Selasa, 11 Februari 2014

Alergi Politik

“Politik adalah hal-hal praktis yang lebih mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih jauh dari kerusakan meskipun tidak digariskan oleh Rosulullah S.A.W” (Ibnu Aqil).
Hari ini gue mau nulis tentang politik. Karena gue merasa punya tanggung jawab sosial dan politik sebagai anak FISIP. Ada banyak orang yang ngerasa alergi sama politik, padahal hidupnya dia ditentukan dari keputusan-keputusan yang sifatnya politis. Politik buat gue adalah ketika lo ga Cuma punya kekuasaan tapi juga kebijaksanaan untuk mengambil keputusan yang akhirnya menciptakan kesejahteraan. Gue tahu, di dunia ini lo gabisa bikin semua hati orang seneng. Begitu juga dengan politik, keputusan politik A tentunya ga sesuai dengan yang di mau kelompok B dan C, tapi kita punya benang merah, bahwa keputusan yang diambil itu adalah keputusan yang paling sedikit mendatangkan keburukan.
Kenapa hari ini politik ga diminati? Gue curiga ada pihak-pihak yang berkepentingan yang mencintrakan politik itu dari sisi negative dan akhirnya mengubur tujuan politik itu dilahirkan untuk kemaslahatan rakyat. Ada golongan orang yang menikmati keuntungan dari politik yang dicitrakan dan diidentikan dengan keburukan. Mungkin dengan begitu, saingan mereka di kancah perpolitikan jauh lebih ringan. Inilah ketika kita tidak memiliki kesadaran politik.
“Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.”(teori klasik Aristoteles)”
Tanpa lo sadari, setiap hari lo sedang berpolitik. Lo ng’loby orang tua untuk menaikan uang jajan, itu lo sedang memengaruhi orang lain agar kepentinganmu dapat diakomodasi dengan baik. Lo menunjukan impression (mimik) yang meyakinkan agar lo dipercaya jadi ketua panitia atau ketua kelas, itu lo sedang berpolitik agar kepentingan yang mau lo wujudkan diterima dan akhirnya menjadi kebaikan untuk semua orang. Saat lo menyatakan pendapat dan aspirasi di depan khalayak, itu juga lo sedang berpolitik agar ideology lo diterima dan mendapat dukungan untuk diwujudkan. Lalu pertanyaannya, apakah politik itu buruk? TIDAK! GA! NO!
Bukan politiknya yang buruk, tapi actor politiknya yang gagal berperan. Sama aja kaya lo nonton sinetron dan lo kecewa karena aktornya mainnya jelek, ketahuan banget actingnya. Ya sama kaya politik. Yang perlu disalahin, dibenci dan di jadikan alergi itu bukan politinya, tapi aktornya atau bahasa sekarang politisi. Ada teori sosiologi, judulnya “Peran dan Status”, anak semester satu pasti tau banget teori ini. Status itu adalah jabatan lo, konteksnya disini adalah jabatan politik, misalnya menteri pertanian. Peran adalah tindakan yang harus lo lakukan sesuai dengan status lo. Ya sebagai menteri pertanian, lo harus bisa memproteksi hasil tani dalam negeri, agar para petani tidak gulung ladang atau merugi, karena tanpa disadari nasib petani itu digantung sama keputusan politik si bapak menteri. Ketika lagi panen raya, produksi melimpah, tapi menteri pertaniannya ngambil kebijakan untuk impor, akhirnya harga panen jadi turun drastis atau hasil tani dibeli murah pake diskon 50%. Nah ketika lo berperan kaya gitu, yaudah berati lo gagal fokus sama acting lo. lo harusnya berperan sesuai dengan status lo, yang dimana setiap orang punya ekspektasi tinggi sama lo, karena status sosial lo di masyarakat.
Oke, Jadi clear ya, kalau yang perlu disalahin itu politisinya sebagai actor, bukan politinya. Tapi alangkah manisnya biar ga maen salah-salahan, lo belajar ilmu politik barang sedikit. Contohnya, lo punya kesadaran kalau dampak dari lo milih hari ini adalah menentukan nasib lo 5 tahun mendatang. Kalau lo golput hari ini, dunia pun tetep berputar, dan lo gagal buat menangin orang baik buat duduk di kursi perwakilan. Lo ga perlu golput, karena yang milih orang baik aja belum tentu menang, apalagi yang ga milih. Karena kita sama-sama sepakat, hidup kita digantung sama keputusan politis, kita harus hati-hati milih orang-orang untuk duduk di kursi-kursi yang punya kekuasaan untuk ngambil keputusan politis. Bukan apa-apa, koruptor itu sebenernya pilihan kita juga kok, orang kita yang milih mereka buat duduk dan punya kesempatan korupsi sampe dijeruji KPK.
“Rakyat yang baik, tidak akan memilih pemimpin yang jahat. Dan pemimpin yang bersih, tidak akan memilih orang-orang yang tidak bersih buat duduk berkuasa menemaninya.” Faisal Basri.
Teori habitus : “habitus, yang merupakan produk historis  menciptakan tindakan individu dan kolektif dan karenanya sesuai dengan pola yang ditimbulkan oleh sejarah.” Piere Bourdieu.
Artinya begini, Kebiasaan individu diperoleh melalui pengalaman hidupnya dan mempunyai dampak dalam kehidupan sosial. Nah kalau sekarang kebiasaan politisi kita korupsi, itu karena pengalaman hidupnya sehari-hari udah dihiasi korupsi, akhirnya korupsi jadi kebiasaan dan udah di lupakan kalau itu dosa besar.
Oke, karena pemimpin itu asalnya dari rakyat, harusnya kita bertanya, jangan-jangan rakyat kita sekarang cerminan politisi kita yang sekarang? atau politisi yang sekarang adalah cerminan rakyat? Jadi kalau mau membenahi diri, menurut gue bukan Cuma dari pemerintahnya, tapi juga rakyatnya, ya misalnya diri gue sendiri. Gue sebagai rakyat yang baik, gue harus cari tau siapa pemimpin yang baik dan memperjuangkannya biar bisa duduk  di kursi perwakilan. Karena gue yakin, sekarang orang-orang yang jahat sedang berjuang habis-habisan biar pemimpin yang (jahat juga) dari kelompok mereka bisa duduk mewakili kejahatan mereka di kursi perwakilan. Itu makanya timbul kata-kata mutiara
“Politik Indonesia jadi jahat karena orang baiknya diam aja.” Pernah di katakan Aria Bima di seminar kepemudaan dan Dikatakan Bapak KPK di sarasehan sosiologi.
Ya gue setuju, karena gue yakin “Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir.” Jadi kalau kita sedang memperjuangkan sesuatu, kita gabisa sendiri. Kalau mau doa, ya doa bareng, berjuang ya berjuang bareng dan nanti kita juga yang menikmati kebaikannya bareng-bareng.
“Seikat lidi jauh lebih kuat dan bermanfaat daripada sebatang lidi yang berceceran di jalan.” Ya inilah konsekuensi hidup bermasyarakat, harus ada sistem pengaturan agar semua kepentingan dapat terakomodir dengan maksimal. Inget maksimal, bukan sempurna, karena kesempurnaan hanya punya Allah yang maha menciptakan. Dan sistem pengaturan kepentingan itu di sebut sistem politik. Karena sistem politik yang menciptakan manusia, yang bisa benerin juga manusia. Makanya Soe Hok Gie pernah ngomong, “Politik adalah lumpur yang paling kotor, tidak ada cara lain selain masuk ke dalamnya.” itu tandanya kalau lo mau benerin, ya lo harus tahu dan masuk sistemnya, bukan Cuma koar-koar ngarep perubahan tapi terus-terusan berpangku tangan sama orang-orang yang mementingkan kepentingan kelompoknya doang. Gimana kalau nanti lo kebawa sistem? Ya lo juga harus pinter, kalau lo Cuma jadi satu lilin yang nyala, dunia ini akan tetep gelap. Lo harus ngajak lilin yang lain untuk menyala, jadi pencerahan atau aufklarung bisa mengalahkan kepekatan dan kegelapan di dunia yang lo tempati.
Ciptakan perubahan bukan untuk ketenaran, tapi ciptakan perubahan untuk kebermanfaatan. “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat orang lain.” Ya, emang ga gampang buat bermanfaat untuk orang lain, tapi secara ga langsung, kegelisahan yang gue tuliskan ini adalah bentuk usaha gue untuk bermanfaat. Yuk, cerdas berpolitik bukan menjauhi tapi membenahi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar