Sabtu, 08 Februari 2014

Membunuh dan Meninggalkan Partai Politik

Sebuah, opini. Kalau Anda mau bertanya mengapa Perwakilan Anda di daerah tidak berikan kepentingan masyarakat dan penduduk yang menjadi konstituennya maka sudah saatnya anda meninggalkan partai politik,yang disini kuanggap sebagai Patologi Demokrasi.
Bila kita buku biru, Dasar-dasar Ilmu Politik karangan Alm Prof.Miriam Budiarjo halaman 397 kita akan memilhat betapa pentinganya partai politik di negara Demokrasi. Khusus untuk Indonesia. Pertikaian demi pertikaian tak jarang kita baca dalam buku sejarah terjadi antar partai politik.termasuk sejarah pemberontakan “gagal” ala PKI.pada 1965.
Sebuah perbedaan semangat yang terjadi antara Indonesia dan Amerika (yang orang bilang demokrasinya udah matang). Di Indonesia menganut multi-partai Bejibun tuh partai politik yang banyaknya seperti cendawan tumbuh di bumi Indonesia. Kalau di Amerika cuma menganut sistem Dwi partai.
Sayangnya, kalau kita telisik lebih dalam.partai di Indonesia masih bersifat KAMPUNGAN, karena mengedepankan isu Ideologi di dalamnya.Sehingga tak jarang perbenturan yang seperti anak-anak sampai anarkisme tumbuh subur dinegara kesatuan ini. Berbeda kalau kita nilai dengan partai demokrat dan republik di Amerika. ”Saya adalah seorang Republik”, begitulah kutipandari VOA yang bisa kita simak dalam pemilihan Barrack Obama. Mereka bisa menyatakan demikian karena sepaham dan atau memahami hakikat partai politik tersebut. Masyarakatnya boleh dibilng tercerahkan olehnya.
Hal ini tentu saja berbeda dengan di Indonesia, saya adalah seorang demokrat, tapi saya tentu tidak bisa mengatakan “Saya adalah demokrat, jadi kudu milih partai demokrat”, sungguh hina rasanya hal ini. Perbedaan kita masih disibukkan budaya politik pecah belah ditengah masyarakat.
Sebelum bicara kegagalan, ada baiknya kita mengenal fungsi partai politik terlebih dahulu.

1. Sebagai sarana Komunikasi politik
Untuk fungsi ini, idealnya partai politik bisa digunakan sebagai alat agregasi kepentingan (Interest agregation) proses ini merupakan proses penggabungan kepentingan. Setelah aspirasi digabungkan berikutnya aspirasi ini diolah dalam bentuk yang lebih teratur, proses ini dinamakan, artikulasi kepentingan (interest articulation).

2. Sarana sosialisasi politik
Michael Rush dan Phillip Althoff merupakan dua orang yang memperkenalkan teori sosialisasi politik melalui buku mereka Pengantar Sosiologi Politik. Dalam buku tersebut, Rush dan Althoff menerbitkan terminologi baru dalam menganalisis perilaku politik tingkat individu yaitu sosialisasi politik.
Sosialisasi politik adalah proses oleh pengaruh mana seorang individu bisa mengenali sistem politik yang kemudian menentukan persepsi serta reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Sistem politik dapat saja berupa input politik, output politik, maupun orang-orang yang menjalankan pemerintahan.

3. Sebagai Sarana Rekrutmen politik
Rekrutmen politik adalah suatu proses seleksi anggota-aggota kelompok untuk mewakili kelompoknya dalam jabatan administratif maupun politik. Dalam pengertian lain, rekrutmen politik merupakan fungsi penyelekksian rakyat untuk kegiatan politik dan jabatan pemerintahan melalui penampilan dalam media komunikasi, menjadi anggota organisasi, mencalonkan diri untuk jabatan tertentu dan sebagainya.

4. Fungsi pengatur Konflik
Indonesia dengan masyarakatnya yang memiliki heterogenitas tinggi, tentunya memiliki gesekan dan perbenturan tersendiri .Ini sudah wajar dan sangat lumrah. Akan tetapi, tentu saja partai politik kembali mendapat tugas menerapkan (Conflict management). Ringkasnya, masih dalam kondisi ideal, partai politik harus mampu menjadi penghubung psikologis dan organisasional antara warga negara dalam pemerintahnya. Dan juga bisa mengadakan konsolidasi dan artikulasi untuk menampung tuntutan yng beragam.

Diatas yang kami kemukakan adalah fungsi partai politik di negara demokrasi.lain lagi kalau dinegara otoriter, silahkanlah perikasa sendiri.
Dari argumentasi diatas, sudah jelaslah biang kerok demokrasi dalam hal ini. Seyogyanya bila partai politik mengedepankan point diatas dengan baik, saya yakin fungsinya akan lebih indah dan lebih baik. Pemimpin yang terpilih pun akan semakin cerdas dan memiliki integritas yang tinggi tentunya.
Sekilas, mungkin ada penerjemahn berkonotasi negatif dari pernyataan kami ini. Pernyatan muluk muluk. Akan tetapi disini kami lebih ingin memaparkan kekuatan MASYARAKAT yang dipertuankan di negara demokrasi. Masyarakat sebenarnya bisa melakukan apa saja terhadap Penyakit demokrasi diatas. Bukan menghancurkan sekre partai yang maksud. Akan tetapi, masyarakat bisa menilai lebih lanjut kader dan pemimpin ideal mana saja yang bisa dipilih. Gak usah takut sama teror Kampungan yang dilakukan oknum partai tertentu, bukankan jumlah masyarakat lebih besar? jangan takutlah sama aksi SOK PREMAN dan SOK BAGAK ala kader parpol yang dipertontokan di televisi saat sidang yang sok banting kursi segala.
Membunuh partai politik tersebut bisa dilakukan dengan gerakan GOLPUT, tapi saya kurang sepakat hal inidilkukan, karena sejatinya GOLPUT memilih juga bukan? Selain itu pembunuhan bisa dilakukan dengan memilih kader INDEPENDEN, akan tetapi jangan sampai pula masyarakat dibodohi dalam hal ini. Yang jelas gerakan membunuh partai politik adalah dengan mencerahkan, mencerdaskan masyarakat. Masyarakat harus paham bahwa fungsi dan kekuasaanya lebih besar, jangan mau disamakan sama PELACUR, yang bisa didapati tubuh dan suaranya dengan uang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar