Jumat, 09 November 2012

Kemampuan Ber-Literasi Informasi dalam Era Informasi


PENDAHULUAN
Informasi merupakan sebuah entitas yang berpotensi untuk menjadi sebuah kekuatan sekaligus sumber kebingungan bagi banyak orang. Setiap hari kita ditantang untuk berhadapan dengan informasi yang melimpah ruah dan melaju dengan kencang, dalam berbagai format yang terhitung pula jumlahnya. Keterampilan dasar dalm melek informasi yang tidak lain adalah kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi dari berbagai sumber secara efektif, menjadi sebuah keahlian yang teramat penting dan harus dikuasai oleh semua pihak baik pustakawan maupun penggunna.
            Konsep “literasi informasi” diperkenalkan pertama kali oleh Paul Zurkowski, presiden information industry association dalam proposalnya yang ditujukan pada Natioanal Commision on Libraries and Information Science (NCIS) di Amerika Serikat pada 1974. Proposal tersebut merekomendasikan tentang dimulainya sebuah program nasional untuk pencapaian masyarakat yang melek informasi pada masa yang akan datang yang telah diprediksikan.
Menurut Zurkowski, “masyarakat yang mampu dan terampil dalam menggunakan sumber informasi dalam bidang pekerjaan mereka dapat dikatakan sebagai masyarakat yang melek informasi. Mereka telah mempelajari dengan terampil bagaimana caranya menggunakan sejumlah alat informasi untuk memecahkan masalah mereka”. Dua tahun kemudian Burchinal mengemukakan satu definisi yang lebih kompleks, “Untuk menjadi orang yang melek informasi dibutuhkan penguasaan sejumlah keterampilan baru, antara lain kemampuan untuk menempatkan dan menggunakan informasi untuk keperluan memecahkan masalah dan mengambil keputusan secara lebih efektif”.
Pentingnya information literacy memunculkan kesadaran baru yang telah mendorong banyak professional informasi dan organisasi-organisasi yang menaunginya untuk berlomba-lomba memberikan definisi information literacy yang paling tepat. State University of New York memberikan definisi literasi informasi sebagai kemampuan untuk mengenali saat informasi dibutuhkan, ditempatkan, dievaluasi untuk kemudian digunakan secara efektif dan sekaligus mengkomunikasikannya kedalam berbagai bentuk dan jenis.


PEMBAHASAN
Masyarakat Informasi
Banyak kalangan termasuk para ahli komunikasi meyakini bahwa peradaban masa depan adalah masyarakat informasi (information society) yaitu peradaban di mana informasi sudah menjadi komoditas utama dan interaksi antar manusia sudah berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Dengan teknologi saat ini informasi dapat diperoleh dan dipublikasikan dengan mudah. Di sisi lain, kemudahan ini membuat masyarakat mengalami kebingungan dalam memilih informasi mana yang dapat dipercaya, atau siapa sumber yang layak dikutip. Masyarakat informasi juga memunculkan adanya kekuatiran akan pemanfaatan informasi itu sendiri.
Informasi bukan lagi sebatas kata-kata atau kalimat. Informasi bagaikan pisau bermata tajam di mana jika sampai ke pembaca yang salah dapat berakibat fatal. Tak dapat dipungkiri informasi apapun, kini dengan mudah dapat diakses oleh siapa saja dan dengan mudah pula dipergunakan untuk tujuan apa saja. Teknologi informasi yang berkembang demikian pesat telah menjadikan masyarakat sebagai konsumen yang rakus informasi. Dapat dipastikan bahwa sebagian besar warga masyarakat di dunia ini telah tersentuh oleh yang namanya teknologi informasi. Entah itu dalam bentuk elektronik, multimedia, atau virtual. Radio, telepon, faksimili, televisi, internet merupakan media yang jamak sekali ditemukan di tengah-tengah masyarakat desa maupun kota. Masalahnya adalah sulit sekali membendung arus informasi. Yang dapat dan harus dilakukan adalah meningkatkan literasi masyarakat dengan mendidik berpikir kritis terhadap informasi yang diterima.

Budaya Literasi
Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita mengenalnya dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacammacam keberaksaraan atau literasi , misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy). Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut.

Literasi Informasi
Literasi informasi (information literacy) telah menjadi fokus perhatian utama dunia pendidikan, khususnya perpustakaan Amerika sejak era delapan puluhan. Menurut American Library Association (ALA), information literacy merupakan salah satu komponen penting yang harus dimiliki setiap warga dan berkontribusi dalam mencapai pemelajaran seumur hidup. Kompetensi dalam information literacy bukan hanya sekedar pengetahuan di kelas formal, tetapi juga praktek langsung pada diri sendiri dalam lingkungan masyarakatnya. Literasi informasi juga sangat diperlukan dalam setiap aspek kehidupan manusia, dan itu berlangsung seumur hidup. Literasi informasi menambah kompetensi masyarakat dengan mengevaluasi, mengorganisir dan menggunakan informasi.

Elemen – Elemen Informasi Literasi
            Menggunakan informasi dalam berbagai bentuk untuk “berliterasi” diluar kemampuan dasar seperti menulis dan membaca. Beberapa jenis berliterasi yang berperan dalam elemen literacy information:
  1. Visual Literacy, yaitu didefinisikan sebagai kemampuan memahami dan menggunakan gambar termasuk pula kemampuan untuk berfikir, belajar, serta mengekspresikan gambar tersebut. Visual Literacy dibedakan menjadi 3 yaitu visual learning, visual thinking, dan visual communication.
  2. Media Literacy, yaitu kemampuan warga negara untuk mengakses, menganalisa, dan memproduksi informasi untuk hasil yang spesifik menurut National Leadership Conference on Media Literacy.
  3. Computer Literacy, yaitu kemampuan untuk menciptakan dan memanipulasi dokumen dan data menggunakan perangkat lunak pengolah kata, pangkalan data dan sebagainya.
  4. Digital Literacy, yaitu keahlian yang berkaitan dengan penguasaan sumber dan perangkat digital. Mereka yang mamapu mengejar dan menguasai perangkat – perangkat digital mutakhir dicitrakan sebagai penggenggam masa depan, dan sebaliknya yang tertinggal akan semakin sempit kesempatannya untuk meraih kemajuan.
  5. Network Literasi, yaitu satu istilah yang masih berkembang (evolving). Untuk dapat mengakses, menempatkan, dan menggunakan informasi dalam dunia berjejaring misalnya internet, dalam berinternet pengguna harus menguasai keahlian ini. Menurut Eisenberg (2004), karakteristik orang yang melek jaringan adalah:
·         Memiliki kesadaran akan luasnya penggunaan jasa dan sumber informasi berjejaring
·         Memiliki pemahaman bagaimana sistem informasi berjejaring diciptakan dan dikelola.
·         Dapat melakukan temu balik informasi tertentu dari jaringan dengan menggunakan serangkaian alat temu balik informasi.
·         Dapat memanipulasi informasi berjejaring dengan memadukannya dengan sumber lain dan meningkatkan nilai informasinya untuk kepentingan tertentu.
·         Dapat menggunakan informasi berjejaring untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang terkait dengan pengambilan keputusan, baik untuk kepentingan tugas maupun pribadi, serta menghasilkan layanan yang mampu meningkatkan kualitas hidup.
·         Memiliki pemahaman akan peran dan penggunaan informasi berjejaring untuk memecahkan masalah dan memperingan kegiatan dasar hidup.

Information Literacy merupakan satu term yang bersifat inklusif. Dengan menguasainya maka sejumlah keahlian diatas dapat dicapai dengan lebih mudah. Hubungan antara informasi literasi dengan elemen – elemennya adalah saling melengkapi dan tidak terpisahkan namun  bukan merupakan suatu prosedur.


PENUTUP
Literasi informasi merupakan kompetensi mutlak yang harus dimiliki setiap anggota masyarakat di era informasi. Literasi informasi menuntut kemampuan berpikir kritis masyarakat dan kemauan untuk terus menjadi pemelajar seumur hidup. Proses ini tidak pernah berhenti pada suatu titik. Artinya, dibutuhkan kesadaran mendalam dari tiap warga masyarakat untuk perduli pada literasi mereka. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat tidak selalu
membawa kemudahan bagi masyarakat. Membludaknya informasi yang dapat diakses melalui internet justru menimbulkan kebingungan tersendiri bagi pengguna. Salah satu cara yang dapat dilakukan perpustakaan adalah dengan memberikan pendidikan pemakai dengan fokus pada pengembangan literasi informasi pengguna. Tidak diragukan lagi bahwa information literacy skill adalah salah satu hal yang sangat mendesak bagi kita semua (baca: pustakawan dan professional informasi lainnya). Keberhasilan dalam pencapaian information literacy pada kalangan professional informasi dan masyarakat pengguna membutuhkan usaha yang keras dengan konsistensi yang terus menerus serta dukungan dari pihak – pihak yang berkepentingan dalam hal ini perpustakaan dan institusi yang ada diatas. Formula untuk mempermudah pencapaiannya telah dirumuskan oleh para praktisi dan akademisi bidang informasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar