Selasa, 11 Februari 2014

Konstruktifisme Wendt dan Fenomena Arab Spring

Pendekatan konstruktivis Alexander Wendt yang identik dengan relasi structure-agent (dan semua pakar Konstruktivis mengawali dari relasi tersebut) relevan untuk menjelaskan fenomena arab spring di timur tengah.
Saya melihat bahwa penjelasan Wendt ttg teori konstruktivisnya tak terlepas dari perdebatan klasik filsafat atau sosiologi dibarat, antara idea (platon) atau material (aristoteles) yang perdebatan itu terus berkembang sampai masuk ke ranah ilmu hubungan internasional terkait bagaimana interaksi sebuah negara dengan negara yang lain.
Dari titik ini semua pemikir HI abad 17-19 (saya kira) masih berkutat pada interaksi negara yang anarki, dan karena anarki itulah akhairnya membentuk 3 relasi hubungan internasional utama menurut Wendt (Hobbesian, Lockean dan Kantian).
Disini Wendt mengawali kritiknya, dia mengkritik bahwa perdebatan tentang anarki antara yang realisme dan liberalisme/idealisme itu masih tendensi pada satu lokus saja, apakah negara (structure) atau individu (agent), dan pendekatan konstruktivis (yang memang berusaha menjembatani perdebatan binary model) bahwa sebenarnya structure-agent itu saling mempengaruhi satu sama lain. 
Wendt mencoba mengkritik anarki model realisme dan neo-realisme yang tendensinya kepada tekanan material seperti self-help, power politics, national interest, dsb. dibantah oleh wendt bahwa kondisi anarki itu bukanlah sesuatu yang empty (hampa/kosong), melainkan dibentuk oleh struktur sosial, dan yang membentuk struktur ini adalah share ideas, bukan tekanan material, tapi Wendt menekankan bukan berarti idea lebih dominan dari materi, namun ideas adalah constitute bagaimana perilaku agent terhadap structure.
Nah, bagaimana dengan kondisi arab spring sendiri, teori yang dikemukakan Wendt menurut saya relevan dlm hal ini bahwa kondisi anarki yang terjadi di timur tengah dengan arab spring nya terbentuk dari social structure (relasi agent-structure) di timur tengah itu sendiri.
Memang analogi wendt dgn menggunakan revolusi di eropa tidaklah tepat dengan kondisi di Timur Tengah, dan ini bisa menjadi falsifikasi (sebagaimana kritik Popper dan Nasim Taleb), tapi wendt menyadari hal itu menurut saya, dalam tulisan terakhirnya dia menjelaskan bahwa para teoritikus HI jgn lagi mengawali penelitiannya dari method-driven tapi question-driven, sehingga setiap permasalahan bisa diselesaikan sesuai dengan kondisi dimana kejadian dan siapa agent nya itu sendiri.
Jika di Eropa Agent nya adalah para Filsuf/Pemikir (konteks abad 17-19), maka di timur tengah kini agent nya bertambah, mulai dari para mahasiswa/pemuda melalui media sosial internet, gerakan Ikhwanul muslimin, kubu militer, dan nasional (contoh: Mesir), kalau di Suriah lebih kompleks lagi (ada masyarakat, pasukan pemberontak asing, negara-negara penyokong pasukan pemberontak vis a vis negara-negara penyokong Pemerintah Bassar) dan semua agent itu bertarung utk membentuk bagaimana structure negara kedepannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar