Selasa, 11 Februari 2014

Makelar Politik

Saya akan berkisah seputar sebuah novel. Namun jangan kaget, novel ini belum pernah terbit, masih dalam bentuk draft, dan saya belum pernah membacanya. Kisah di seputar novel itulah yang sempat menyita perhatian saya. Gelombang yang diakibatkan oleh novel itu, sampai ke saya.
Penulis novel ini seorang aktivis muda. Ia keluar dari dunia aktivis dengan membawa segumpal rasa kecewa. Salah satunya, dan mungkin yang paling utama adalah karena sebagian besar teman-temannya telah berpindah haluan menjadi para makelar politik. Ia kemudian bekerja di sebuah rumah penerbitan, menjadi penyunting buku. Di tengah kesibukan dan rutinitasnya, ia menulis sederet cerita pendek dan sebuah novel.
Beberapa cerita pendeknya dilansir di beberapa milis, terutama di milis-milis yang diikuti oleh para ‘mantan’ teman-temannya yang telah bersalin dunia. Dengan segera, si penulis diserang dari segala penjuru, diserbu ramai-ramai. Pada tahun-tahun itu saja, menyebut nama si penulis di tengah para mantan aktivis yang telah menjalani dunia makelar politik, berarti memantik umpatan panjang dan ceracau liar.
Untungnya, si penulis bermental baja. “Balas karya dengan karya,” begitu selalu ia menjawab setiap kerkahan yang ditujukan kepadanya.
Seorang kawan saya, yang kebetulan penyuka sastra dan pernah membaca cerpen-cerpen si penulis mengatakan kalau bahasa yang digunakan di dalam cerpen-cerpen itu terlampau kasar. “Nyaris tidak ada nilai sastranya….” ujar teman saya.
Tetapi teman saya yang lain, mantan aktivis yang kini bekerja di sebuah LSM mengungkapkan, tidak penting soal bahasa yang dipilih oleh si penulis. Namun isi cerpen-cerpen itu merupakan dokumen sosial yang sangat penting untuk melihat peta politik pasca gerakan ’98.
Ketika si penulis menyelesaikan novel debutannya, dunia makelar politik politik kembali geger. Novel itu, kata beberapa teman saya yang pernah membaca draftnya, jauh lebih tajam dan tentu saja lebih lengkap menyisir peta dunia makelar politik yang digeluti oleh para mantan aktivis mahasiswa. Reaksi kembali berhamburan. Kali ini bahkan diikuti dengan berbagai ancaman.
Saya pernah berkeinginan untuk membantu menerbitkan novel dan antologi cerpen si penulis. Baru sebuah niatan. Ternyata, bahkan ketika niatan saya itu didengar oleh beberapa orang, segera saya menerima banyak sekali pesan pendek. Tentu saja dari para makelar politik. Ada yang bilang, apa gunanya saya membantu menerbitkan novel dan cerpen-cerpen sampah? Ada pula yang berkata bahwa saya berada di pihak si penulis. Dan yang lebih konyol lagi, tiba-tiba saya dituduh sebagai orang yang hendak menghancurkan karir banyak orang.
Di dalam hati, tentu saja saya tertawa. Pertama, jika saya ingin membantu menerbitkan novel dan antologi cerpen itu, tentu saya tidak akan memperdulikan reaksi orang-orang. Saya orang yang nyaris tak pernah ambil pusing dengan segala tetek-bengek yang saya anggap tak berguna untuk didengar. Kedua, sampai detik ketika tulisan ini saya kerjakan, saya belum mendapatkan sebuah rumah penerbitan pun yang mau menerbitkan karya-karya tersebut. Tetapi teman dekat saya, sudah mulai ancang-ancang untuk menerbitkan kedua buku itu, justru karena ia merasa berempati dengan si penulis yang digasak kanan-kiri.
Baiklah. Mari kita bersama-sama merenungkan hal tersebut di atas. Dulu, semua aktivis bicara soal demokrasi, termasuk kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat. Tetapi giliran ekspresi dan pendapat tersebut mengancam mereka, sekelompok orang yang dulu berkoar-koar itu justru masuk ke dalam lingkaran apa yang dulu sering dibilang dengan nada sinis. Reaksioner.
Setiap makelar politik pasti mempunyai alasan masing-masing mengapa memasuki gelanggang itu. Mereka sudah dewasa, sudah bisa memilih dengan merdeka jenis profesi yang digeluti. Kalau kemudian ada yang ingin membongkar jenis profesi itu, dan mereka marah, tentu saja patut mendapat pertanyaan. Mengapa? Jangan-jangan memang ada yang tidak beres di profesi itu, bukan?
Ketika saya menulis halaman-halaman ini, saya sepenuhnya sadar atas resiko yang akan saya hadapi. Akan ada banyak orang yang menyerang saya, dari mulai cara yang halus sampai cara yang kasar. Tetapi lagi-lagi saya tidak peduli. Setiap orang berhak mengerjakan apa yang dipikirnya baik, dan harus siap menanggung seluruh resikonya.
Ketik saya bertemu dengan kawan lama saya, yang mulai ingin menceburkan diri ke dalam dunia makelar politik, tentang serangkaian tulisan saya mengenal dunia tersebut, ia mengerutkan kening dan bertanya, “Untuk apa?”
“Supaya banyak orang yang tahu,’ jawab saya.
“Semua orang tahu dunia itu. Kamu jangan sok tahu.”
“Kamu yang sok tahu dengan beranggapan bahwa semua orang tahu,” sahut saya enteng.
“Mending kamu gunakan energimu utnuk menulis hal-hal yang lebih baik lagi,” ia berusaha mengalihkan masalah.
“Ini hal yang sekarang ini kupikir baik.”
“Kamu harus belajar dari sejarah dan kenyataan, sejarah bangsa ini kan sejarah para makelar. Dan kenyataannya, makelar itu ada di mana-mana. Kami ini kan hanya pemain-pemain anyar, baru kelas kecil-kecilan.”
Saya tidak sedang ingin berpikir soal pernyataannya yang mengatakan bahwa sejarah bangsa ini adalah sejarah para makelar. Juga kenyataan bahwa ia dan teman-temannya baru pemain anyaran. Persoalannya, saya ingin menuliskan itu, karena saya pikir itu penting. Titik. Selesai.
Dan ia melanjutkan ucapannya, “Apa gunanya sih mencari musuh? Apalagi itu teman-teman kita sendiri…”
Saya menggelengkan kepala, dan tetap mengatakan bahwa saya tetap akan menerbitkan tulisan-tulisan tentang makelar politik.
Setelah sejenak ia terdiam, ia mendekatkan kepalanya ke kepala saya, sambil mengatakan bagaimana kalau yang saya sikat adalah makelar-makelar di kubu tertentu saja. Dengan begitu, kata dia, saya bahkan bisa mendapatkan keuntungan. “Aku carikan nanti uang untuk menerbitkan buku itu.”
Di dalam hati, saya tertawa ngakak. Ah, dasar makelar politik……. Bahkan apapun hendak ia jual. Tetapi ia lupa, ada banyak hal di hidup ini yang tidak bisa dijual dan tidak bisa dibeli.
Saya tersenyum, dan menggelengkan kepala saya keras-keras. Ia kecewa, itu saya tahu. Tetapi lagi-lagi, saya tidak peduli.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar