Sabtu, 08 Februari 2014

Sulit Menemukan Keluhuran Politik di Negeri ini

Bicara soal politik banyak masyarakat sudah menjadi apatis dengan iklim perpolitikan di Negeri ini itu karena keburukan citra yang diperanakan oleh beberapa Politisi itu alasanya citra Politik menjadi buruk di beberapa masyarakat. Untuk menelusuri kebenaran hipotesis ini terlalu mudah untuk ditelusuri dari atas sampai kebawa bangsa ini cukuplah referensi tentang buruknya cintra politik yang di perankan actor-aktor bangsa ini. hampir semua aspek social seperti, ekonomi social budaya, rumpun politik tampa prinsip ini berkembang biak seolah-olah menjadi sebuah kewajiban tampa memandang ia sedang memegang kendali yang luhur, di Indonesia realitas yang terkadang mengatakan kepada kita bahwa politik itu kotor, di dalamya terdapat KKN pemaksaan kepetingan jual beli suara bahkan sekalipun hukum di rupiakan, politik digambarkan sebagai alat yang tepat dalam pemenuhan hasrat dengan kesewenang-wenangan.
Pendidikan tentang etika yang di mulai dari orang tua kemudian ke jenjang pendidikan dan lingkungan masyarakat menjadi tak bermakna saat sudah meraih posisi penting dalam sebuah masyarakat. Ini mungkin menurut analisis penulis salah satu teka teki tentang manusia, di mana manusia berproses begitu lama dalam membekali diri dengan harapan ia bisa menjadi baik dan bisa teranggap dalam sebuah komunitas ternyata hal demikian hanya kebanyakan tejadi dimana ia baru memulai sebuah misi. Kekuasaan ketika menjadi sebuah tujuan utama tidaklah masalah dan itu dambaan bagi banyak orang namun kekuasaan mestinya dilihat sebagai salah satu tanggung jawab social, melekatnya sebuah identitas kekuasaan dalam diri seseorang menjadi tanda di mana ia telah menjadi lider bagi orang yang “dikuasainya” kekuasaan bukan dimaknai sebagai tindakan kekuasaan yang agresif arogan yang pada akhirnya memunculka keserakaaan terhadap sesuatu, jika hal ini terjadi maka hak orang lain sekalipun bisa di raih lewat kekuasaan tersebut.
Matinya keluhuran Politik sebagian besar dimatikan oleh orang-orang yang menganggap dirinya paham betul tentang politik, politik jika dilihat cara kerjanya memang ia tak menginginkan pikiran netral ia tetap ingin lebih, kompetisinya sangat jelas bahwa bermain dalam iklim politik mestinya pandai dalam memainkan strategi. Ada anekdot juga yang mengatakan bahwa jika seorang anak diwaktu kecil ia menyenangi permainan mobil-mobilan atau bongkar pasang berarti kelak ia sekolah masuknya di tehnik, seorang anak jika ia suka gambar corat coret tembok berarti sekolah nanti dimasukan ke sastra seni, namun jika anak suka mengambil uang orang tuanya dengan sembunyi maka tempatnya di politik hehehe hal ini semakin menciderai citra politik, penulis kurang paham betul bahwa apakah anekdot ini betul, dan apa pula kaitanya dengan politik? Sejauh ini belum ada survey tentang hal demikian, apakah memang politisi sebelum manggung memang sudah sering ‘nakal’ di saku ayah ibunya, sejauh ini yang penulis tau Gubernur hingga Presiden harus berbekal Surat Keterangan Kelakuan Baik dari Polres.
Dalam literatur, kata “politik’ yang berasal dari bahasa Yunani mempunyai makna yang berkaitan dengan serba keteraturan, keindahan dan kesopanan bagi warga kota. Maka tugas utama polisi, kata yang serumpun dengan politik, adalah menjaga keteraturan dan keindahan kota (polis) sehingga prilaku polisi harus selalu santun (polite). Pada perspektif ketatanegaraan, keteraturan dan kesantunan hidup bersama itu dijaga dan diperjuangkan oleh para politisi. Begitu luhurnya ilmu dan misi politik, sehingga Aristoteles menyebutnya sebagai seni tertinggi untuk mewujudkan kebaikan bersama (commond and highest good) bagi seluruh Negara. Mengapa politik meruapakn ilmu yang paling mulia dan menempati kedudukan yang tertinggi? Karena menurut Aristoteles dalam Nicomachean Ethics, semua ilmu cabang yang lain di bawah kendali dan akan melayani implementasi ilmu politik guna menciptakan kehidupan sosial yang nyaman, teratur dan baik.
Politik memang mengajarkan tentang bagaimana memperoleh kekuasaan namun politik juga mengajarkan bagaimana cara penggunaan kekuasaan yang etis. Kekuasaan enaknya adalah ia bisa digunakan dalam melakukan segalah hal termasuk menghalalkan segala cara untuk memnuhi hasrat pribadi, lalu bagaimana membangun politik yang beretika humanis, tidak menakutkan bersahabat. Untuk memunculkan ini semua tentunya dengan Politik yang punya ‘prinsip’ politik harus dilihat sebagai tanggung jawab (responsibility) dan amanah Tuhan dalam mengimplementasikan undang-undang, taat akan hukum mendengar aspirasi membantu yang lemah, dan juga bagaimana agar politik kekuasaan itu senantiasa direfleksikan bergandengan dengan dimensi kemanusiaa, jika hal ini benar-benar di ingat dan kemudian di terapkan maka keluhuran politik benar-benar dirasakan oleh manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar