Rabu, 07 November 2012

Lingkungan Sosial dan Kesehatan pada Lansia


PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah

Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari siklus kehidupan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia, menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998). Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Dalam masa tersebut, orang tua biasanya akan disebut lansia (lanjut usia) kehidupan dari lansia pasti akan jauh berbeda dengan masa-masa lain yang sebelumnya pernah mereka jalani. Lansia mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya. Usia yang sudah tidak muda lagi menyebabkan kesehatan mereka menurun drastis. Kondisi fisik yang sudah tidak sesehat dan sekuat ketika masih muda dahulu membuat aktifitas mereka sehari-hari menjadi berubah sehingga mereka butuh orang lain untuk mengurusnya. Interaksi yang dilakukan dengan orang-orang di sekitarnya juga sudah tidak sebebas sebelumnya. Posisi-posisi mereka dalam sebuah pekerjaan harus digantikan dengan orang lain yang usianya lebih muda, karena proses regenerasi harus dijalankan.
Siklus kehidupan seseorang dimulai ketika masa bayi ketika ia masih memerlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhan segari-harinya, kemudian tumbuh menjadi masa kanak-kanak di masa ini seseorang individu sudah mulai meniru apa yang dilakukan orang lain, kemudian masa remaja, awal kedewasaan, dewasa, pertengahan umur, lanjut usia, dan umur tua. Dalam proses penuaan terdapat tiga dimensi utama yaitu penuaan secara fisik, sosial, dan psikis. Ciri-ciri penuaan fisik seperti yang dikemukakan oleh Kart diantaranya adalah kulit menjadi keriput dan kasar, tubuh membungkuk, dan daya tanggap melemah. Sementara itu, secara social adalah berubahnya peran seseorang dikarenakan usia yang semakin lanjut berubahnya usia seseorang secara berangsur–angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Dalam aspek psikis berarti menurunnya kemampuan adapatasi seseorang terhadap lingkngannya dan melemahnya kemampuan daya ingat, belajar, dan berpikir seseorang.
Seperti yang diungkapkan oleh Cassel dan Cobb, dukungan sosial (social support) dalam suatu kehidupan masyarakat dapat menunjang organisme dengan  jalan mempromosikan adaptasi organisme terhadap pengaruh stress psikososial serta ancaman lain terhadap kesehatan. Dengan kata lain, bukan hanya lingkungan fisik yang mempengaruhi kondisi kesehatan tapi juga lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan individu, dalam hal ini yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah lansia. Oleh karena itu, makalah ini akan berusaha menggambarkan kondisi lingkungan sosial yang digolongkan dalam aspek partisipasi sosial, relasi sosial dan akses pelayanan kesehatan dalam pengaruhnya dengan kesehatan lansia.

Pertanyaan Penelitian
Bagaimana hubungan antara lingkungan sosial (organisasi sosial, relasi sosial, dan akses pelayanan kesehatan) terhadap kondisi kesehatan lansia.

Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara lingkungan sosial (organisasi sosial, relasi sosial, dan akses pelayanan kesehatan) terhadap kondisi kesehatan lansia.


KERANGKA TEORI

Negara mengakui penduduk lansia (lanjut usia) dalam peraturan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, sebagai “seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas.” Sedangkan kesehatan mengacu pada “keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.” Maka dari itu, lansia yang berusia 60 tahun ke atas dianggap sehat jika keadaannya sejahtera, dalam arti ia mampu berperan produktif secara sosial dan ekonomis.
Menurut Kamanto Sunarto, kondisi seorang individu—termasuk kondisi kesehatannya—sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, yaitu lingkungan sosial ataupun lingkungan fisik. Konsep lingkungan sosial itu sendiri mengacu pada kualitas hubungan dan interaksi sosial sehari-hari dengan orang lain di sekitarnya. Artinya, jika hubungan dan interaksi sosial dengan orang sekitar menyenangkan, hal itu dapat menunjang kesehatan. Sebaliknya jika tidak menyenangkan, maka dapat membuat individu tersebut sakit. Begitu pula dengan lansia, lingkungan sosial pun menjadi salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan lansia.
Menurut Wolinsky,[8] salah satu pendekatan yang digunakan untuk melihat proses penuaan adalah Teori Pelepasan (The Disengagement Theory Approach), yang dicetuskan pertama oleh Cumming. Pendekatan ini menjelaskan bahwa ketika seorang individu melalui proses “normal aging” atau penuaan secara normal, maka individu tersebut serta individu lain dalam sistem sosial yang sama saling mundur atau melepaskan diri dari hubungan dengan satu sama lain.  Siapapun yang berinisiatif, proses pelepasan ini akan berakibat pada dua hal, yaitu (1) antara individu yang menua dengan individu lain semakin berjarak, dan (2) terdapat perubahan hubungan solidaritas antar individu tersebut, bukan berdasarkan perannya masing-masing, melainkan berdasarkan keterikatan perasaan atau emosi.
Dalam poin kedua, seorang individu yang masih dalam tahap dewasa menjalankan solidaritas organik, kemudian setelah menjadi tua, ia berubah menjadi solidaritas mekanik.  Sebab, seperti yang dijelaskan oleh Durkheim, solidaritas organik merupakan solidaritas yang terjadi dalam masyarakat industri dan perkotaan, dimana masyarakat menjadi semakin kompleks sehingga terbentuklah pembagian kerja.  Tetapi, pembagian kerja mengakibatkan spesialisasi, sehingga antara satu individu dengan individu lain memiliki ketergantungan yang tinggi, namun cenderung individualistis dan tidak menekankan pada kesadaran kolektif.  Sedangkan untuk solidaritas mekanik, yang mengacu pada masyarakat di pra-industri dan pedesaan, masyarakat tersebut cenderung menekankan pada kesadaran kolektif (collective conscience) sehingga terdapat tekanan yang besar untuk tercapainya konformitas dalam masyarakat. 
Dalam kasus lansia, individu yang berusia 60 ke atas ini memang dalam tahapan “likely to die soon”, dalam arti mereka diberi label sebagai orang yang tidak lama lagi akan meninggal dunia. Saat mereka masih muda, mereka berada dalam kondisi solidaritas organik sebab mereka masih dalam tahapan produktif, dan sangat dibutuhkan dalam sistem sosialnya karena spesialisasinya itu. Tetapi, setelah mencapai usia 60 ke atas, mereka harus terlepas dari sistem sosial dan melepaskan spesialisasinya agar jika suatu saat mereka meninggal dunia, mereka tidak akan mengganggu keseimbangan sistem sosial tersebut, walaupun akan terdapat kesadaran kolektif yang memungkinkan orang sekitarnya untuk bersedih saat kematiannya.  Maka dari itu, untuk menghindari gangguan terhadap sistem sosial, individu yang menua itu harus perlahan-lahan terlepas (disengage) dari perannya sehingga sistem sosial dapat bertahan.
Teori ini termasuk sebagai teori fungsionalis, dimana penuaan dan kematian dianggap sebagai masalah terhadap sistem sosial, sehingga harus dihindari dengan melepaskan individu tua itu dari peran-peran sosial yang penting, disebutnya sebagai “saving” the social systemIni bukan hanya menguntungkan sistem sosial, tetapi juga menguntungkan individu tua itu sendiri.  Semakin banyak peran sosial yang dilepasnya, semakin besar kebebasannya dari masyarakat dan semakin sedikit tanggung jawab dan ekspektasi yang dituntut darinya.  Sehingga, ia melepaskan peran-peran lain kecuali satu peran tertentu yang berorientasi pada dirinya sendiri dan sebagai kesibukan dalam sisa hidupnya.  Maka dari itu, pendekatan ini menegaskan bahwa jika individu tua semakin terlepas dari masyarakat, ini merupakan hal yang wajar, tidak dapat dihindarkan, dan sangat dibutuhkan untuk mencapai successful aging.


DESKRIPSI DAN ANALISA

Penulis menggolongkan analisa data informan ke dalam 2 bagian, pertama informan yang berada dalam lingkungan sosial yang menunjang kondisi kesehatan berdampak pada kondisi kesehatan lansia yang baik dan kedua informan yang tinggal di lingkungan sosial yang kurang menunjang kondisi kesehatan dan dampaknya pada kondisi kesehatan lansia yang kurang baik. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan lingkungan sosial yang menunjang kondisi kesehatan (proses disengagement pada lansia cenderung tidak sempurna) dan yang tidak atau kurang menunjang kondisi kesehatan (terjadi proses disengagement scara semurna pada lansia) serta dampaknya pada kondisi kesehatan dan usaha lansia untuk tetap menjadi sehat.[12]

A.    Lingkungan sosial baik, kesehatan lansia juga baik
Informan pertama berinisial N3 berumur 65 tahun memiliki ciri penuaan diantaranya terlihat dari kulit keriput, kondisi fisik serta daya ingat yang makin lemah, dan lain sebagainya.[13] Aspek perilaku yang berhubungan dengan relasi maupun partisipasi sosialnya mengkondisikan N3 masih memiliki ikatan dari lingkungan sosialnya. Beberapa kegiaan  yaitu hingga saat ini  N3 masih aktif mengikuti berbagai macam kegiatan seperti pengajian, arisan, senam lansia yang baru-baru ini di adakan di sekitar rumahnya. Sewaktu muda, N3 aktif melakukan berbagai macam kegiatan yang dapat menantang adrenalinnya, seperti beremain ke Dufan. N3 selalu meluangkan waktunya dua kali seminggu untuk dapat mengikuti senam lansia. Untuk tetap menjaga kesehatannya, N3 berusaha makan sayuran dan lauk dan menghindari makan makanan yang mengandung vetsin.
Saat ini N3 tinggal bersama suaminya dan masih sering berkumpul bersama cucu dan keluarga sehingga dapat dikatakan tidak pernah merasa bosan menjalani hari tuanya saat ini. N3 juga tidak pernah merasa lelah atau sendirian karena selalu ditemani cucu perempuannya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya yang hampir setiap hari bermain ke rumah N3. Menurut informan, kondisi rumah miliknya telah termasuk rumah sehat karena air selalu lancar (PAM), masalah sampah tidak menjadi masalah karena setiap harinya ada petugas pengangkut sampah sehingga menurutnya hal itu pula yang membuatnya jarang sakit. Kegiatan yang khusus untuk lansia di sekitar rumah adalah senam lansia yang biasanya juga terdapat perlombaan senam lansia.
Akses terhadap layanan kesehatan informan ini cukup baik, tergambar dari adanya RS di sekitar tempat tinggal informan. Dulu pernah ada organisasi pemerintahan/LSM didaerah tempat tinggal yang mengadakan kegiatan-kegiatan seperti sosialiasi kesehatan orang tua, pengecekan kesehatan lansia secara rutin, jaminan kesehatan, berobat gratis. Selain itu juga ada kemudahan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari pemerintah tingkat desa/RT ditempat tinggal, misalnya terdapat pelayanan kesehatan gratis yang dilakukan oleh RT dengan syarat administrasi yang telah ditentukan (syarat golongan keluarga miskin). Untuk besar pendapatan yang dialokasikan/dihabiskan untuk pelayanan kesehatan tidak diketahui secara pasti karena semua yang mengurusi adalah anak- anaknya.
Bertolak dari kondisi tersebut maka N3 diktegorikan sebagai lansia dimana ciri-ciri penuaan terlihat secara jelas dalam aspek fisik maupun psikis. N3 dari sisi relasi sosial, partisipasi sosial, dan akses pelayanan kesehatan diidentifikasi mengalami disengagement secara tidak sempurna. Terbukti dengan kondisi kesehatan informan ini yang walaupun mengalami sakit serius yaitu kanker namun masih baik kondisi psikologisnya karena relasi dan partisipasi sosialnya yang masih baik.
Informan kedua yang masuk kategori ini berinisial K2, berjenis kelamin laki-laki dan berumur 60 tahun. Informan telah memiliki ciri-ciri penuaan fisik dapat dilihat dari beberapa hal seperti kulit keriput dan kasar, gerak tubuh melemah, daya ingat serta kemampuan menghapal melemah. Relasi sosial informan masih tinggi, dilihat dari hubungannya dengan keluarganya yang masih erat serta dengan tetangga sekitar cukup sering untuk berkumpul. Bahkan informan masih sering berkumpul dengan rekan-rekannya sesama lansia di toko jahitnya untuk sekedar bercengkrama dan saling berbagi cerita. Lingkungan sosialnya cukup baik karena mudah untuk  mengakses layanan kesehatan, dilihat dari  daerah tempat tinggalnya banyak terdapat tempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, dan praktek dokter. Menurut informan para lansia di daerahnya memperoleh layanan pengecekan kesehatan gratis dari Pemerintah Depok setiap dua bulan sekali. Namun partisipasinya terhadap akses layanan kesehatan masih rendah, dalam satu tahun saja informan mengaku kalau hanya sekali pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya, itupun jika ia sedang sakit. Apabila ia sedang terkena penyakit ringan seperti demam, batuk, atau pilek hanya diatasi dengan mengkonsumsi obat-obatan yang biasa dibeli di warung.
Saat masih berusia kurang dari 40 tahun informan aktif dalam kegiatan organisasi, salah satunya adalah menjadi anggota partai politik Golkar. Selain itu juga sempat menjadi ketua RT di daerah tempat tinggalnya. Namun saat ini karena sudah merasa tua dan tidak memiliki kebugaran fisik seperti saat muda, informan tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial di lingkungan sekitarnya. Ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya sebagai penjahit, disamping untuk memenuhi kebutuhan ekonomi istri dan anak bungsunya juga untuk mengisi waktu luangnya. Secara psikis informan masih memiliki harapan hidup cukup besar karena ia berharap dapat melihat anak-anaknya sukses.
Kondisi kesehatan informan dikategorikan tinggi karena beliau jarang mengalami sakit secara serius, sakit yang dikeluhkannya adalah kemampuan matanya yang makin melemah. Dengan kondisi informan K2 SDB saat ini dapat dilihat bahwa ia tidak terlalu terlepas dari lingkungan sosialnya atau mengalami disengagement tidak sempurna. Hal ini dapat dilihat dari relasi sosialnya yang tinggi namun partisipasi sosialnya rendah, aspek lingkungan sosial juga tinggi namun akses personalnya terhadap pelayanan kesehatan masih rendah, serta aspek psikologi sedang, semua aspek tersebut pada akhirnya telah memberikan pengaruh terhadap kondisi kesehatan informan karena terbukti informan merasa belum memiliki penyakit serius dengan kata lain masih merasa sehat dan bisa menjalani profesinya.
Informan ketiga berinisial K3 berjenis kelamin laki-laki dan berusia 64 tahun. Informan ini masih memiliki ciri fisik yang sehat dan bugar serta penuaan fisiknya hampir tidak terlihat. Meskipun kulitnya sudah mulai mengeriput dan daya ingatnya melemah, namun gerak tubuhnya tidak melemah bahkan masih mampu bermain badminton secara rutin dua kali seminggu. Relasi sosial informan masih tinggi, dapat dilihat dari rutinitasnya mengikuti olahraga bermain badminton setiap weekend bersama bapak-bapak di lingkungan komplek tempat tinggal beliau. Selain itu informan masih menjalani aktivitas sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Sedangkan partisipasi sosial rendah karena informan tidak pernah mengikuti kegiatan organisasi di daerah tempat tinggalnya. Lingkungan sosial informan baik karena masih dekat dengan keluarganya, di rumahnya dihuni oleh istri, anak-anak, serta cucunya sehingga ia tidak pernah merasa kesepian dan selalu terhibur dengan kehadiran mereka. Akses pelayanan kesehatan secara personal juga tinggi karena informan memiliki penghasilan yang cukup tinggi dan cukup untuk membiayai kesehatan dan pengobatan dirinya apabila sakit.  Selain itu secara psikis informan juga masih memiliki harapan hidup yang tinggi karena tidak terlalu merasa lelah dengan kondisi sirinya sebagai lansia saat ini. Informan juga memiliki harapan di masa mendatang untuk melihat anak-anaknya sukses.
Sesuai dengan penggambaran di atas, penulis meyimpulkan bahwa informan ini mengalami disengagement tidak sempurna. Relasi sosial informan masih sangat baik dilihat dari aktivitas dan interaksinya sehati-hari baik dengan keluarga maupun teman-temannya. Akses pelayanan juga cukup maksimal namun hanya dari sisi personal, karena lingkungan sosial tidak memberi pelayanan kesehatan yang memadai. Hanya aspek partisipasi yang tidak dimiliki informan ini karena memang di lingkungannya tidak terdapat kegiatan/organisasi yang dikhususkan untuk lansia. Dilihat dari masih adanya 2 aspek lingkungan sosial yang cukup baik yang dimiliki informan, maka informan hanya mengalami disengagement tidak sempurna terbukti pula dengan kondisi kesehatan lansia yang masih sangat baik.

B.     Lingkungan sosial buruk, kesehatan lansia juga buruk
Informan pertama yang masuk dalam kategori ini adalah N1 yang berjenis kelamin perempuan dan berusia 67 tahun. Informan telah mengalami proses penuaan fisik yang signifikan dengan beberapa cirinya adalah kulit keriput dan kasar, daya ingat melemah, dan sistem pencernaan yang memburuk. Saat masih berusia kurang dari 40 tahun, informan aktif dalam beberapa kegiatan masyarakat seperti PKK dan Majelis Pengajian Desa, namun karena alasan usia dan kesehatan, saat ini informan sudah tidak lagi berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial yang ada di lingkungan sekitarnya dan karena di sekitar tempat tinggal informan juga tidak terdapat organisasi atau kegiatan yang ditujukan khusus bagi lansia. Berjarak sekitar 20 meter dari rumah informan terdapat puskesmas namun menurut pengakuan informan, tidak terdapat sosialisasi layanan kesehatan bagi lansia dari pengurus daerah setempat maupun pihak-pihak lainnya seperti LSM. Informan sendiri lebih memilih berobat ke dokter yang berjarak sekitar 5 km dari tempat tinggalnya. Hal ini disebabkan penyakit-penyakit ‘tua‘ yang sudah cukup serius dirasakannya, seperti darah tinggi, sering kali demam dan sesak napas. Setiap bulannya, informan mengalokasikan dana sekitar 500-750 ribu untuk berobat dari hasil sewa tanah garapan yang dimilikinya. Informan sendiri merasa sudah pasrah dengan kehidupannya saat ini, beliau terkadang merasa lelah dengan kegiatan sehari-hari karena sudah tidak memiliki kegiatan rutin dan hanya berharap dirinya tidak merepotkan orang lain.
Dilihat dari relasi sosial, partisipasi sosial, dan akses terhadap layanan kesehatan, informan ini telah mengalami proses disengagement tidak sempurna. Hal ini disebabkan relasi sosial informan yang tinggal bersama kedua anak laki-laki dan satu orang cucunya walau masih cukup baik namun informan merasa perhatian yang diberikan kurang begitu maksimal. Buktinya informan lebih memilih anak perempuannya yang justru tidak tinggal bersama dalam rumah itu untuk bertukar pikiran dan bercerita saat informan memiliki masalah. Kondisi kesehatan informan walau memiliki penyakit serius namun karena aspek layanan kesehetan terpenuhi dengan baik maka informan ini dikategorikan mengalami disengagement tidak sempurna.
Informan kedua adalah N2 yang berusia 68 tahun. Seperti informan N1, informan ini juga telah memiliki ciri-ciri fisik signifikan sebagai orang yang berusia lanjut. Untuk berjalan pun informan hanya bisa berjalan pelan-pelan itupun dengan dipapah sehingga sudah tidak dapat lagi berjalan jauh. Relasi sosial informan terbatas hanya dengan keluarga inti, dengan tetangga sekitar sudah jarang berinteraksi karena keterbatasan yang dimiliki oleh informan. Dengan keluarga inti pun informan sudah jarang bertukar pikiran, kalaupun ingin menceritakan suatu masalah, informan lebih memilih bercerita pada cucunya karena informan tinggal bersama suami, 5 orang anak, dan cucu-cucunya dalam rumah yang dalam pandangan informan kecil dan tidak memiliki banyak ventilasi. Di daerah sekitar tempat tinggal sebenarnya terdapat pengajian untuk ibu-ibu termasuk yang sudah lanjut usia namun kembali karena alasan kondisi fisiknya saat ini, informan tidak dapat berpartisipasi dalam pengajian tersebut, tidak seperti saat informan masih sehat.
Di Kelurahan tempat informan tinggal terdapat puskesmas, namun informan tidak pernah ke puskesmas karena menurutnya bukanlah tempat yang tepat untuk mengobati penyakit yang ia derita. Mungkin bisa saja meminta bantuan puskesmas, terutama dalam pembayaran pelayanan kesehatan, hanya informan enggan karena khawatir prosesnya akan sulit dan berbelit-belit. Dengan alasan biaya, informan juga tidak mau berobat ke rumah sakit sehingga saat ini ia hanya minum obat/pil yang ia dapatkan di warung dan memijat kakiknya sendiri sambil dioleskan dengan balsam. Informan pernah mencoba pengobatan alternatif yaitu dari tukang pijat yang rutin dapang ke rumah informan setiap satu minggu sekali namun belakangan tukang pijat itu tidak pernah datang lagi ke rumahnya, informan tidak mengetahui apa alasannya.
Menurut informan, di daerahnya tidak ada layanan atau informasi khusus mengenai lansia yang diberikan oleh pengurus setempat. Informan pun sudah pasrah dengan kondisinya bahkan dalam wawancara dengan penulis, informan berkali-kali mengatakan ‘tinggal menunggu waktu saja‘ (waktu untuk dipanggil Tuhan). Dilihat dari relasi sosial, partisipasi sosial, dan akses terhadap layanan kesehatan yang dimiliki oleh informan ini, sudah sangat jelas informan mengalami proses disengagement sempurna baik oleh keluarga inti dan lingkungan sosialnya sehingga kondisi kesehatannya menjadi kurang baik. Relasi dan partisipasi sosial yang kurang menyebabkan informan tidak memiliki jaringan untuk mendukung kesehatan informa. Ditambah dengan akses pelayanan kesehatan dan kemampuan personal yang sangat kurang, memperburuk pula kapasitas informan untuk mendapat akses pelayanan kesehatan.
            Informan ketiga berinisial K1 yang berusia 70 tahun adalah seorang lansia produktif karena masih berprofesi sebagai tukang koran keliling di stasuin Depok Baru. Masih sama seperti kedua informan sebelumnya, informan K1 AI ini juga telah memiliki ciri-ciri yang signifikan dari lansia, terutama kulitnya yang keriput dan posturnya yang agak bungkuk. Relasi sosial informan terutama terjalin dengan keluarga namun itupun hanya saat malam hari dimana informan sudah pulang bekerja. Di sekitar tempat tinggal informan tidak ada organisasi yang dikhususkan untuk lansia, sebenarnya ada pengajian namun itu hanya untuk kaum perempuan. Para pengurus daerah setempat pun dirasa tidak terlalu memperhatikan lansia karena tidak pernah ada informasi atau pelayanan kesehatan untuk lansia. Namun, untuk urusan keamanan di wilayah setempat meningkat karena Ketua RTnya saat ini adalah seorang polisi. Informan sering kali merasa lelah karena pekerjaannya. Untuk mengatasinya informan mengonsumsi ‘Revagan‘, sejenis obat untuk menjaga daya tahan tubuh. Uang sejumlah 10-12 ribu -dari penghasilannya sekitar 30 ribu perhari- informan alokasikan setiap 3 hari sekali untuk membeli obat termasuk obat maag yang seringkali juga dikonsumsi informan karena informan juga menderita maag akut.
            Secara psikologis sendiri, walau informan pernah merasa bosan dengan kehidupannya satat ini, informan mengaku masih optimis dengan kehidupannya ke depan. Agar lebih terjamin kesehatannya, informan mengaku sangat ingin mengikuti program asuransi kesehatan. Dengan kondisi informan K1 AI ini, informan pada dasarnya sudah cukup terlepas dari lingkungan sosialnya atau dengan kata lain mengalami disengagement tidak sempurna karena walaupun relasi sosial, partisipasi sosial, dan akses layanan kesehatan informan terbatas namun informan masih memiliki kegiatan rutin sehari-hari yang menghasilkan uang dan secara psikologis juga cukup sehat karena informan ini memiliki sikap optimis dalam menjalani kehidupan dan pada akhirnya mendukung kesehatan sosial informan setidaknya secara psikologis.


KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan sosial memiliki pengaruh terhadap kondisi kesehatan lansia. Apabila keadaan lingkungan sosialnya baik maka kondisi kesehatan dari lansia pun akan cenderung baik, dan sebaliknya ketika keadaan lingkungan sosial tidak baik maka kondisi kesehatan lansia pun tidak baik. Lingkungan sosial sendiri yang dimaksud dilihat dari tiga aspek, yaitu partisipasi sosial, relasi sosial, dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Hubungan pengaruh antara lingkungan sosial dengan kesehatan ini berdasarkan atas proses disengagement, yaitu proses di mana terlepasnya lansia dari sistem sosial.
Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa hubungan tersebut terbagi menjadi dua kategori, yaitu disengagement tidak sempurna dan disengagement sempurna. Disengagement tidak sempurna ditandai dengan satu atau kedua atau ketiga aspek dari lingkungan sosial tersebut memiliki keadaan yang baik bagi lansia. Artinya apabila pertama partisipasi sosial informan berjalan baik, yaitu dengan informan yang masih aktif di dalam berbagai kegiatan organisasi masyarakat. Kemudian, relasi sosial dan partisipasi sosial informan berjalan baik, yaitu informan masih dapat menjalin relasi sosial dengan baik dan masih bisa berpartisipasi di lingkungan sosial, misalnya dengan keluarga, tetangga, dan kegiatan disekitar tempat tinggal. Terakhir, akses terhadap pelayanan kesehatan yang diusahakan secara pribadi maupun yang ditunjang oleh pihak luar didaerah tempat tinggal informan secara baik, yaitu apabila informan sakit, maka informan akan mendapatkan pengobatan bagi penyakitnya.
Sedangkan disengegament sempurna merupakan proses terlepasnya sistem sosial dari seseorang secara utuh. Hal ini dapat digambarkan dengan relasi sosial, partisipasi dari seorang lansia yang sudah tidak berjalan dengan baik lagi, misalnya karena informan yang memiliki keterbatasan fisik sehingga ia tidak dapat menjalankan kedua hal tersebut dengan baik. Selain relasi dan partisipasi sosial yang kurang baik, disengegament sempurna ini juga karena akses pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Ketika seorang informan atau lansia yang sudah mengalami sakit, tetapi ia tidak medapatkan pengobatan yang maksimal terhadap penyakitnya.


DAFTAR PUSTAKA

Sunarto, Kamanto. 2001. Sosiologi Kesehatan. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Turner, Jonathan H. 1998. The Structure of Sociological Theory. Sixth Edition. U.S.A : Wadsworth Publishing Company.
Wolinsky, Fredric D. 1980. The Sociology of Health: Principles, Professions, and Issues. Boston: Little, Brown and Company.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar