Sabtu, 08 Februari 2014

Kursi Mati Para Politisi

Partai berjamuran, pertai berjemuran, partai seperti jamur di musim hujan, banyak dan berhamburan. Semuanya berebut kekuasaan, kalah dalam partai sendiri, keluar membuat partai baru, agar tetap menjadi yang nomor satu, bertarung dengan partai lain, dan kalah lagi lalu berkoalisi,  lagi-lagi agar tetap dapat kursi menteri. Partai berdiri bukan untuk mensejahterakan rakyat, partai berkoalisi agar tetap ada pada jalur birokrasi yang penuh dangan fasilitas dan kursi, guna mencapai ambisi pribadi.
Partai akan semakin banyak menjelang pemilu dan ratifikasi. Partai berdiri dan diusahakan agar tetap berdiri walau kantor hanya meja dan satu kursi di tiap provinsi. Dengan plang nama partai yang besar dan terbaca dari jarak jauh, namun di dalamnya hanya ruang kosong dan lemari. Nama-nama dibuat mentereng dengan gelar pejabat tinggi dan menampung para pensiunan pegawai tinggi, yang katanya “tak ada kata henti bagi para pejuang sejati“, padahal hanya ambisi yang dikemas dengan gaya basi.
Partai semakin banyak dan berebut “kursi mati”, soal rakyat urusan nanti, yang penting ambisi terpenuhi dengan biaya jika perlu tinggi sekali, itu tak peduli, karena jika menang nanti semua itu akan kembali dengan cara korupsi dan manipulasi kwitansi. Bila ditangkap nanti, berikan alasan sedang sakit hati,  yang sedang diobati di luar negari, jika perlu tak kembali, kecuali jika dijemput polisi dengan pesawat milik negeri ini.
Bau busuk setiap partai mau tak mau tercium juga, walau sudah dijaga sekuat tenaga, tapi tercium juga oleh wartawan yang memang selalu siaga, karena memang itu kerjaan mereka mencari sumber berita. Si “kuli tinta” memang luar biasa, walau dijaga, dia bisa lolos juga dan masuk keruang yang terduga, agar tetap dapat berita hari itu juga dan bahagia tak terkira, bila bahan berita menjadi diskusi penjaga negara. Sukur-sukur bisa menjadi menteri yang bisa menjaga negara dan membawa amanah bagi rakyat semua.
Kekuasaan yang penuh dengan fasilitas telah menggoda hampir semua partai yang ada, tak peduli itu partai nasional, sekuler atau berbasis agama, semua berambisi pada “kursi mati” yang basi. Semua berteriak dalam pemilu membela rakyat, katanya, tapi buktinya rakyat semakin sengsara dan justru jauh dari partai yang ada. Rakyat yang mestinya dibela hanya tinggal gigit jari menyesali apa yang dipilihnya dalam pemilu lalu, dikira emas, nyatanya palsu.
Entah akan berapa banyak lagi partai akan bermunculan menjelang 2014 nanti, rakyat dibuat bingung sendiri, mau pilih yang mana, karena semuanya basi. Partai tidak di sana,  tidak di sini, semuanya kebanyakan bukan membela rakyat, tapi untuk kantong sendiri dan mencari sebanyak-banyak peluang diri, agar dana yang keluar saat pemilu segera kembali dan kemudian menumpuk kekayaan pribadi dan siap-siap lagi untuk pemilu nanti, agar terpilih kembali dan mendapat kursi, perkara rakyat tak makan nasi, mereka tak peduli, begitulah bila nafsu hewani telah menjalari setiap para politisi yang penuh ambisi, akan negeri ini menjadi mati suri? Semoga tidak terjadi, karena masih banyak orang yang punya niat suci memperbaiki negeri, kapankah mereka muncul?  Ya tunggu saja saatnya nanti, bila mentari terbit kembali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar