Selasa, 11 Februari 2014

Mengapa Ada Konflik? Ralf Dahrendorf Membicarakannya

Dahrendorf merupakan penerus dan pengembang dari Teori Konflik Karl Marx. Dilahirkan di Hamburg Jerman pada tahun 1929. Awalnya Dahrendorf mempelajari filsafat dan sastra klasik di Hamburg sedangkan ilmu sosiologi dipelajarinya di London Inggris. Karyanya yang paling popular adalah buku berjudul Class and Class Conflict in Industrial Society yang diterbitkan pada tahun 1959. Sebagai orang dilahirkan pada masa perang dunia pertama sangat mempengaruhi pemikiran Dahrendorf dan terlibat dalam akitivitas politik di Jerman Barat hingga akhirnya pernah menjadi anggota parlemen Jerman Barat. Sedangkan karir akademis yang pernah diraihnya adalah menjadi direktur London School of Economics di Inggris.
Tokoh yang mempengaruhi pemikiran Dahrendorf adalah Karl Marx. Dia mengambil gagasan dasar dari teori, hipotesis, dan konsep-konsep Marx. Seperti halnya dengan ahli lainnya, lahirnya teori konflik merupakan kritik terhadap teori struktural fungsional dimana teori ini menekankan bahwa masyarakat disusun atas ketertiban dan keteraturan pada struktur. Para penganut aliran teori konflik mengkritisi teori structural fungsional dengan mengatakan bahwa teori tersebut mengabaikan konflik yang terjadi pada masyarakat. Marx sebagai tokoh utama dan pertama teori konflik ini melihat bahwa masyarakat tersusun atas dua kelas yaitu borjuis (penguasa dan pemilik modal) dan proletar (masyarakat kelas rendah). Kedua kelas ini saling bertentangan terutama oleh dalam memperjuangkan sumber-sumber ekonomi.
Teori fungsionalis cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma, nilai, dan moral. Sedangkan teori konflik melihat bahwa seluruh keteraturan dalam masyarakat disebabkan adanya pemaksaan terhadap anggotanya oleh para penguasa. Merujuk pada konsep Marx hal ini berarti masyarakat proletar hidup dan bertingkah laku karena adanya pemaksaan untuk melaksanakan aturan-aturan yang ditetapkan oleh kaum burjuis. Golongan fungsionalis fokus pada kohesi yang diciptakan oleh nilai bersama dalam masyarakat. Sedangkan kritik teori konflik memfokuskan pada peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.
Selain mengkritik teori fungsional struktural tradisional yang dibangun oleh Talcot Parsons karena gagal memahami masalah perubahan, Dahrendorf juga mengkritik toeri konflik Marx. Jika Marx bersandar pada pemilikan alat produksi, maka Dahrendorf bersandar pada kontrol atas alat produksi. Dalam terminologi Dahrendorf, pada masa pos-kapitalisme, kepemilikan akan alat produksi (baik sosialis atau kapitalis) tidak menjamin adanya kontrol atas alat produksi. Dia membangun teori konflik dengan separuh penolakan, separuh penerimaan, dan modifikasi teori sosiologi Karl Marx. Dahrendorf mula-mula melihat teori konflik sebagai teori parsial, menganggap teori itu merupakan perspektif yang dapat dipakai menganalisa fenomena sosial. Teori kelas Marx dan teori konfliknya hanya relevan pada awal kapitalisme (awal revolusi industri) dan tidak lagi sesuai dengan masyarakat industry post kapitalis. Dahrendorf berpendapat bahwa pekerjaan masyarakat semakin heterogen karena adanya peningkatan keterampilan, peningkatan persamaan, dan arti hak-hak warga dalam politik, peningkatan kemakmuran materiil masyarakat, peningkatan upah kerja, dan berdirinya berbagai mekanisme institusional dalam membahas isu konflik. Pemikiran Dahrendorf ini lebih bersifat umum karena bisa diterapkan pada masyarakat kapitalis maupun sosialis yang berpusat pada struktur otoritas perusahaan industry dari pola kepemilikan.
Dahrendorf telah melahirkan kritik penting terhadap kegagalan dalam menganalisa masalah konflik sosial. Dia menegaskan bahwa proses konflik sosial itu merupakan kunci bagi struktur sosial. Bersama Coser, Dahrendorf telah berperan sebagai corong teoritis utama yang menganjurkan agar perspektif konflik di pergunakan dalam rangka memahami dengan baik fenomena sosial.
Pemikiran Dahrendorf mengenai konflik dapat dikelompokkan dalam tiga bagian : Dekomposisi modal, menurut Dahrendorf timbulnya korporasi- korporasi dengan saham yang dimiliki oleh orang banyak, dimana tak seorangpun memiliki kontrol penuh merupakan contoh dari dekomposisi modal.
Dekomposisi Tenaga kerja, di abad spesialisasi sekarang ini mungkin sekali seorang atau beberapa orang mengendalikan perusahaan yang bukan miliknya, seperti halnya seseorang atau beberapa orang yang mempunyai perusahaan tapi tidak mengendalikanya. Karena zaman ini adalah zaman keahlian dan spesialisasi, manajemen perusahaan dapat menyewa pegawai- pegawai untuk memimpin perusahaanya agar berkembang dengan baik.
Timbulnya kelas menengah baru, pada akhir abad kesembilan belas, lahir kelas pekerja dengan susunan yang jelas, di mana para buruh terampil berada di jenjang atas sedang buruh biasa berada di bawah.
Pemikiran Dahrendorf juga dipengaruhi oleh Max Weber terutama dalam melahirkan konsep kekuasaan dan otoritasnya. Kekuasaan diartikan sebagai kemampuan untuk memaksakan kemauan seseorang meskipun mendapat perlawanan. Sedangkan otoritas diartikan sebagai hak yang sah untuk mengharapkan kepatuhan. Dalam konsep otoritas disebutkan bahwa yang menjalankan otoritas dan yang tunduk pada otoritas tersebut mempunyai kepentingan yang bertentangan sehingga orang yang menyadari akan kepentingan kelasnya dan membentuk kelompok konflik kelas untuk mengubah struktur otoritas tersebut. Otoritas tidak terletak dalam diri seseorang melainkan pada posisi. Letak otoritas ini pada posisi menyebabkan sifat otoritas tentatif dan dapat berubah pada tempat dan waktu yang berbeda. Sebagai contoh seorang wali nagari pada satu nagari tidak memiliki otoritas di nagari lain.
Dahrendorf menunjukkan bahwa kepentingan kelas bawah menantang legitimasi struktur otoritas yang ada. Kepentingan antara dua kelas yang berlawanan ditentukan oleh sifat struktur otoritas dan bukan oleh orientasi individu pribadi yang terlibat di dalamnya. Individu tidak harus sadar akan kelasnya untuk kemudian menantang kelas sosial lainnya.
Dahrendorf juga menganalisis hubungan antara kelompok, konflik, dan perubahan. Menurutnya ada tiga tipe kelompok yaitu:
1. kelompok semu yaitu sejumlah pemegang posisi dengan kepentingan yang sama;
2. kelompok kepentingan yaitu kelompok yang memiliki struktur, bentuk organisasi, tujuan atau program dan anggota perorangan. Kelompok ini merupakan agen riil dari konflik kelompok;
3. kelompok konflik, yaitu kelompok yang terlibat dalam konflik kelomok actual.
Kelompok-kelompok tersebut merupakan konsep dasar untuk menjelaskan konflik sosial. Kelompok dalam masyarakat tidak pernah berada dalam posisi ideal sehingga selalu ada factor yang mempengaruhi terjadinya konflik sosial. Berkaitan dengan ini Dahrendorf mengatakan, jika anggota kelompok direkrut secara acak dan ditentukan oleh peluang, kelompok kepentingan dan kelompok konflik tidak akan muncul. Jika rekrutmen anggota kelompok berdasarkan struktur akan sangat memungkinkan munculnya kelompok kepentingan hingga kelompok konflik.
Berkaitan dengan perubahan, Dahrendorf mengatakan bahwa konflik akan menyebabkan perubahan dan perkembangan. Setelah konflik selesai, anggota masyarakat akan melakukan perubahan dalam struktur sosial. Jika konflik yang terjadi sangat besar akan menyebabkan perubahan yang radikal dan bila konflik disertai tindak kekerasan akan menyebabkan perubahan struktur yang tiba-tiba.
Dalam menganalisis konflik masyarakat, yang pertama dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas di dalam masyarakat. Dahrendorf mengkombinasikan pendekatan fungsional (tentang struktur dan fungsi masyarakat) dengan pendekatan konflik dalam menganalisis antar kelas sosial masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, Zetlin menyarankan dalam menganalisis masyarakat harus membedakan dua metateori dalam masyarakat yaitu system sosial terintegrasi secara fungsional (teori fungsional), dan metateori kedua adalah struktur sosial dijalankan melalui tekanan dan paksaan (teori konflik).
Teori sosial Dahrendorf berfokus pada kelompok kepentingan konflik yang berkenaan dengan kepemimpinan, ideologi, dan komunikasi di samping tentu saja berusaha melakukan berbagai usaha untuk menstrukturkan konflik itu sendiri, mulai dari proses terjadinya hingga intensitasnya dan kaitannya dengan kekerasan. Jadi bedanya dengan fungsionalisme jelas, bahwa ia tidak memandang masyarakat sebagai sebuah hal yang tetap/statis, namun senantiasa berubah oleh terjadinya konflik dalam masyarakat. Dalam menelaah konflik antara kelas bawah dan kelas atas misalnya.
Pendekatan konflik dikritik karena mengabaikan ketertiban dan stabilitas serta cendrung berideologi radikal. Ada beberapa kritik terhadap teori Dahrendorf yaitu : tidak secara tegas mencerminkan pemikiran Marxian, lebih banyak kesamaannya dengan teori fungsionlisme structural daripada teori Marxian dan memiliki kelemahan yang sama dengan teori fungsionlisme structural; hampir seluruh teori konflik bersifat makroskopik dan sangat sedikit yang ditawarkan dalam memahami pemikiran dan tindakan sosial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar