Minggu, 02 Februari 2014

Amin Rais Mempertajam Kualitas Jokowi

Dunia politik bisa diibaratkan sebagai sebuah panggung sandiwara dengan aneka tokoh dan perannya masing-masing. Ada tokoh dan peran utama, ada tokoh dan peran figuran. Ada peran di depan layar ada peran di belakang layar. Tentu ada skenario dan sutradaranya juga. Yang dominan menjadi fokus perhatian penonton biasanya hanya dua tokoh sentral yakni: tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Tokoh protagonis biasanya memainkan peran yang mewakili unsur putih (positif), dan tokoh antagonis memainkan peran yang mewakili unsur hitam (negatif). Kebaikan tokoh porotagonis tidak akan menjadi semakin jelas, kabur, jika tokoh antagonisnya tidak serius memainkan perannya untuk memperjelas, menggunggat, mempertanyakan, dan menguji peran tokoh protagonis. Penonton akan semakin sulit menemukan keberpihakkan kepada tokoh protagonis, jika tokoh antagonis malah mengambil alih peran protagonis.
Panggung politik menjelang pilpres 2014 mulai menyuguhkan tokoh protagonis yang disukai penonton. Siapa lagi kalau bukan Jokowi yang disebut sebagai “Sang Media Darling” dan Sang Bintang yang menuai banyak penggemar fanatik. Jokowi memang sudah terlanjur mengambil peran protagonis sejak dari Solo menuju DKI Jakarta. Sebagai tokoh protagonis, Jokowi mewakili sisi putih, kebaikan, kebersihan, kesahajaan, yang disukai rakyat. Karena itu, dia menjadi populer dan elektabilitasnya pun kian meroket takterbendung. Apalagi untuk ibu-ibu yang suka nonton sinetron, figur Jokowi mewakili tokoh-tokoh pahlawan/protagonis di dalam film-film yang mereka sukai.
Nah, untuk semakin memperjelas, mempertajam, dan menguji kedalaman serta konsistensi peran protagonis Jokowi sangatlah diperlukan tokoh-tokoh yang ‘lihai’ dan ‘ahli’ dalam memainkan peran antagonis. Satu per satu bermunculan tokoh antagonis di pentas perpolitikkan jelang pilpres 2014. Ruhut Sitompul dan Amin Rais untuk saat ini bisa diidentikkan dengan tokoh antagonis yang tampil untuk menggugat, memperjelas, dan memperdalam ketokohon Jokowi.
Serangan betubi-tubi yang mereka lakukan terhadap Jokowi malah semakin memperjelas posisi peran protagonis yang dimainkan oleh Jokowi. Ruhut Sitompul yang meragukan kemampuan Jokowi untuk memimpin Indonesia, karena hanya seorang tukang mebel malah memperkuat keyakinan masyarakat Indonesia bahwa negeri ini butuh pemimpin yang punya hati seperti seorang tukang mebel. Rakyat pun semakin dibuat penasaran, mengapa seorang tukang mebel mampu memimpin Solo dan tembus menjadi Gubernur di Ibu Kota? Ada apa dengan seorang Jokowi? Di sini, Ruhut ikut mempertajam peran protagonis Jokowi.
Setelah Ruhut, muncul mantan anggota MPR RI, Amin Rais yang lebih jago memainkan peran antagonis dalam pentas pepolitikkan nasional. Tampilnya ketokohan antagonis sekelas Amin Rais merupakan berkah tersendiri untuk menguji ketokohan protagonis Jokowi. Serangan-serangan Amin Rais terhadap Jokowi mulai dari meragukan kadar nasionalismenya, seolah populer tanpa keberhasilan nyata, serta dianggap tidak mampu memimpin Indonesia malah semakin memperkuat keyakinan publik bahwa Jokowi memang pantas memimpin Indonesia. Publik dibuat penasaran untuk mencari bukti-bukti kebenaran dari pernyataan Amin Rais. Ketika publik sampai pada fakta bahwa apa yang disampaikan oleh Amin Rais malah justru sebaliknya, maka kemantapan peran protagonis yang dimainkan oleh Jokowi terasa semakin gamblang untuk Indonesia.
Ruhut Sitompul dan Amin Rais memainkan peran antagonisme politik bagi Jokowi. Dalam teori sosiologi politik dikenal juga istilah  antagonisme politik (dipopulerkan oleh Maurice Duverger). Antagonisme politik ini bisa dimainkan secara individual juga bisa dimainkan seca kolektif. Secara individual bisa disebabkan oleh bakat, kemampuan, atau usur psikologis lainnya. Artinya, tampilnya antagonisme politik secara individual bisa disebabkan oleh karena sang tokoh antagonis merasa diri kalah dalam bakat atau kemampuan dari sang tokoh protagonis.  Lantas  ia hadir untuk menenggelamkan tokoh protagonis yang lebih mampu untuk memimpin dan populer. Secara kolektif bisa disebabkan oleh kepentingan partai politik, kelas sosial tertentu, atau SARA. Bisa jadi penyebabnya bisa kedua-duanya atau saling menunggangi.
Persoalannya, apakah antagonisme politik ini akan berlangsung terus tanpa ada sebuah konsensus politik atau integrasi ? Jawabannya tentu tidak. Integrasi politik melalui manajemen konflik antagonisme politik dapat menjadi sebuah keniscayaan jika tokoh protagonis kemudian memenangkan pertarungan di atas pentas dan menuai dukungan politik. Meskipun bisa jadi bahwa tokoh antagonisme politik akan terus berlangsung sebagai “oposisi” bagi tokoh protagonis yang memenangkan pertarungan politik pada 2014 mendatang.
Setelah memenangkan euforia sebagai tokoh protagonis dalam pilpres 2014, seorang protagonis tentu harus terus menjaga konsistensi keprotagonisannya dengan gambaran-gambaran yang diharapkan oleh para penonton/masyarakat pemilihnya. Jika tidak, maka para penonton/penggemar/masyarakat pemilihnya akan berbalik menyerangnya apalagi jika didukung oleh tokoh-tokoh antagonis.
Presiden SBY dan Demokrat adalah salah satu contoh terkini protagonis pada masanya dengan Megawati dan PDIP sebagai antagonisnya sampai saat ini. Apakah sejarah akan terulang kembali bagi Jokowi dan PDIP?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar