Senin, 04 Februari 2013

Wanda Hamidah Keluar dari BNN Babak Belur


Nontonlah film ARISAN, ada adegan seorang istri, sosialita yang berkencan dengan brondong, lalu apes karena di saat kencan mobilnya kena razia polisi. Apes karena harus digiring ke kantor polisi, diinterogasi begana-begini, oleh polisi dengan mata menyelidik dan curiga.
Sama seperti Wanda atawa Wanda Hamidah. Dia ini, sosialita iya, dan pesohor iya, karena mantan model yang aktifis 98, politikus iya, karena  lalu gabung ke PAN, dan jadi anggota DPRD. Justru profesi terakhir ini yang membuat geger saat BNN menggerebek rumah Raffi.
Wanda ada di rumah itu. Rumah Raffi, yang setelah pers dan awak infotaimen dengan sok tahunya yang besar lalu mengendus terus perkara ‘ada apa Wanda di rumah Raffi mantannya Yuni Shara. Pun sedemikian jadi hebohnya karena status Wanda, janda metropolitan.
Teror kepada Wanda tak berhenti sampai mengorek soal ternyata memang Raffi sedang PDKT dengan Wanda. Dua kali Wanda menyambangi rumah Raffi, soal bagaimana si Oedipus Complek Raffi pernah menjemput Wanda dari Gedung Dewan. Sampai dengan gigihnya menghubung-hubungkan selera Raffi Ahmad pada janda muda.
Tak berhenti sampai di situ. Tapi juga soal sebelum ke rumah Raffi ternyata Wanda baru saja Dugem… kedugemannya dengan digambarkan bukan Wanda sedang jojing di lantai disco, dengan muka kuyu, rambut awut-awutan, tapi foto duduk-duduk bersama sosialita lainnya…. sebuah penggambaran “dugem” yang apa adanya.
Tidak media cetak, online, tapi juga televisi, mengobok-obok Wanda… yang secara tendensius mencurigai ada apa–apa ini, kenapa politikus, sosialita, janda pula, pagi buta sudah ada di rumah bujangan… sudah begitu diembel-embeli pesta narkoba pula. Walaupun fakta tes urin Wanda negatif narkoba, itu  bukan soal benar.
Semua menyudutkan Wanda. Seoarang Sosialita Janda, yang tanpa etika kenapa pagi-pagi buta di rumah bujangan setelah “dugem”, bahwa seorang Anggota Dewan Yang Terhormat tak sepantasnya ada di rumah bujangan pagi-pagi buta lagi, harusnya mengurus soal Jakarta di kantor DPRD Jakarta kan? Lebih diperumit dengan menghubung-hubungan tentang sensitifitas agama, bukan muhrim tak boleh itu menyambangi pagi-pagi laki-laki yang bukan muhrimnya.
Walaupun setelah dinyatakan bebas narkoba, boleh pulang oleh BNN, Wanda keluar sudah dalam kondisi babak belur. Toh, yang membuat babak belur itu, saat Wanda datang di sebuah acara stasiun televisi berita itu, pembawa acara tivi itu tetap dengan innocent-nya bertanya ke Wanda, “anda merasa dihakimi media?, apakah akan menuntut media?”
Lebih innocent lagi waktu pembawa acara dengan sebegitu perhatiannya bertanya, “bisa tidur nyenyak di BNN, Bu Wanda Hamidah?”. Olala Televisi Jaman sekarang ini?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar