Minggu, 11 November 2012

Lansia dalam Kependudukan


BAB I
PENDAHULUAN


            Dalam Geriatri (Ilmu Kesehatan Lanjut Usia) yang dianggap penting adalah usia biologik seseorang bukan usia kronologiknya (Agate,1970). Sering kita melihat seorang yang muda usianya tetapi kelihatan sudah tua dan sebaliknya orang yang usianya tua terlihat masih segar bugar jasmaninya. Perlu sekali kita menyoroti bertambahnya jumlah lanjut usia (lansia) dalam beberapa tahun ke depan yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Skema penanganan jelas dibutuhkan agar lansia sebagai satu masalah kependudukan utama bisa teratasi.
            Oleh karena itu denga berjalannya waktu yang tak dapat terelakkan manusia berupaya dengan segala macam cara agar sedapat mungkin dapat menunda atau melambatkan jalannya “jam waktu” ini dengan begitu mortalitas akan menurun.
            Angka mortalitas pada lansia tidak begitu mempengaruhi harapan hidup waktu lahir, karena ternyata menurut angka-angka yang terkumpul, harapan hidup waktu usia 60 tahun, dinegara-negara kurang berkembang (14,9 tahun) dan negara-negara yang sudah berkembang (18,5 tahun), tidaklah berselisih banyak (World Population, United Nations, 1980). Jadi tegasnya disuatu negara sedang berkembang seperti di Indonesia ini. Angka harapan hidup seseorang yang dapat mencapai usia 60 tahun adalah rata-rata 15 tahun, berarti ia dapat rata-rata mencapai usia 75 tahun.
            Bahwa jumlah orang lansia akan naik lebih cepat dari pada anak atau jumlah pertumbuhan penduduk keseluruhan, dapat pula di hitung dengan rumus geometrik, ini menghasilkan bahwa golongan lansia di Indonesia akan naik 3,96% setahunnya, sedangkan angka pertumbuhan anak di bawah 15 tahun hanya angka naik 0,49 % per tahun. Angka pertumbuhan lansia yang berumur 70 tahun ke atas bahkan akan naik 5,6% setahunnya dalam kurun waktu 1985-1995 (angka-angka dihitung dari BPS, Supas 1985).


BAB II
LANSIA DALAM KEPENDUDUKAN

A.     DEFINISI
Demografi merupakan studi kependudukan dan mencakup berbagai hal seperti jumlah, persentase kenaikan, jemns kelamin, umur harapan hidup, lokasi distribusi dan perpindahan, anagka kelahiran dan kematian, pekerjaan dan penghasilan, status perkawinan, pendidikan gaya hidup danlain-lain hal tentang penduduk.
Yang dimaksud dengan kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Kelompok ini memerlukan perhatian khusus diabad 21 nanti, mengingat bahwa jumlahnya meningkat dengan pesat, mereka juga secara potensial dapat menimbulkan permasalahan yang akan mempengaruhi kelompok penduduk lainnya.Bila masyarakat terlebih negara tak sanggup menghadapinya, tidak mustahil akan menimbulkan berbagai dampak negatif. Sebaliknya jika langkah antisipasif yang tepat djilankan, timbulnya hal negatif tadi dapat dicegah, bahkan dapat diatasi dengan baik. Dengan demikian, aspek demografik dari kelompok penduduk Lanjut Usia dan pihak-pihak yang akan mengatasi permasalahan lanjut usia tersebut.
JUMLAH DAN PROSENTASE PENDUDUK
Jumlah dan prosentase Lanjut Usia yang berusia 60 tahun ke atas di Indonesi senantiasa meningkat dari tahun ke tahun dan besarnya dapat dilihat dalam angka-angka di bawah ini:
Tahun
Jumlah
Persentase
1980
1985
1990
1995
2000
7,99 juta
9,44 juta
11,28 juta
13,60 juta
15,88 juta
5,5 % dari jumlah penduduk
5,8 % dari jumlah penduduk
6,3 % dari jumlah penduduk
6,9 % dari jumlah penduduk
7,6 % dari jumlah penduduk
Sumber : sensus penduduk Indonesia Tahun 1971,1980, dan 1990
            Abad ke-21 kelak sebagai kurun penduduk menua atau era population ageing dan keadaan ini dapat diukur dengan berbagai indikator, seperti media ageing, ageing index, aged dependency ratio, dan perbandingan proporsi 75+/65.

UMUR HARAPAN HIDUP
Menurut Ananta, Aris wongkaren, Cicih, dalam kurun waktu 1990-1995, umur hharapan hidup pria 61,25 tahun dan wanita 66.07 tahun. Dalam kurun waktu 1995-2000, umur harapan hidup pria maningkat menjadi 63.33 tahu  dan wanita 69.0 tahun

L0KASI, DISTRIBUSI, DAN PERPINDAHAN
Menurut penelitian Biro Pusat Statistik pada tahun 1990 didapatkan bahwa:
Ø  Penduduk lanjut usia yang hidup didesa sebanyak 74% dari seluruh penduduk Lansia
Ø  Penduduk lanjut usia yang hidup di kota sebanyak 26% dari seluruh penduduk lansia
Ø  Penduduk lanjut usia 75: yang hidup didesa dan menjadi kepala keluarga 45.3%
Ø  Penduduk lanjut Usisa 75% yang hidup di kota dan menjadi kepala keluarga 42.9%.
            Angka Urbanisasi, yaitu proporsi jumlah penduduk Lanjut Usia yang tinggal di perkotaan terhadap penduduk keseluruhan, senantiasa meningkat. Hal ini terlihat dari data sebagai berikut :
Tahun 1971. Propordi penduduk lansia diperkotaan terhadap penduduk 17.29%.
  • Tahun 1980, proporsi penduduk lansia diperkotaan terhadap seluruh penduduk 22,38%.
  • Tahun 1990, proporsi penduduk lansia diperkotaan terhadap seluruh penduduk 30.93%.
  • Tahun 2000, proporsi penduduk lansia diperkotaan terhadap seluruh penduduk  41.80%.
  • Tahun 2015, proporsi penduduk lansia diperkotaan terhaadap  seluruh penduduk 52.00%.
Peningkatan angka urbanisasi akan menimbulkan dampak pada persebaran jumlah penduduk termasuk penduduk lansia.

ANGKA KELAHIRAN KASAR (CRUDE BIRTH RATE)
Menurut data yang diproyeksi yang ditetapkan dalam Garis-Garis Besar haluan Negara 1998-2003, angka Kelahiran kasar dari pelita ke pelita selanjutnya selalu menurun, seperti terlihat berikut ini :
  • Pada akhir pelita VI (1998) sebesar 22.6 per 1000 penduduk
  • Pada akhir pelita VII (2003) sebesar 20.9 per 1000 penduduk
  • Pada akhir pelita VII (2008) sebesar 19.0 per 1000 penduduk
  • Pada akhir pelita IX (2013) sebesar 17.2 per 1000 penduduk
  • Pada akhir pelita X (2018) sebesar 16.1 per 1000 penduduk

ANGKA KEMATIAN KASAR (CRUDE DEATH RATE)
Menurut data yang diproyeksi yang ditetapkan dalam Garis-Garis Besar haluan Negara 1998-2003, Angka Kematian Kasar dari pelita VI ke pelita X seperti terlihat berikut ini:
  • Pada akhir pelita VI (1998) sebesar 7.5 per 1000 penduduk
  • Pada akhir pelita VII (2003) sebesar 7.2 per 1000 penduduk
  • Pada akhir pelita VII (2008) sebesar 7.1 per 1000 penduduk
  • Pada akhir pelita IX (2013) sebesar 7.1 per 1000 penduduk
  • Pada akhir pelita X (2018) sebesar 7.4 per 1000 penduduk

B.    PEKERJAAN DAN PENGHASILAN
Menurut biro pusat statistik (1990), tingkat  partisipasi angkatan kerja pada  Lanjut Usia 60 hinga 64 tahun besarnya 59,9% dan pada usia  65 tahun 40,5%. Di perkotaan bahkan tingkat pengangguran penduduk lanjut usia yang berusia 65 tahun ke atas hanya 2.2%. Tingkat partisipasi angkatan kerja di pedesaan lebih tinggi darin pada diperkotaan dan pada penduduk lanjut usia pria, tingkatnya lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Tingginya tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk lanjut usia ini disebakan oleh beberapa faktor, antara lain proses penuaan, struktur penduduk tingkat sosial ekonomi masyarakat yang membaik, umur harapan hidup penduduk lanjut usia yang bertambah panjang, jangkauan pelayanan kesehatan serta status kesehatan penduduk lanjut usia yang bertambah baik.
Alasan penduduk lanjut usia untuk bekerja antara lain adalah karena disebabkan oleh jaminan sosial dan kesehatan yang masih kurang. Disamping hal itu, desakan ekonomi merupakan hal yang mendorong untuk bekerja dan mencari pekerjaan.Hal ini dimungkinkan karena pada umumnya keadaan kesehatan fisik, mental dan emosional mereka masih baik. Banyak diantara mereka bekerja untuk aktualisasi diri.
            Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1996), jenis sektor pekerjaan yang dipilih penduduk lanjut usia diperkotaan adalah sebagai berikut :
·         Perdagangan :38,4%
·         Pertanian : 27,1%
·         Jasa : 17,3%
·         Industri : 9,3%
·         Angkutan : 3,3%
·         Bangunan : 2,8%
Sedangkan di desa sebagai berikut :
·         Pertanian : 78,9%
·         Perdagangan : 9,1%
·         Industri ; 6,3 %
·         Jasa: 4,1 %
Penghasilan yang diterima oleh angkatan kerja lanjut usia, sayangnya tidaklah tinggi. Berdasarkan data yang dikumpulkan sakernas (1991), ternyata masih banyak amhkatan kerja lanjut usia yang menerima gaji atau upah sebanyak Rp. 10 ribu sebulan dan lebih dari separo angkatan kerja lanjut usia diperkotaan dan pedesaan menerima gaji atau upah sebesar Rp. 50 ribu hingga Rp. 100 ribu. Secara rinci hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini,

Jumlah dan Persentase angkatan kerja lanjut usia menurut
upah/gaji sebulan menurut tempat tinggal di indonesia

Upah/gaji
Total
Perkotaan
Pedesaan
Jumlah
persentase
Jumlah
persentase
Jumlah
persentase
<30 ribu
159851
27.15
40939
16.89
128912
33.61
30-99 ribu
937884
53.53
124867
51.59
210017
54.76
100-200 ribu
92663
14.81
57867
23.89
34796
9.08
>200 ribu
28292
4.52
18525
7.65
9769
2.55
Sumber:  biro pusat Statistik, 1993

                Dimasa mendatang akan terjadi struktur angkatan kerja yang menua. Jumlah mereka semakin meningkat. Sebaliknya, angkatan kerja muda akan lebih sedikit. Dengan tingkat pendidikan angkatan kerja muda lebih baik, mereka akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Tetapi di pasar kerja, mereka akan berhadapan dengan angkatan kerja yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Hal ini akan menimbulkan konflik bila tidak diantisipasi dan diatasi dengan tepat.

C.      STATUS PERKAWINAN
Mengingat  umur harapan hidup pada penduduk lanjut usia wanita lebih tinggi dari pada pria, junlah penduduk lanjut usia wanita yang mempunyai status menikah lebih kecil darpada penduduk lanjut usia pria. Menurut Emil Salim (1984), jumlah penduduk lanjut usia wanita yang berstatus menikah hanya 25%, dibandingkan dengan penduduk lanjut usia pria  yang besarnya 84%. Karenatingkat pendidikan mereka rendah dan partisipasi angkatan kerja golongan ini tidak tinggi, mereka harus menanggung beban ekonomi berat setelah suaminya meninggal. Banyak diantara mereka tidak dapat hidup secara mandiri lagi dan mereka terpaksa menjadi tanggunggungan anak serta keluarganya.

D.     PENDIDIKAN
Menurut data yang dikumpulkan departemen Sosial Republik Indonesia (1996), tingkat pendidikan penduduk lanjut usia di Indonesia masih belum baik. Hal ini terlebih-lebih terlihat pada penduduk lanjut usia wanita yang tidak bersekolah, seperti dapat dibaca berikut :
Tabel 7
Penduduk lanjut usia
Persentase
Pria
Wanita
Bersekolah
60.0%
40.3%
72.8%
Tidak lulus sd
23.3%
31.7%
16.5%
Tamat SD
14.1%
20.8%
8.1%
Di atas SD
<5.0%


                Rendahnya tingkat pendidikan ini mengakibatkan merreka sulit menerima penyuluhan yang diberikan oleh tenaga penyuluh.Disamping itu, hal ini akan menyulitkan mereka manakala mereka bekerja atau mencari pekerjaan.

E.      GAYA HIDUP
Gaya hidup penduduk lanjut usia terpaksa berubah. Karena harus menyesuaikan diri dengan mundurnya secara alamiah fungsi alat indera dan anggota tubuh mereka, baik secara fisik, mental maupun emosional. Kemampuan mereka juga lambat laun menurun akibat adanya cacat tubuh dan berbagai penyakit degeneratiof yang diderita, sehingga mereka mempunyai ketergantungan yang besar pada keluarga dan orang lain. Gaya hidup yang berubah ini terlihat pada keadaan sebagai berikut :
  1. Perubahan karena penghasilan dan pendapatan yangmenurun.
  2. Terpaksa terus bekerja, karena beban ekonomi.
  3. Perubahan gaya hidup karena kemampuan menurun akibat cacat tubuh dan penyakit.
  4. Perubahan gaya hidup karena mereka kini memerlukan pertolongan dan nasehat dalam bidang kesehatan dan bidang sosial, seperti perawatan di rumah, katering makanan atau dikenal sebagai meal on wheel serta pelayanan terminal di saat lansia menghadapi ajalnya.
  5. Ketergantungan pada keluarga , akibat cacat dan penyakit degeneratif yang diderita.
  6. Ketergantungan pada negara.
  7. Mempunyai waktu luang untuk berekreasi , olahraga, kesenian, mengembangkan hobi dan manfaat serta melakukan kegiatan kesenian dan budaya.
  8. Mempunyai kesempatan untuk menempuh pelajaran lagi.
  9. Lebih bertaqwa kepada tuhan yang maha kuasa dan menambah kegiatan ibadah dan keagamaan.
  10. Bergabung dengan perkumpulan lanjut usia untuk meningkatkan aktualisasi diri dan menambah sosialisasi dengan sesama lanjut usia.
  11. Berkiprah dalam kegiatan sosial atau bergabung di lembaga swadaya masyarakat.
  12. Perubahan peran lanjut usia dalam keluarga dan bertindak bukan sebagai kepala keluarga lagi.
  13. Terpaksa hidup sendiri dalam Panti sosial Tresna Wredha atau Sasana Tresna Wredha.

F.       INDIKATOR DEMOGRAFIS
Berbagai indikator demografis yang lazim dipergunakan adalah sebagai berikut :

a.      Besar dan Proporsi Penduduk Lanjut  Usia
(The relative weight of elderly)
Angka 10% merupakan tanda transisi struktur penduduk muda ke arah tua

b.      Usia Median
(Median Age)
Membagi sama penduduk muda dan tua

c.       Penuaan penduduk tua
(The ageing of the elderly population)
Proporsi penduduk lanjut usia di atas 75 tahun di banding lanjut usia di atas 60 tahun.

d.      Komposisi penduduk lanjut usia pria-wanita
(The sex composition of the elderly population)
Ratio penduduk lannjut usia pria-wanita

e.      Indeks penuaan
(The ageing index)
Ratio penduduk lanjut usia terhadap 100 penduduk usia kurang dari 15 tahun

f.        Angka ketergantungan penduduk lanjut usia  
(The aged dependency ratio)
Jumlah penduduk lanjut usia terhadap 100 penduduk usia kerja yang berusia 15-59 tahun

G.     DETERMINAN PENUAAN PENDUDUK
(DETERMINANTS OF POPULATION AGEING)
Angka-angka kelahiran yang lazim dipergunakan adalah :
  1. Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate).
  2. Angka kematian kasar (Crude Death Rate).
  3. Umur harapan hidup saat lahir (Life Expectancy)

H.     KESEHATAN PADA LANJUT USIA INDONESIA
            Membicarakan mengenahi status kesehatan para lanjut usia: penyakit atau keluhan yang umum diderita adalah penyakit reumatik, hipertensi, penyakit jantung, penyakit paru (bronkitis/dyspnea), diabetus mellitus, jatuh (falls), paralisis/lumpuh separuh badan, TBC paru, patah tulang dan kanker. Lebih banyak wanita yang mmenderita/mengeluhkan penyakit-penyakit tersebut dari kaum pria, kecuali untuk bronkitis(pengaruh rokok pada pria). Di pedesaan  masalah-masalah kesehatan ini kurang begitu berpengaruh nyata pada aktivitas keseharian pada responden dibandingkan dengan mereka yang hidup di kota.
            Kesehatan dan status fungsional seorang lanjut usia ditentukan oleh resultante dari faktor-faktor fisik, psikologik dan sosioekonomik orang tersebut. Faktor-faktor tersebut tidak selalu sama besar peranannya sehingga selalu harus diperbaiki bersama secara total patient care. Apalagi dinegara-negara yang sedang berkembang faktor sosio ekonimik/ finansial ini hampir selalu merupakan kendala yang penting. Maka dari itu kendala pelayanan yang baik dari golongan lanjut usia tidaklah hanya merupakan tindakan perikemanusiaan dan balas budi saja, tetapi juga penghematan sosio ekonomik/finansial bagi kehidupan , dan kebahagiaan lanjut usia tadi dipertahankan dan ditingkatkan.

I.        SIFAT-SIFAT PENYAKIT PADA LANJUT USIA
            Sifat penyakit pada usia lanjut usia ini perlu sekali untuk dikenali supaya kita tidak salah ataupun terlambat menegakkan diagnosis, sehingga terapi dan tindakan lainnya yang mengikutinya dengan segera dapat dilaksanakan. Hal ini akan menyangkut beberapa aspek, yaitu etiologi, diagnosis, dan perjalanan penyakit.
1.      Etiologi
Sebab penyakit pada orang lanjut usia ini pada umumya lebih bersifat endogen dari pada eksogen. Hal ini umpamanya disebabkan karena menurunnya fungsi berbagai alat tubuh karena proses menjadi tua. Sel-sel parenkim banyak diganti dengan sel-sel penyagga (jaringan fibrotik), produksi hormon yang menurun, produksi enzimmenurun dan sebagainya.
     Dalam rangka ini juga produksi zat-zat untuk daya tahan tubuh seseorang yang tua akan mengalami penurunan. Maka dari itu faktor penyebab infeksi (eksogen) akan lebih mudah hinggap. Di negara-negara maju karena faktor infeksi ini secara keseluruhan telah jarang ditemui, penyakit infeksi pada penderita lanjut usia pun juga jarang dijumpai. Dinegara-negara yang sedang berkembang justru masih banyak penyakit infeksi pada golongan anak-anak dan orang lanjut usia.
     Selain dari pada itu etiologi penyakit pada lanjut usia ini seringkali tersembunyi, sehingga perlu dicari secara sadar dan aktif. Seringkali untuk menegakkan diagnosis kita memerlukan mengobservasi penderita agak lama sambil mengamati dengan cermat tanda-tanda dan gejala-gejala penyakitnya, yang juga memang seringkali tidak nyata. Dalam hal ini allo-anamnesis dari pihak keluarga perlu digali secara sadar.
     Seringkali penyebab penyakit tadi bersifat ganda (mulitple) dan komulatif, terlepas satu sama lain ataupun saling mempengaruhi timbulnya, terlepas satu sama lain ataupun saling mempengaruhi timbulnya. Dapat diharapkan bahwa dinegara berkembang patologi multiple ini lebih menonjol lagi, karena berpengaruhnya faktor endogen dan eksogen secara bersama-sama.

2.      Diagnosis
Diagnosis penyakit pada lanjut usia ini pada umumnya lebih sukar dari pada usia remaja/dewasa, karena seringkali tidak khas gejalanya. Selain itu keluhan-keluhannya pun tidak khas dan tidak jelas, atipik dan tidak jarang asimtopmatik. Umumnya appendicitis acuta pada orang lanjut usia seringkali tidak disertai nyeri pada titik McBurney yang khas, tatapi umpamany hanya dengan tanda-tanda perut kembung ataupun diare.
Demam seringkali tidak ditemui. Serangan miokard infark akut pada orang lanjut usia jarang sekali disertai rasa nyeri (silent infarction), seringkali ditemukan  tanda-tanda syok dan atau tanda-tanda dekompensasi jantung kiri ataupun hanya rasa tak enak dan lemah mendadak saja.

3.      Perjalanan penyakit
Pada umumnya perjalanan penyakit geatrik ini adalah kronik, diselingi dengan eksaserbasi akut. Selain daripada itu penyakitnya bersifat progresif, dan sering menyebabkan kecacatan (invalalide) lama sebelum akhirnya penderita meninggal dunia. Di Amerika angka-angka penyakit kronik mempunyai prevalensi tertinggi pada dekade usia 35-54 tahun sedang invaliditas mencapai puncak pada golongan umur 50-74 tahun (Stieglitz, 1954).


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Semakin lama penduduk lanjut usia berusia 60 tahun ke atas semakin banyak, dalam kaitan inilah, abad ke-21 kelak adalah sebagai kurun penduduk menua.
  2. Persentase penduduk lanjut usia wanita lebih banyak dari pada pria, banyak penduduk berbanding lurus dengan umur harapan hidup dalam kurun waktu 1995-2000 umur harapan hidup pria meningkat menjadi 63.33 tahun dan wanita 69.0 tahun.
  3. Tingkat pendidikan penduduk lanjut usia di Indonesia masih belum ada kenaikan yang signifikan, oleh karena itu mengakibatkan mereka sulit menerima penyuluhan yang diberikan oleh tenaga penyuluh.
  4. Pada waktu sekarang ini golongan lansia indonesia masih berkualitas rendah sebagai akibat sisa-sisa penjajahan. Banyak dari mereka masih tergantung pada anak atau keluarga lain dan kurang produktif. Keadaan ini akan mengalami peningkatan dengan naiknya tingkat pendidikan mereka. Meskipun begitu kesehatannya tidak seburuk yang diperkirakan, seperti terbukti dari penulis dkk. Yang menemukan 95% dari mereka masih dengan ADL bidang fisik yang cukup baik, sedangkan ADL-instrumental berkisar antara 70-80%.
  5. Penyakit-penyakit yang diderita golongan lansia ini kebanyakan bersifat endogenik, multiple, dan kronik, bersifat/ bergejala atipik,  tanpa menyebabkan imunitas malahan menjadi lebih rentan terhadap penyakit/komplikasi yang lain. Maka dari itu diagnosis haruslah ditegakkan dengan sangat cermat dan hati-hati.


DAFTAR PUSTAKA

Darmojo, Boedhi,et al.2000.Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Darmojo, Boedhi,et al.2000.Beberapa masalah penyakit pada Usia Lanjut. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Haryono ,Suyono.1994. Pokok-pokok Pikiran Menteri Negara Kependudukan.Kepala BKKBN. Simposium Nasional Gerontologi dan Geriatri . Serpong: Dewan Riset Nasional
Setyo, Tony, dan Hardywinoto.1999.Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai Aspek. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar