakin tingginya angka Golput dalam Pilkada maupun Pemilu yang terakhir- menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia merasa tidak perlu mengekspresikan sikap politiknya yang merupakan kebutuhan di wilayah metamotivasi.
Fenomena populernya Jokowi dan dukungan masyarakat yang besar terhadap figur yang “melawan arus” dan menjadi anomail terhadap realita buruknya citra kalangan politisi dan pemimpin di Indonesia menunjukkan bangsa Indonesia punya sikap nilai terhadap lingkungan sosial-politik. Sehingga sikap Golput itu dapat diartikan sebagai sikap nilai juga untuk “melawan” atau menantang ketertindasan yang dialami dengan buruknya sistem politik dan kepemimpinan di Indonesia saat ini. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia punya kesadaran kritis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar