Minggu, 02 Februari 2014

Biografi Penulis Dunia, Manifestasi Perjuangan Sosial-Politik

Setelah saya membaca biografi perjalanan penulis-penulis hebat mendunia, selalu saja saya temukan, mereka menulis dengan dasar idealitas, cita-cita bahkan tak heran mereka banyak mengorbankan banyak ahl penting dalam hidupnya untuk menulis. Ada juga yang sampai sakit-sakitan hanya untuk menyelesaikan tulusannya, ada yang sampai muntah darah karena perjuangan keras menyelesaikan manifestonya, ada juga sampai harus mengebiri dirinya dalam lingkungan sosial, ada juga yang harus melakukan pertapaan dan sampailah saya pada kesimpulan jadi penulis itu bukan hanya kecerdasan dibutuhkan, bukan hanya ketekunan namun apir gairah pengorbanan dasarnya dan semua harus berangkat dari diri yang sadar.
Para penulis yang memiliki pikiran yang dalam, cita-cita membumi dan kualitas tulisan selalu berangkat dari kerja, perjuangan keras dan diantaranya para penulis tersebut terlibat dalam konteks sosial yang dialaminya. Kita mengenal Ibnu Khaldum, Penulis sosiologi Islam, semua perjanalan hidup, konflik politik dan dinamika sosial yang dialaminya terekam dalam sebuah catatan karyanya atau semacam manifesto sosiologi islam ‘Mukaddimah’. Ibnu Khaldum bisa kalah dalam percaturan politik di negerinya, namun kemenangan lainnya karena dari sana dia menghasilkan karya besar.
Referensi pemaknaan sosiologi masyarakat arab Baduwih dan Madaniyah terekam dalam catatannya tersebut, pola perilaku dan bagaimana pandangan keagamaan dalam perilaku politk masyarakat di zamannya begitu juga bagaimana tradisi dan geostrategis memperngaruhi cara berfikir dan model beragama masyarakat arab. Semua itu terekam indah dalam karyanya, ini karena dia orang terlibat dalam pusaran sejarah perpolitikan di masanya.
Setelah Ibnu Khaldum mengalami kekalahan maka dia mengasingkan diri, melakukan renungan dan menuliskan sejarah perjalanannya dalam tafsir sosiologi yang sungguh sangat luar biasa. Disinilah kita memahami pintu menangkap masyarakat arab atau masyarakat islam arab, masyarakat timur tengah lebih tepatnya karena sepenuhnya karyanya belum mewakili kondisi sosiologi islam di dunia.
Kita mengenal Karl Marx, penulis ‘Das Kapital’, karya yang sangat mengguncang dunia sebab ini menjadi manifesto ekonomi sekaligus menjadi logika sosiologi kaum marginal. Marx dalam membuat karya tulis harus sakit-sakitan, harus bekerja sebagai buruh menyaksikan penderitaannya dan para buruh lainnya dalam kehidupannya. Marx harus meneteskan air matanya untuk kelas buruh dalam tulisannya, meski kita melihat temanya ilmiah namun kalau kita menggunakan logika ‘falsifikasi’ Karl Popper tetap dia menjadi sangat emosional dan ideologis sebagai lawan keilmiahan sebuah karya.
Disini terlihat jelas keilmiahan tak terlepas dari unsur personal sang penulis, tapi tetap ada yang orisinil dari sebuah karya sebab dia menjadi kekuatan besar dalam menafsir masyarakat. Kita tidak boleh menutup mata karya-karya Marx selalu berkaitan dengan lingkungannya sehingga tidak sepenuhnya beretika secara intelektual jika kita mau mengadopsinya secara membabi buta sebab bangsa kita Indonesia punya pandangan tersendiri dan rumus wisdom soal sosial dan ekonomi.
Dalam perjalanan Marx Angel sebagai pemikir, kawan beliau merupakan tokoh yang berperan penting dalam perumusan konsepsi masyarakat Karl Marx, konsep ekonomi yang cukup mengangkat harkat buruh uang selalu didiskreditkan dalam kehidupan kerja. Marx menyadari kehidupan buruh yang dialaminya benar-benar anti kemanusiaan, menyesatkan dan menyensarakan tidak heran jika kita menemukan catatan dalam bukunya tentang proses eksploitasi kaum buruh. namun, orisinalitas Marx dalam karyanya hari ini, kita temukan kembali karena jasa- orang-orang dekatnya khususnya Angel yang sampai menyelesaikan sampai jilid ke 3 ‘Das Kapital’.
Penulisan dari para penulis besar, karena terbangkit dari situasi, dia menulis mendengarkan nuraninya, nurani kaumnya menjadi catatan-catatan menggerakan. Sang penulis hanya menuliskan kondisi yang dialami dan disaksikannya kemudian dia tata dalam bahasa yang lebih orisinil membuat karyanya hidup dari masa ke masa. Jika kita menemukan tulisan yang tidak mengalami pergulatan, tantangan dan kondisi sosial yang mendukungnya maka sulit karya tersebut menjadi senjata perubahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar